Selasa, 08 Oktober 2013

Agama Adalah Nasihat


عَنْ أَبِي رُقَيّة تَمِيمٍ بنْ أَوس الدَّارِيِّ، أن النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” الدِّينُ النَّصِيحَةُ “. قُلنا: لِمَنْ ؟ قَالَ: ” لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ.
Dari Abi Ruqayyah, Tamim bin Aus ad Daariy, ra. Bahwasanya Nabi Muhammad SAW berkata : Agama adalah nasihat, kami bertanya : “Bagi siapa?” Rasulullah menjawab : bagi Allah, bagi kitabNya, bagi Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum Muslimin dan kaum muslimin pada umumnya” (HR Muslim)

Penjelasan Riwayat
Dalam Shahih Bukhari dari Jarir bin Abdullah dengan redaksi berbeda, Kitab al Iman, Bab Agama Nasihat untuk Allah, untuk RasulNya, untuk pemimpinnya dan pada umumnya umat Islam. Hadits no 57 dan 58.
Dalam Shahih Muslim, kitab al iman, bab bahwa agama adalah nasihat, hadits no 95
Dalam Musnad Imam Ahmad terdapat pada musnad Ibnu Abbas, musnad Abi Hurairah, dan Musnad Tamim ad Daariy
Dalam Sunan Abi Dawud dari Tamim ad Daary, Kitab al Adab, bab tentang Nasihat, hadits no 4944
Dalam Sunan Tirmidzy dari Abi Hurairah, Kumpulan Bab Berbakti dan Hubungan sesama manusia, bab tentang Nasihat, hadits no 1926
Dalam Sunan an Nasai dari Tamim ad Daariy, Kitab Ba’iat, bab nasihat bagi pemimpin, hadits no 4197 dan 4198 dan Abu Hurairah Kitab Ba’iat, bab nasihat bagi pemimpin, hadits no 4199

Tarjamah Rawi
Tamim bin Aus Sang Rahib pendongeng
Tamim bin Aus, keturunan Saba dari garis Lakhm, dan bani ad Daar adalah satu suku klan utama Lakhm, menghuni Syam, terutama Palestina yaitu sekitar Baitul Maqdis. Datang ke Medinah bersama 10 orang dari bani ad Daar pada tahun 9 Hijriyah dan berislam.

Tamim menjadi tokoh asbaabun Nuzul sebelum ia masuk islam. Ia adalah seorang Nashrani pedagang parfum yang dikenal masyarakat Mekkah, bahkan Tamim ad Daariy pernah melamar Asma putri abu Bakr.

Ayat yang terkait Tamim adalah surat al Maidah ayat 106-108. Suatu ketika Tamim bersama ‘Adiy bin Bada melakukan perjalanan dagang bersama seorang pekerja Bani Sahm bernama Budail bin Abi Maryam. Budail membawa harta Bani Sahm dalam jumlah banyak. Bani Sahm ini adalah klan nya ‘Amr bin al ‘Ash.

Budail wafat dan menitipkan harta Bani Sahm pada Tamin dan Adiy. Ternyata tidak semua amanah Budail disampaikan Tamim dan Adiy, mereka menjual kepingan emas seharga 1000 Dinar, kemudian dibagi dua.

Bani Sahm mengenali kepingan emas yang ditemukan di Mekkah. Pemilik baru menyatakan ia membeli dari Tamim dan Adiy. Saat terjadi konfirmasi Tamim dan Adiy berbohong. Kebohongan yang dibongkar langit. Setelah masuk Islam tamim bertaubat dan mengembalikan hak Bani Sahm. Adapun Adiy, apa yang menjadi bagian haramnya disita negara yang kemudian dikempalikan pada Bani Sahm.

Tamim memiliki kunyah Abu Ruqayyah, ayahnya Ruqayyah.
Tamim memiliki kecerdasan luar biasa dalam waktu singkat menghafal al Qur’an dan termasuk sahabat yang di berikan lisensi atas bacaan qur’annya sebagaimana kesaksian atas Ubay bin Ka’ab dan Utsman Bin Affan. Bacaan regulernya adalah mengkhatamkan al Qur’an setiap 7 hari, dan sering berlama-lama berdiri shalat satu Raka’at hingga khatam.

Ada satu sudut di Mesjidil haram yang rutin dipakai Tamim untuk tahajud mulai malam hingga fajr, kadang dalam shalat mengulang-ngulang suatu ayat hingga menangis tak henti-henti, yaitu :


أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
“Apakah orang-orang yang berbuat jahat mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (QS. Al Jaatsiyah : 21)

Suatu ketika Tamim tertinggal tidak bertahajud maka menghukum diri atas kesalahan itu dengan tidak tidur selama setahun.

Tamim pernah membeli sarung seharga 1000 Dirham (ekivalen dengan Rp 22juta per bulan April 2012), dan senantiasa memakai sarung tersebut untuk shalat.
Tamim memiliki keajaiban yaitu dapat memadamkan api dengan tiupan dari mulutnya yang sangat dahsyat, hingga suatu ketika saat ada kebakaran Umar Bin Khattab memanggilnya untuk memadamkan api.

Saat melihat umat Islam lalai dari al Qur’an, terjadi di pertengahan zaman Umar Bin Khattab, Tamim mengusulkan suatu ide agar diizinkan menjadi pendongeng, mengisahkan cerita-cerita kebaikan kepada manusia. Bertahun-tahun Umar tidak mengizinkannya, namun ketika kondisi bertambah parah, akhirnya Umar mengizinkan untuk diselenggarakan pagelaran dongeng yaitu satu kali seminggu sebelum shalat jum’at. Dedikasinya menjadi pagelaran cerita sebagai sesuatu yang mengingatkan pada al Qur’an dibuktikan dengan selalu menceritakan kisah-kisah yang tertaut pada al Qur’an, memerintahkan manusia berbuat kebajikan dan melarang mereka dari kejahatan.
Keberhasilan tamim berlanjut hingga zaman Utsman, bahkan Utsman menambah waktu pagelaran tidak hanya dihari jum’at.

Tamim juga adalah sahabat yang pertama mengenalkan sistem pencahayaan Mesjid.
Tamim meriwayatkan 18 Hadits, dan terdapat 1 hadits dalam shahih muslim.
Tamim, wafat pada tahun 40 Hijriyah.

Penjelasan Hadits
Dari Abi Ruqayyah, Tamim bin Aus ad Daariy, ra. Bahwasanya Nabi Muhammad SAW berkata : Agama adalah nasihat, kami bertanya : “Bagi siapa?” Rasulullah menjawab : bagi Allah, bagi kitabNya, bagi Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum Muslimin dan kaum muslimin pada umumnya” (HR Muslim)

- Agama adalah nasihat,
Dalam kitab shahih Muslim dengan syarh Imam Nawawi, beliau menyebutkan bahwa nasihat adalah ;
1. Menghadirkan keberuntungan bagi orang yang dinasihati
2. Nasihat, dalam bahasa arab dari kata Nashaha, yang bisa berarti menjahit. Seseorang yang menasihati adalah bagaikan penjahit yang membuat kain yang tidak indah tidak bisa dipakai pakaian menjadi indah dan layak untuk dipakai
3. Kata-kata Nashaha bisa berarti pula memurnikan madu dari lilin, seseorang yang memberikan nasihat adalah bagai peternak lebah yang mahir dalam memurnikan madu dari lilin dari segala campuran.
Agama adalah nasihat maksudnya dasar kokoh dalam beragama adalah saling memberikat nasihat.

- Bagi Allah. Nasihat Bagi Allah maksudnya adalah :
1. Seruan untuk beriman kepada Allah, tidak menyekutukanNya, tidak menentang akan seluruh sifat-sifat Allah yang menunjukkan kebesaran dan keagunganNya, dan menyeru agar senantiasa berkeyakinan bahwa Allah suci dan terbebas dari segala macam sifat kurang.
2. Seruan untuk ta’at kepada Allah dan menjauhi maksiat
3. Menyeru agar landasan cinta dan benci adalah Allah
4. Menjadikan orang yang ta’at kepada Allah sebagai pemimpin dan memusuhi mereka yang ingkar kepada Allah
5. Mengakui segala kenikmatan dari Allah, bersyukur padaNya, dan memurnikan keta’atan pada Allah disegala ranah kehidupan

- Bagi KitabNya. Nasihat bagi Kitab Allah maksudnya adalah
1. Beriman bahwa kitab Allah adalah perkataan Allah yang diturunkan, memiliki sifat yang sama sekali berbeda dengan perkataan manusia dan tiada tandingannya
2. Mengagungkan kitab Allah
3. Membaca kitab Allah dengan sungguh-sungguh, yaitu membaguskan bacaan dan khusyu’ dalam membaca
4. Membenarkan segala apa yang ada pada kitab
5. Melaksanakan apa-apa yang ada dalam kitab Allah
6. Mengambil ibrah dari peringatan-peringatan di dalamnya
7. Tafakkur pada keajaiban-keajaibannya
8. Menyeru manusia kepada kitab Allah

- Bagi Rasul-Nya, Maksud Nasihat bagi Rasul Allah adalah “
1. Beriman pada konsep kenabian
2. Ta’at pada Rasulullah
3. Menolong Rasulullah
4. Memusuhi yang dimusuhi Rasulullah
5. Menghormatinya,
6. menghidupkan sunnahnya
7. berakhlaq dengan akjlaq Rasulullah
8. Menolak seluruh tuduhan negatif pada Rasulullah

- Nasihat bagi pemimpin, Maksudnya adalah :
1. Menolong pemimpin menunaikan amanah dengan keta’atan
2. Mengingatkan jika salah
3. Menyeru manusia agar ta’at kepada pemimpin
4. Jihad bersamanya
5. Mengeluarkan sedekah padanya
6. Berprasangka baik pada pemimpin

- Nasihat bagi manusia, yaitu :
1. Menunjukkan pada manusia jalan maslahat dunia dan akhirat
2. Mengajarkan apa-apa yang tidak diketahui manusia
3. Senantiasa menolong manusia
4. Menutupi aib-aibnya
5. Mencegah datangnya marabahaya
6. Senang memberikan manfa’at baginya
7. Beramar ma’ruf dan nahyi mungkar
8. Bersikap lembut
9. Menyalakan obsesi kepada keta’atan

Niat



Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al-Khattab , dia berkata: “Saya mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan”. (HR. Bukhari, Jami’ush Shahih, no. 45, 163; Muslim, Jami’ush Shahih, no.  1907)

Semuanya melalui jalur sahabat nabi yang sama yakni Umar bin Al-Khathab . Beliau menggunakan kata sami’tu (Aku mendengar) yang menunjukkan bahwa Beliau mendengar hadits ini secara langsung dari Rasulullah  tanpa perantara.

A. Penjelasan makna kata per kata hadits
1.         عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه قال
“Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Al-Khathab , dia berkata:”
Amirul Mu’minin artinya pemimpin orang-orang beriman, yakni orang yang mengurus berbagai urusan (al-umur) kaum beriman yang berada dalam jangkauan wilayah kekuasaannya. Umar bin Al-Khathab  adalah orang pertama yang dipanggil dengan sebutan gelar ini. Orang pertama yang memanggilnya dengan sebutan ini adalah Abdullah bin Jahsy, dan menurut riwayat lainnya adalah Amr bin Al-’Ash dan Mughirah bin Syu’bah. Sejak itu panggilan Amirul Mu’minin menjadi panggilan baku bagi khalifah (pemimpin) selanjutnya.
Abu Hafsh Umar bin Al-Khathab adalah (sebagaimana keterangan Imam As-Suyuthi dalam Tarikhul Khulafa’), Beliau adalah Umar bin Al-Khathab bin Nufail bin Abdil ‘Uzza bin Riyah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Lu’ai. Dialah Amirul Mu’minin, Abu Hafsh Al-Qursyi Al ‘Adawi Al-Faruq.
Beliu Umar bin Al-Khattab masuk Islam tahun ke-6 masa kenabian. Saat usianya 27 tahun sebagaimana kata Imam Adz-Dzahabi. Imam An-Nawawi mengatakan Umar bin Al-Khathab dilahirkan 13 tahun setelah peristiwa gajah (tahun gajah). Dia berasal dari suku Quraisy yang paling mulia. Beliau termasuk generasi awal masuk Islam setelah 40 laki-laki dan 11 wanita. Ada juga yang mengatakan setelah 39 laki-laki dan 23 wanita, dan ada juga yang mengatakan setelah 45 laki-laki  dan 11 wanita. Setelah keislaman Umar , kaum muslimin di Mekkah senantiasa berjaya dan mereka amat berbahagia dengan keislamannya.
Dia adalah salah seorang sahabat Nabi yang paling utama, salah seorang yang dikabarkan dijamin masuk surga, dan salah seorang khalifatur rasyidin. Beliau meriwayatkan hadits dari nabi sebanyak 539 buah. (Imam As Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, Hal. 89)

2.           سمعت رسول الله صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم يقول
“Aku mendengar Rasulullah  bersabda”
Ucapan ‘Umar ,  Sami’tu (aku mendengar) menunjukkan bahwa hadits ini didengarnya secara langsung dari Rasulullah  tanpa perantara orang lain. Hal ini ditegaskan oleh Al-’Allamah Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin -rahimahullah-, “Ucapannya ‘Aku Mendengar’ merupakan dalil bahwa ‘Umar  mengambil hadits ini dari Rasulullah  dengan tanpa perantara. Mengagumkannya adalah bahwa hadits sepenting ini tidak ada sahabat yang meriwayatkannya dari Rasulullah  kecuali ‘Umar  . Tetapi hadits ini memiliki syawahid (banyak saksi/penguat) dalam Al-Quran dan As-Sunnah”. (Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Syarh Arba’in An Nawawiyah Hal. 3)
3.         إنّما الأعمال بالنيات
“Sesungguhnya amal itu hanyalah beserta niat”
Kata innama adalah –sebagaimana kata para ulama muhaqqiq (peneliti)-  Lil-Hashr للحصرyakni sebagai pembatas.  Sehingga bermakna ‘Sesungguhnya hanyalah’. Sebagai itsbat (penetapan) hukum dari hal yang disebutkan setelahnya.
Dengan kata lain tidak ada amal kecuali dengan niat. Jika dikatakan: Zaidun Qaaimun (Zaid sedang berdiri). Maka ini tidak ada pembatasan, bisa saja Zaid berdiri sambil makan, bersandar, atau aktiftas lainnya. Tetapi jika dikatakan Innama Zaidun Qaaimun (Sesungguhnya Zaid hanyalah sedang berdiri), maka ini sudah ada pembatasan bahwa aktifitas zaid hanya berdiri,  tidak yang lainnya.
Al-A’mal adalah jamak (plural) dari ‘amal (perbuatan),  sebagai kelanjutan dan ikrar dari niat. Al-A’mal mencakup berbagai bentuk perbuatan, baik perbutan hati, lisan, dan jawarih (anggota badan). Amal hati adalah seperti tawakkal kepada Allah, kembali, bersandar, berharap dan takut kepada-Nya. Amal lisan seperti berbicara dan makan. Amal jawarih seperti perbuatan tangan, khaki, indra  dan yang semisalnya.
Imam Ibnu Daqiq Al-’Id mengatakan, “Yang dimaksud Al a’mal adalah amal-amal syar’i. Artinya amal perbuatan tersebut  tidaklah cukup dengan tanpa niat, seperti wudhu, mandi junub, tayammum, demikian juga shalat, zakat, puasa, haji, i’tikaf, dan semua ibadah. Sedangkan menghilangkan najis tidaklah membutuhkan niat, karena itu merupakan pembahasan at-tarku  (meninggalkan perbuatan), dan meninggalkan perbuatan tidaklah membutuhkan niat. Segolongan manusia berpendapat sahnya wudhu dan mandi  junub walau tanpa niat.”
An-Niyyat (dengan huruf Ya’ ditasydidkan) adalah jamak dari niyyah yang bermakna ‘azmul qalbi (tekad di hati). Di juga bermakna Al-Qashdu (maksud). Secara syariat menurut Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin niat bermakna,
العزم على فعل العبادة تقرّباً إلى الله تعالى، ومحلها القلب، فهي عمل قلبي ولاتعلق للجوارح بها
Tekad (keinginan kuat) untuk melaksanakan ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah Ta’la letaknya di hati, dan dia termasuk amal hati yang tidak tergantung dengan perbuatan anggota badan.  (Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin, Syarh Al Arba’in An Nawawiyah hal. 4-5)
Maka, amal perbuatan dikatakan SAH sebagai perbuatan, jika dibarengi niat untuk melaksanakannya. Tanpa niat, itu dinamakan ketidaksengajaan, rekayasa atau sandiwara. Walau secara lahiriyah juga nampak adanya perbuatan tersebut.
Tidak dinamakan shalat orang yang melakukannya tanpa niat, walau lahiriyahnya menampakkan dia sedang shalat. Tidak dinamakan masuk Islam bagi orang kafir yang mengucapkan dua kalimat syahadat, jika melaksanakannya tanpa niat untuk itu, melainkan sekedar tuntutan skenario di film.
4.         وإنما لكل امرئ ما نوى
“dan setiap manusia mendapatkan apa-apa sesuai yang diniatkannya.”
Maksudnya, hasil akhir yang didapatkan seseorang dari perbuatannya  tergantung dari niat apa dibalik perbuatannya itu, dia tidak akan mendapatkan selain yang diniatkannya.
Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah mengatakan, “Barangsiapa yang datang ke masjid untuk shalat, atau untuk menghadiri shalat berjamaah, atau mencari pahala dengan berdzikir dan membaca Al Quran, maka dengan ini dia akan mendapatkan sesuai apa yang diinginkannya. Ada pun yang masuk ke masjid  untuk melakukan amal yang tidak ada kaitan dengan perkara agama dan ketaatan, maka dia mendapatkan sesuai apa yang diinginkannya itu, dan tidak   mendapatkan pahala.” (Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr, Syarh Sunan Abi Daud, no. 066)
5.         فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله
“Maka, barang siapa yang hijrahnya  kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu adalah kepada Allah dan Rasul-Nya”
Kalimat ‘faman’ (Maka barang siapa), secara khusus yang dimaksud dalam hadits ini adalah seorang laki-laki yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah bukan karena mencari keutamaan hijrah, tetapi karena mengincar seorang wanita yang ingin dinikahinya. Berkata Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, “Mereka meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang berhijrah dari Mekkah menuju Madinah, dengan hijrahnya itu dia tidak menghendaki  keutamaan hijrah. Dia hanya menghendaki agar dapat menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qais.” (Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Syarh Al Arba’in An Nawawiyah)
Sehingga di dalam sejarah, laki-laki tersebut dikenal dengan sebutan Muhajir Ummu Qais.
Walaupun sababul wurud hadits ini karena laki-laki tersebut, namun nilai dan hukum yang terkandung di dalamnya juga berlaku  bagi manusia lain secara umum. Hal ini sesuai kaidah: Al-’Ibrah bi ‘umum al-lafzhi laa bi khushush as sabab (Pelajaran bukanlah diambil dari  sebabnya yang spesifik/khusus, tetapi dari makna lafadznya secara umum).
Kalimat ‘Kanat hijratuhu’  (yang hijrahnya), yakni hijrah dari Mekkah ke Madinah setelah tiga belas tahun da’wah di Mekkah mengalami penindasan. Dahulu Madinah dinamakan Yatsrib, dan hijrah tersebut adalah yang kedua, setelah hijrah pertama ke Habasyah (Etiopia). Peristiwa ini menjadi titik tolak awal penanggalan tahun Hijriyah. Perintah hijrah ini langsung datangnya dari Allah Ta’ala, bahkan orang yang tidak mau ikut hijrah padahal mereka sanggup, oleh Allah Ta’ala menyebutnya sebagai orang yang menganiaya dirinya sendiri.
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam Keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa (4): 97)
Yang dimaksud dengan orang yang menganiaya diri sendiri di sini, ialah orang-orang muslimin Mekah yang tidak mau hijrah bersama Nabi  sedangkan mereka sanggup. Mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi ke perang Badar, akhirnya di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu. Imam Adh-Dhahak mengatakan mereka adalah orang-orang munafiq yang memang berselisih dengan Rasulullah  ,  justru mereka ikut bersama kaum musyrikin ketika perang Badar. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/389)
Rasulullah  pun mencela mereka, dari Samurah bin Jundub  , bahwa Rasulullah  bersabda, “Barang siapa yang berkumpul dan tinggal bersama orang musyrik maka dia adalah semisal dengannya.” (HR. Abu Daud No. 2787)
Hijrah secara bahasa artinya At-Tarku (meninggalkan). Secara syariat, hijrah adalah Al-Intiqal min baladil Kufri ilaa baladil Islam, wa min dar asy-syirki ilaa dar at-tauhid,  wa min dar al-khauf ilaa dar al-amn (pindah dari negeri kufur menuju negeri Islam, dan dari negeri syirik menuju negeri tauhid, dan dari negeri yang tidak aman menuju negeri yang aman).
Para ulama berbeda pendapat, apakah hijrah itu wajib atau sunah? Namun pendapat yang lebih kuat adalah hijrah dari sebuah tempat  di mana  seorang muslim yang tidak  dapat menjalankan agamanya secara sempurna adalah wajib. Hal ini sesuai kaidah :
ما لايتم الواجب إلا به فهوواجب
“Kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib”
Menjalankan agama adalah kewajiban, tetapi kewajiban tidak bisa sempurna dalam menjalankannya kecuali dengan hijrah dari daerah  kufur tersebut,  maka hijrah adalah wajib.
Hijrah ada dua model. Pertama, hijrah makani (pindah wilayah) yaitu dari negeri kafir ke negeri tauhid. Bisa juga pindah tempat dari daerah buruk, daerah maksiat dan kejahatan, yang tidak kondusif bagi agama dan akhlak, menuju daerah yang shalih dan aman buat agama. Kedua, hijrah ma’nawi (pindah secara nilai) yaitu berubahnya seseorang yang tadinya kafir menjadi muslim, ahli maksiat menjadi ahli taat, jahil (bodoh) menjadi  ‘alim (berilmu) dan lain sebagainya.
6.         “Kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu adalah kepada Allah dan Rasul-Nya”
Makna ‘kepada Allah’ adalah orang yang hijrahnya karena Allah Ta’ala, untuk mencari balasan kebaikan dari-Nya, untuk mendapatkan ridha-Nya, dan untuk membela syariat-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “…Dan jika kamu sekalian menghendaki   Allah dan Rasulnya-Nya.” (QS. Al Ahzab: 29).  Imam Asy Syaukani mengatakan: “Yaitu (menginginkan) surga dan kenikmatannya.” (Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 6/37)
Syaikh Ibnu Al-’Utsaimin mengatakan: “Yaitu menginginkan wajah-Nya dan menolong agama-Nya. Ini adalah keinginan yang baik.” (Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Syarh Al Arba’in An Nawawiyah)
Makna ‘dan Rasul-Nya’ adalah orang yang berhijrah untuk memperoleh keberuntungan bersahabat dengan Rasulullah , menjalankan sunahnya, membelanya, dan mengajak manusia kepadanya, serta menyebarkan agamanya.
Makna ‘Maka hijrahnya itu adalah kepada Allah dan RasulNya’ yaitu  dia akan mendapatkan apa yang diniatkan itu, yakni pahala dari Allah Ta’laa, ridha-Nya, kemenangan dunia dan akhirat, sebagaimana yang dia niatkan sebelumnya.
Berkata Syaikh Ismail bin Muhammad Al-Anshari -rahimahullah-, “Kepada Allah dan Rasul-Nya: Yaitu menjadikan maksud hijrahnya adalah demi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya b. ‘Maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya: yaitu (mendapat) balasan dan pahala.” (At Tuhfah Ar Rabbaniyah Hal. 2)
7.         ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه
“Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang diinginkannya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa-apa yang ia inginkan itu.”
Makna ‘dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang diinginkannya’ yakni menginginkan kenikmatan kehidupan dunia seperti  kekayaan, pangkat, perniagaan, jabatan, perhiasan, dan godaan dunia lainnya.
Secara bahasa dunia diambil dari kata danaa yang artinya dekat (Al-Qarbu). Ini sekaligus menunjukkan singkatnya kehidupan dunia.  Dinamakan Ad Dun-ya karena lebih dahulu dibanding akhirat, atau sangat dekat dengan zawal (tergelincirnya waktu). Kehidupan ini  adalah di atas bumi yang di dalamnya terdapat  udara dan angin  dan apa pun yang ada sebelum datangnya kiamat.
Makna ‘atau wanita’ yakni Ummu Qais.  ‘yang  ingin dinikahinya’ yakni dikawininya dan dijadikannya isteri. Dan pengkhususan wanita di sini, padahal wanita adalah bagian dari kenikmatan dunia juga, merupakan keistimewaannya sekaligus ‘daya goda’-nya yang seringkali lebih kuat terhadap laki-laki dibanding godaan lainnya.
Makna ‘maka hijrahnya itu kepada apa-apa yang ia inginkan itu’  yakni dia akan mendapatkan dunia yang diinginkannya itu, tetapi dia tidak mendapatkan Allah dan Rasul-Nya, tidak pula pahala dan tidak pula surga nanti di akherat.
Oleh karena itu Allah Ta’alla berfirman, “Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu, dan Kami akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 145)

Rabu, 18 September 2013

Hamba Terbaik, Hamba Terburuk


Rasulullah saw. bersabda,
“Sebaik-baik hamba Allah adalah mereka yang membuat orang lain mengingat Allah saat melihat mereka. Dan seburuk-buruk hamba Allah adalah mereka yang berjalan ke sana ke mari menyebarkan fitnah, yang menyebabkan perpisahan di antara orang-orang yang saling mencintai, yang berusaha mendatangkan kesulitan kepada orang-orang yang tidak bersalah.”
(HR Ahmad dan Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad)
Berdasar hadits di atas, ada dua tipe seorang hamba di mata Allah SWT. Pertama, hamba terbaik yaitu mereka yang mampu membuat orang lain mengingat Allah ketika melihat mereka. Kedua, hamba terburuk yaitu mereka yang suka menyebarkan fitnah dan mendatangkan kesulitan bagi orang yang tidak bersalah.
Hamba Allah Terbaik
Menjadi hamba Allah dengan predikat terbaik menjadi dambaan setiap muslim. Predikat terbaik di sisi Allah adalah capaian tertinggi seorang muslim sebagai seorang hamba. Tidak ada posisi yang lebih mulia dalam kehidupan seorang muslim kecuali Allah benar-benar telah menetapkan orang tersebut sebagai kekasih-Nya.
Hamba terbaik di mata Allah bukanlah semata seorang yang mampu menjalankan perintah Allah dengan istiqamah dan menjauhi segala larangan-Nya secara sungguh-sungguh, melainkan mereka yang mampu membuat orang lain senantiasa mengingat Allah (dzikrullâh) dalam situasi dan kondisi bagaimanapun, baik hati, pikiran, maupun tingkah lakunya.
Barometer hamba terbaik di mata Allah tidak lagi didasarkan pada kesholehan individu semata. Tapi, bagaimana kesholehan individu bertransformasi menjadi sebuah energi spiritual-magnetik yang secara spontan mampu menarik orang-orang di sekitarnya untuk senantiasa melakukan dzikrullâh. Karena itu, bagi hamba Allah terbaik, upaya menjadikan orang lain agar senantiasa melakukan dzikrullah bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan. Modalnya: kekuatan spiritual, kematangan kepribadian, dan kedalaman pikiran.
Hamba terbaik senantiasa memancarkan nur ilahiah dari sekujur tubuhnya. Nur ilahiah ini kemudian memancar menelusup kepada siapa pun yang berada di sekelilingnya. Siapa pun yang terkena pancaran nur ilahiah ini, sedikit banyak, akan mengalami perubahan kepribadian. Tak jarang mereka kemudian berbalik arah menjadi seorang alim, taat, dan istiqamah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Prototipe hamba Allah terbaik dengan mudah bisa kita baca pada sosok Nabi Muhammad. Sebagai seorang utusan Allah, Nabi Muhammad menjadi cermin insan paripurna di sisi Allah sekaligus sebagai sosok teladan bagi umatnya. Karena sosoknya yang paripurna dan keteladanannya, banyak kaum Quraisy saat itu berbalik menjadi seorang yang beriman kepada Allah. Keteladanan Rasulullah diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzâb ayat 21: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”
Untuk saat ini,  hamba Allah terbaik, di antaranya, direpresentasikan oleh para kiai, habib, tuan guru, dan lainnya. Sebagai pewaris para nabi, ulama-ulama tersebut tidak saja bertugas menyampaikan pesan-pesan ilahiah, melainkan juga “menyucikan” hati umat yang penuh dengan kerak kotoran. Mereka adalah panutan umat dalam banyak hal di bidang kehidupan.
Ada perasaan sejuk dan tenteram setiap kali memandang wajah ulama. Tidak ada rasa bosan dan kesal setiap kali bermuwajah dengan para ulama. Inilah mengapa setiap kali kita memandang mereka, tiba-tiba timbul keinginan untuk meneladani dan menjadi seperti dia. Yaitu menjadi seorang hamba yang semakin dekat dengan Allah.
Yang perlu disadari bersama, tidak ada keharusan menjadi “ulama” untuk menjadi hamba terbaik di sisi Allah. Siapa pun identitas dan latar belakang sosial kita, kita memiliki hak yang sama untuk menjadi hamba Allah terbaik. Syaratnya tentu bagaimana menjadikan orang-orang di sekeliling kita istiqamah mengingat Allah setiap kali melihat diri kita.
Untuk mencapai taraf itu, keteladanan yang baik (uswah hasanah) dalam pikiran, sikap, maupun tindakan, menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap hamba manakala berharap menjadi kekasih Allah, menjadi hamba terbaik di sisi-Nya dan di sisi manusia.
Hamba Allah Terburuk
Ada dua perilaku jahat yang selalu dilakukan oleh hamba Allah yang paling buruk. Pertama, suka menyebarkan fitnah. Kedua, suka mendatangkan kesulitan bagi orang yang tidak bersalah.
Fitnah merupakan perkataan bohong tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang, dan lainnya. Fitnah bersumber dari rasa dengki dan benci terhadap seseorang. Fitnah lahir sebagai akumulasi dari ghibah dan buhtan. Fitnah merupakan kejahatan tertinggi yang diproduksi oleh lisan. Tujuan utamanya bagaimana agar orang-orang yang saling mencintai bisa berpisah.
Fitnah ada di mana-mana dan bisa menimpa siapa pun tanpa pandang status. Seorang tetangga misalnya, tega memfitnah tetangga lainnya dengan tujuan agar kehidupan keluarga tetangga tersebut berantakan dan berakhir dengan penceraian. Atau, karena ambisi untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi orang tega memfitnah atasannya sehingga karirnya hancur. Taktik busuk menebarkan fitnah untuk kepentingan pribadi atau golongan ini seringkali terjadi di tengah-tengah kehidupan kita. Terhadap fitnah ini, orang Islam harus selalu waspada. Waspada untuk tidak berbuat fitnah dan waspada untuk menghadapi fitnah pihak lain dengan cara-cara yang arif, bijaksana, dan tegas.
Begitu besarnya bahaya dan dosa fitnah, hingga Islam mengkategorikannya sebagai perbuatan yang lebih kejam dari pembunuhan (QS Al-Baqarah [2]: 191). Bahkan, Nabi Muhammad saw menyebutkan orang yang suka menebar fitnah sebagai calon penghuni neraka, ”Tidak akan masuk surga orang yang suka menyebarkan fitnah.” (HR Bukhari & Muslim).
Fitnah itu ibarat menyulut ranting kering. Ia akan cepat merebak ke mana-mana dan membakar apa pun yang dilaluinya. Lalu, menjadi abu. Cara terbaik untuk terhindar dari fitnah adalah jangan pernah sedikit pun terdetik di hati kita untuk memfitnah. Ketika ada dorongan kuat dari nafsu kita memfitnah, beristighfarlah dan mohonlah ampun kepada Allah. Insya-Allah kita selamat dari api fitnah.
Perilaku jahat seorang hamba Allah terburuk lainnya adalah suka mendatangkan kesulitan bagi orang yang tidak bersalah. Sikap ini biasanya bersumber dari rasa dengki atau hasad. Dengki merupakan sifat tercela. Ia adalah perasaan tidak senang dengan kebahagiaan orang lain, disertai keinginan agar kebahagiaan itu hilang darinya. Karena itu, segala cara dan taktik jahat akan dilakukan bahkan menghalalkan sesuatu yang haram sekalipun.
Betapa jahat seorang pendengki, ia tidak rela melihat orang lain bahagia, sebaliknya ia bersuka cita melihat orang lain bergelimang lara. Allah menggambarkan sikap dengki ini dalam firman-Nya, “Bila kamu memperoleh kebaikan, maka hal itu menyedihkan mereka, dan kalau kamu ditimpa kesusahan maka mereka girang karenanya.” (QS Ali Imran [3]: 120)
Sifat dengki tidak bisa dianggap remeh. Jika virus ini terus mengendap dalam hati seseorang, cepat atau lambat akan merusak keimanan dan kepribadian seseorang. Ia akan menjelma menjadi usaha-usaha negatif yang merugikan. Seperti tutur kata yang kasar dan menyakiti hati, atau perbuatan dan tindakan yang kerap bermotif menjatuhkan, menghina dan menyudutkan. Bahkan, tidak jarang kedengkian yang terpelihara dalam hati seseorang kemudian berbuntut tragedi pembunuhan mengenaskan. Seperti yang pernah terjadi pada kedua putra Nabi Adam, Qabil dan Habil.
Untuk itulah, Rasulullah saw mengajak umatnya untuk senantiasa menjauhi sikap dengki sesuai sabdanya, “Jauhilah dengki, karena dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api makan kayu bakar.” (HR Abu Daud).
Memang, manusia diciptakan dengan kecenderungan untuk mendengki. Tetapi, orang yang beriman akan selalu berusaha menghilangkan sifat jelek ini. Mereka tidak tertawan oleh perasaan buruk yang jelas-jelas sangat tidak produktif dan menyengsarakan ini. Hal itu disebabkan karena orang-orang beriman menyadari bahwa sifat dengki akan semakin menjauhkan mereka dari Allah. Seperti halnya mereka menyadari bahwa sikap dengki hanya akan menyebabkan pelakukanya dimasukkan api neraka. Masihkah kita akan bersikap dengki?

Berjuta Cinta dalam Bayang-Bayang Pedang


Dari Abdullah bin Umar rahimahumullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتىَّ يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِيْ تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِيْ وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصِّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِيْ وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Aku diutus menjelang hari kebangkitan dengan pedang supaya hanya Allah semata yang di ibadahi, tiada sekutu bagi-Nya. Rezekiku diletakkan di bawah naungan pedangku. Kerendahan dan kehinaan ditetapkan bagi siapa saja yang menyelisihi perintahku. Barang siapa menyerupai suatu kaum, ia termasuk bagian dari mereka.”
Benarkah Islam agama yang penuh rahmah dan kasih sayang? Benarkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan cinta dan kedamaian kepada umat manusia? Jika memang benar, mengapa kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dipenuhi dengan cerita perang dan pertempuran? Itulah sebuah syubhat yang diungkap untuk mencitrakan Islam sebagai agama yang buas dan penuh kebencian. Maka dari itu, hadits di atas hanya sebagian penggalannya yang dibahas untuk sedikit menjawab syubhat tersebut.
Hadits tersebut dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad (no. 5114, 5115, 5667), al-Khatib dalam al-Faqih wal Mutafaqqih (2/73), dan Ibnu Asakir (1/19/96) dari jalan Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban dari Hassan bin ‘Athiyyah dari Abu Munib al-Jarasyi.
Asy-Syaikh al-Albani menjelaskan dalam Jilbab Mar’ah Muslimah (203— 204), “Hadits ini sanadnya hasan. Mengenai Ibnu Tsauban, memang ada pembicaraan, namun tidak memudaratkan. Al-Imam al-Bukhari rahimahumullahtelah menyebutkan sebagian dari hadits di atas secara mu’allaq di dalam Shahihnya (6/75).”
Al-Hafizh rahimahumullah menjelaskan dalam syarahnya, “Hadits ini adalah bagian dari hadits yang dikeluarkan oleh al- Imam Ahmad dari jalan Abu Munib… dan hadits ini mempunyai penguat yang mursal dengan sanad yang hasan, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari jalan al-‘Auza’i dari Sa’id bin Jabalah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara keseluruhan.”

Tujuan Berperang

Perang, dalam perspektif Islam, memiliki tujuan dan cita-cita mulia, antara lain:
1. Membebaskan manusia dari peribadahan kepada makhluk menuju peribadahan kepada Allah Subhanahuwata’ala , Dzat yang menciptakan dan memberikan rezeki untuk mereka. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dans upaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (al- Anfal: 39)
2. Menghapuskan kezaliman dan mengembalikan setiap hak kepada pemiliknya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,
أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuasa menolong mereka itu.” (al-Hajj: 39)
الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ ۗ
“(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, selain karena mereka berkata,‘Rabb kami hanyalah Allah’.” (al-Hajj: 40)
3. Menghinakan orang-orang kafir, menghukum, dan melemahkan kekuatan mereka. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,
قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِينَ () وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ ۗ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu. Allah akan menghinakan mereka, menolong kamu dari mereka, dan melegakan hati orang-orang yang beriman,serta Allah akan menghilangkan panas hati orang orang mukmin. Dan Allah menerima taubat orang-orang yang dikehendaki- Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.” (at-Taubah: 14-15) (al-Mulakhas Fiqhi, al-Fauzan, 1/379—380)

Beberapa Adab dalam Berperang

Sebagai bukti bahwa Islam mengajarkan cinta kasih, tidak asal membunuh, dan tidak menekankan kebencian, adalah adab-adab yang dibimbingkan oleh Rasulullah n pada setiap peperangan. Di antaranya adalah,
1. Islam selalu menawarkan pilihan pilihan sebelum berperang, yaitu masuk Islam atau membayar jizyah (semacam upeti) dengan mereka tetap menjalankan agama masing-masing.
Di dalam hadits Buraidah radhiyallahu anhu, beliau bercerita, “Dahulu, kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mengangkat seorang panglima untuk sebuah pasukan perang, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memberikan wasiat secara khusus untuk bertakwa kepada Allah Subhanahuwata’ala dan berbuat baik kepada kaum muslimin yang menyertainya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan,
“Berperanglahdengan menyebut nama Allah Subhanahuwata’ala  di jalan- Nya! Perangilah orang-orang yang kufur terhadap Allah Subhanahuwata’ala! Janganlah kalian berbuat ghulul (mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi), berkhianat, mencincang jasad musuh, dan janganlah membunuh anak-anak. Jikaengkauberjumpamusuhdarikaum musyrikin, tawarkan kepada mereka tiga hal. Apa pun yang mereka pilih darimu, terimalahdantahanlahdirimu dari mereka.” (Shahih Muslim, 1731)
Ketiga hal tersebut adalah: masuk Islam, membayar jizyah, atau berperang. Sama juga dengan pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu sebelum menyerang benteng Khaibar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ثُمَّ
“Berangkatlah dengan hati-hati hingga engkau berada didepan benteng mereka. Kemudian, ajaklah mereka ke dalam Islam! Sampaikan kepada mereka akan kewajiban mereka terhadap hak Allah Subhanahuwata’ala . Demi Allah, (seandainya) Allah Subhanahuwata’ala memberikan hidayah kepada seseorang melalui sebab dirimu, itulebih baik bagimu daripada unta merah.”(HR. al-Bukhari no. 2942, Muslimno. 2406)
2. Islam tidak mengajarkan untuk berharap bertemu dengan musuh. Namun, jika telah berjumpa haruslah bersabar. Di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا تَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ فَإذَِا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا
“Janganlah kalian berharap-harap bertemu dengan musuh. Akan tetapi, jika kalian telah bertemu dengan musuh,bersabarlah!” (HR. al-Bukhari no. 3025 dan Muslim no. 1741)
3. Dilarang membunuh kaum wanita dan anak-anak. Ibnu Umar radhiyallahu anhu bercerita tentang seorang wanita yang ditemukan terbunuh dalam sebuah peperangan yang diikuti oleh Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari pembunuhan terhadap kaum wanita dan anak-anak (HR. al-Bukhari no. 3013 dan Muslim no. 1745).
4. Dilarang berbuat khianat, mencincang ,dan mencacat jasad musuh, serta ghulul (mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi).
Dalilnya adalah hadits Buraidah radhiyallahu anhu pada poin pertama.
5. Dilarang membunuh musuh yang dalam keadaan tidak berdaya.
Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beristirahat di bawah naungan sebuah pohon dalam Perang Dzatur Riqa’. Datang seorang musuh dengan menghunus pedang sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang tertidur. Saat Nabi terbangun, orang itu bertanya, “Apakah engkau takut kepadaku?” Jawab Nabi, “Tidak!” Orang itu bertanya lagi, “Siapa yang akan menghalangiku dari membunuhmu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Allah Subhanahuwata’ala.” Seketika itu, pedang yang ia bawa terjatuh lalu diambil oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau balik bertanya, “Siapakah yang akan menghalangiku dari membunuhmu?”Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajaknya masuk Islam. Ia menolak, tetapi berjanji untuk tidak lagi ikut memerangi kaum muslimin. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkannya pergi.
Orang itu kembali ke kaumnya dan mengatakan, “Aku datang kepada kalian setelah bertemu dengan manusia terbaik.” (HR. al- Bukhari no. 4139 dan Muslim no. 843)
Latar Belakang Perang di Masa Nabi n Sejarah perang di masa Nabi Muhammad n selalu diawali oleh sikap-sikap kaum musyrikin yang mengganggu ketenteraman kaum muslimin, pengkhianatan mereka, dan kezaliman mereka. Perang terjadi setelah tiga belas tahun lamanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin bersabar atas kezaliman dan kejahatan kaum musyrikin selama di Makkah. Berikut ini beberapa latar belakang perang yang terjadi pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
1. Perang Badar
Semua berawal dari rongrongan kaum musyrikin Quraisy yang berusaha membuat makar untuk menghancurkan kaum muslimin. Mereka mengirim suratsurat kepada kaum musyrikin di Yatsrib (Madinah) untuk berusaha menekan, memerangi, dan mengusir kaum muslimin dari kota Madinah. Mereka diancam akan dibunuh dan perempuan-perempuan mereka akan dihalalkan jika tidak memerangi kaum muslimin. Kaum muslimin pun berusaha balas menekan. Di antara bentuknya adalah melakukan penghadangan terhadap kafilah-kafilah dagang kaum musyrikin Quraisy.
Hingga suatu saat, kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan berhasil lepas dari pengintaian kaum muslimin. Ia pun mengirimkan berita kepada kaum musyrikin di Makkah tentang usaha penghadangan kaum muslimin. Berangkatlah kurang lebih 1.000 orang pasukan dengan perlengkapan dan peralatan perang, di atas keangkuhan dan kesombongan. Sementara itu, kaum muslimin hanya membawa perlengkapan dan peralatan seadanya, itu pun dengan jumlah pasukan kurang lebih tiga ratus orang. Terjadilah peperangan yang kemudian dimenangi oleh kaum muslimin.
Bermula dari kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke bani Nadhir untuk menghitung/ menentukan tebusan atas kesalahan seorang sahabat yang membunuh dua orang Yahudi. Namun, orangorang bani Nadhir justru berencana mempergunakan kesempatan tersebut untuk membunuh Rasulullah n secara diam-diam. Akan tetapi, malaikat Jibril  memberitahukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang rencana mereka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bergegas kembali ke Madinah lalu memerintahkan Muhammad bin Maslamah untuk menyampaikan kepada bani Nadhir agar mereka segera meninggalkan tempat mereka dalam waktu sepuluh hari. Jika tidak, mereka akan diperangi. Karena hasutan dari orang-orang Yahudi lainnya, mereka pun menolak tawaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka justru mempersiapkan diri untuk berperang melawan kaum muslimin.
Setelah dikepung selama enam malam, bani Nadhir kemudian menyerah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusir mereka dari Madinah dan memberikan kemurahan sehingga mereka bisa membawa barang dan harta, selain senjata. Allah Subhanahuwata’ala menceritakan hal ini dalam surat al-Hasyr.
3. Perang Ahzab Perang ini terjadi karena persekongkolan dan makar jahat kaum musyrikin Makkah, kabilah Ghathafan, kaum Yahudi, dan kabilah-kabilah lainnya. Mereka bersepakat untuk bersatu dan bersama-sama menyerang kota Madinah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermusyawarah dengan para sahabat untuk menentukan strategi di dalam menghadapi pasukan gabungan tersebut. Jadi, Perang Ahzab adalah perang yang terjadi karena kaum muslimin membela diri dan mempertahankan kota Madinah.
4. Perang Bani Quraizhah Bani Quraizhah adalah kabilah Yahudi yang melakukan pengkhianatan terhadap kaum muslimin. Pada saat kaum muslimin sedang sibuk melawan pasukan gabungan dalam Perang Ahzab di sebelah utara Madinah, bani Quraizhah yang berada di sebelah selatan Madinah malah menyatakan perang.
Padahal, tidak ada yang menghalangi antara bani Quraizhah dengan lokasi perlindungan kaum wanita dan anak-anak kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersedih, pun para sahabatnya. Setelah Allah Subhanahuwata’ala memberikan kemenangan kepada kaum muslimin dalam peristiwa Perang Ahzab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berangkat menuju tempat tinggal bani Quraizhah untuk menghukum mereka atas pengkhianatan yang mereka lakukan.
5. Perang Mu’tah
Perang ini terjadi karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam marah saat mendengar utusan beliau, sahabat al-Harits bin ‘Amr, yang membawa surat untuk penguasa negeri Basra malah dibunuh dan dipenggal kepalanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan pasukan terdiri dari 3.000 orang dengan pimpinan secara bergantian Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Itu pun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan untuk menyampaikan tawaran Islam kepada mereka terlebih dahulu. Jika menolak, mereka boleh diperangi.
Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan, “Berperanglahkaliandengannama Allah Subhanahuwata’ala  dandijalan Allah Subhanahuwata’ala. Bunuhlah orangy angm elakukank ekufurank epada Allah Subhanahuwata’ala. Janganlah kalian menipu dan mencuri harta rampasan perang. Jangan pula membunuh anak-anak, kaum wanita, dan orang-orang tua. Janganlah kalianmerusak tempat ibadahmereka, menebangpohonkurma, danpohon apapun,serta janganlah merobohkan bangunan!”
6. Fathu Makkah
Inilah peristiwa penaklukan kota Makkah. Bermula dari pengkhianatan kaum musyrikin Quraisy yang secara diam-diam membantu sekutu mereka, bani Bakr, untuk menyerang bani Khuza’ah. Padahal Khuza’ah adalah sekutu kaum muslimin. Sementara itu, dalam Perjanjian Hudaibiyah telah disepakati masa gencatan senjata. Ternyata, orangorang bani Bakr telah membunuh lebih dari dua puluh orang bani Khuza’ah. Khuza’ah lalu menyampaikan berita itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bergeraklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat untuk menaklukan kota Makkah.
Setelah kota Makkah ditaklukkan, apa yang beliau lakukan? Beliau mengatakan kepada kaum Quraisy yang dahulu memusuhi dan memerangi kaum muslimin, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian. Bubarlah, karena kalian adalah orang-orang yang bebas!”

 

Sungguh Sangat Berbeda!

Sungguh sangat berbeda! Peperangan yang dikenal dan terjadi pada masa jahiliah adalah peperangan yang dipenuhi oleh kekejaman, kekerasan, perampokan, penghancuran kehormatan, pemusnahan ladang dan kebun, pembunuhan terhadap anak-anak, tanpa kasih sayang dan rasa perikemanusiaan.
Adapun Islam, peperangan adalah sarana untuk menebarkan kasih sayang dan keadilan, menolong orang-orang yang terzalimi, dan menegakkan kalimat Allah Subhanahuwata’ala sehingga peribadahan benarbenar menjadi hanya untuk Allah Subhanahuwata’ala.
Lihatlah adab-adab berperang yang diajarkan oleh Islam. Betapa rahmat dan penuh cinta! Bandingkanlah! Selama tidak lebih dari delapan tahun peperangan yang dijalankan di masa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, korban terbunuh hanya sebatas 1.000 orang dari kalangan kaum muslimin, kaum musyrikin, Yahudi, dan Nasrani.
Dengan rentang waktu yang relatif singkat dan korban jiwa yang relatif kecil, kaum muslimin mampu menundukkan hampir seluruh Jazirah Arab dan menciptakan keamanan serta ketenteraman. Adapun peperangan di zaman jahiliah sangat jauh berbeda. Korban begitu banyak, dilatarbelakangi oleh dendam dan benci, penuh ketakutan dan tidak berakhir.
Misalnya, perang antara bani Bakr dan kabilah Taghlib yang terjadi selama empat puluh tahun dengan korban sekitar 70.000 orang! Atau perang antara Aus dan Khazraj yang terjadi hampir seratus tahun. Sungguh sangat berbeda! Bandingkanlah dengan peperangan yang dilakukan dan dijalani oleh kaum kafir Barat! Dalam Perang Dunia Pertama, yang hanya berlangsung kurang lebih selama empat tahun, minimalnya ada 40 juta orang tewas.
Mayoritasnya adalah warga sipil yang tidak terlibat dalam peperangan secara langsung. Sekitar 9 juta orang tewas akibat kekurangan pangan, kelaparan, pembunuhan massal, dan terlibat secara tidak langsung dalam pertempuran. Dalam perang ini, senjata kimia digunakan untuk pertama kalinya, pemboman atas warga sipil dari udara dilakukan, dan banyak pembunuhanmassal.
Bandingkan juga dengan Perang Dunia Kedua! Perang terbesar dalam sejarah manusia yang melibatkan kaum kafir Barat yang hanya terjadi dalam waktu enam tahun, telah memakan korban 70 juta orang tewas, mayoritasnya masyarakat sipil. Dalam dua perang dunia ini, mencuat nama-nama penjahat perang semacam Hitler, Mussolini, Lenin, Stalin, dan lainnya. Demikian juga kejahatankejahatan yang tercatat dalam sejarah hitam dunia. Tokyo dibom bakar oleh sekutu yang mengakibatkan 90.000 orang tewas akibat kebakaran hebat di seluruh kota.
Hiroshima dan Nagasaki dibom atom yang mengakibatkan korban dan kerugian besar. Hal-hal yang sangat tidak beradab dan tidak berperikemanusiaan telah dipertontonkan oleh kaum kafir Barat. Atau juga kejahatan yang dilakukan oleh Slobodan Milosevic yang melakukan genosida (pembantaian etnis secara massal) terhadap kaum muslimin di Bosnia.
Belum lagi kejahatan kaum kafir Barat terhadap kaum muslimin di Afghanistan, Palestina, Chechnya, dan banyak daerah lain. Sebelumnya lagi, dalam catatan Perang Salib. Sejarah telah mencatat kekejaman dan kejahatan yang dilakukan oleh kaum Salibis terhadap kaum
muslimin.
Pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak, pembakaran masjid dan bangunan lainnya, pemerkosaan, tindakan keji dan bengis, serta perbuatan bengis lainnya. Kita harus bertanya, “Siapakah yang patut dianggap sebagai kaum yang jahat dan tidak berperikemanusiaan? Siapa pula yang pantas dinilai sebagai kaum yang penuh rahmat dan kasih sayang? Kaum muslimin yang mengajarkan adab adab penuh cinta dan kasih sayang di dalam berperang; ataukah kaum kafir Barat yang menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan?” Alhamdulillah, Islam adalah agama yang mengajarkan rahmat dan kasih sayang.
Al-Qur’an, sunnah, dan sejarah Nabi Muhammad n menjadi bukti hal tersebut. Meskipun ada kelompok kelompok atau individu-individu yang melakukan kejahatan lalu menisbatkan dirinya kepada Islam, sesungguhnya Islam berlepas diri dari mereka.
Wallahulmusta’an, walhamdulillah Rabbil ‘alamin.

Senin, 16 September 2013

AKHLAQ

Globalisasi telah membawa dampak buruk berupa masuknya berbagai jenis narkoba ke negari kita. Sangsi yang lebih ringan dari negeri tetangga, menyebabkan sindikat narkoba internasional menjadikan negeri ini sorga bagi pemasaran produknya. Menurut Badan Narkotika Nasional (BNN) saat ini tercatat ada 3,6 juta pecandu narkoba. Yang tidak tercatat tentu lebih banyak lagi. Tidak kurang 41 orang meninggal setiap hari karena penyalah-gunaan narkoba. Trilyunan rupiah per tahun harus dikeluarkan oleh Pemerintah untuk menangani narkoba.
Derasnya arus informasi dan komunikasi ternyata juga membawa dampak negatif yang lain, seperti penyalah-gunaan seksual. Semakin lancarnya arus transportasi manusia antar negara, juga menyebabkan semakin pesatnya penyebaran HIV/AIDS. Lagi-lagi Pemerintah harus menyisihkan trilyunan rupiah untuk mengatasi dampak HIV/AIDS.
Penyalah-gunaan narkoba dan penyalah-gunaan seksual hanya bisa diatasi  secara efektif dengan pembangunan akhlak seluruh komponen bangsa. Sayang pembangunan akhlak bangsa ini tidak menjadi prioritas utama, sehingga berbagai prestasi pembangunan fisik yang dicapai digerogoti oleh orang-orang yang rusak akhlaknya. KKN tumbuh subur dimana-mana. Meskipun kaya, negara ini bisa bangkrut karenanya. Anggaran pemerintah yang bocor, harta milik negara yang dikuras koruptor, kekayaan alam yang dibawa lari pencuri dari luar negeri, dan bahan tambang yang dikeruk perusahaan asing lebih dari cukup untuk memakmurkan bangsa.
Saudaraku, jangan tunda lagi untuk membangun akhlak sendiri. Gunakan kesempatan Ramadhan tahun ini untuk memperbaiki diri. Perbaikilah akhlak kita kepada Allah, tingkatkan ketakwaan, taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Selalu segarkan dalam ingatan bahwa kita ini hanyalah pelayan, budak, dan hamba Allah. Seorang budak tidak patut kiranya bermaksiat kepada Tuhannya. Allah yang memegang kunci keberuntungan dan kebuntungan kita dalam kehidupan kekal, kelak di akherat. Demi keberuntungan pegang erat dan perkuatlah hablum minalloohi.
Perbaiki akhlak kita kepada sesama. Kepada yang lebih tua kita menghormat, kepada yang lebih muda kita menyayanginya. Tanamkan di dalam diri, bahwa yang paling mulia di antara manusia adalah yang bertakwa. “Inna akramakum ‘indalloohi atqookum“.
….Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah orang yang bertakwa… ( QS Al Hujurat 49 : 13).
Yang menjadi pejabat jangan sombong dan merasa besar kepada rakyat jelata. Orang sombong tidak akan masuk surga. Namun bagi rakyat juga jangan merasa minder dan merasa rendah diri kepada para pejabat. Karena minder dan merasa rendah diri termasuk syirik. Dekatkan diri dengan orang-orang beriman, tumbuhkan kasih sayang sesama mereka. Jaga jarak dengan orang-orang yang memilih jalan kekafiran dari pada keimanan. Pegang erat dan perkuatlah hablum minannaasi.
Hanya dengan memegang erat hablum minalloohi (tali agama Allah) dan hablum minannaasi (tali perjanjian dengan manusia), maka orang beriman akan terhindar dari kehinaan
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. (QS Ali Imran 3: 112).
Sambil memperkuat diri, mari kita tingkatkan dakwah kepada orang-orang di sekitar kita. Tak peduli kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, tua atau muda, kita ajak mereka untuk bertaubat, kembali ke jalan Allah, jalan kebaikan dan kebenaran.
Kita sambut limpahan ampunan Allah, karena Allah berjanji akan mengampuni dosa-dosa semuanya
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Az Zumar 39: 53).
Kita sadarkan mereka agar lebih peduli terhadap perbaikan akhlak bangsa. Masa depan negeri ini tergantung kualitas akhlak para penghuninya, tergantung akhlak bangsanya.
Mari kita arahkan pembangunan negeri ini dengan mengedepankan pembangunan jiwa, pembangunan akhlak. Sebagaimana tercermin dalam lagu Indonesia Raya: “Bangunlah jiwanya, bangunlah bandannya, untuk Indonesia Raya“.
Membangun jiwa hendaknya lebih diutamakan dari pada badan. Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk memperbaiki diri dan memperbaiki akhlak bangsa ini, Aamiin.

MEMAHAMI AL QUR'AN

Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa beliau telah meninggalkan 2 perkara yang apabila manusia berpegang teguh kepada keduanya mereka tidak akan tersesat selamanya. Kedua perkara itu adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka menjadi sangat penting bagi orang Islam untuk memahami Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketertinggalan ummat Islam dari ummat lain dalam berbagai bidang kehidupan bukan karena kehebatan ummat lain, tetapi karena ummat Islam tidak memahami ajaran agamanya sendiri.
Mereka hidup terombang-ambing oleh keinginan hawa nafsunya, tidak memiliki pegangan yang kuat. Sebagian karena tidak memahami Al-Qur’an dan sebagian lain karena tidak mentaati Al-Qur’an. Menurut Imam Ibnul-Qayyim Al-Jauziy kelompok pertama tidak memperoleh hidayah ilmu, sedang kelompok kedua meski telah memperoleh hidayah ilmu tetapi tidak memperoleh hidayah amal.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan kepadanya, maka Allah akan memberinya kefahaman dalam agamanya. Faham terhadap agamanya berarti memahami Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, yang merupakan warisan yang sangat berharga bagi ummat manusia yang mau memahami dan mengimaninya.
Bagi kita ummat Islam harus mengimani sepenuh hati, tanpa ragu, bahwa hanya dengan Al-Qur’an manusia secara pribadi maupun secara keseluruhan bisa menjadi baik dan selamat dalam hidupnya di dunia ini maupun di akhirat kelak.
Imam Malik mengatakan, “Tidak akan dapat memperbaiki (keadaan) ummat akhir ini melainkan dengan apa yang pernah memperbaiki (keadaan) ummat pertamanya”. Rasulullah SAW memerintahkan, “Beredarlah kalian mengikuti Al-Qur’an ke mana saja dia beredar [HR. Hakim].
Dan sabdanya yang lain, “Barangsiapa menjadikan Al-Qur’an itu di depannya (untuk diikuti) maka akan membawanya ke surga, dan barangsiapa yang menjadikan Al-Qur’an itu di belakangnya (mengikuti hawa nafsunya), maka akan memasukkan ke dalam neraka. [HR. Ibnu Majah]
Dari situ jelaslah bahwa manusia sejak dahulu sampai sekarang ini tidak akan bisa menjadi baik tanpa memahami dan mengikuti Al-Qur’an.
Lebih tegas lagi Allah SWT menjelaskan, “Ini adalah sebuah kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan, penuh berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. [QS. Shaad : 29].
Dan juga firman Allah SWT yang artinya, “Dan (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa. [QS. Al-An'aam : 153]
Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Qur’an, sedang dia dibacakan kepada mereka ? Sesungguhnya dalam Al-Qur’an itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. [QS. Al-'Ankabuut : 51]
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah, itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu (Al-Qur’an). Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Da barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya. [QS. Az-Zumar : 23]
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab (Al-Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridlaan-Nya ke jalan keselamatan, dan dengan Al-Qur’an itu pula Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap-gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. [QS. Al-Maaidah : 15-16]
Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu datang kepada mereka, mereka itu pasti akan celaka, dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebathilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. [QS. Fushshilat : 41-42]
Dari beberapa ayat Al-Qur’an tersebut memberi pengertian kepada kita serta meyaqinkan bahwa manusia menjadi selamat karena mengimani dan memahami serta mengamalkan Al-Qur’an. Dan manusia menjadi sesat juga karenanya tidak memahami dan tidak mengimani Al-Qur’an. Dengan demikian sangat penting memahami Al-Qur’an bagi siapasaja yang menginginkan keselamatan dan kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat kelak, bagi ummat Islam fardlu ‘ain memahami Al-Qur’an, agar dapat menjadi orang Islam yang benar-benar tingkah lakunya sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an yang merupakan sumbernya ajaran Islam. Semoga bermanfat bagi kita semua, aamiin.

MEMEGANG TEGUH AL QUR'AN DAN AS SUNNAH

Keterpurukan dan kondisi umat Islam saat ini, bukan disebabkan karena kehebatan dan kemajuan umat lain. Namun disebabkan oleh kesalahan kita sendiri dalam memilih cara hidup yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Sebagian pemuka agama ada yang berperilaku seperti perilaku pemuka agama Yahudi dan Nasrani.
Mereka menyembunyikan yang haq, karena alasan yang bersifat pribadi. Bahkan sebagian yang lain menyembunyikannya karena alasan rejeki. Padahal Ar Razaq itu hanya Allah swt. Bagaimana dapat memperoleh rejeki yang barakah kalau jalannya dengan menyembunyikan yang haq? Sebagian yang lain suka mencampur adukkan yang haq dan yang batil. Sehingga umat tidak bisa melihat dengan jelas mana yang halal dan mana yang haram. Kebenaran yang seharusnya disampaikan dengan jelas menjadi kabur, kelihatan samar-samar.
Sedangkan sebagian besar rakyat jelata malas mempelajari kebenaran langsung dari sumbernya Al Qur’an dan As Sunnah. Sehingga apa yang mereka dapatkan kebatilan yang dipoles sehingga seolah-olah nampak benar. Yang mereka jadikan rujukan hanya mitos, tradisi, dan pendapat para kyai, bukan Al Qur’an dan As Sunnah. Padahal siapa yang dapat menjamin kebenaran dari ketiganya? Tidak ada sama sekali.
Apalagi sebagian yang lain lebih suka hiburan, foya-foya, dan memuaskan hawa nafsu dari pada menuntut ilmu. Panggung-panggung hiburan yang menampilkan para penyanyi ndhang ndhut selalu dipenuhi oleh anak-anak muda, laki-laki maupun perempuan yang bercampur baur. Sedang pengajian yang mengajarkan Al Qur’an dan As Sunnah mereka abaikan begitu saja. Mereka tidak suka dibimbing untuk menjadi bangsa yang maju terpimpin. Mereka lebih suka hidup bebas untuk memuaskan hawa nafsu.
Maka tidak heran kalau yang kita lihat bukan kemajuan tapi kemerosotan, bukan prestasi tapi dekadensi, bukan kehidupan yang aman, tenteram, damai, dan sejahtera, tetapi kehidupan yang resah, gelisah, penuh kebencian dan kedengkian.
Bagaimana kita dapat memperbaiki-nya? Sudahkah kita terlambat untuk berbuat? Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat. Selama hayat masih dikandung badan, sebelum nyawa sampai di tenggorokan, Allah tetap akan menghargai pertaubatan kita. Sebagai orang awam sebaiknya segera kita berusaha untuk mempelajari Al Qur’an dan As Sunnah, sehingga tidak mudah tertipu dan tersesat dalam beramal. Rasulullah saw berwasiat dalam sebuah hadist riwayat Ibnu Abdil Barr :
“Aku telah meninggalkan kepadamu dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.” Apa yang kita fahami dari Al Qur’an dan As Sunnah segera kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Amalan inilah yang memungkinkan terjadinya proses perubahan karakter kita yang jelek manjadi baik, malas menjadi rajin, kikir menjadi dermawan, isyrak menjadi ikhlas.
Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dari Hudzaifah Rasulullah saw berpesan: Duru ma’a kitabillahi haitsu ma dara (Hendaklah kamu sekalian beredar bersama kitab Allah kemana saja dia beredar). Rasulullah saw mengajak kita semua untuk senantiasa mengikuti Al Qur’an. Menjadikan Al Qur’an sebagai imam kita dan pemberi arah gerak kita. Dan menjadikannya sebagai rujukan atas kebenaran, karena Al Qur’an tidak pernah tersentuh oleh kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya (TQS 41: 42).
وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat (TQS 6: 155)
Ayat yang dikutip di atas mengingatkan kepada kita semua untuk mengikutinya, mengikuti aturan, tata kehidupan dan nilai-nilai moral yang diajarkan Allah di dalamnya dan mengingatkan kita untuk bertakwa agar kita mendapatkan kasih sayang-Nya.
Begitu pentingnya bertakwa sehingga beliau saw juga berpesan: “Ittaqillaha haitsu ma kunta” (bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada.) Umat ini terpuruk dan hina karena jauh dari cinta dan kasih sayang-Nya. Untuk itu hanya dengan kembali bertaat kepada-Nya dan mengikuti sunnah nabi-Nya kita akan mendapatkan cinta dan kasih sayangnya (QS 3: 31). Bahkan dengan jalan berbuat taat kepada Allah dan Rasul-Nya inilah kita akan mendapatkan kemenangan yang besar (QS 4: 13). Akan tetapi sebaliknya kalau kita durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya yang akan kita peroleh tiada lain kecuali neraka dan siksa yang menghinakan (QS 4: 14).
Sebagai tokoh masyarakat, pemuka agama, atau orang yang dituakan di lingkungannya, hendaklah kita berusaha untuk senantiasa meningkatkan kualitas moral dan intelektual kita masing-masing. Dengan senantiasa mengoreksi pikiran, ucapan, dan amalan kita dengan ayat-ayat Al Qur’an dan As Sunnah. Apa yang sesuai kita syukuri dengan terus meningkatkan diri dan apa yang tidak sesuai segera kita tinggalkan.
Dunia ini bergerak dengan cepat, anak muda maju dengan pesat didukung oleh berbagai fasilitas baru seperti CD, komputer, televisi, dan internet. Sebagai orang tua kalau kita tidak bergerak maju, merasa cukup ilmu yang dimiliki, maka kita akan tertinggal dari yang muda. Bukan masanya lagi kita memperdebatkan khilafiyyah. Dengan semangat kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah, mari kita saling menghormati. Lana a’maluna walakum a’malukum. Mari kita saling bekerja-sama, kalau memang tidak bisa mari kita sama-sama bekerja.

BAHAYA MENINGGALAKAN AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR

Allah SWT pernah memberikan julukan para sahabat Rasulullah SAW sebagai umat yang terbaik yang dilahirkan untuk kepentingan manusia. Yang demikian itu karena mereka teguh dalam iman kepada Allah dan bersungguh-sungguh melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. [QS Ali Imran : 110].
Islam sebagai agama sangat berwibawa di mata agama-agama lain di dunia. Umat Islam sebagai pemeluknya sangat dihormati baik oleh kawan maupun lawan. Hak-hak individual maupun sosial di tengah masyarakat sangat dihargai. Namimah, ghibah, dan fitnah dapat diminimalisir. Gangguan keamanan, pencurian dan perampokan amat sangat jarang terdengar. Yang ada justru kehidupan yang digambarkan oleh Rasulullah SAW bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan satu bagian dengan bagian yang lainnya.
Beliau menetapkan bahwa diantara sesama orang beriman itu haram darahnya, haram kehormatannya dan haram hartanya. Semua pelanggaran atas hukum yang telah ditetapkan akan dikenakan sangsi yang ditegakkan dengan adil. Orang yang membunuh akan diqishash kecuali ahli warisnya memaafkan. Remaja yang berzina akan dicambuk, sedang mukhshan/mukhshanat yang berzina akan dirajam. Orang yang mencuri dengan kriteria tertentu akan dipotong tangannya. Keadaan jauh berbeda dengan apa yang dialami umat Islam saat ini. Mereka tidak lagi memiliki kewibawaan, cenderung dilecehkan, dan dikalahkan dalam berbagai kompetisi melawan umat lain.
Ulama sepakat penyebabnya adalah karena mereka jauh dari Islam, jauh dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Islam tinggal namanya, Qur’an tinggal tulisannya, masjid-masjidnya ramai tetapi jauh dari hidayah Allah. Mereka tidak beriman dengan iman yang sebenarnya. Maka kualitas iman umat Islam tidak ubahnya seperti buih. Tidak yakin akan kehidupan akhirat, tidak percaya akan janji-janji Allah, sehingga tidak muncul keberanian untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
Akibatnya dari pelosok desa sampai pusat kota banyak terjadi tindak kriminalitas. Bahkan para penjahatpun semakin berani melaksanakan aksinya. Sampai-sampai ada sebuah bank di tengah kota dirampok oleh 16 orang perampok bersenjata api, seorang anggota brimob tewas dan dua orang security mengalami luka tembak. Na’udzubillah.
Saudaraku, hidup di dunia ini hanya sebentar, sedang akhiratlah yang kekal

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ

Hai kaumku, Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan Sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal.[QS Al-Mu'min : 39].
Mari kita perkuat iman kita kepada Allah dan hari Akhir, karena Dialah penentu kebahagiaan hidup kita yang kekal di akhirat. Ketika Allah melalui rasul-Nya memerintahkan kepada kita untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar, maka mari kita sambut dengan senang hati. Kita laksanakan mulai dari diri kita sendiri, anggota keluarga, kerabat dekat, lalu melebar ke tengah masyarakat. Dalam satu hadist Rasululah SAW menilai amar ma’ruf nahi munkar sebagai satu bentuk sedekah.
Dalam hadist yang lain Rasululah SAW memerintahkan kita untuk mencegah kemunkaran dengan tangan. Jika tidak mampu, maka dengan lisan. Dan jika itu tidak mampu, maka dengan hati. Sedanngkan yang terakhir ini dikategorikan ke dalam iman yang paling lemah. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita iman yang kuat dan keberanian untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar.

 Syekh Muhammad Abduh pernah mengatakan: “Al-Islamu mahjuubun bilmuslimiin.” (Islam itu tertutup oleh orang-orang Islam.) Umat Islam seharusnya menjadi umat yang terbaik (khaira ummah), akan tetapi kenyataannya tidak demikian.
Para pejabat banyak yang melakukan korupsi, pemerasan dan pencucian uang untuk menopang gaya hidup borjuis. Para remaja banyak yang menenggak miras, mengkonsumsi narkoba, dan mendewa-dewakan kebebasan yang kebablasan, mempraktekkan pergaulan dan sex bebas.
Sementara itu dalam suasana perekonomian yang sulit dan kenaikan harga pangan yang membubung tinggi masih saja ada orang yang tega berbuat riba. Rentenir, bank plecit, dan lintah darat bergerilya ke pasar tradisional dan warung-warung kecil menggerogoti perekonomian rakyat miskin.
Padahal Imam Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA bahwa Nabi SAW pernah bersabda (yang artinya): “Apabila zina dan riba sudah merajalela di suatu negeri, berarti mereka telah menghalalkan/merelakan jatuhnya siksa Allah pada diri mereka sendiri”. Tidak hanya zina dan riba, hampir semua kemakshiyatan dan kedhaliman tumbuh subur di negeri ini.
Seolah kita tidak berdaya untuk mencegahnya. Padahal di dalam QS An-Nahl : 61 Allah mengancam: “Jikalau Allah menghukum manusia karena kedhalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata”, Na’udzubillah.
Saudaraku, tentu kita tidak menghendaki negeri ini dihancurkan Allah dengan sehancur-hancurnya. Kita tidak menghendaki bangsa ini dihancurkan Allah seperti kehancuran yang dialami oleh kaum ‘Aad dan Tsamut, tidak seorangpun disisakan dari mereka. [QS An-Najm : 50-51]
Kita harus bergerak mencegahnya melalui amar ma’ruf nahi munkar. Menyampaikan buah pikiran yang baik, lalu menganjurkan, mempromosikan, dan mengajak orang lain kepada kebaikan. Dalam waktu yang bersamaan kita melemahkan ide-ide buruk yang berkembang di masyarakat, menunjukkan penolakan, dan mengalahkannya dengan buah pikiran yang cemerlang. Rasulullah SAW menghasung kita untuk mencegah kemungkaran dengan tangan, bila tidak mampu dengan lisan, bila tidak mampu dengan hati.
Kita bisa memanfaatkan aparat penegak hukum untuk mencegah kemungkaran dengan kekuatan yang mereka miliki. Jangan cuek saja bila melihat kemakshiyatan, laporkan kepada aparat penegak hukum terdekat. Bila mereka tidak bergerak mencegahnya, laporkan kepada aparat yang lebih tinggi tingkatannya. Kita tingkatkan kepedulian kita kepada masyarakat untuk mencegah kemurkaan Allah, karena kemungkaran yang dilakukan oleh orang-orang yang jahat. Kita ajak umat untuk kembali ke jalan Allah.
Kita gencarkan da’wah untuk mengajak umat kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kita yaqinkan ummat bahwa keselamatan dari siksa api neraka dan kejayaan bangsa hanya bisa diperoleh dengan Al-Qur’an. Kita tunjukkan keteladanan yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW melalui sunnahnya. Kita bangun kehidupan kebersamaan dalam Islam, karena bersatu kita, teguh bercerai kita runtuh. Semoga dengan jalan demikian Allah menjauhkan kita dari kehancuran, aamiin.

Birrul Walidain


Diantara bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah berbuat baik (berbakti) kepada orang tua.  Banyak ayat dalam Al-Qur’an, Allah menggandengkan perintah kepada kita untuk memenuhi hak-Nya (yakni mentauhidkan-Nya dan tidak berbuat syirik dengan-Nya), dengan perintah untuk memenuhi hak orang tua yakni dengan berbuat baik kepada orang tua.  Diantara ayat tersebut adalah dalam QS. Ann-Nisaa : 36
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak
Demikian juga perintah Rosulullah shallallohu alaihi wasallam untuk kita berbakti kepada orang tua sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud tatkala ia bertanya kepada Rosulullah shallallohu alaihi wasallam
أيّ العمل أفضل ؟ قال  : (( الصّلاة لوقتها )).  قال :  قلت : ثمّ أيّ ؟  قال : (( برّ الوالدين ))  قال :  ثمّ أيّ ؟  قال : (( الجهاد في سبيل الله ))
“amal apa yang paling afdhol?” Rasulullah menjawab “sholat pada waktunya”. Kemudian apa lagi? “berbakti kepada orang tua”. Kemudian apa lagi? “Jihad di jalan Allah”.
Ayat dan hadits di atas memberikan petunjuk kepada kita agar kita memperhatikan hak orang tua kita yang merupakan kewajiban kita yang harus kita laksanakan sebagai bentuk ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya dan sebagai bentuk rasa syukur dan terimakasih kita kepada kebaikan-kabaikan orang tua kepada kita.
Diantara bentuk-bentuk berbuat baik kepada orang tua kita :
1.  Senantiasa menghadapkan diri kita untuk memberikan pelayanan kepada keduanya dengan memenuhi perintahnya selagi perintahnya tidak bertentangan dengan syariat Allah
2.  Berlemah-lembut ketika berbicara dengan keduanya
فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
janganlah kamu berkata kepada kedua orangtuamu ‘Ah’ dan janganlah kamu menghardik keduanya dan berkatalah kepada keduanya dengan perkataan yang baik”(QS. Al-Isra:23)
3.   menyayangi dan menghormati keduanya
4.   Berusaha menyenangkan keduanya dan memberitakan kabar-kabar yang menyenangkan dan menjauhkan dari berita-berita yang tidak menyenangkan baginya
5.   mendokan ampunan dan kebaikan bagi keduanya
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan katakanlah ‘ya Tuhanku, rahmatilah keduanya sebagaimana keduanya telah mendidik aku waktu kecil” (QS. Al-Isra: 24)
Diantara bentuk berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal :
1.  Menyelenggarakan jenazahnya
2.  membayarkan hutang-hutangnya dan nadzar yang belum ditunaikan
3.  melaksanakan wasiatnya yang tidak bertentangan dengan syariat
4.  meminta maaf dan mengembalikan hak kepada orang yang pernah dizalimi oleh orang tuanya
5.  Menghajikan dan mengumrohkan untuk orang tuanya
6.  memuliakan dan menyambung tali silaturahim kepada teman dan kerabat-kerabat ayahnya.
Ø Dalam hadits riwayat Muslim
إنّ منْ أبرّ البرّ أنْ يصل الرجل أهل ودّ أبيه بعد يولّي
“diantara sebaik-baik berbakti kepada orangtua adalah seseorang menyambung silaturahim kepada orang yang dicintai bapaknya setelah kematianya”.
Ø (shohihul jami’ 5960)
من أحبّ أن يصل أباه في قبره فليصل إخوان أبيه بعده
“siapa yang ingin menyambung silaturahim kepada bapaknya di dalam kuburnya, maka hendaklah dia menyambung silaturahim kepada saudara (kerabat) bapaknya setelah meninggalnya”
7.  mendoakan ampunan dan kebaikan untuk kedua orang tuanya
إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث : من ولد صالح يدعو له أو صدقة جارية من بعده أو علم ينتفع به
“jika manusia wafat, maka terputuslah amalannya kecuali tiga, yaitu: anak yang sho9leh yang mendoakan orangtuanya, shodaqoh jariyah dan ilmu yang bermanfaat” (shohih muslim juz 4 hal 329)
v  Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, berbakti kepada orang tua juga menjadi sebab keberkahan bagi umur dan rezki.  Sebagaiman dalam hadits riwayat bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu alihi wasallam bersabda
من احبّ أن يبسط له في رزقه وينسأ له في أثره فليصل رحمه
“Siapa yang suka untuk dibentangkan baginya rizkinya dan diberikan keberkahan dalam umurnya, maka hendaklah dia melakukan silaturahim”
Tentunya kerabat yang paling utama untuk kita bersilaturahim adalah kepada orang tua kita.
Sebagian ulama berpendapat, diantaranya Imam Nawawi. Bahwasannya dengan silaturahim, ajal atau umur seseorang akan dipanjangkan
v  Berbakti kepada orang tua juga akan menyebabkan terkabulnya doa sebagaimana kisah Uwais Al-Qorni dalam shahih Muslim (2542).  Dari Umar Bin Khotob dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu alihi wasallam bersabda :
إنّ خيرالتابعين رجل يقال له أويس.وله والدة, وكان به بياض. فمروه فليستغفر لكم
“sungguh sebaik-baik tabi’in adalah seorang yang bernama Uwais.  Dia sangat berbakti kepada ibunya.  Dulunya dia mempunyai penyakit kulit yang allah menghilangkannya kecuali sedikit.  Maka perintahkanlah kepadanya untuk memohonkan ampunan bagi kalian”
Perhatikanlah apakah yang mengangkat Uwais ini sehingga menjadi sebaik-naik tabi’in sebagaimana yang telah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu alihi wasallam.
Dengan sebab apakah sehingga Allah kabulkan doanya ketika ia berdoa agardihilangkan penyakit belangnya, sehingga Rasulullah Shallallahu alihi wasallam berkata kepada sahabatnya, hendaklah kalian memintanya tuk mohonkan ampunan untuk kalian.  Bahkan Amirul Mukminin Umar bin Khothob salah seorang sahabat mulia yang diberi kabar gembira masuk surga berkata pada Uwais, “mintakanlah ampunan untukku”, maka Uwais memintakan ampunan untuknya.  Yang menjadikan Uwais demikian adalah setelah keimanannya, berbakti kepada ibunya.
v  Amalan berbakti kepada kedua orang tua sebagai tawassul dalam berdoa sehingga Allah mengabulkannya.  Sebagaimana kisah dalam Shohih Bukhori dan Muslim (2743) Rasulullah Shallallahu alihi wasallam bersabda :  tiga orang yang berjalan lalu kehujanan mereka berlindung dalam goa.  Kemudian meluncur batu besar dari gunung jatuh menutupi mulut goa.  Sehingga masing-masing mereka bedoa dengan wasilah amalan sholeh.  Diantaranya seorang yang berdoa dengan wasilah amalan berbaktinya kepada kedua orang tuanya.  Maka Allah menggeserkan batu yang menutupi pintu goa tersebut dengan sebab doa dari ketiga orang tersebut.
v  Berbakti kepada orang tua akan mendatangkan ridho Allah sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari dari Abdullah bin Amr bin Ash, Rasulullah Shallallahu alihi wasallam bersabda, :
رضاالربّ في رضا الوالد وسخط الربّ في سخط الوالد
“keridhoan Allah di dalam keridhoan orangtua dan kemurkaan Allah pada kemurkaan  orang tua”
v  Berbakti kepada orang tua menjadi sebab yang akan mengantarkan seseorang masuk surga.  Dari Abu hurairah, Rasulullah Shallallahu alihi wasallam bersabda:
(( رغم أنف، ثمّ رغم أنف، ثمّ رغم أنف)). قيل : من با رسول الله ؟ قال : (( من ادرك أبويه عند الكبر. أحدهما أو كليهما. فلم يدخل الجنّة ))
“celaka,celaka,celaka! Ditanyakan :siapa yang celaka ya Rasulullah? Beliau menjawab; “siapa yang mendapati kedua orangtuanya berusia lanjut, salah satu atau keduanya, dia tidak masuk surga” (Shohih Muslim no 2551)
Contoh-contoh para salaf dalam berbakti kepada orang tua :
1.  Nabi Yusuf ketika bertemu dengan bapak dan ibunya setelah lama berpisah, Beliau merangkulnya dan menaikkan keduanya di atas singgasana senagai ungkapan kasih sayang dan penghormatan kepada orang tuanya yang allah mengabadikannya dalam Al-Qur’an surat Yusuf : 100
وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ
dia menaikkan kedua ibu bapaknya diatas singgasana…”.
2.
أنّ إياس ابن معاويه بكي لما ماتت امّه. فقيل : ما يبكيك؟ قال : كان لي بابان مفتوحان إلي الجنّة.  وغلّق أحدهما
Iyas bin mu’awiyah menangis tatkala ibunya wafat. Maka ditanyakan kepadanya: Mengapa engkau menangis? Maka dia menjawab” saya punya dua pintu yang selalu terbuka menuju surga dan pintu yang satu telah ditutup.
3.  Berkata Muhammad bin Biysr Al Aslami :
لم يكن بالكوفة أبرّ بأمّه من منصور بن المعتمر و أبي حنيفة، و كان منصور يفلي رأس أمّه و يذوبها
Di Kuffah, tidak ada orang yang paling berbakti kepada ibunya selain Mansur bin Mu’tamar dan Abu hanifah. Adapun Mansur, dia senantiasa mencari kutu rambut ibunya dan memintal rambut ibunya.
4.
كان حيوة بن شريح – وهو أحد أئمة المسلمين – يقعد في ملقته يعلم الناس.  فتقول له  أمّه :  قم يا حيوة فألق الشعير للدجّاج ، فيقوم ويترك التعليم
“Adalah haiwah bin Syuraih (salah seorang imam kaum Muslimin), duduk ditempat pertemuannya mengajarkan ilmu.  Suatu saat ibunya berkata kepadanya, “wahai Haiwah, berdirilah untuk memberikan gandum (makan) ayam”.  Maka haiwah berdiri meninggalkan pengajarannya.”
Haiwah memahami bahwa mematuhi perintah ibunya lebih wajib daripada  dia memberikan ta’lim (mengajarkan ilmu agama).
5.
وقال محمد بن المكدر : بات عمر – يعني أخاه – يصلي ، بتّ أغمر رجل أمي ، ومأ أحبّ أن ليلتي بليلته
“Berkata Muhammad bin Mukandar: suatu malam Umar (saudaranya Muhammad) melakukan sholat malam.  Sedangkan saya menghabiskan malamku untuk memijit kaki ibuku.  Dan saya lebih suka keadaan malamku itu daripada keadaan saudaraku Umar”
Muhammad bin Mukandar memahami bahwasanya berbakti kepada orangtua lebih utama daripada sholat sunnah
Renungan…
Banyak ulama menyebutkan tentang seorang anak yang mempunyai seorang bapak yang sudah lanjut usia.  Ia sudah enggan mengurus dan merawatnya.  Akhirnya, dibawalah bapaknya ke gurun pasir, setelah sampai di tempat yang dituju, bapaknya bertanya “ hendak kamu apakan bapakmu ini nak ?” anaknya menjawab :“aku ingin menyembelihmu”  Sang bapak pasrah saja dan berkata : “ kalau kamu akan menyembelih bapakmu ini, baiklah, tapi jangan di sini, di sana saja, di batu besar itu!  Sekarang kamu boleh melakukannya padaku seperti aku dulu melakukannya terhadap bapakku

SANG PEMBUNUH



Telah ditemukan jenazah satpam gedung bioskop dengan bersimbah darah di rumahnya. Adapun istrinya dalam keadaan terikat dengan beberapa tusukan pada tubuhnya. Kemudian, istrinya yang sekarat dilarikan ke salah satu rumah sakit.

Para polisi telah bersungguh-sungguh mencari pelaku pembunuhan ini. Akan tetapi, hasil penyelidikan yang terkumpul tidak memberi manfaat apa-apa. Sudah sekian lama tidak ada seorang pun yang ditangkap. Setelah pencarian yang sangat melelahkan, tiba-tiba ditemukan percikan darah yang telah membeku di dekat kamar salah seorang karyawan gedung bioskop. Oleh karena itu, karyawan ini mendapat pengawalan yang ketat.

Kondisi istri korban nampak membaik, lalu aparat kepolisian mulai mewawancarainya. Akan tetapi, dari hasil wawancara tidak menambah masukan sedikit pun sebab dia hanya mengatakan ada beberapa orang tak dikenal mendobrak kamar tidurnya yang sempit, lalu meminta suaminya agar menyerahkan sejumlah uang. Dikarenakan korban menolak, mereka langsung membunuhnya dan mengikat istrinya serta melukainya dengan beberapa tusukan, lalu mereka lari di tengah kegelapan.

Kemudian, keputusan satu-satunya yang diambil aparat adalah menangkap salah seorang karyawan tersebut yang memiliki beberapa hal yang mencurigakan. Sekalipun demikian, karena karyawan tadi menolak tuduhan polisi dengan alasan tidak ada bukti yang dapat menjeratnya, maka polisi pun melepaskannya. Akan tetapi, ia masih berada dalam pengawasan yang sangat ketat.

Suatu hari, karyawan yang menjadi tertuduh itu masuk ke salah satu kasino (tempat perjudian) dengan tetap di bawah pengawalan polisi. Mereka berada di belakangnya dan sebelum mereka masuk ruang kasino, tiba-tiba terjadi pertengkaran antara para penjudi dan terdengar kegaduhan. Lalu polisi ingin mengetahui kejadian yang ada di dalam.

Akan tetapi, begitu polisi masuk, mereka dikagetkan dengan mayat yang terbujur di lantai. Setelah mendekat, ternyata mayat karyawan yang tertuduh tadi. Yang menambah keheranan mereka, saat karyawan tadi tewas, terdapat bekas pukulan botol pada tengkuknya. Ini mirip dengan cara bagaimana satpam gedung bioskop itu terbunuh.
Dan yang mengherankan lagi bahwasanya karyawan yang tertuduh tadi tidak ikut serta dalam pertengkaran yang terjadi di kasino tersebut.

Setelah kematian karyawan tadi. Istri satpam barulah mengakui bahwa ia memiliki hubungan asmara dengannya…. Ketika suaminya–satpam–mengetahui jika istrinya menjalin hubungan dengan karyawan yang terbunuh itu, karyawan itu langsung memukul suami kekasihnya dengan botol minuman keras pada tengkuknya, lalu suaminya jatuh tersungkur dan tewas. Kemudian, istri satpam dan karyawan itu bersepakat untuk mengikat kekasihnya dan menusuknya beberapa tusukan agar terbebas dari tuduhan, dan meminta agar kekasihnya berbohong di hadapan polisi dengan mengatakan bahwa ada beberapa orang tak dikenal masuk kamarnya dan membunuh suaminya, lalu mengikatnya sebagaimana yang terjadi.

Adapun sebab mengapa perempuan tadi diam dan tidak memberitahukan siapa pembunuh sebenarnya, kecuali setelah pacarnya terbunuh karena ia takut hubungan asmara antara keduanya terbongkar, dan khawatir jika dirinya kelak yang akan dibunuh kekasihnya.

Mata Buta Setelah Menghancurkan Masjid Barbari di India


Asalasah ~ Syaikh Abdullh Syyid Abdurrahman ar-Rifa’i menceritakan: Tabloid Anshari Expres yang terbit setiap Ahad di Hindia menyebutkan bahwa ada sekelompok orang-orang Hindustan yang sangat fanatik, yang sudah sekian lama ingin menyerang Islam, mereka merobohkan sebuah Masjid Barbari pada tanggal 6 December 1992.

Tabloid itu mengabarkan bahwa kurang lebih 40 orang Hindustan yang bersekongkol merobohkan masjid itu langsung buta, yang para dokter sudah angkat tangan, tidak mampu menyembuhkan kebutaan mereka itu. Orang-orang yang mendapat musibah buta mata maupun yang lainnya, yang ikut serta dalam usaha merobohkan Masjid Barbari itu sekarang hidup dalam kesengsaraan. Mereka mendapat bantuan dari perserikatan kelompok Hindustan.

Ada salah seorang ikhwan yang saya temui ketika saya melakukan penyelidikan dalam peristiwa mengenaskan itu, dia berkata, “Seluruh warga yang ikut serta dalam perbuatan yang sangat gegabah itu (merobohkan masjid) ditimpa kebutaan atau lumpuh badan.” Sesungguhnya musibah dalam peristiwa ini maupun musibah-musibah lainnya yang dtimpakan Allah pada para pelaku dosa adalah bukti nyata bahwasanya

Allah Ta’ala senantiasa menolong agama Islam ini, dan Dia membela orang-orang yang beriman. Sekalipun musuh-musuh Islam berusaha menghancurkan agama Islam dan kaum Muslimin dengan segala cara, tetapi Allah telah berjanji akan senantiasa memuliakan dan meninggikan agama-Nya serta menolong dan membelanya walaupun orang-orang kafir membencinya. Allah Ta’ala berfirman, “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka nenentang Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (Al-Hasyr: 4) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Seungguhnya Allah benar-benar menangguhkan siksaan atas orang-orang dzalim sehingga jika Dia telah menyiksanya, maka tidak ada yang terlewat sedikit pun.”

Kemudian, beliau membaca Surat Hud: 102, ‘Dan begitulah adzab Tuhanmu, apa bila Ia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.”

Kematian Yang Mengerikan Seorang Tukang Sihir


Syaikh Abdullah At-Tulaidie dalam kitabnya Nashbul Mawaid berkata, “Di antara kawan-kawanku yang menghafal Al-Qur’an menuturkan bahwasanya ada seorang ahli fiqih menceritakan kepadanya bahwa ia dipanggil untuk memandikan mayat seseorang yang tinggal di kampungnya.

Ketika Ahli fiqih bersiap-siap untuk memandikan mayat tersebut, ia lalu membuka kain yang menutupi wajah si mayit. Betapa kaget dan gemetarnya beliau saat menyaksikan wajah mayat tersebut berubah persis seperti babi, sementara anggota tubuh lainnya tidak mengalami kejanggalan apa-apa. Lalu Ahli fiqih itu meninggalkan mayat tersebut dan segera menghubungi seorang ulama di desa tersebut. Lalu keduanya pun menyaksikan
kondisi mayat yang aneh itu.
Kemudian, Ahli fiqih ini menanyakan kepada istri mayat mengenai perbuatannya yang selama ini dilakukan dan memaksa untuk menjawabnya. Janda itu menjawab, ‘Dia biasa menyihir orang, dia juga mempunyai Al-Qur’an khusus yang dipendam dalam tanah dan sering dikencingi untuk bisa berhubungan dengan setan’.

Suatu balasan yang setimpal!

Allah Ta’ala telah membongkar aibnya di dunia sebelum disiksa di dalam kubur. Blsa seperti itu mudah-mudahan menjadi pelajaran  bagi yang lain. Perbuatanmu akan mendapat balasan yang setimpal.

Coba Hubungi HP Tuhanmu Supaya Ia Mengirim Malaikat Maut Kepadaku!


Seorang gadis berjalan melintasi pusat perbelanjaan Faishaliyah. la adalah seorang gadis yang sengaja membuka abayanya dan mengenakan yang tidak sepenuhnya menutup aurat untuk berjalan-jalan di Faishaliyah.
la berpapasan dengan seorang pemuda shaleh yang kemudian menasehatinya: “Andai saja Malaikat maut datang kepadamu, apa yang akan engkau lakukan?”
Dengan penuh keberanian, gadis itu justru berkata: “Coba hubungi HP Tuhanmu supaya ia mengirim Malaikat maut kepadaku!”
Pemuda itu mengatakan: “Saat aku mendengarkan ucapannya, aku betul-betul takut akan akibat ucapannya. Aku gemetar dan langsung lari meninggalkan tempat itu. Aku sungguh takut jika pusat perbelanjaan Faishaliyyah itu akan runtuh menimpa kami.”
Aku segera berlari meninggalkan tempat itu, dan tiba-tiba saja aku mendengarkan suara teriakan dan hiruk pikuk. Aku kembali ke sana dan menemukan kerumunan orang begitu banyak di dekat seorang gadis. Suara tangisan dan teriakan memenuhi seluruh tempat. Hingga menjadi jelas bagiku, itu adalah gadis yang tadi aku nasehati. Akhirnya aku tahu dari orang-orang yang menyaksikannya bahwa ia terjerembab ke depan dan tewas seketika itu juga.
Aku pun memanfaatkan momen itu. Aku berdiri dan menceritakan kisahku dengan gadis itu, bahwa tadi ia mengatakan begini dan begini. Mendengarkan itu, semua yang hadir menangis.
Ya Allah, sungguh kami mohon padaMu keselamatan di dunia dan Akhirat, serta keselamatan dari siksa Neraka.

Barangsiapa yang Membunuh, Dia Sendiri akan Terkapar Sekalipun Jarak Beberapa Lama

Telah ditemukan jenazah satpam gedung bioskop dengan bersimbah darah di rumahnya. Adapun istrinya dalam keadaan terikat dengan beberapa tusukan pada tubuhnya. Kemudian, istrinya yang sekarat dilarikan ke salah satu rumah sakit.
Para polisi telah bersungguh-sungguh mencari pelaku pembunuhan ini. Akan tetapi, hasil penyelidikan yang terkumpul tidak memberi manfaat apa-apa. Sudah sekian lama tidak ada seorang pun yang ditangkap. Setelah pencarian yang sangat melelahkan, tiba-tiba ditemukan percikan darah yang telah membeku di dekat kamar salah seorang karyawan gedung bioskop. Oleh karena itu, karyawan ini mendapat pengawalan yang ketat.
Kondisi istri korban nampak membaik, lalu aparat kepolisian mulai mewawancarainya. Akan tetapi, dari hasil wawancara tidak menambah masukan sedikit pun sebab dia hanya mengatakan ada beberapa orang tak dikenal mendobrak kamar tidurnya yang sempit, lalu meminta suaminya agar menyerahkan sejumlah uang. Dikarenakan korban menolak, mereka langsung membunuhnya dan mengikat istrinya serta melukainya dengan beberapa tusukan, lalu mereka lari di tengah kegelapan.
Kemudian, keputusan satu-satunya yang diambil aparat adalah menangkap salah seorang karyawan tersebut yang memiliki beberapa hal yang mencurigakan. Sekalipun demikian, karena karyawan tadi menolak tuduhan polisi dengan alasan tidak ada bukti yang dapat menjeratnya, maka polisi pun melepaskannya. Akan tetapi, ia masih berada dalam pengawasan yang sangat ketat.
Suatu hari, karyawan yang menjadi tertuduh itu masuk ke salah satu kasino (tempat perjudian) dengan tetap di bawah pengawalan polisi. Mereka berada di belakangnya dan sebelum mereka masuk ruang kasino, tiba-tiba terjadi pertengkaran antara para penjudi dan terdengar kegaduhan. Lalu polisi ingin mengetahui kejadian yang ada di dalam.
Akan tetapi, begitu polisi masuk, mereka dikagetkan dengan mayat yang terburur di lantai. Setelah mendekat, ternyata mayat karyawan yang tertuduh tadi. Yang menambah keheranan mereka, saat karyawan tadi tewas, terdapat bekas pukulan botol pada tengkuknya. Ini mirip dengan cara bagaimana satpam gedung bioskop itu terbunuh.
Dan yang mengherankan lagi bahwasanya karyawan yang tertuduh tadi tidak ikut serta dalam pertengkaran yang terjadi di kasino tersebut.
Setelah kematian karyawan tadi. Istri satpam barulah mengakui bahwa ia memiliki hubungan asmara dengannya…. Ketika suaminya–satpam–mengetahui jika istrinya menjalin hubungan dengan karyawan yang terbunuh itu, karyawan itu langsung memukul suami kekasihnya dengan botol minuman keras pada tengkuknya, lalu suaminya jatuh tersungkur dan tewas. Kemudian, istri satpam dan karyawan itu bersepakat untuk mengikat kekasihnya dan menusuknya beberapa tusukan agar terbebas dari tuduhan, dan meminta agar kekasihnya berbohong di hadapan polisi dengan mengatakan bahwa ada beberapa orang tak dikenal masuk kamarnya dan membunuh suaminya, lalu mengikatnya sebagaimana yang terjadi.
Adapun sebab mengapa perempuan tadi diam dan tidak memberitahukan siapa pembunuh sebenarnya, kecuali setelah pacarnya terbunuh karena ia takut hubungan asmara antara keduanya terbongkar, dan khawatir jika dirinya kelak yang akan dibunuh kekasihnya.

Inilah Do’a Orang Yang Teraniaya


Seluruh anggota keluarga telah berada di depan meja makan untuk menunggu datangnya waktu maghrib, untuk berbuka puasa. Sekalipun makanan yang terhidang sangat sederhana, sesuai dengan kemiskinan mereka, tetapi mereka sangat mensyukurinya.
Sementara sang ayah, pikirannya sedang kacau karena memikirkan sikap orang yang menghutanginya uang. Orang tersebut bersifat sombong dan selalu mengancam jika hari ini tidak bisa melunasi hutangnya.Dari mana keluarga miskin ini akan dapat mengembalikan hutangnya, sedangkan dia juga tidak bisa memberi makan anak-anaknya? Bagaimana nanti dia akan menemui orang yang sombong tapi bodoh itu?
Tiba-tiba, ketika dia sedang bingung, terdengar pintu rumahnya diketuk sangat keras, seolah-olah rumah akan roboh, diiringi gertakan yang mengagetkan. Kemudian, laki-laki miskin itu membukakan pintu dengan tangan gemetar. Ternyata yang mengetuk pintu ialah pria yang sombong, dengan tatapan mata yang penuh kemarahan. Tanpa berbicara sepatah kata pun, lelaki sombong itu langsung menampar dan menendang serta mencaci  lelaki miskin di hadapan anak-anaknya. Anak-anaknya menangis dan berteriak minta tolong, demikian juga dengan ibunya sehingga para tetangga berdatangan. Setelah bermusyawarah–sementara lelaki miskin itu pingsan–orang sombong tersebut menyanggupi akan meninggalkan rumah si miskin. Ketika itulah azan maghrib bergema.
Bersamaan dengan azan, lelaki miskin itu siuman, lalu menatap lelaki sombong sambil menengadahkan tangan ke langit. Dengan suara terbata-bata dan linangan air mata dia berdoa, “Semoga Allah membalas kejahatanmu, semoga Allah membalas kejahatanmu. “
Berselang sepuluh hari dari kejadian yang memilukan ini, orang sombong itu merasa sakit di bagian betisnya. Dia sudah berkali-kali memeriksakannya ke dokter. Akan tetapi, tidak juga membuahkan hasil. Lalu pindah ke dokter yang lain, di pusat kota. Di rumah sakit inilah kemudian dia dirawat. Ketika masuk ke rumah sakit, dia memiliki dua buah betis utuh, setelah keluar betisnya tinggal satu.
Ternyata dia terkena penyakit kanker pada bagian kakinya. Tidak lama berselang, kakinya yang lain terserang kanker juga. Kini dia meninggalkan rumah sakit tanpa memiliki kaki, tidak bisa berjalan dan harus dibantu orang lain.
Orang sombong tersebut terkena doanya orang miskin yang dizaliminya. Beginilah akhir kehidupan orang yang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menunda siksa-Nya, Dia tidak pernah lalai mengawasi perbuatan hamba-Nya. [Mawaqif Dzatu 'Ibar, Dr.Umar al-Asqar]
Dikutip dari Buku Bila Amal Dibayar Kontan, Penerbit Darul Falah