Tampilkan postingan dengan label kisah nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah nyata. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Februari 2015

Peristiwa Karbala Dalam Pandangan Ahlussunnah Wal Jama’ah




Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan dalam kitab Aqidah al-Wasithiyyah : "Ahlussunnah menahan lidah dari permasalahan atau pertikaian yang terjadi diantara para Sahabat Radhiyallahu 'anhum. Dan mereka juga mengatakan: “Sesungguhnya riwayat-riwayat yang dibawakan dan sampai kepada kita tentang keburukan-keburukan para Sahabat Radhiyallahu 'anhum (pertikaian atau peperangan) ada yang dusta dan ada juga yang ditambah, dikurangi dan dirubah dari aslinya (serta ada pula yang shahih-pen). Riwayat yang shahih. menyatakan, bahwa para Sahabat Radhiyallahu 'anhum ini ma'dzûrûn (orang-orang yang diberi udzur). Baik dikatakan karena mereka itu para mujtahid yang melakukan ijtihad dengan benar ataupun juga para mujtahid yang ijtihadnya keliru.”[1]

Ahlussunah wal Jama'ah memposisikan riwayat-riwayat ini. Ketiga riwayat ini bertebaran dalam kitab-kitab tarikh (sejarah). Dan ini mencakup semua kejadian dalam sejarah Islam, termasuk kisah pembunuhan Husain bin Ali Radhiyallahu 'anhuma di Karbala. Sebagian besar riwayat tentang peristiwa menyedihkan ini adalah kebohongan belaka. Sebagian lagi dhaif dan ada juga yang shahih. Riwayat yang dinyatakan shahih oleh para ulama ahli hadits yang bersesuaian dengan kaidah ilmiah dalam ilmu hadits, inilah yang wajib dijadikan pedoman dalam mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Dari sini, kita dapat memahami betapa sanad itu sangat penting untuk membungkam para pendusta dan membongkar niat busuk mereka.

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan, "Sanad itu senjata kaum muslimin, jika dia tidak memiliki senjata lalu apa yang dia pergunakan dalam berperang" Perkataan ini diriwayatkan oleh al-Hâkim dalam kitab al-Madkhal.

'Abdullah bin Mubârak rahimahullah mengatakan, "Sanad ini termasuk bagian dari agama. kalau tidak ada isnad, maka siapapun bisa berbicara semaunya." Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah kitab Shahih beliau rahimahullah.

Di tempat yang sama, Imam Muslim raimahullah juga membawakan perkataan Ibnu Sîrin, "Dahulu, mereka tidak pernah bertanya tentang sanad. Ketika fitnah mulai banyak, mereka mengatakan, "Sebutkanlah nama orang-orangmu yang meriwayatkannya" !

KRONOLOGI TERBUNUHNYA HUSAIN RADHIYALLAHU 'ANHUMA
Berkait dengan peristiwa Karbala, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, "Orang-orang yang meriwayatkan pertikaian Husain Radhiyallahu 'anhu telah memberikan tambahan dusta yang sangat banyak, sebagaimana juga mereka telah membubuhkan dusta pada peristiwa pembunuhan terhadap 'Utsman Radhiyallahu 'anhu, sebagaimana mereka juga memberikan tambahan cerita (dusta) pada peristiwa-peristiwa yang ingin mereka besar-besarkan, seperti dalam riwayat mengenai peperangan, kemenangan dan lain sebagainya. Para penulis tentang berita pembunuhan Husain Radhiyallahu 'anhu, ada diantara mereka yang merupakan ahli ilmu (ulama) seperti al-Baghawi rahimahullah dan Ibnu Abi Dun-ya dan lain sebagainya. Namun demikian, diantara riwayat yang mereka bawakan ada yang terputus sanadnya. Sedangkan yang membawakan cerita tentang peristiwa ini dengan tanpa sanad, kedustaannya sangat banyak"[2]

Oleh karenanya, dalam pembahasan tentang peristiwa ini perlu diperhatikan sanadnya.

RIWAYAT SHAHIH TENTANG PERISTIWA KARBALA
Riwayat yang paling shahih ini dibawakan oleh Imam al-Bukhâri, no, 3748 :

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنِي حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أُتِيَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ بِرَأْسِ الْحُسَيْنِ فَجُعِلَ فِي طَسْتٍ فَجَعَلَ يَنْكُتُ وَقَالَ فِي حُسْنِهِ شَيْئًا فَقَالَ أَنَسٌ كَانَ أَشْبَهَهُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ مَخْضُوبًا بِالْوَسْمَةِ

"Aku diberitahu oleh Muhammad bin Husain bin Ibrâhîm, dia mengatakan : aku diberitahu oleh Husain bin Muhammad, kami diberitahu oleh Jarîr dari Muhammad dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu 'anhu, dia mengatakan : Kepala Husain dibawa dan didatangkan kepada 'Ubaidullah bin Ziyâd[3]. Kepala itu ditaruh di bejana. Lalu 'Ubaidullah bin Ziyâd menusuk-nusuk (dengan pedangnya) seraya berkomentar sedikit tentang ketampanan Husain. Anas Radhiyallahu 'anhu mengatakan, "Diantara Ahlul bait, Husain adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam." Saat itu, Husain Radhiyallahu 'anhu disemir rambutnya dengan wasmah (tumbuhan, sejenis pacar yang condong ke warna hitam)"

Kisahnya, Husain bin Ali Radhiyallahu 'anhuma tinggal di Mekah bersama beberapa Shahabat, seperti Ibnu 'Abbâs dan Ibnu Zubair Radhiyallahu 'anhuma. Ketika Muawiyah Radhiyallahu 'anhu meninggal dunia pada tahun 60 H, anak beliau Yazîd bin Muâwiyah menggantikannya sebagai imam kaum muslimin atau khalifah. Saat itu, penduduk Irak yang didominasi oleh pengikut 'Ali Radhiyallahu 'anhu menulis surat kepada Husain Radhiyallahu 'anhuma meminta beliau Radhiyallahu 'anhuma pindah ke Irak. Mereka berjanji akan membai'at Husain Radhiyallahu 'anhuma sebagai khalifah karena mereka tidak menginginkan Yazîd bin Muâwiyah menduduki jabatan Khalifah. Tidak cukup dengan surat, mereka terkadang mendatangi Husain Radhiyallahu 'anhuma di Mekah mengajak beliau Radhiyallahu 'anhu berangkat ke Kufah dan berjanji akan menyediakan pasukan. Para Sahabat seperti Ibnu Abbâs Radhiyallahu 'anhuma kerap kali menasehati Husain Radhiyallahu 'anhuma agar tidak memenuhi keinginan mereka, karena ayah Husain Radhiyallahu 'anhuma, Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu, dibunuh di Kufah dan Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu khawatir mereka membunuh Husain juga disana. Husain Radhiyallahu 'anhuma mengatakan, "Saya sudah melakukan istikharah dan akan berangkat kesana".
.
Sebagian riwayat menyatakan bahwa beliau Radhiyallahu 'anhuma mengambil keputusan ini karena belum mendengar kabar tentang sepupunya Muslim bin 'Aqil yang telah dibunuh di sana.

Akhirnya, berangkatlah Husain Radhiyallahu 'anhuma bersama keluarga menuju Kufah.

Sementara di pihak yang lain, 'Ubaidullah bi n Ziyâd diutus oleh Yazid bin Muawiyah untuk mengatasi pergolakan di Irak. Akhirnya, 'Ubaidullah dengan pasukannya berhadapan dengan Husain Radhiyallahu 'anhuma bersama keluarganya yang sedang dalam perjalanan menuju Irak. Pergolakan ini sendiri dipicu oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan Husain Radhiyallahu 'anhuma. Dua pasukan yang sangat tidak imbang ini bertemu, sementara orang-orang Irak yang membujuk Husain Radhiyallahu 'anhuma, dan berjanji akan membantu dan menyiapkan pasukan justru melarikan diri meninggalkan Husain c dan keluarganya berhadapan dengan pasukan Ubaidullah. Sampai akhirnya, terbunuhlah Husain Radhiyallahu 'anhuma sebagai orang yang terzhalimi dan sebagai syahid. Kepalanya dipenggal lalu dibawa kehadapan 'Ubaidullah bin Ziyâd dan kepala itu diletakkan di bejana.

Lalu 'Ubaidullah yang durhaka[4] ini kemudian menusuk-nusuk hidung, mulut dan gigi Husain, padahal di situ ada Anas bin Mâlik, Zaid bin Arqam dan Abu Barzah al-Aslami Radhiyallahu 'anhum. Anas Radhiyallahu 'anhu mengatakan, "Singkirkan pedangmu dari mulut itu, karena aku pernah melihat mulut Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mencium mulut itu!" Mendengarnya, orang durhaka ini mengatakan, "Seandainya saya tidak melihatmu sudah tua renta yang akalnya sudah sudah rusak, maka pasti kepalamu saya penggal."

Dalam riwayat at- Tirmidzi dan Ibnu Hibbân dari Hafshah binti Sirîn dari Anas Radhiyallahu 'anhu dinyatakan :

فَجَعَلَ يَقُوْلُ بِقَضِيْبٍ لَهُ فِي أَنْفِهِ

"Lalu 'Ubaidullah mulai menusukkan pedangnya ke hidung Husain Radhiyallahu 'anhu".

Dalam riwayat ath-Thabrâni rahimahullah dari hadits Zaid bin Arqam Radhiyallahu 'anhu :

فَجَعَلَ قَضِيْبًا فِي يَدِهِ فِي عَيْنِهِ وَأَنْفِهِ فَقُلْتُ ارْفَعْ قَضِيْبَكَ فَقَدْ رَأَيْتُ فَمَّ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَوْضِعِهِ

"Lalu dia mulai menusukkan pedang yang di tangannya ke mata dan hidung Husain Radhiyallahu 'anhu. Aku (Zaid bin Arqam) mengatakan, "Angkat pedangmu, sungguh aku pernah melihat mulut Rasulullah (mencium) tempat itu".

Demkian juga riwayat yang disampaikan lewat jalur Anas bin Mâlik Radhiyallahu 'anhu :

فَقُلْتُ لَهُ إِنِّي رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَلْثِمُ حَيْثُ تَضَعُ قَضِيْبَكَ , قَالَ : " فَانْقَبَضَ

Aku (Anas bin Malik) mengatakan kepadanya, "Sungguh aku telah melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mencium tempat dimana engkau menaruh pedangmu itu." Lalu Ubaidullah mengangkat pedangnya.

Demikianlah kejadiannya, setelah Husain Radhiyallahu 'anhuma terbunuh, kepala beliau Radhiyallahu 'anha dipenggal dan ditaruh di bejana. Dan mata, hidung dan gigi beliau Radhiyallahu 'anhu ditusuk-tusuk dengan pedang. Para Sahabat Radhiyallahu anhum yang menyaksikan hal ini meminta kepada 'Ubaidullah orang durhaka ini, agar menyingkirkan pedang itu, karena mulut Rasulullah pernah menempel tempat itu. Alangkah tinggi rasa hormat mereka kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan alangkah sedih hati mereka menyaksikan cucu Rasulullah Shallallahu 'aiahi wa sallam, orang kesayangan beliau n dihinakan di depan mata mereka.

Dari sini, kita mengetahui betapa banyak riwayat palsu tentang peristiwa ini yang menyatakan bahwa kepala Husain Radhiyallahu 'anhuma diarak sampai diletakkan di depan Yazid rahimahullah. Para wanita dari keluarga Husain Radhiyallahu 'anhuma dikelilingkan ke seluruh negeri dengan kendaaraan tanpa pelana, ditawan dan dirampas. Semua ini merupakan kepalsuan yang dibuat Rafidhah (Syiah). Karena Yazid t saat itu sedang berada di Syam, sementara kejadian memilukan ini berlangsung di Irak.

Syaikhul Islam Taimiyyah rahimahullah mengatakan, "Dalam riwayat dengan sanad yang majhul dinyatakan bahwa peristiwa penusukan ini terjadi di hadapan Yazid, kepala Husain Radhiyallahu 'anhuma dibawa kehadapannya dan dialah yang menusuk-nusuknya gigi Husain Radhiyallahu 'anhuma. Disamping dalam cerita (dusta) ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa cerita ini bohong, maka (untuk diketahui juga-red) para Sahabat yang menyaksikan peristiwa penusukan ini tidak berada di Syam, akan tetapi di negeri Irak. Justru sebaliknya, riwayat yang dibawakan oleh beberapa orang menyebutkan bahwa Yazid tidak memerintahkan 'Ubaidullah untuk membunuh Husain."[5]

Yazid rahimahullah sangat menyesalkan terjadinya peristiwa menyedihkan itu. Karena Mu'awiyah berpesan agar berbuat baik kepada kerabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka, saat mendengar kabar bahwa Husain dibunuh, mereka sekeluarga menangis dan melaknat 'Ubaidullah. Hanya saja dia tidak menghukum dan mengqisas 'Ubaidullah, sebagai wujud pembelaan terhadap Husain secara tegas.[6]

Jadi memang benar, Husain Radhiyallahu 'anhuma dibunuh dan kepalanya dipotong, tapi cerita tentang kepalanya diarak, wanita-wanita dinaikkan kendaraan tanpa pelana dan dirampas, semuanya dhaif (lemah). Alangkah banyak riwayat dhaif serta dusta seputar kejadian menyedihkan ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di atas.

Kemudian juga, kisah pertumpahan darah yang terjadi di Karbala ditulis dan diberi tambahan-tambahan dusta. Tambahan-tambahan dusta ini bertujuan untuk menimbulkan dan memunculkan fitnah perpecahan di tengah kaum muslimin. Sebagian dari kisah-kisah dusta itu bisa kita dapatkan dalam kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Minhâjus Sunnah IV/517 dan 554, 556 :

- Ketika Hari pembunuhan terhadap Husain, langit menurunkan hujan darah lalu menempel di pakaian dan tidak pernah hilang dan langit nampak berwarna merah yang tidak pernah terlihat sebelum itu.
- Tidak diangkat sebuah batu melainkan di bawahnya terdapat darah penyembelihan Husain Radhiyallahu 'anhuma.
- Kemudian mereka juga menisbatkan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebuah perkataan yang berbunyi :

هَؤُلَاءِ وَدِيْعَتِيْ عِنْدَكُمْ

Mereka ini adalah titipanku pada kalian, kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat :

"Katakanlah:"Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan" [asy Syûrâ/42:23]

Riwayat ini dibantah oleh para ulama diantaranya Ibnu Taimiyyah rahimahullah dengan mengatakan, "Apa masuk di akal, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menitipkan kepada makhluk padahal Allah Azza wa Jalla tempat penitip yang terbaik. Sedangkan ayat di atas yang mereka anggap diturunkan Allah Azza wa Jalla berkenaan dengan peristiwa pembunuhan Husain Radhiyallahu 'anhuma, maka ini juga merupakan satu bentuk kebohongan. Karena ayat ini terdapat dalam surat as-Syûrâ dan surat ini Makkiyah. Allah Azza wa Jalla menurunkan surat ini sebelum Ali Radhiyallahu 'anhu dan Fathimah Radhiyallahu anha menikah.

HUSAIN RADHIYALLAHU 'ANHUMA TERBUNUH SEBAGAI ORANG YANG TERZHALIMI DAN MATI SYAHID
Ini merupakan keyakinan Ahlussunnah. Pendapat ini berada diantara dua pendapat yang saling berlawanan. Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, "Tidak disangsikan lagi bahwa Husain Radhiyallahu 'anhuma terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan syahid. Pembunuhan terhadap Husain Radhiyallahu 'anhuma merupakan tindakan maksiat kepada Allah Azza wa Jalla dan rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam dari para pelaku pembunuhan dan orang-orang yang membantu pembunuhan ini. Di sisi lain, merupakan musibah yang menimpa kaum muslimin, keluarga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan yang lainnya. Husain Radhiyallahu 'anhuma berhak mendapatkan gelar syahid, kedudukan dan derajat ditinggikan".[7]

Kemudian, di halaman yang sama, Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husain Radhiyallahu 'anhuma tidak lebih besar daripada pembunuhan terhadap para rasul. Allah Azza wa Jalla telah memberitahukan bahwa bani Israil telah membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Pembunuhan terhadap para nabi itu lebih besar dosanya dan merupakan musibah yang lebih dahsyat. Begitu pula pembunuhan terhadap 'Ali Radhiyallahu 'anhu (bapak Husain Radhiyallahu 'anhuma) lebih besar dosa dan musibahnya, termasuk pembunuhan terhadap 'Utsman juga Radhiyallahu 'anhu.

Ini merupakan bantahan telak bagi kaum Syi'ah yang meratapi kematian Husain Radhiyallahu 'anhuma, namun, tidak meratapi kematian para nabi . Padahal pembunuhan yang dilakukan oleh bani Israil terhadap para nabi tanpa alasan yang benar lebih besar dosa dan musibahnya. Ini juga menunjukkan bahwa mereka bersikap ghuluw (melampau batas) kepada Husain Radhiyallahu 'anhu.

Sikap ghuluw ini mendorong mereka membuat berbagai hadits palsu. Misalnya, riwayat yang menerangkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan, pembunuh Husain Radhiyallahu 'anhu akan berada di tabut (peti yang terbuat dari api), dia mendapatkan siksa setengah siksa penghuni neraka, kedua tangan dan kakinya diikat dengan rantai dari api neraka, ditelungkupkan sampai masuk ke dasar neraka dan dalam keadaan berbau busuk, penduduk neraka berlindung dari bau busuk yang keluar dari orang tersebut dan dia kekal di dalamnya.

Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah rahimahullah mengomentari riwayat ini dengan mengatakan, "Hadits ini termasuk di antara riwayat yang berasal dari para pendusta".

MENYIKAPI PERISTIWA KARBALA
Menyikapi peristiwa wafatnya Husain Radhiyallahu 'anhuma, umat manusia terbagi menjadi tiga golongan. Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, "Dalam menyikapi peristiwa pembunuhan Husain Radhiyallahu 'anhuma, manusia terbagi menjadi tiga : dua golongan yang ekstrim dan satu berada di tengah-tengah.

Golongan Pertama : Mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husain Radhiyallahu 'anhuma itu merupakan tindakan benar. Karena Husain Radhiyallahu 'anhuma ingin memecah belah kaum muslimin. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ جَاءَكُمْ وَأَمْرُكُمْ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيْدُ أَنْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوْهُ

"Jika ada orang yang mendatangi kalian dalam keadaan urusan kalian berada dalam satu pemimpin lalu pendatang hendak memecah belah jama'ah kalian, maka bunuhlah dia" [8]

Kelompok pertama ini mengatakan bahwa Husain Radhiyallahu 'anhuma datang saat urusan kaum muslimin berada di bawah satu pemimpin (yaitu Yazid bin Muawiyah) dan Husain Radhiyallahu 'anhuma hendak memecah belah umat.

Sebagian lagi mengatakan bahwa Husain Radhiyallahu 'anhuma merupakan orang pertama yang memberontak kepada penguasa.. Kelompok ini melampaui batas, sampai berani menghinakan Husain Radhiyallahu 'anhuma. Inilah kelompok 'Ubaidullah bin Ziyâd, Hajjâj bin Yusûf dan lain-lain. Sedangkan Yazid bin Muâwiyah rahimahullah tidak seperti itu. Meskipun tidak menghukum 'Ubaidullah, namun ia tidak menghendaki pembunuhan ini.

Golongan Kedua : Mereka mengatakan Husain Radhiyallahu 'anhu adalah imam yang wajib ditaati; tidak boleh menjalankan suatu perintah kecuali dengan perintahnya; tidak boleh melakukan shalat jama'ah kecuali di belakangnya atau orang yang ditunjuknya, baik shalat lima waktu ataupun shalat Jum'at dan tidak boleh berjihad melawan musuh kecuali dengan idzinnya dan lain sebagainya. [9]

Kelompok pertama dan kedua ini berkumpul di Irak. Hajjâj bin Yûsuf adalah pemimpin golongan pertama. Ia sangat benci kepada Husain Radhiyallahu 'anhuma dan merupakan sosok yang zhalim. Sementara kelompok kedua dipimpin oleh Mukhtâr bin Abi 'Ubaid yang mengaku mendapat wahyu dan sangat fanatik dengan Husain Radhiyallahu 'anuhma. Orang inilah yang memerintahkan pasukannya agar menyerang dan membunuh 'Ubaidullah bin Ziyad dan memenggal kepalanya.

Golongan Ketiga : Yaitu Ahlussunnah wal Jama'ah yang tidak sejalan dengan pendapat golongan pertama, juga tidak dengan pendapat golongan kedua. Mereka mengatakan bahwa Husain Radhiyallahu 'anhuma terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan mati syahid. Inilah keyakinan Ahlussunnah wal Jama'ah, yang selalu berada di tengah antara dua kelompok.

Ahlussunnah mengatakan Husain Radhiyallahu 'anhuma bukanlah pemberontak. Sebab, kedatangannya ke Irak bukan untuk memberontak. Seandainya mau memberontak, beliau Radhiyallahu 'anhuma bisa mengerahkan penduduk Mekah dan sekitarnya yang sangat menghormati dan menghargai beliau Radhiyallahu 'anhuma. Karena, saat beliau Radhiyallahu 'anhuma di Mekah, kewibaannya mengalahkan wibawa para Sahabat lain yang masih hidup pada masa itu di Mekkah. Beliau Radhiyallahu 'anhuma seorang alim dan ahli ibadah. Para Sahabat sangat mencintai dan menghormatinya. Karena beliaulah Ahli Bait yang paling besar.

Jadi Husain Radhiyallahu 'anhuma sama sekali bukan pemberontak. Oleh karena itu, ketika dalam perjalanannya menuju Irak dan mendengar sepupunya Muslim bin 'Aqîl dibunuh di Irak, beliau Radhiyallahu 'anhuma berniat untuk kembali ke Mekkah. Akan tetapi, beliau Radhiyallahu 'anhuma ditahan dan dipaksa oleh penduduk Irak untuk berhadapan dengan pasukan 'Ubaidullah bin Ziyâd. Akhirnya, beliau Radhiyallahu 'anhuma tewas terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan mati syahid.

SETAN MENYEBARKAN BID'AH
Syaikhul Islam mengatakan[10], "Dengan sebab kematian Husain Radhiyallahu 'anhuma, setan memunculkan dua bid'ah di tengah manusia.

Pertama : Bid'ah kesedihan dan ratapan para hari Asyûra (di negeri kita ini, acara bid'ah ini sudah mulai diadakan-pen) seperi menampar-nampar, berteriak, merobek-robek, sampai-sampai mencaci maki dan melaknat generasi Salaf, memasukkan orang-orang yang tidak berdosa ke dalam golongan orang yang berdosa. (Para Sahabat seperti Abu Bakar dan Umar dimasukkan, padahal mereka tidak tahu apa-apa dan tidak memiliki andil dosa sedikit pun. Pihak yang berdosa adalah yang terlibat langsung kala itu). Mereka sampai mereka berani mencaci Sâbiqûnal awwalûn. Kemudian riwayat-riwayat tentang Husain Radhiyallahu 'anhuma dibacakan yang kebanyakan merupakan kebohongan. Karena tujuan mereka adalah membuka pintu fitnah (perpecahan) di tengah umat.

Kemudian Syaikhul Islam rahimahullah juga mengatakan , "Di Kufah, saat itu terdapat kaum yang senantiasa membela Husain Radhiyallahu 'anhuma yang dipimpin oleh Mukhtâr bin Abi 'Ubaid al-Kadzdzâb (karena dia mengaku mendapatkan wahyu-pen). Di Kufah juga terdapat satu kaum yang membenci 'Ali dan keturunan beliau Radhiyallahu 'anhum. Di antara kelompok ini adalah Hajjâj bin Yûsuf ats-Tsaqafi. Dalam sebuah hadits shahîh dijelaskan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

سَيَكُوْنُ فِي ثَقِيْفٍ كَذَّابٌ وَمُبِيْرٌ

"Akan ada di suku Tsaqif seorang pendusta dan perusak"

Orang Syi'ah yang bernama Mukhtâr bin Abi 'Ubaid itulah sang pendusta . Sedangkan sang perusak adalah al-Hajjaj. Yang pertama membuat bid'ah kesedihan, sementara yang kedua membuat bid'ah kesenangan. Kelompok kedua ini pun meriwayatkan hadits yang menyatakan bahwa barangsiapa melebihkan nafkah keluarganya pada hari 'Asyûra, maka Allah Azza wa Jalla melonggarkan rezekinya selama setahun itu."

Juga hadits, "barangsiapa memakai celak pada hari 'Asyûra, maka tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu dan lain sebagainya.

Kedua : Bida'ah yang kedua adalah bid'ah kesenangan pada hari Asyura : Karena itu, para khatib yang sering membawakan riwayat ini - karena ketidaktahuannya tentang ilmu riwayat atau sejarah - , sebenarnya secara tidak langsung, masuk ke dalam kelompok al-Hajjâj, kelompok yang sangat membenci Husain Radhiyallahu 'anhuma. Padahal wajib bagi kita meyakini bahwa Husain Radhiyallahu 'anhuma terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan mati syahid. Dan wajib bagi kita mencintai Sahabat yang mulia ini dengan tanpa melampaui batas dan tanpa mengurangi haknya, tidak mengatakan Husain Radhiyallahu anhuma seorang imam yang ma'sum (terbebas dari semua kesalahan), tidak pula mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husain Radhiyallahu anhuma itu adalah tindakan yang benar. Pembunuhan terhadap Husain Radhiyallahu 'anhuma adalah tindakan maksiat kepada Allah dan RasulNya.

Itulah sekilas mengenai beberapa permasalahan yang berhubungan dengan peristiwa pembunuhan Husain Radhiyallahu 'anhuma. Semoga bermanfaat dan memberikan pencerahan. Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menghindarkan kita semua dari berbagai fitnah yang disebarkan oleh setan dan para tentaranya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Syarhu al'Aqidah al-Wâsithiyyah Syaikh Sholeh al-Fauzan hal.198,
[2]. Minhâjus Sunnah (IV/556)
[3]. Komandan pasukan yang memerangi Husain, pada tahun 60-61 H di Irak di sebuah daerah yang bernama Karbala
[4]. Ia disebut orang durhaka, karena dia tidak diperintah untuk membunuh Husain Radhiyallahu 'anhuma, namun melakukannya.
[5]. Minhâjus Sunnah (IV/557)
[6]. Lihat Minhâjus Sunnah (V/557-558)
[7]. Minhâjus Sunnah (IV/550)
[8]. HR. Muslim, kitabul Imârah
[9]. Minhâjus Sunnah (IV/553)
[10]. IV/554

Senin, 16 September 2013

Kematian Yang Mengerikan Seorang Tukang Sihir


Syaikh Abdullah At-Tulaidie dalam kitabnya Nashbul Mawaid berkata, “Di antara kawan-kawanku yang menghafal Al-Qur’an menuturkan bahwasanya ada seorang ahli fiqih menceritakan kepadanya bahwa ia dipanggil untuk memandikan mayat seseorang yang tinggal di kampungnya.

Ketika Ahli fiqih bersiap-siap untuk memandikan mayat tersebut, ia lalu membuka kain yang menutupi wajah si mayit. Betapa kaget dan gemetarnya beliau saat menyaksikan wajah mayat tersebut berubah persis seperti babi, sementara anggota tubuh lainnya tidak mengalami kejanggalan apa-apa. Lalu Ahli fiqih itu meninggalkan mayat tersebut dan segera menghubungi seorang ulama di desa tersebut. Lalu keduanya pun menyaksikan
kondisi mayat yang aneh itu.
Kemudian, Ahli fiqih ini menanyakan kepada istri mayat mengenai perbuatannya yang selama ini dilakukan dan memaksa untuk menjawabnya. Janda itu menjawab, ‘Dia biasa menyihir orang, dia juga mempunyai Al-Qur’an khusus yang dipendam dalam tanah dan sering dikencingi untuk bisa berhubungan dengan setan’.

Suatu balasan yang setimpal!

Allah Ta’ala telah membongkar aibnya di dunia sebelum disiksa di dalam kubur. Blsa seperti itu mudah-mudahan menjadi pelajaran  bagi yang lain. Perbuatanmu akan mendapat balasan yang setimpal.

Coba Hubungi HP Tuhanmu Supaya Ia Mengirim Malaikat Maut Kepadaku!


Seorang gadis berjalan melintasi pusat perbelanjaan Faishaliyah. la adalah seorang gadis yang sengaja membuka abayanya dan mengenakan yang tidak sepenuhnya menutup aurat untuk berjalan-jalan di Faishaliyah.
la berpapasan dengan seorang pemuda shaleh yang kemudian menasehatinya: “Andai saja Malaikat maut datang kepadamu, apa yang akan engkau lakukan?”
Dengan penuh keberanian, gadis itu justru berkata: “Coba hubungi HP Tuhanmu supaya ia mengirim Malaikat maut kepadaku!”
Pemuda itu mengatakan: “Saat aku mendengarkan ucapannya, aku betul-betul takut akan akibat ucapannya. Aku gemetar dan langsung lari meninggalkan tempat itu. Aku sungguh takut jika pusat perbelanjaan Faishaliyyah itu akan runtuh menimpa kami.”
Aku segera berlari meninggalkan tempat itu, dan tiba-tiba saja aku mendengarkan suara teriakan dan hiruk pikuk. Aku kembali ke sana dan menemukan kerumunan orang begitu banyak di dekat seorang gadis. Suara tangisan dan teriakan memenuhi seluruh tempat. Hingga menjadi jelas bagiku, itu adalah gadis yang tadi aku nasehati. Akhirnya aku tahu dari orang-orang yang menyaksikannya bahwa ia terjerembab ke depan dan tewas seketika itu juga.
Aku pun memanfaatkan momen itu. Aku berdiri dan menceritakan kisahku dengan gadis itu, bahwa tadi ia mengatakan begini dan begini. Mendengarkan itu, semua yang hadir menangis.
Ya Allah, sungguh kami mohon padaMu keselamatan di dunia dan Akhirat, serta keselamatan dari siksa Neraka.

Barangsiapa yang Membunuh, Dia Sendiri akan Terkapar Sekalipun Jarak Beberapa Lama

Telah ditemukan jenazah satpam gedung bioskop dengan bersimbah darah di rumahnya. Adapun istrinya dalam keadaan terikat dengan beberapa tusukan pada tubuhnya. Kemudian, istrinya yang sekarat dilarikan ke salah satu rumah sakit.
Para polisi telah bersungguh-sungguh mencari pelaku pembunuhan ini. Akan tetapi, hasil penyelidikan yang terkumpul tidak memberi manfaat apa-apa. Sudah sekian lama tidak ada seorang pun yang ditangkap. Setelah pencarian yang sangat melelahkan, tiba-tiba ditemukan percikan darah yang telah membeku di dekat kamar salah seorang karyawan gedung bioskop. Oleh karena itu, karyawan ini mendapat pengawalan yang ketat.
Kondisi istri korban nampak membaik, lalu aparat kepolisian mulai mewawancarainya. Akan tetapi, dari hasil wawancara tidak menambah masukan sedikit pun sebab dia hanya mengatakan ada beberapa orang tak dikenal mendobrak kamar tidurnya yang sempit, lalu meminta suaminya agar menyerahkan sejumlah uang. Dikarenakan korban menolak, mereka langsung membunuhnya dan mengikat istrinya serta melukainya dengan beberapa tusukan, lalu mereka lari di tengah kegelapan.
Kemudian, keputusan satu-satunya yang diambil aparat adalah menangkap salah seorang karyawan tersebut yang memiliki beberapa hal yang mencurigakan. Sekalipun demikian, karena karyawan tadi menolak tuduhan polisi dengan alasan tidak ada bukti yang dapat menjeratnya, maka polisi pun melepaskannya. Akan tetapi, ia masih berada dalam pengawasan yang sangat ketat.
Suatu hari, karyawan yang menjadi tertuduh itu masuk ke salah satu kasino (tempat perjudian) dengan tetap di bawah pengawalan polisi. Mereka berada di belakangnya dan sebelum mereka masuk ruang kasino, tiba-tiba terjadi pertengkaran antara para penjudi dan terdengar kegaduhan. Lalu polisi ingin mengetahui kejadian yang ada di dalam.
Akan tetapi, begitu polisi masuk, mereka dikagetkan dengan mayat yang terburur di lantai. Setelah mendekat, ternyata mayat karyawan yang tertuduh tadi. Yang menambah keheranan mereka, saat karyawan tadi tewas, terdapat bekas pukulan botol pada tengkuknya. Ini mirip dengan cara bagaimana satpam gedung bioskop itu terbunuh.
Dan yang mengherankan lagi bahwasanya karyawan yang tertuduh tadi tidak ikut serta dalam pertengkaran yang terjadi di kasino tersebut.
Setelah kematian karyawan tadi. Istri satpam barulah mengakui bahwa ia memiliki hubungan asmara dengannya…. Ketika suaminya–satpam–mengetahui jika istrinya menjalin hubungan dengan karyawan yang terbunuh itu, karyawan itu langsung memukul suami kekasihnya dengan botol minuman keras pada tengkuknya, lalu suaminya jatuh tersungkur dan tewas. Kemudian, istri satpam dan karyawan itu bersepakat untuk mengikat kekasihnya dan menusuknya beberapa tusukan agar terbebas dari tuduhan, dan meminta agar kekasihnya berbohong di hadapan polisi dengan mengatakan bahwa ada beberapa orang tak dikenal masuk kamarnya dan membunuh suaminya, lalu mengikatnya sebagaimana yang terjadi.
Adapun sebab mengapa perempuan tadi diam dan tidak memberitahukan siapa pembunuh sebenarnya, kecuali setelah pacarnya terbunuh karena ia takut hubungan asmara antara keduanya terbongkar, dan khawatir jika dirinya kelak yang akan dibunuh kekasihnya.

Jumat, 10 Mei 2013

GADIS YANG MELAWAN ALLAH.



         Ini adalah kisah nyata, aku berharap semua orang dapat mengambil manfaat dari kisah ini dan tidak ada daya upaya kecuali atas pertolongan Allah swt.

         Adalah seorang gadis yang berpenampilan kelewat glamor di tengah bulan ramadhan. Gadis ini menaiki taksi. Pandangan mata sopir sekilas tertuju pada penampilan si gadis. Kemudian ia berbicara kepadanya dengan sopan agar ia bertaqwa kepada Allah dalam berpakaian dan khususnya pada bulan ramadhan yang mulia.

         Akan tetapi,ia justru berkata demikian. Ambilah HP dan Hubungi Rabbmu agar mengkapling untukku satu tempat di Neraka jahnnam dan satu tempat di Jnnah untukmu.


        Balasan Allah sangat cepat dan jawaban Nya pun turun dengan segera. Seketika itu, ruhnya diambil dan dia mati dalam keadaan demikian dan tubuhnya membeku di tempatnya tersebut. Bahkan, ketika ia di keluarkan dari ruang pendingin di rumah sakit, tubuhnya nampak hitam legam. Na'udzubillah min dzalik.....

        Bahkan HP nya pun tidak dapat di keluarkan dari tangannya sehingga telepon seluler tersebut di kubur bersama jasadnya agar menjadi saksi atasnya pada Hari Kiamat.

        Amirul Mu'minin Ali Bin Abi Thalib berkata di salah satu khutbahnya yang terkenal, Aku heran terhadap orang yang mengingkari adanya alam akhirat padahal ia melihat alam dunia. Dan aku heran terhadap orang yang mengingkari adanya pengembalian makhluk padahal ia melihat mula kemunculannya.

Semoga bermanfaat. Amiin........

Selasa, 17 April 2012

TIPU MUSLIHAT DARI SI CANTIK


  Akisah,ada seorang wanita yang termasyhur akan kecantikannya.Namanya adalah Husna.Semua lelaki berlomba untuk mendapatkannya,para pengendara kuda berkorban untuk mendapatkannya.Tetapi,ia tidak membiarkan para lelaki itu untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.Bahkan,ia membuat suatu siasat yang sangat lihai sebelum para pemujanya mendapatkannya.suatu hari ia berkata,sesungguhnya orang yang hari ini aku temui,ia akan menjadi suami ku,siapapun dia.Ketika ia keluar ternyata yang pertama kali bertemu dengan si cantik ini adalah penduduk kota paling miskin,yang  bahkan untuk makan sehari-hari saja tidak mencukupi.Husna kemudian berkata padanya,wahai hasan jika engkau mau,hari ini aku akan menjadi istrimu dengan harga yang paling murah.Aku tidak percaya dengan ucapan.Apakah engkau hendak mempermainkan ku?. kata hasan.Demi Rabb langit wahai hasan.Aku tidak mempermainkan mu melainkan hanya ingin di jaga dan merasakan keamanan,kata husna.tetapi aku tidak memiliki harta  sedikitpun.Sekarang,aku akan pergi kerumah si fulan,yang tidak pernah menolak untuk memberi bantuan kepadaku,ketika aku membutuhkannya,jawab hasan .Mereka berdua lalu menemui orang yang di maksudkan oleh hasan dan orang tersebut termasuk orang kaya bahkan tidak ada yang lebih kaya darinya selain selain penguasa.Wahai fulan semoga keselamatan bagimu,ini adalah husna istriku.Tetapi,apakah engkau dapat memberi pinjaman padaku sesuatu yang bisa ku gunakan untuk menggumumkan kebahagian ini keseluruh penjuru negeri?. tanya hasan kepada orang kaya tersebut.Tetapi,ketika orang kaya itu melihat kepada husna,ia lalu bergumun pada dirinya sendiri,aku lebih berhak mendapatkan husna dari pada laki-laki miskin ini.Karena aku memiliki kekayaan dan kehormatan yang lebih baik dari hasan.Maka,seketika itupun orang kaya itu menarik hasan dan berkata,aku tidak akan memberimu harta sedikitpun juga.Bahkan ia harus menjadi istriku meskipun untuk meraihnya memerlukan waktu yang panjang.Terjadilah perselisihan antara hasan dan orang kaya tersebut sehingga urusannya sampai kepada kepala kepolisian agar urusan itu dapat di putuskan.Kepada polisi berkata, " silahkan setiap dari kalian menyampaikan alasan-alasannya". Melihat perselisihan tersebut, kepala polisi itu pun kemudian berkata,di tunjukan wanita yang menjadi penyebab perselisihan ini,kemudian di datangkanlah husna.Kepala polisi terkesima melihat kecantikan,keanggunan serta kesempurnaan kecantikannya,yang nampak pada setiap langkah yang di jejakan olehnya.Kepala polisi lalu berbergumam.Demi Allah mataku belum pernah melihat wanita secantik ini,aku adalah pemimpin dan tidak ada seorang pun yang berani melawan ku.Ia lebih layak untuk ku daripada si miskin atau si kaya yang pengecut itu,karena akulah penjaga negeri ini.Maka kepala polisi tersebut menarik hasan dan si kaya agar ia dapat meraih keberuntungan memperistri husna.Perselisihan sampai sang hakim.Ketika sang hakim mengetahui duduk permasalahannya mereka,maka ia berkata,datangkamlah kemari wanita yang dapat membuat kalian terkesima,mana dia?. maka husna pun masuk dan ia menampakan puncak kecantikan dan keanggunan nya.Hakim melihat dan terkejut sekali melihat kecantikannya.seketika itu,hatinya langsung tetambat dengannya.Maka terbentik pada dirinya ap yang juga sebelumnya,ia pun hendak merebutnya dari mereka,sehingga perselisihan semakin rumit.Mereka berkata siapa lagi yang dapat kita jadikan pemutus perselisihan ini?. Husna berkata dengan suara yang mendayu nan merdu,kitta pergi kepada tuan mereka penguasa negeri.setiap mereka mempunyai keyakinan yang tinggal bahwa husna akan menjadimilik mereka meskipun harus melewati masa perebutan yang lama.Akan tetapi si penguasa pun bernasib serupa.Hawa nafsu nya pun terpasang dengan kecantikannya dan hatinya tertambat juga,ia juga mengginkan wanita tersebut dan berkeinginan agar jangan jatuh ketangan yang lain.Perselisihan semakin parah  setiap merekamengingginkan agar si cantik tersebut untuk diri mereka,ditengah ramainya perselisihan,husna berteriak kepada mereka,aku akan datang kepada kalian dengan membawa jawaban keputusan.Terang saja mendengar jawaban tersebut,semuanya langsung menjawab serempak,apa itu wahai rembulan zaman ini?.Ia berkata ikutilah aku menuju padang sahara ditempat bani hawa.Disana akan kalian temukan jawabannya,mereka pun segera menuju ketempat itu.Sesampai disana,mereka telah mendapati si husna tengah menunggu.Mereka berkata, perintahkan kepada kami,tentu kami akan taat sebagaimana ketaatan seorang anak yang masih kecil.Ia berkata,aku akan berlari dengan cepat,maka siapa yang dapat menyusulku pertama kali maka ia berhasil memenangkan pertandingan dan bisa membawaku kemana saja ia kehendaki.Mereka berkata,kami rela dan Allah lahtempat memohon pertolongan.Ketika si cantik husna bergerak dengan cepat,para lelaki itu pun mengikutinya,akan tetapi ternyata husna bergerak dengan terlalu cepat.Setelah beberapa lama,husna menghilang dari pandangan mereka,karena tertutup kabut yang menghalang,tetapi taukah apa yang terjadi pada lelaki itu?. Ternyata di depan mereka adalah jurang yang dalam ,ternyata sicantik husna menjerumuskan mereka kedalamnya,akhirnya mereka tahu bahwa husna telah mengkhianati mereka agar mereka terjatuh kejurang.Tetapi kesadaran mereka terlambat,akhirnyaa mereka semua 1 demi 1 terdorong kejurang sehingga mereka binasa.Itulah wahai para gadis muslimah,penjelasan secara singkat bahwa itulah permasalahan dunia.Ia telah memfitnah di belakangnya siapa saja baik miskin,kaya,haki,penguasa dan kebanyakan manusia.Maka waspadalah terhadapnya agar engkau tidak binasa sebagaimana orang lain binasa.
    (Ahmad Salim Badwilan Dalam Mausu'ah Al-Muatstsirah)