Tampilkan postingan dengan label budaya kafir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya kafir. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Oktober 2013

Tontonan Penghancur Moral Bangsa


Andaikan ini menandai sebuah gunung meletus, maka SUPER SIAGA adalah statusnya. Moral yang menjadi komponen utama akhlak bangsa ini sedang mengalami tantangan yang dahsyat. Selain korupsi dan syirik adalah perzinahan.
Merebaknya video mesum (porno) yang kini banyak dikonsumsi oleh masyarakat dan generasi muda, sungguh sangat memprihatinkan. Jika hal ini terus berlangsung tanpa kendali, maka moral bangsa akan semakin hancur dan terpuruk. Dan ini akan berakibat pada kehidupan lain secara lebih luas. Ekonomi akan terganggu, pendidikan terguncang, politik jadi tidak bermoral, budaya dan tradisi bangsa tercampakkan, serta nilai-nilai agama akan terpinggirkan.
Allah SWT mengingatkan bahwa perbuatan zina itu adalah fahisyah (kejahatan yang menjijikkan) dan saa’a sabila (seburuk-buruknya jalan).

وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya, zina itu adalah perbuatan yang keji, dan jalan yang buruk.” (QS Al-Isra [17]: 32).
Padahal, jelas-jelas Islam telah melarang melakukan perbuatan zina. Jangankan melakukannya, mendekati saja sudah tidak boleh.
Rasulullah SAW juga bersabda, “Hendaknya kalian menjauhi perbuatan zina, karena akan mengakibatkan empat hal yang merusak, yaitu menghilangkan kewibawaan dan keceriaan wajah, memutuskan rezeki (mengakibatkan kefakiran), mengundang kutukan Allah, dan menyebabkan kekal dalam neraka.” (HR Thabrani dari Ibn Abbas).
Hadist ini sekaligus membantah pernyataan banyak orang yang sering menyatakan bahwa salah satu penyebab perbuatan zina adalah karena faktor ekonomi atau kemiskinan. Justru perbuatan zina itulah yang akan menjerumuskan pelakunya pada jurang kemiskinan. Dan jika pun terlihat memiliki harta, itu hanya bersifat semu dan sementara. Yang pasti ujungnya akan habis tak berbekas.
Karena buruknya perbuatan zina ini, maka salah satu tanda perilaku orang-orang yang termasuk ‘ibadurrahman adalah meninggalkan perbuatan tersebut. Sebab, mereka yang melakukannya, akan mendapatkan azab Allah, dan mereka akan kekal di dalam neraka dalam keadaan terhina.

وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (٦٨)يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (٦٩)إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (٧٠)وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam Keadaan terhina,kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, Maka Sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. (QS Al-Furqan [25]: 68-71).
Karena itu, agar perbuatan zina ini tidak berlangsung, baik secara terang-terangan maupun terselubung, semua komponen bangsa harus memiliki komitmen dan kepedulian kuat untuk menghindari dan menjauhkannya.
Nilai-nilai agama harus terinternalisasi secara konsisten pada pikiran, jiwa, maupun perilaku masyarakat dan bangsa. Kepada para pelaku perzinaan harus dihukum dengan hukuman yang seberat-beratnya agar dapat menyebabkan efek jera pada yang lain.

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (QS. An-Nuur: 2-3)
Bahaya Massal karena Zina

عَنْ اَبِى بَكْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا مِنْ ذَنْبٍ اَجْدَرُ اَنْ يُعَجّلَ اللهُ لِصَاحِبِهِ اْلعُقُوْبَةَ فِى الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى اْلآخِرَةِ مِنَ اْلبَغْيِ وَ قَطِيْعَةِ الرَّحِمِ. ابن ماجه

Dari Abu Bakrah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan siksanya oleh Allah bagi pelakunya di dunia ini disamping siksanya di akhirat nanti selain dari perbuatan zina dan memutuskan shilaturrahim”. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1408, no. 4211]

اِذَا ظَهَرَ الزّنَا وَ الرّبَا فِى قَرْيَةٍ فَقَدْ اَحَلُّوْا بِنَفْسِهِمْ عَذَابَ اللهِ. الحاكم

Apabila perbuatan zina dan riba telah terang-terangan di suatu negeri, maka penduduk negeri itu sudah rela terhadap datangnya adzab Allah pada diri mereka. [HR. Hakim]

مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيْهِمْ بِاْلمَعَاصِى ثُمَّ يَقْدِرُوْنَ عَلَى اَنْ يُغَيّرُوْا ثُمَّ لاَ يُغَيّرُوْا اِلاَّ يُوْشِكُ اَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ. ابو داود

Tidaklah suatu qaum yang di tengah-tengah mereka dilakukan kemakshiyatan, sedang mereka mampu mencegahnya, tetapi tidak mau mencegahnya, melainkan Allah akan menimpakan adzab secara merata kepada mereka. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 122]
Ya Alloh kuatkan hati dan bantulah kami melawan perusak-perusak akhlak Islam. Sehingga tontonan maksiyat tidak menjadi tuntunan. Jaga DIRI dan Keluargamu dengan kesungguhan yang sangat ..jika anda tidak ingin kecewa..
Wallahu a’lam.

Budaya Merayakan Tahun Baru, Milik Siapa?


Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM.
Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini.
Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus. Nah sudah jelas dong, kalo ini laisa minal Islam ya khan?

Fenomena kontradiktif selalu saja membayangi kehidupan manusia. Begitu pula dalam memperingati datangnya Tahun Baru. Ada yang hura-hura ada yang sebaliknya yakni prihatin dengan kondisi bangsa. Entah sejak kapan, budaya negative dalam peringatan Tahun Baru benar-benar telah melupakan orang tentang kematian. Semua seolah disulap suka-cita, hanyut dalam perayaan-perayaan, begadang, bergaul bebas, keborosan alias meniru dan mengekor budaya kafir. Yah, salah satu kata  kunci yang bermain adalah bisnis. Misi bisnis juga telah berdosa membuat manusia lupa dengan dibungkus perayaan, acara-acara maka digunakanlah ini untuk meraup untung sebanyak-banyaknya.
Islam itu artinya berserah diri atau tunduk patuh. Tentu saja berserah diri kepada Allah dan tunduk patuh atas segala kehendak-Nya. Allah menghendaki kita suka menafkahkan harta kita fi sabilillah, tetapi banyak orang Islam lebih suka menghamburkan harta dalam bentuk membakar kembang api dan petasan. Allah menghendaki kita banyak dzikrullah, tetapi menusia suka hura-hura dan foya-foya yang semuanya itu melalaikan kita dari Allah. Padahal instruksi dari Allah sangat jelas (QS 6: 162)

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Orang yang hidupnya berorientasi ukhrawi akan berhati-hati dalam berfikir, bertutur-kata dan bertindak. Jangan sampai amalnya merugikan kehidupan akherat yang hendak dia jalani. Kalau Allah melarang manusia untuk menghambur-hamburkan harta dan mengingatkan manusia bahwa pemboros-pemboros itu teman syetan.

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (٢٦)إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS 17: 26-27)
Maka secara pasti dia tidak akan membakar hartanya dalam bentuk kembang api, petasan, terompet dan acara hura-hura lainnya.
Kalaulah Allah mengingatkan orang beriman untuk tidak berbuat sia-sia (QS 23: 3)

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
Maka tidak akan habiskan waktunya untuk muter-muter kota dan hura-hura. Dia akan lebih senang duduk di rumah atau tempat ibadah, mengajak keluarga dan mengerjakan hal-hal yang lebih bermanfaat.
Jauh berbeda dengan orang yang hidupnya berorientasi jangka pendek, orientasi duniawi. Apa yang dipikirkan, diucapkan dan dilakukannya adalah untuk kepentingan yang bersifat duniawi, yakni untuk memuaskan hawa nafsunya saja. Maka tidak heran kalau mereka di malam tahun baru meskipun diguyur hujanpun namun banyak sekali orang di Solo yang merayakannya dengan keluar rumah pria wanita campur baur menjadi satu dengan beraneka ragam terompet. Sedang yang di Jakarta di TMII ratusan ribu manusia berhura-hura dengan berbagai group band-nya. Sedang di Ancol ratusan ribu orang berpesta musik dan kembang api.

Perbedaan orientasi inilah yang menyebabkan manusia memiliki pandangan hidup yang berbeda. Orang yang berorientasi ukhrawi akan memandang apa yang ada di dunia ini sebagai fitnah atau cobaan, maka mereka akan lebih berhati-hati dalam menghadapi cobaan. Semua amal yang dia lakukan akan dia lakukan dengan penuh perhitungan untung rugi bagi keselamatan akheratnya. Dia yakin betul bahwa di yaumul-hisab kelak semua amal akan diperhitungkan dan dipertanggung-jawabkan. Hidup di dunia ini cuma sekali, saatnya berprestasi untuk bekal kehidupan akherat. Sedang orang yang berorientasi duniawi dia akan memandang hidup itu hanya disini di dunia ini, maka sekarang inilah saatnya menikmati hidup. Maka orang seperti ini akan cenderung memandang hidup ini untuk bersenang-senang. Hidup di dunia ini cuma sekali mengapa harus menderita?
Dua orientasi hidup yang tidak mungkin bisa dipertemukan. Namun masih saja banyak orang Islam yang merasa mampu mempertemukan keduanya.

“Berharap sangat untuk mendapatkan sorga, tetapi hidupnya diwarnai dengan hura-hura, foya-foya dan menghabiskan hidupnya dengan banyak ketawa.”

Padahal Rasulullah saw sudah mengingatkan bahwa banyak tertawa itu mematikan hati. Hati kita menjadi tidak sensitif lagi dengan peringatan-peringatan Allah, tidak sensitif lagi dengan penderitaan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Nun jauh di lain daerah, orang-orang sedang memikirkan nasib karena barusaja terkena bencana. Terkena musibah yang menghabiskan apa saja, rumah dan hasil bumi bahkan anggota keluarga. Wajiblah bagi kita memikirkannya, bukan malah melupakan atau berpura tidak peduli.
Maka sudah selayaknya umat Islam kembali hidup di alam nyata bukan di alam khayal dan segera sadar bahwa keselamatan kita di akherat nanti ditentukan oleh prestasi hidup kita di dunia ini. Jangan kita bingungkan diri kita sendiri dengan pertentangan yang berkepanjangan antara harapan dan kenyatan yang kita lakukan. Kalau kita tetap berada dalam keadaan demikian maka bukan tidak mungkin akan berbuah depresi yang berkepanjangan yang bisa membuahkan stress, gila, stroke bagi yang terkena tekanan darah tinggi dan gagal jantung bagi yang menderita lemah jantung.
Segera kita luruskan orientasi hidup kita ke arah akherat karena Allah menjanjikan bagi orang yang berorientasi ukhrawi dengan mendapatkan sorga dan bonusnya kesuksesan hidup di dunia. Sedang bagi mereka yang berorientasi duniawi maka mereka hanya akan mendapatkan sebagian kecil dari harta dan kesenangan dunia sedang mereka tidak akan mendapatkan bagian di akherat sama sekali (QS 42: 20).

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Barang siapa yang menghendaki Keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki Keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari Keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.
Padahal kalau kita faham dan tidak mudah lupa, hidup kita di dunia ini cuma sebentar sekali hanya sekitar 60-70 tahun segera akan mati itupun jika tidak meleset. Sedang kehidupan akherat itu kekal, tidak hanya jutaan tahun atau milayaran tahun tetapi kekal, abadi selama-lamanya.
Kalau sampai kita keliru dalam bersikap maka buahnya adalah penderitaan hidup yang kekal didalam kesusahan. Hanya mereka yang tepat dalam bersikap dalam arti benar-benar membangun ketuduk-patuhan kepada Allah dalam setiap aspek kehidupanlah yang akan sukses hidupnya dunia dan akherat. Merekalah yang akan memetik buah kehidupan dengan kebahagiaan yang kekal di akherat.

Hidup Di Tengah Era Globalisasi PORNOGRAFI


Jaman Globalisasi, jaman yang menyadarkan manusia bahwa bumi benar-benar sesuatu yang sangat kecil dibandingkan alam raya. Namun ditengah-tengah nikmat Allah yang demikian besar semakin banyak manusia yang makin tidak sadar apa dan kenapa mereka hidup di dunia dan apa sebenarnya mereka dihidupkan dan untuk tugas apa mereka itu ada dan hidup.
.
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu di kembalikan. (QS. 2:28)
.
Globalisasi dapat berdampak positip bagi mereka yang mempunyai pendirian dan pegangan yang kokoh dalam beragama Islam, sebaliknya globalisasi akan menjadi sesuatu yang sangat merugikan bagi mereka yang masih berjiwa labil dan bodoh dalam mengisi kehidupan.
Bila kita telah memakai kacamata pandang yang benar, maka akan mengetahui akan tujuan hidup yang haqiqi, yaitu melihat tanda-tanda keagungan Allah disegenap penjuru alam ciptaan Allah, dan kemudian rajin untuk bertasbih, tunduk taat, bersujud, mengagungkan Allah SWT. Allah Tuhan yang Maha Pencipta telah menciptakan beragam jenis aneka rupa-rupa macam jenis ciptaan dengan segala hal-hal yang bisa dipahami dan keanehan-kenehan yang kadang perlu perenungan untuk memahaminya.
Unjung perenungan pada diri seseorang adalah munculnya rasa kagum kepada Allahu Akbar Tuhan Semesta Alam, Tuhan yang Maha Pencipta, dan kemudian bersikap tunduk patuh kepada Segala hukum yang telah Allah tetapkan, dan sekaligus berusaha keras untuk memahami Petunjuk-petunjuk Allah yang Allah sampaikan lewat Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah yang semuanya itu diberikan kepada Rasulullah Muhammad SAW.
.
Allah berfirman:”Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebahagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan seat dan ia tidak akan celaka. (QS. 20:123)
Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. 20:124)
.
Dalam catatan sejarah telah terbukti dengan bukti yang tidak akan dapat dilupakan oleh umat manusia, ketika manusia memunculkan ajaran-ajaran keangkuhan kepada Allah, maka kemudian terjadilah musibah besar dan sangat-sangat besar. Ketika manusia menonjol-nonjolkan ajaran atheisme dan komunisme di akhir abad 18, maka generasi berikutnya memanen musibah sangat-sangat besar di awal hingga pertengahan abad 19, yaitu terjadinya perang dunia satu dan perang dunia dua yang membuat kerugian yang sangat-sangat besar bagi peradaban umat manusia.
Demikian pula Euphoria Jaman Globalisasi disaat ini, Era Globalisasi diawali kira-kira th 1980, atau di penghujung akhir abad sembilan belas. Apa yang menonjol dari era Globalisasi adalah Era Teknologi Digital, Era tehnologi Biner ( 0 dan 1), yang dapat menghasilkan loncatan supercepat dari segala teknologi yang sebelumnya, apalagi di dalam teknologi informasi (IT).
Euphoria Zaman Globalisasi harus direspon oleh umat Islam dengan respon yang cepat pula, bila tidak direspon dengan cepat maka akan berakibat buruk pula dimasa-masa berikutnya. Kebebasan manusia untuk mengungkapkan apa saja yang dimiliki oleh manusia telah disebar di jaman Global.
Pertukaran berbagai macam pola pikir, filsafat hidup, budaya, aktifitas dan perilaku dari yang terjelek hingga yang terbaik nampak mengemuka di berbagai macam jenis media. Yang sangat mencengangkan tentunya adalah tersebarnya berbagai macam budaya-budaya yang dilarang oleh Agama. Yang bila dilakukan dapat merusak tatanan moral dan tatanan budaya luhur dan mulia umat manusia, bahkan merusak keadaban manusia
Sudah sangat-sangat jelas bahwa segala larangan yang Allah sampaikan didalam kitab suci Al-Qur’an adalah sesuatu yang bila benar-benar dihindari, akan menghasilkan kelestarian ketinggian moral dan keselamatan manusia. Dan juga yang Allah perintahkan, adalah segala sesuatu yang menjadikan manusia semakin kokoh didalam kedudukannya sebagai makhluq yang diberi kedudukan mulia oleh Allah Tuhan Semesta Alam.
Seorang Anggota DPR dari partai Yang Terhormat telah tergelincir dan telah masuk dalam perbincangan luas tentang kasus melihat perbuatan pornografi di saat sidang Paripurna, menunjukkan peristiwa gunung es yang pasti dibawahnya ada yang jauh lebih besar dari itu. Dan sebenarnya permasalahan utama adalah kerusakan moral, kerusakan jiwa manusia, dan manusia perlu tahu bahwa manusia dimurkai oleh Allah dan dijauhkan dari Allah disebabkan diawali oleh pelanggaran tentang pornografi
.
Dan Allah berfirman):”Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim”. (QS. 7:19)
Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata:”Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)”. (QS. 7:20)
Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya:”Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”, (QS. 7:21)
Maka syaitan membujuk keduanya (untuk makan memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah baginya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupi dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka:”Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu:”Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua” (QS. 7:22)
Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. 7:23)
Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan”. (QS. 7:24)
Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (QS. 7:25)
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi ‘auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS. 7:26)
Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. 7:27)
.
Kejatuhan Moral Umat manusia dari ulahnya dengan pornografi bukan sekedar sebuah kejadian eksak yang bisa dinalar dengan aqal saja, namun sebuah kejadian kepastian ILAHI, bila manusia telah melanggar larangan Allah dengan pornografi pasti mereka akan tidak mampu lagi menjadi makhluq mulia yang didekatkan kepada Allah.
Orang yang dijauhkan dari Allah Tuhan semesta alam, Orang yang telah jatuh moralnya, dan rendah kedudukannya, maka orang tersebut akan dengan ringan melepaskan agamanya, atau lebih suka menjadi orang kafir, atau menjadi orang musyrik atau menjadi orang mujrim atau bahkan berani dengan ungkapan-ungkapan nyata-nyata menentang Allah Tuhan semesta Alam. Banyak kejadian yang berakhir fatal yang dimulai dari dosa-dosa yang disebabkan oleh pornografi.
Setelah manusia jauh dari Allah maka berikutnya manusia akan semakin kuat untuk berbuat yang semakin parah dalam kerusakan, hilangnya iman dan taqwa membawanya kepada kejahatan-kejahatan besar yang berikutnya, berani belajar dan menggunakan ilmu sihir, berani membuat menipuan-penipuan besar, berani melakukan kejahatan-kejahatan besar, dst-dst
.
Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang pedih. (QS. 16:63)
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Tuhan) Yang Maha Pemurah (al-Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (QS. 43:36)
Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (QS. 43:37)

.
Respon cepat yang harus dimiliki oleh umat Islam di zaman ini yang paling dominan adalah bersumber dari Euphoria Globalisasi PORNOGRAFI, yang membawa moral umat manusia semakin cepat melorot jatuh ke tingkat bawah. Kemerosotan moral yang demikian parah maka berikutnya disusul dengan penderitaan dan penderitaan. Penderitaan jiwa, baik individu atau juga khalayak.
Kejadian-kejadian Pornografi telah membuat manusia jauh dari Allah, tidak lagi mampu mereguk lezatnya iman dan taqwa, sehingga manusia dengan bersemangat berebut kelezatan-kelezatan yang lain, dan kelezatan yang instant untuk diperebutkan adalah kelezatan tahta, harta dan nafsu syahwat, dan kelezatan materiil dunia, saling beradu kekuatan untuk memperebutkan kenikmatan materiil dunia.
Bila penyakit jiwa ini semakin parah , walaupun dosa makin bertumpuk-tumpuk, manusia sudah semakin sulit dicegah untuk berbuat merusak diri, dan semakin sulit diajak untuk keluar dari kebiasaan buruk yang membinasakan, sebagaimana pecandu narkoba yang telah tenggelam dalam kecanduan yang kian parah.
Jaman Era pornografi seharusnya segera di akhiri dengan kesadaran orang-orang yang masih punya daya tahan dan kesadaran akan bahaya pornografi. Dan Harus segera mengajak umat manusia untuk meninggalkan dan menjauhi serta memberantas pornogarfi.
Dan jalan pintas untuk keluar dari lingkaran setan tersebut adalah peran para pemegang kekuatan dan kekuasaan untuk menyembuhkan masyarakat dari penyakit pornografi, sebagaimana mereka sangat peduli dengan pencegahan dan penyembuhan berbagai macam penyakit yang biasa menghinggapi raga manusia seperti penyakit darah tinggi, penyakit jantung, penyakit kanker, pengakit diabetes, dll karena penyakit akibat pornografi berakibat buruk yang lebih parah dan lebih kekal kesusahan dan penderitaannya.
Manusia-manusia pecandu pornografi perlu segera disadarkan bahwa apa yang mereka lakukan itu sesuatu yang menjadikan mereka mendapat hukuman dijauhkan dari Allah Tuhan semesta Alam, baik di dunia dan di akherat.
Semoga umat manusia segera sadar akan bahayanya dan segera membebaskan diri pornografi. Mengajilah-mengajilah-mengajilah dengan tekun, semoga Allah memberi kekuatan kepada manusia untuk terbebas dari godaan pornografi.
….. Wallahu a’lam.

Sabtu, 31 Agustus 2013

TABARRUJ; Antara Kecantikan dan Perzinaan. Sebuah Tinjauan Syari’at




W 
ahai saudariku muslimah, berhias merupakan hal yang fitrah bagi wanita. Disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya dia berkata, “Lima hal yang termasuk fitrah : memotong kuku, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, dan khitan.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Meskipun berhias merupakan hal yang fitrah bagi wanita, namun bukan berarti Syari’at Islam selalu membenarkan apa yang dilakukan wanita dalam berhias, tetapi syari’at Islam juga mengatur wanita muslimah dalam berhias agar terhindar, terjauh, serta terjaga dari tabarruj dan perbuatan zina. Semoga tulisan yang sederhana ini mampu memberikan sedikit gambaran tentang tabarruj. Wallahul Musta‘an!

PENGERTIAN TABARRUJ

Menurut bahasa, tabarruj adalah berhias dengan memperlihatkan kecantikan wajah dan menampakkan bagian tubuh. Menurut Qatadah, tabarruj adalah wanita yang jalannya dibuat-buat dan genit. Menurut Muqatil, tabarruj adalah seorang wanita yang melepaskan jilbabnya sehingga tampak darinya kalung dan gelangnya. Menurut Ibnu Katsir, tabarruj adalah wanita yang keluar rumah dengan berjalan di hadapan orang laki-laki dengan maksud mengundang nafsu mereka. Inilah yang disebut sebagai Tabarruj Jahiliyah. Menurut Bukhari, tabarruj adalah tindakan menampakkan kecantikan di hadapan orang lain.
Menurutku, dari semua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian tabarruj adalah keluarnya wanita yang telah berhias dari rumahnya yang dengan sengaja tidak memakai hijab (jilbab) serta berpakaian tipis lagi ketat —padahal dia mengetahui hukumnya (memakai jilbab)—sambil berjalan dengan memperlihatkan kecantikan wajah dan tubuhnya dengan genit serta melenggak-lenggokkan jalannya sehingga terlihat perhiasan yang ada padanya di hadapan orang lain baik dengan maksud menarik perhatian, merangsang nafsu syahwat laki-laki yang dilewatinya, pujian dari orang, ataupun tidak.
  
TRADISI TABARRUJ ZAMAN JAHILIYAH

Allah Subhanahu Wa Ta‘ala berfirman, “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik, Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (Sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Mahalembut lagi Mahamengetahui.” (QS. al-Ahzab : 32-34)


Tradisi Tabarruj di zaman jahiliyah menurut Kitab Tafsir Al-Qur’an syarah Imam Ibnu Katsir adalah tabarrujnya wanita dengan berpakaian dan memakai perhiasan yang merangsang syahwat laki-laki. Meskipun ayat ini turun dikhususkan untuk isteri-isteri Nabi dan Ahlul Bait, namun sudah menjadi kewajiban tiap muslimah untuk mengikuti perintah Allah dan berittiba’ kepada Rasulullah dan tuntunan Ummahaatul Mu’miniin. Apalagi dalam ayat berikutnya (al-Ahzab : 34), Allah memberitakan bahwa perintah untuk tidak bertabarruj ini dimaksudkan sebagai cara untuk mensyukuri nikmat-Nya yang banyak dan tak dapat kita hitung jumlahnya meski lautan sebagai tinta dan langit serta bumi sebagai bukunya. Karena wahyu Allah Ta’ala turun di rumah-rumah mereka (para Ahlul Bait).

Dari dalil di atas, menurut Syeikh al-Maududi sebagaimana dikutip Hayya binti Mubarak Al-Barik (1423 H), tabarruj meliputi :

a)      Menampakkan keelokan wajah dan bagian-bagian tubuh yang membangkitkan birahi di hadapan kaum lelaki yang bukan mahramnya.
b)      Memamerkan pakaian dan perhiasan yang indah di hadapan lelaki yang bukan mahram.
c)      Memamerkan diri dan berjalan sambil berlenggak-lenggok di hadapan kaum lelaki yang bukan mahram.

HUKUM TABARRUJ DAN BAHAYANYA

Menurut kaidah ilmu ushul fikih, bahwasanya sighat larangan yang termaktub dalam Surat al-Ahzab : 33 menunjukkan pengertian pengharaman ﺍﻠﻨﻬﻲﻠﻟﺘﺤﺮﻴﻢ ) ), maka tabarruj dihukumi haram dan setiap muslimah diwajibkan untuk menjauhi apapun alasannya. Karena dengan bertabarruj secara otomatis seorang muslimah telah bertasyabbuh seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.
Tabarruj sungguh berbahaya. Karena tabarruj merupakan ciri kebodohan. Rangkaian dosa yang berkepanjangan akan selalu tercipta seketika akibat seorang wanita bertabarruj. Dosa pertama. Wanita yang bertabarruj tidak mungkin keluar rumah dengan niat untuk pergi menuju tempat yang diridlai Allah ‘Azza Wajalla, melainkan dapat dipastikan dia keluar rumah diniatkan untuk pergi ke konser, diskotek, dll. tempat maksiat. Dosa kedua. Keluarnya wanita yang bertabarruj pasti bersama wanita-wanita yang serupa, sehingga pengaruh pelunturan aqidah akan semakin cepat dan berbahaya. Dosa ketiga. Wanita yang bertabarruj pasti berkumpul di suatu tempat yang nista sambil membuat gosip dan tanpa rasa malu membicarakan hal-hal yang asusila serta dengan bebas bergaul dengan lelaki asing. Dosa keempat. Kalau sudah begitu, maka mereka akan berani untuk berkhalwat dan pacaran sehingga menuju ke arah zina (zina mata – zina mulut – zina hati – zina pikiran – zina badan). Dosa kelima. Dari aktivitas ini, lalu beredarlah banyak video-video dan gambar-gambar porno yang beredar di media massa sehingga meracuni norma susila kaum remaja dan berlanjut dengan kriminalitas seperti perkosaan, pelecehan seksual, penyimpangan seksual, dsb. Na’udzubillahi min dzalik!
I
nilah beberapa dosa yang ditimbulkan dari bertabarruj yang berbahaya bagi ketetapan iman di hati setiap muslimah. Sekali mencobanya, pasti ketagihan. Namun tak sedikit dari wanita muslimah yang kurang akal dan rendahnya kadar imannya, merasa keberatan untuk menutup auratnya hanya demi uang, pujian, dan popularitas. Mereka telah menjadikan tubuh mereka seperti barang dagangan dan media pengeruk keuntungan tapi mereka tidak mengetahuinya atau bahkan mereka sebenarnya tahu tapi tidak mau tahu. Tubuh wanita yang bertabarruj telah dijual di iklan-iklan murahan. Padahal uang bukanlah segala-galanya dalam hidup ini. Lebih mengenaskan lagi, secara tidak langsung mereka telah berzina dengan menjual tubuhnya ke media massa dan mempertontonkan auratnya sehingga dilihat banyak orang dan menimbulkan syahwat. Coba sekarang hitunglah berapa banyak dosa yang telah tercipta akibat tabarruj! Coba renungkanlah, ukhti! Seberapa dahsyat dan pedihnya siksaan yang akan didapatkannya akibat tabarruj di akhirat nanti?

Kemudian virus ini merambah ke kalangan remaja putri yang selalu mengidolakan artis-artis pujaannya. Mereka (para remaja putri) terus berlomba-lomba dan bersaing untuk menjadi sama dengan artis pujaannya itu yang notabene mereka semuanya bertabarruj, akhirnya para remaja putri menjadi ‘tumbal’ tabarruj yang hina.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Setelah kematianku, aku tidak pernah meninggalkan suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi orang laki-laki dari wanita.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Berdasarkan hadits di atas, tidak ada fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki melebihi wanita. Dengan demikian, tubuh, wajah, suara, gerak, harum, perhiasan, dan segala sesuatu yang ada pada diri wanita adalah aurat yang jika tidak dijaga oleh setiap pribadinya maka akan menjadi fitnah. Khalid bin Abdur Rahman asy-Syayi (2002) merinci bahaya aurat wanita bagi laki-laki, yaitu :

a)      Laki-laki akan melalaikan tugas dan kewajibannya karena terganggu oleh penampilan-penampilan seronok dari para wanita yang ia lihat di jalan-jalan, kendaraan-kendaraan, pasar-pasar, dsb.
b)      Munculnya keinginan untuk melakukan tindakan kriminal yang direncanakan. Sebab secara tidak langsung ia telah mendapatkan undangan tidak resmi dari wanita yang memamerkan tubuhnya.
c)      Luasnya kesempatan untuk mengarahkan pandangan kepada wanita.
d)      Hilangnya nama baik laki-laki jika yang memamerkan perhiasan atau tubuhnya itu ternyata istrinya atau anggota keluarganya.  Ia akan mendapat celaan dan hinaan dari masyarakat. Lebih parah lahi jika ia keluar bersama-sama dengan wanita itu. Dengan keluar bareng, berarti ia telah merestui perbuatan tersebut.
e)      Bertambahnya kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala jika ia mengarahkan pandangannya kepada fitnah-fitnah wanita tersebut.

Ironisnya, mode buka-bukaan atau pamer aurat dikatakan seni. Dengan berprinsip kebebasan seni dan berekspresi, mereka mengatakan bahwa tubuh wanita itu indah, kenapa harus ditutup-tutupi? Mereka tidak menyadari akibat dari terbukanya aurat wanita. Padahal menurut Syari‘at Islam, seluruh tubuh wanita adalah aurat dan haram untuk ditampakkan apalagi untuk dilihat.

Lebih jauh lagi, bahkan ada segolongan muslimah yang keberatan menutup auratnya hanya atas nama perkembangan zaman. Atas dasar itu, pakaian yang syar‘i dianggap jahili dan pakaian yang jahili dianggap syar‘i. atau bahkan karena ikut-ikutan teman karena takut dicap ‘kuper’ dan ketinggalan zaman. Apa yang ditonton menjadi tuntunan serta tren tuntutan zaman dan yang seharusnya menjadi tuntunan malah menjadi tontonan dan cemoohan dari berbagai pihak. Masya Allah!Sedangkan Allah Ta‘ala telah berfirman, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang-orang yang telah yakin?” (Surat al-Ahzab : 56)Wahai saudariku muslimah, sebenarnya hukum Allah atau hukum jahiliyah yang kau pilih? Atau hawa nafsukah yang menjadi tuntunanmu? Inilah yang menjadi awal dari keruntuhan dan keterbelakangan kaumYahudi karena wanita-wanitanya gemar bertabarruj. Inilah yang menyebabkan maraknya kawin-cerai di antara mereka sehingga kenikmatan nafsu duniawi lebih dipentingkan daripada kehormatan dan kemuliaan seorang wanita. 

SIKAP WANITA MUSLIMAH TERHADAP TABARRUJ

Saudariku, jauhilah tabarruj sampai ujung usiamu! Teladanilah sunnah Ummahatul Mukminin yang senantiasa dalam rahmat Allah dalam keseharianmu terutama dalam masalah berhias! Yakni sesuai dengan hadits yang termaktub di muka. Selain daripada itu, ada cara berhias bagi para muslimah yang tidak menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah, antara lain :

a)      Wajib berhijab sesuai aturan Syari‘at Islam serta memakai pakaian yang longgar dan menutup seluruh tubuh dari kepala hingga kaki kecuali yang diperbolehkan nampak atasnya, yakni wajah dan kedua telapak tangan.

Firman Allah Ta‘ala :
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaknya mereka mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. Al-Ahzab : 59)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Wahai Asma’ jika seorang wanita telah menjalani haidh, maka tidak diperbolehkan baginya dilihat kecuali ini dan ini. Beliau mengisyaratkan wajah dan kedua telapak tangannya.” (HR. Abu Dawud)
Ditujukannya Firman tersebut kepada nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, istri-istri beliau serta istri-istri orang mukmin menunjukkan bahwa seluruh wanita muslimah dituntut menjalankan perintah ini tanpa adanya pengecualian sama sekali.
Mengenai hijab ini terdapat beberapa syarat yang tanpanya hijab itu tidak sah. Pertama. Hijab itu harus menutupi seluruh badan kecuali wajah dan dua telapak tangan, yang dikenakan ketika memberikan kesaksian maupun shalat. Kedua. Hijab itu bukan dimaksudkan sebagai hiasan bagi dirinya, sehingga tidak diperbolehkan memakai kain yang berwarna mencolok, atau kain yang penuh gambar dan hiasan. Ketiga. Hijab itu harus lapang dan tidak sempit sehingga tidak menggambarkan postur tubuhnya. Keempat. Hijab itu tidak memperlihatkan sedikitpun kaki wanita (lihat poin e). Kelima. Hijab yang dikenakan itu tidak sobek sehingga tidak menampakkan bagian tubuh atau perhiasan wanita dan jga tidak boleh menyerupai pakaian laki-laki.

b)      Dilarang mencukur dan menyambung rambut.

Dari Asma’ binti Abu Bakar ash-Shiddiq, dia menceritakan, “pernah ada seorang wanita datang kepada Rasulullah seraya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, aku mempunyai seorang putri yang terserang penyakit, sehingga rambutnya rontok. Apakah berdosa jika ia menyambungnya?’ Beliau menjawab, ‘Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan wanita yang meminta disambungkan rambutnya’.” (Muttafaqun ‘Alaih)
c)      Memulai segala sesuatu yang baik dengan sebelah kanan.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, dia menceritakan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam suka memulai sesuatu dengan sebelah kanan, dan beliau dalam segala urusannya senang memulai dengan sebelah kanan.” (HR. an-Nasa’i)

d)      Dilarang membuat tato dan merengganggkan gigi.

Dari ‘Abdullah bin Mas‘ud Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah bersabda, “Allah melaknat wanita yang membuat tato (pada kulitnya) dan wanita yang meminta dibuatkan tato, yang mencukur alisnya, dan wanita yang meminta direnggangkan giginya untuk mempercantik diri, yang mereka semua mengubah ciptaan Allah.” (Muttafaqun ‘Alaih)

e)      Dilarang menjulurkan pakaian.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘Anhu, dia menceritakan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Barang siapa menarik (menyeret) pakaiannya karena sombong, niscaya Allah tidak akan memandangnya’. Lalu Ummu Salamah bertanya, ‘Bagaimana kaum wanita harus membuat ujung pakaiannya’? ‘Hendaklah mereka menurunkan pakaian mereka sejengkal (dari pertengahan betis)’. Selanjutnya Ummu Salamah berkata, ‘Kalau begitu kaki mereka tetap tampak’? Beliau berkata, ‘Hendaklah mereka menurunkan satu hasta dan tidak boleh melebihinya’.” (HR. an-Nasa’i)
Dari Ummu Salamah, bahwasanya ada seorang wanita yang berkata kepada Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha, “Aku memanjangkan bajuku, lalu aku berjalan di tempat yang kotor.” Ummu Salamah menjawab, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, ‘Ujung baju itu akan dibersihkan oleh tanah berikutnya’.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

f)       Dimakruhkan bagi wanita menampakkan perhiasan yang dipakainya.

Hendaknya wanita muslimah mengetahui bahwa Syari‘at telah membolehkan wanita memakai emas, namun demikian, dia dimakruhkan memperlihatkan perhiasan emas yang dikenakannya. Dalil yang melandasinya adalah Hadits dari Tsauban, dia menceritakan,
“Bintu Hubaibah pernah dating kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang di tangannya melingkar cincin besar. Maka beliau memukul tangannya itu. Lalu dia masuk menemui Fatimah binti Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberitahukan apa yang telah diperbuat Rasulullah terhadapnya itu. Kemudian Fatimah melepaskan kalung emas yang melingkar di lehernya seraya berkata, ‘Kalung ini haiah dari Abu Hasan’. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masuk sedang kalung itu berada di tangannya seraya berucap, ‘Wahai Fatimah, apakah kamu senang orang-orang menyebutmu sebagai putri Rasulullah sedang di tangannya terdapat kalung dari api’? Setelah itu beliau keluar dan tidak duduk. Lalu Fatimah membawa kalung itu ke pasar dan menjualnya dan dengan uang penjualannya itu dia membeli pelayan, ada yang menyebutnya budak, lalu dia memerdekakannya. Kemudian hal itu disampaikan kepada Rasulullah, maka beliau berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fatimah dari neraka’.”
g)      Dilarang memakai wewangian yang tercium aromanya oleh orang lain.

Dari Musa bin Yassar Radhiyallahu ‘Anhu, dia menceritakan, “Ada seorang wanita yang berjalan melewati Abu Hurairah yang aroma parfumnya sangat menyerbak. Maka Abu Hurairah bertanya, ‘Kemana engkau hendak pergi?’ ‘Ke masjid’, jawabnya. Lalu Abu Hurairah bertanya, ‘Apa engkau memakai wangi-wangian?’ ‘Ya’, jawabnya. Selanjutnya Abu Hurairah berkata, ‘Pulang dan mandilah! Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Allah tidak akan menerima shalat seseorang wanita yang pergi ke masjid sedang aroma parfumnya sangat menyerbak sehingga di pergi dan mandi’.” (HR. Ibnu Khuzaimah)
Dari ‘Imran bin Hushain, dia menceritakan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda, ‘Ketahuilah, parfum pria adalah yang tercium aromanya dan tidak tampak warnanya. Sedangkan parfum wanita adalah yang tampak warnanya dan tidak tercium aromanya’.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Sebagian perawi mengatakan bahwa yang demikian itu jika dipergunakan di luar rumah, tetapi jika sedang berada di sisi suaminya, maka dia boleh memakai parfum sekehendak hatinya.
h)      Diperbolehkan memakai pakaian berbahan sutera bagi wanita.

Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, dia menceritakan, “Aku pernah melihat pada diri Zainab binti Rasulullah baju sutera yang bergaris.”
Dari ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, dia menceritakan, “Nabi pernah memberiku pakaian sutera bergaris. Lalu aku keluar dengan mengenakannya. Aku melihat kemerahan pada wajah beliau. Dan aku tidak memberikan kepada istriku untuk dikenakan. Kemudian beliau menyuruhku merobek pakaian tersebut, maka akupun menyobeknya di hadapan wanita-wanita di keluargaku.” (HR. Bukhari)
i)        Diperbolehkan memakai kutek.

Dari Karimah bin Hamam, bahwa ada seorang wanita yang bertanya kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha mengenai kutek dengan menggunakan daun pacar, maka ia menjawab, “Boleh-boleh saja, tetapi aku tidak menyukainya, karena suamiku tersayang (Rasulullah) tidak menykai baunya.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i)

j)        Dilarang berpakaian tipis.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhu, dia menceritakan, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Pada akhir umatku nanti akan ada beberapa orang laki-laki yang menaiki pelana, mereka singgah di beberapa pintu masjid, yang wanita-wanita mereka berpakaian tetapi (seperti) telanjang, di atas kepala mereka terdapat sesuatu punuk unta yang miring. Laknat mereka, karena mereka semua terlaknat’.” (HR. Ibu Hibban)

Pesan terakhirku, wahai saudariku muslimah! Janganlah kalian menyibukkan diri dengan perkara-perkara jahili semacam tabarruj! Karena yeng demikian itu merupakan hal yang sia-sia dan mengantarkan pelakunya kepada siksa Allah di dunia dan akhirat. Sibukkanlah dirimu untuk menarik hati Allah ‘Azza Wa Jalla sehingga membuat bidadari-bidadari negeri Surga cemburu terhadapmu.

KESIMPULAN

Wahai saudariku muslimah, sekali lagi, tabarruj itu HARAM hukumnya dan setiap muslimah WAJIB untuk menjauhinya apapun alasannya! Hendaknya setiap muslimah membenci tabarruj dengan segala kebencian pada perbuatan tersebut! 

Jikalau masih tetap ada segolongan muslimah yang ‘ngeyel’ dan menolak hukum ini serta bersikeras ingin tetap bertabarruj, maka tidak megapa ia berhias asalkan khusus ditujukan kepada suaminya!!! Bagi kamu para muslimah yang belum berjodoh, maka bersabarlah dengan doa dan berpakaian dengan rapi dan indah menurut aturan Syari‘at! Karena jodoh itu ada di Tangan al-Khalik! Tapi jika kau tetap bersikukuh dengan tabarruj jahiliyahmu, maka tunggulah adzab Allah atas dirimu di dunia dan akhirat!

Ketahuilah wahai para muslimah! Hiasilah dirimu dengan amalan-amalan Ahlu Sunnah tuntunan Umahatul Muslimin yang akan mengarahkan serta memudahkanmu menuju Surga-Nya. Kunuu muslimatan mutafaa’ulatan wa muthii‘atan bikhuluqin hasanatin! Wallahu a’lam bish-shawab.

Wahai para muslimin! Tidakkah engkau buta? Di sekitarmu banyak kemungkaran, termasuk bahaya tabarruj!!! Ubahlah kemungkaran itu dengan tanganmu!!! Jangan terpedaya apalagi merasa nikmat dengan fitnah tabarruj para wanita!!! Jangan sampai menunggu adzab Allah turun atas umat Islam!!! Bersegeralah dalam usahamu mengubah kemungkaran!!! Fastabiqul khairat, ya ayyuhal muslimun!!!  

Jumat, 15 Maret 2013

SEJARAH ULANG TAHUN

        

Sejarah Perayaan Ulang Tahun


Sejarah Hari Ulang Tahun.

                Hal ini sangat menarik untuk mempelajari sejarah perayaan ulang tahun. Sejarah ulang tahun dapat ditelusuri sebelum munculnya agama Kristen di mana perayaan untuk menangkal roh jahat! Jika ini mengejutkan Anda, baca terus untuk fakta yang lebih menarik dan kemajuan bertahap dari perayaan ulang tahun dalam sejarah.

Perkembangan Kalender.

        Awalnya manusia tidak tahu bagaimana menghitung tanggal sehingga mereka tidak dapat memperhatikan peringatan peristiwa penting (baca: dianggap penting, pent) seperti ulang tahun. Secara bertahap, manusia mulai mengerti siklus lunar dan mereka mengembangkan kalender berdasarkan siklus lunar tersebut. Hal ini membuat mudah bagi mereka untuk menghitung tanggal lahir dan merayakannya.

Sejarah Perayaan Hari Ulang Tahun.
  
           Sejarah perayaan ulang tahun dapat ditelusuri kembali sebelum munculnya Kristen. Dalam budaya pagan diyakini roh-roh jahat mengunjungi orang – orang pada hari ulang tahun mereka. Untuk melindungi orang yang memiliki ulang tahun dari pengaruh jahat, orang-orang diundang untuk mengelilingi dia dan berpesta. Membuat banyak suara untuk menakut-nakuti roh-roh jahat. Pada waktu itu tidak ada tradisi membawa hadiah dan tamu menghadiri pesta ulang tahun akan membawa keinginan yang baik bagi orang ulang tahun. Namun, jika tamu membawa hadiah itu dianggap sebagai pertanda baik bagi orang kehormatan. Kemudian, bunga menjadi cukup populer sebagai hadiah Ulang Tahun.

Catatan Perayaan Ulang Tahun.
             Para sejarawan yakin bahwa perayaan ulang tahun diselenggarakan di beberapa masa tetapi ada beberapa catatan yang sama. deskripsi perayaan ulang tahun terdokumentasi hanya untuk raja-raja, bangsawan jabatan tinggi dan mereka yang memegang posisi tinggi di masyarakat. Pada masyarakat umum dan terutama anak-anak tidak mampu untuk merayakan ulang tahun. Sejarawan percaya bahwa perbedaan ini ada karena hanya kaum bangsawan itu cukup kaya untuk mengadakan pesta ulang tahun dan dianggap cukup penting untuk ditulis tentang perayaannya tersebut.

Perayaan Ulang Tahun Populer dalam Sejarah.
* Perayaan Ulang tahun yang paling terkenal dalam sejarah adalah Yesus Kristus. Selama hampir 2000 tahun sejak kelahiran Yesus di Betlehem, orang Kristen telah menghormatinya sebagai Natal.
* Sekitar 4.000 tahun yang lalu Raja Firaun merayakan ulang tahunnya dengan memberikan suatu hari raya bagi pengikut istananya.
“Dan terjadilah pada hari ketiga, hari kelahiran Firaun, maka Firaun mengadakan perjamuan untuk semua pegawainya. Ia meninggikan kepala juru minuman dan kepala juru roti itu di tengah-tengah para pegawainya.” [Perjanjian Lama, Kejadian 40 : 20]
* Raja Herodes dikatakan telah merayakan ulang tahunnya dengan memperlakukan raja, kapten tinggi dan teman-teman khusus dengan pesta makan malam khusus di Galilea.
“Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea.” [Perjanjian Baru, Markus 6:21]

Sejarah Tradisi dan Simbol – Simbol Ulang Tahun yang Populer
Beberapa tradisi dan simbol-simbol ulang tahun yang populer yang kita lihat sekarang ini berasal ratusan tahun yang lalu. Beberapa percaya bahwa tradisi kue ulang tahun yang dimulai oleh orang Yunani awal yang membuat kue berbentuk bulat atau bulan (merepresentasikan bulan purnama) untuk kuil Artemis – Dewi Bulan. Lainnya percaya bahwa kebiasaan kue ulang tahun yang dimulai di Jerman di mana orang membuat roti dalam bentuk bayi Yesus kain lampin.
Kebiasaan populer menyalakan lilin pada kue dikatakan berasal dari Yunani yang menggunakan lilin yang menyala pada kue yang dipersembahkan untuk Artemis (Dewi Bulan) untuk membuatnya bersinar layaknya bulan. Meskipun beberapa percaya bahwa adat berasal karena keyakinan agama bahwa tuhan tinggal di langit dan menyalakan lilin membantu untuk mengirim sinyal atau doa kepada dewa. Jerman dikatakan telah menempatkan sebuah lilin besar di tengah kue untuk melambangkan ‘cahaya kehidupan’. Bahkan orang-orang hari ini membuat ‘silent wishes’ saat mereka meniup lilin. Hal ini diyakini bahwa meniup semua lilin dalam satu nafas membawa keberuntungan.

Ulang Tahun di Masa Kini
Selama bertahun-tahun perayaan ulang tahun menjadi sangat populer di seluruh dunia dan hari ini mereka secara global dirayakan oleh orang-orang terlepas dari kasta dan status sosial. Meskipun metode perayaan ulang tahun serupa di sejumlah negara beberapa negara mengikuti cara unik untuk perayaan berdasarkan lingkungan budaya mereka, tradisi agama dan kepercayaan spiritual. Di mana-mana ulang tahun adalah hari istimewa orang dan pesta ulang tahun diselenggarakan untuk menikmati hari dengan bersenang-senang dengan orang yang dicintai. Mereka yang tidak mampu hadir, mengirim ucapan selamat dan do’a mereka lewat Birthday Cards mengikuti tradisi yang dimulai di Inggris sekitar 100 tahun yang lalu. [ http://www.tokenz.com/history-of-birthday.html%5D

Berdasarkan sejarah di atas maka perayaan hari ulang tahun itu berasal dari tradisi paganisme, raja firaun, raja herodes dan umat nasrani yang kental akan kesyirikan dan tahayul. Perayaan ini bukanlah berasal dari Islam, tidak sama sekali. Sudah sepatutnya kita sebagai umat Islam meninggalkan perayaan ulang tahun di samping itu, ini merupakan bentuk tasyabbuh dengan orang kafir.
Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ * وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [QS. Ali ‘Imraan : 100-101]

Sebagai dalil bahwasannya orang-orang kafir bergembira dengan perbuatan kaum muslimin yang menyerupai mereka adalah firman Allah ta’ala :

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” [QS. Al-Baqarah : 120]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْيَهُودُ مَغْضُوبٌ عَلَيْهِمْ وَالنَّصَارَى ضُلَّالٌ (رواه الترمذي رقم ٢٩٥٤ وصححه الألباني في سلسلة الصحيحة رقم ٣٢٦٣)

“Yahudi adalah (umat) yang dimurkai dan Nashara adalah (umat) yang sangat sesatnya.” [HR. At-Tirmidzi no. 2954, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 3263]




Sejarah Dan Asal Usul Kue Ulang Tahun


Sejarah Kue Ulang Tahun

Asal Birthday Cakes berasal dari masa kuno tetapi kue itu sangat berbeda dari apa yang kita miliki saat ini. Kata ‘Cakes’ dikatakan telah diciptakan pada awal abad ke-13 dan dikatakan telah berasal dari kata ‘kaka’ bahasa Norse Lama.

Definisi Kue Ulang Tahun (Birthday Cake)
Dalam budaya Barat Birthday Cake didefinisikan sebagai pastry atau dessert yang disajikan kepada seseorang di hari ulang tahunnya. Kue ulang tahun biasanya dihiasi dengan nama seseorang dan membawa pesan selamat. Lilin sama dengan jumlah tahun seseorang telah hidup juga ditempatkan pada kue. Ada juga tradisi untuk meletakkan satu lilin ekstra untuk membawa keberuntungan. Kue ulang tahun biasanya spons dan rasa yang paling populer di kue adalah cokelat.
Sejarah Birthday Cake
Sejarah Birthday Cake dapat ditelusuri kembali ke Yunani kuno yang membuat kue atau roti madu berbentuk bulat atau bulan dan membawanya ke kuil Artemis-Dewi Bulan. Beberapa ahli, bagaimanapun, percaya bahwa tradisi kue ulang tahun dimulai di Jerman pada Abad Pertengahan. Adonan roti manis diberi bentuk bayi
Yesusdi kain lampin dan digunakan untuk memperingati hari ulang tahunnya. Kue ulang tahun khusus ini kemudian muncul kembali di Jerman sebagai Kinderfest atau perayaan ulang tahun seorang anak muda. Jerman juga membuat jenis lain khusus kue yang disebut Geburtstagorten seperti yang dipanggang berlapis-lapis. Ini adalah roti yang lebih manis dan kasar seperti kue yang biasanya dibuat pada waktu itu.

Mengapa Round Birthday Cake?
Pada jaman dulu, kue ulang tahun kebanyakan berbentuk bulat. Asosiasi sarjana keyakinan agama dan dorongan teknis untuk hal yang sama. Yunani menawarkan kue berbentuk bulat untuk Dewi Bulan – 
Artemis sebagaimana lambang bulan . Mereka bahkan menempatkan lilin pada kue untuk membuat kue seperti cahaya bulan.
Beberapa ahli berpendapat bahwa kue di dunia kuno memiliki hubungan dengan siklus tahunan. Babak bentuk kue ini lebih disukai sebagai mewakili sifat siklus kehidupan. Kebanyakan khusus, matahari dan bulan.
alasan teknis diberikan untuk bulatan kue adalah bahwa kue yang paling kita tahu lebih lanjut dari roti. Dalam roti zaman kuno dan kue dibuat dengan tangan. Biasanya berbentuk bola bulat dan dipanggang di hearthstones atau panci dangkal atau rendah. Oleh karena itu, ini secara alami santai menjadi bentuk bulat. Dengan kemajuan, loyang berbagai bentuk dikembangkan dan hari ini kita melihat kue dalam bentuk imajinatif dan ukuran.

Tradisi Peletakkan Lilin di Birthday Cake
]
Tradisi lilin pada kue ulang tahun dihubungkan dengan Yunani awal, yang menggunakan tempat lilin menyala pada kue untuk membuat mereka bersinar seperti bulan. Dahulu, Yunani membawa kue ke kuil Artemis-Dewi Bulan. Beberapa ahli mengatakan bahwa lilin yang ditempatkan pada kue karena orang percaya bahwa asap dari lilin yang membawa keinginan mereka serta doa kepada Dewa-dewa yang tinggal di langit. Yang lain percaya bahwa adat asli di Jerman di mana orang dulu menempatkan lilin besar di tengah kue untuk melambangkan ‘cahaya kehidupan’.
Pada zaman ini juga, orang menempatkan lilin pada kue ulang tahun dan berdo’a (silent wish) sebelum meniup lilin. Hal ini diyakini bahwa meniup semua lilin dalam satu nafas berarti do’a dan keinginan tersebut akan terwujud dan akan menikmati keberuntungan di tahun mendatang. Beberapa juga menuliskan nama sebelum mengiris kue untuk membawa keberuntungan.
Tradisi dan Kepercayaan Tahayul Terkait Birthday Cake
Dalam abad pertengahan orang Inggris dulu menempatkan benda simbolik seperti koin, cincin dan bidal dalam adonan kue. Ia percaya bahwa orang-orang yang menemukan koin di kue akan menjadi kaya sedangkan kesialan bagi yang menemukan bidal, tidak pernah akan menikah. Pernikahan itu ditandai bagi orang yang menemukan sepotong kue dengan cincin. Bahkan saat ini beberapa orang mengikuti tradisi dan menempatkan benda kecil, koin palsu dan permen kecil di dalam kue.
Jika kue jatuh saat pemanggangannya itu dianggap sebagai pertanda buruk dan nasib buruk ditandakan untuk orang di tahun mendatang.

Kemajuan Teknis Pembuatan Birthday Cake
Pada awalnya kue dulu serupa dengan roti. Mereka ditambahkan dengan madu dan ditambahkan dengan kacang-kacangan dan buah-buahan kering. Menurut sejarawan makanan, Mesir kuno adalah yang pertama untuk menunjukkan bukti keterampilan pemanggangan yang maju. Pemanggang Eropa Abad Pertengahan dulu membuat kue buah dan kue jahe yang dapat bertahan selama berbulan-bulan. Sekitar pertengahan abad ke-17, Eropa telah membuat kemajuan yang cukup besar dalam seni membuat kue. Mereka mulai membuat apa yang dapat disebut pelopor untuk kue modern yang bulat dan telah icing. Hal ini terutama disebabkan oleh perkembangan teknologi yang membuat oven handal tersedia, cetakan makanan dan gula halus. Pada waktu hoops kue – cetakan kayu kayu atau logam untuk membentuk kue diletakkan di panci datar untuk efek bentuk.
Icing Pertama yang digunakan dalam kue biasanya komposisi gula, putih telur dan flavor yang direbus. Kemudian icing digunakan untuk dituangkan pada kue dan kemudian kue itu dimasukkan kembali ke oven untuk sementara waktu. Ketika kue itu dibawa keluar, lapisan gula didinginkan dengan cepat untuk membentuk keras glossy es seperti menutupi. Mouled cakes and fancy ices mencapai puncaknya di zaman Victoria.

Dengan berjalannya waktu, seni pemanggangan kue terus maju dan tidak sampai pertengahan abad ke-19 bahwa kue kita ketahui hari ini dikembangkan. Rasa dan penampilan kue itu ditingkatkan dengan tepung putih ekstra-halus dan penggunaan baking powder, bukan ragi.
Sebagai seorang Mukmin sudah seharusnya meninggalkan tradisi ini.



Hukum Makan Kue Ulang Tahun

المسلمون هنا يحتفلون بمولد الأطفال ويقدمون الطعام للضيوف ويؤدون الصلاة النارية وقد رفضنا ذلك لكن ذهبنا حتى لا يصيبنا الحرج وهم يجعلوننا نأكل قهراً قائلين أنهم فقط يصنعون الطعام للضيوف فهل لنا أن نأكل من هذا الطعام؟ وما الدليل على عدم الأكل منه مع علمنا أن هذا الأمر بدعة ؟.


Hukum Makan Ulang Tahun

Pertanyaan, “Kaum muslimin di daerah kami merayakan ulang tahun anak-anaknya. Dalam acara tersebut mereka menyuguhkan makanan untuk para tamu. Mereka juga membaca shalawat nariyah.
Sebenarnya kami tidak menyetujui acara semacam itu namun kami tetap mendatangi undangan acara ulang tahun agar kami tidak mendapatkan masalah di tengah-tengah masyarakat. Mereka membuat kami terpaksa memakan makanan ulang tahun. Mereka beralasan bahwa mereka itu hanya membuat makanan untuk para tamu.

Apakah kami boleh turut menikmati makanan yang disuguhkan? Kami sudah mengetahui bahwa acara tersebut bid’ah namun apa dalil untuk melarang memakan makanan tersebut?”
الحمد لله
الإحتفال بالمولد بدعة في دين الله ، لا تجوز إقامته ، ولا يجوز الأكل مما يصنع فيه ولأجله ، وزعمهم أن طعام المولد من أجل الضيوف لا يبرر أكله ، والضيافة لها أحكامها ، والأمور بماقصدها ، ومن الواضح جدا أن الطعام إنما صنع من أجل هذه المناسبة المبتدعة . والأكل من هذا الطعام مما يعينهم على الإستمرار وهو تعاون على الإثم والعدوان ، والله سبحانه وتعالى قال : ( وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان ) .
الشيخ عبد الكريم الخضير .

Jawaban Syaikh Abdul Karim al Khudair, “Perayaan hari lahir itu bid’ah dalam agama Allah. Tidak boleh mengadakannya, tidak boleh memakan makanan yang ada pada acara tersebut ataupun makanan yang dibuat untuk acara tersebut. Anggapan mereka bahwa makanan peringatan hari lahir itu karena datangnya banyak tamu bukanlah alasan yang bisa dibenarkan untuk menikmatinya. Menjamu tamu itu ada aturannya.

Banyak perkara itu dinilai dengan melihat niat pelakunya. Satu hal yang sangat jelas bahwa makanan tersebut dibuat dalam rangka acara itu.
Memakan makanan yang dihidangkan pada acara tersebut itu membantu pelakunya untuk terus menerus menyelenggarakannya sehingga hal itu termasuk tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran syari’at yang Allah larang dalam al Maidah ayat kedua”. Sampai di sini perkataan Syaikh Abdul Karim al Khudair.

أما الصلاة النارية فهي من صلوات الصوفية المبتدعة فلا يجوز حضور مجالسها ولا المشاركة فيها .

Tentang shalawat nariyah Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid mengatakan, “Shalawat nariyah adalah shalawat bid’ah buatan orang-orang sufi. Tidak boleh menghadiri acara membaca shalawat nariyah apa lagi berperan serta dalam acara tersebut”.

Maaf Kawan, Saya Gak Ngucapin Selamat ULTAHmu


Mungkin kurangnya pengetahuan mengenai “ke-Aqidah-an”, masih banyak ummat Islam yang mengikuti ritual paganisme ini. Bahkan tidak menutup kemungkinan para ustadz dan ustazdah pun ikut merayakannya dan terjebak di dalamnya. Apalagi gencarnya media televisi dan media massa lainnya mempublikasikan seremonialnya yang terkadang dilakukan oleh beberapa da’i muda atau yang bergelar ustadz [setengah artis, katanya sih !]. Ditambah lagi kebiasaan ini sudah jamak dan menjadi hal yang seakan-akan wajib apabila ada anggota keluarga, rekan atau sahabat yang memperingati hari lahirnya. Dan tak kurang kelirunya sejak di Taman Kanak-kanak dan SD sudah diajarkan secara praktek langsung bahkan ada termaktub dalam buku-buku kurikulum mereka . Wallahu a’lam. Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka.
Pada masa-masa awal Nasrani generasi pertama (Ahlul Kitab / kaum khawariyyun / pengikut nabi Isa) mereka tidak merayakan Upacara Ulang Tahun, karena mereka menganggap bahwa pesta ulang tahun itu adalah pesta yang mungkar dan hanya pekerjaan orang kafir Paganisme.
Pada masa Herodes lah acara ulang tahun dimeriahkan sebagaimana tertulis dalam Injil Matius 14:6;
“Tetapi pada HARI ULANG TAHUN Herodes, menarilah anak Herodes yang perempuan, Herodiaz, di tengah-tengah meraka akan menyukakan hati Herodes.” (Matius14 : 6)
Dalam Injil Markus 6:21
“Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea.”(Markus 6:21)

Look at the Bible, Matthew 14 : 6 and Mark 6:21;
celebrating of birthday is Paganism, and Jesus (Isa, peace be upon him) doesn’t to do it, but Herod.
Matthew 14:6 :
“But when Herod’s birthday was kept, the daughter of Herodias danced before them, and pleased Herod.”
Mark 6:21 :
“Finally arrived also a good opportunity for Herodias, Herod on his birthday gave a feast for the magnifying-magnifying, officer-officers and prominent people in the Galilee.”

Orang Nasrani yang pertama kali mengadakan pesta ulang tahun adalah orang Nasrani Romawi. Beberapa batang lilin dinyalakan sesuai dengan usia orang yang berulang tahun. Sebuah kue ulang tahun dibuatnya dan dalam pesta itu, kue besar dipotong dan lilin pun ditiup. (Baca buku : Parasit Aqidah. A.D. El. Marzdedeq, Penerbit Syaamil, hal. 298)
Sudah menjadi kebiasaan kita mengucapkan selamat ulang tahun kepada keluarga maupun teman, sahabat pada hari ULTAHnya. Bahkan tidak sedikit yang aktif dakwah (ustadz dan ustadzah) pun turut larut dalam tradisi jahiliyah ini.

Sedangkan kita sama-sama tahu bahwa tradisi ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi kita yang mulia Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan kita ketahui Rasulullah adalah orang yang paling mengerti cara bermasyarakat, bersosialisasi, paling tahu bagaimana cara menggembirakan para sahabat-sahabatnya. Rasulullah paling mengerti bagaimana cara mensyukuri hidup dan kenikmatannya. Rasulullah paling mengerti bagaimana cara menghibur orang yang sedang bersedih. Rasulullah adalah orang yang paling mengerti CARA BERSYUKUR. Adapun tradisi ULANG TAHUN ini merupakan tradisi orang-orang Yahudi, Nasrani dan kaum paganisme, maka Rasulullah memerintahkan untuk menyelisihinya. Apakah Rasulullah pernah melakukannya ? Padahal Herodes sudah hidup pada jaman Nabi Isa. Apakah Rasulullah mengikuti tradisi ini ?

Rasulullah pernah bersabda:

“Kamu akan mengkuti cara hidup orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk kedalam lobang biawak kamu pasti akan memasukinya juga”. Para sahabat bertanya,”Apakah yang engkau maksud adalah kaum Yahudi dan Nasrani wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Siapa lagi jika bukan mereka?”

Rasulullah bersabda:

“ Man tasabbaha biqaumin fahua minhum” (Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” ( HR. Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu Umar)

Allah berfirman;

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. “ (QS. Al Baqarah : 120)

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran , pengelihatan, dan hati, semuannya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’:36)
“… dan kamu mengatakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS. an-Nuur: 15)

Janganlah kita ikut-ikutan, karena tidak mengerti tentang sesuatu perkara. Latah ikut-ikutan memperingati Ulang Tahun, tanpa mengerti dari mana asal perayaan tersebut.
Ini penjelasan Nabi tentang sebagian umatnya yang akan meninggalkan tuntunan beliau dan lebih memilih tuntunan dan cara hidup di luar Islam. Termasuk juga di antaranya adalah peringatan perayaan ULTAH, meskipun ditutupi dengan label SYUKURAN atau ucapan selamat MILAD.
Jika kita mau merenung apa yang harus dirayakan atau disyukuri BERKURANGNYA usia kita?
semakin dekatnya kita dengan KUBUR? SUDAH SIAPKAH kita untuk itu? Akankah kita bisa merayakannya tahun depan?

Seorang muslim dia dituntut untuk MUHASABAH setiap hari, karena setiap detik yang dilaluinya TIDAK akan pernah kembali lagi sampai nanti dipertemukan oleh ALLAH Subhanahu wa Ta’ala pada hari penghisaban , yang tidak ada yang bermanfaat pada hari itu baik anak maupun harta kecuali orang yang menghadap ALLAH Subhanahu wa Ta’ala dengan membawa hati yang ikhlas dan amal yang soleh.
Jadi, alangkah baiknya jika tradisi jahiliyah ini kita buang jauh-jauh dari diri kita, keluarga dan anak-anak kita dan menggantinya dengan tuntunan yang mulia yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.


  

Cara Islami Menyikapi Hari Ulang Tahun



           Ada hari yang dirasa spesial bagi kebanyakan orang. Hari yang mengajak untuk melempar jauh ingatan ke belakang, ketika saat ia dilahirkan ke muka bumi, atau ketika masih dalam buaian dan saat-saat masih bermain dengan ceria menikmati masa kecil. Ketika hari itu datang, manusia pun kembali mengangkat jemarinya, untuk menghitung kembali tahun-tahun yang telah dilaluinya di dunia. Ya, hari itu disebut dengan hari ulang tahun.
           
             Nah sekarang, pertanyaan yang hendak kita cari tahu jawabannya adalah: bagaimana sikap yang Islami menghadapi hari ulang tahun?
Jika hari ulang tahun dihadapi dengan melakukan perayaan, baik berupa acara pesta, atau makan besar, atau syukuran, dan semacamnya maka kita bagi dalam dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama, perayaan tersebut dimaksudkan dalam rangka ibadah. Misalnya dimaksudkan sebagai ritualisasi rasa syukur, atau misalnya dengan acara tertentu yang di dalam ada doa-doa atau bacaan dzikir-dzikir tertentu. Atau juga dengan ritual seperti mandi kembang 7 rupa ataupun mandi dengan air biasa namun dengan keyakinan hal tersebut sebagai pembersih dosa-dosa yang telah lalu. Jika demikian maka perayaan ini masuk dalam pembicaraan masalah bid’ah. Karena syukur, doa, dzikir, istighfar (pembersihan dosa), adalah bentuk-bentuk ibadah dan ibadah tidak boleh dibuat-buat sendiri bentuk ritualnya karena merupakan hak paten Allah dan Rasul-Nya. Sehingga kemungkinan pertama ini merupakan bentuk yang dilarang dalam agama, karena Rasul kita Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Orang yang melakukan ritual amal ibadah yang bukan berasal dari kami, maka amalnya tersebut tertolak” [HR. Bukhari-Muslim]

Perlu diketahui juga, bahwa orang yang membuat-buat ritual ibadah baru, bukan hanya tertolak amalannya, namun ia juga mendapat dosa, karena perbuatan tersebut dicela oleh Allah. Sebagaimana hadits,

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ “ (HR. Bukhari no. 7049)

                 Kemungkinan kedua, perayaan ulang tahun ini dimaksudkan tidak dalam rangka ibadah, melainkan hanya tradisi, kebiasaan, adat atau mungkin sekedar have fun. Bila demikian, sebelumnya perlu diketahui bahwa dalam Islam, hari yang dirayakan secara berulang disebut Ied, misalnya Iedul Fitri, Iedul Adha, juga hari Jumat merupakan hari Ied dalam Islam. Dan perlu diketahui juga bahwa setiap kaum memiliki Ied masing-masing. Maka Islam pun memiliki Ied sendiri. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
إن لكل قوم عيدا وهذا عيدنا

“Setiap kaum memiliki Ied, dan hari ini (Iedul Fitri) adalah Ied kita (kaum Muslimin)” [HR. Bukhari-Muslim]
Kemudian, Ied milik kaum muslimin telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya hanya ada 3 saja, yaitu Iedul Fitri, Iedul Adha, juga hari Jumat. Nah, jika kita mengadakan hari perayaan tahunan yang tidak termasuk dalam 3 macam tersebut, maka Ied milik kaum manakah yang kita rayakan tersebut? Yang pasti bukan milik kaum muslimin.
Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda,
من تشبه بقوم فهو منهم

“Orang yang meniru suatu kaum, ia seolah adalah bagian dari kaum tersebut” [HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Hibban]

               Maka orang yang merayakan Ied yang selain Ied milik kaum Muslimin seolah ia bukan bagian dari kaum Muslimin. Namun hadits ini tentunya bukan berarti orang yang berbuat demikian pasti keluar dari statusnya sebagai Muslim, namun minimal mengurangi kadar keislaman pada dirinya. Karena seorang Muslim yang sejati, tentu ia akan menjauhi hal tersebut. Bahkan Allah Ta’ala menyebutkan ciri hamba Allah yang sejati (Ibaadurrahman) salah satunya,

والذين لا يشهدون الزور وإذا مروا باللغو مروا كراما

“Yaitu orang yang tidak ikut menyaksikan Az Zuur dan bila melewatinya ia berjalan dengan wibawa” [QS. Al Furqan: 72]

Rabi’ bin Anas dan Mujahid menafsirkan Az Zuur pada ayat di atas adalah perayaan milik kaum musyrikin. Sedangkan Ikrimah menafsirkan Az Zuur dengan permainan-permainan yang dilakukan adakan di masa Jahiliyah.

            Jika ada yang berkata “Ada masalah apa dengan perayaan kaum musyrikin? Toh tidak berbahaya jika kita mengikutinya”. Jawabnya, seorang muslim yang yakin bahwa hanya Allah lah sesembahan yang berhak disembah, sepatutnya ia membenci setiap penyembahan kepada selain Allah dan penganutnya. Salah satu yang wajib dibenci adalah kebiasaan dan tradisi mereka, ini tercakup dalam ayat,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” [QS. Al Mujadalah: 22]

               Kemudian Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahllah- menjelaskan : “Panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalannya.

             Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan “Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadang kala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk -semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka” [Dinukil dari terjemah Fatawa Manarul Islam 1/43, di almanhaj.or.id]

             Jika demikian, sikap yang Islami dalam menghadapi hari ulang tahun adalah: tidak mengadakan perayaan khusus, biasa-biasa saja dan berwibawa dalam menghindari perayaan semacam itu. Mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan, kehidupan, usia yang panjang, sepatutnya dilakukan setiap saat bukan setiap tahun. Dan tidak perlu dilakukan dengan ritual atau acara khusus, Allah Maha Mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi di dalam dada. Demikian juga refleksi diri, mengoreksi apa yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita selayaknya menjadi renungan harian setiap muslim, bukan renungan tahunan.