Rosulullah bersabda dalam
hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang artinya:
“Sesungguhnya
di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik
maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah
tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah
segumpal darah tersebut adalah hati.” (Yang lebih benar untuk
penyebutan segumpal darah (القلب ) tersebut adalah jantung, akan tetapi
di dalam bahasa Indonesia sudah terlanjur biasa untuk menerjemahkan
القلب dengan “hati”).
Maka hati bagaikan raja yang menggerakkan
tubuh untuk melakukan perbuatan-perbuatannya, jika hati tersebut adalah
hati yang baik maka seluruh tubuhnya akan tergerak untuk mengerjakan
hal-hal yang baik, adapun jika hatinya adalah hati yang buruk maka
tentunya juga akan membawa tubuh melakukan hal-hal yang buruk. Hati
adalah perkara utama untuk memperbaiki manusia, Jika seseorang ingin
memperbaiki dirinya maka hendaklah ia memperbaiki dahulu hatinya!!!
Ketahuilah, hati ini merupakan penggerak bagi seluruh tubuh, ia
merupakan poros untuk tercapainya segala sarana dalam terwujudnya
perbuatan. Hati laksana panglima yang memompa pasukannya untuk melawan
musuh atau melemahkan mereka sehingga mundur dari medan peperangan.
Karena hati disifatkan dengan sifat kehidupan dan kematian, maka hati
ini juga dibagi dalam tiga kriteria yakni hati yang mati, hati yang
sakit dan hati yang sehat.
1. Hati yang Sehat
Yaitu hati yang selamat, hati yang bertauhid (mengesakan Alloh dalam
setiap peribadatannya), di mana seseorang tidak akan selamat di hari
akhirat nanti kecuali ia datang dengan membawa hati ini. Alloh berfirman
dalam surat as-Syu’ara ayat 88-89:
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Yaitu) hari di mana tidak berguna lagi harta dan anak-anak
kecuali mereka yang datang menemui Alloh dengan hati yang selamat
(selamat dari kesyirikan dan kotoran-kotorannya).” (QS. Asy Syu’ara: 88,89)
Hati yang sehat ini didefinisikan dengan hati yang terbebas dari
setiap syahwat, selamat dari setiap keinginan yang bertentangan dari
perintah Alloh, selamat dari setiap syubhat (kerancuan-kerancuan dalam
pemikiran), selamat dari menyimpang pada kebenaran. Hati ini selamat
dari beribadah kepada selain Alloh dan berhukum kepada hukum selain
hukum Rosul-Nya. Hati ini mengikhlaskan peribadatannya hanya kepada
Alloh dalam keinginannya, dalam tawakalnya, dalam pengharapannya dalam
kecintaannya Jika ia mencintai ia mencintai karena Alloh, jika ia
membenci ia membenci karena Alloh, jika ia memberi ia memberi karena
Alloh, jika ia menolak ia menolak karena Alloh. Hati ini terbebas dari
berhukum kepada hukum selain Alloh dan Rosul-Nya. Hati ini telah terikat
kepada suatu ikatan yang kuat, yakni syariat agama yang Alloh turunkan.
Sehingga hati ini menjadikan syariat sebagai panutan dalam setiap
perkataan dan perbuatannya.
Alloh berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ
وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian bersikap
mendahului Alloh dan Rosul-Nya, bertakwalah kepada Alloh, sesungguhnya
Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurot: 1)
Pemilik hati yang sehat ini akan senantiasa dekat dengan Al Quran, ia
senantiasa berinteraksi dengan Al Quran, ia senantiasa tenang,
permasalahan apapun yang dihadapinya akan dihadapi dengan tegar, ia
senantiasa bertawakal kepada-Nya karena ia mengetahui semua hal berasal
dari Alloh dan semuanya akan kembali kepada-Nya. Di manapun ia berada
zikir kepada Alloh senantiasa terucap dari lisannya, jika disebut nama
Alloh bergetarlah hatinya, jika dibacakan ayat-ayatNya maka bertambahlah
imannya. Pemilik hati inilah seorang mukmin sejati, orang yang Alloh
puji dalam Firman-Nya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ
قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (sempurna imannya) ialah
mereka yang bila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka, dan apabila
dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Allohlah mereka bertawakkal (berserah diri).” (QS. Al-Anfaal: 2)
2. Hati yang Mati
Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal siapa Robbnya, ia
tidak menyembah-Nya sesuai dengan perintah-Nya, ia tidak menghadirkan
setiap perbuatannya berdasarkan sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya.
Hati ini senantiasa berjalan bersama hawa nafsu dan kenikmatan dunia
walaupun di dalamnya ada murka Alloh, akan tetapi hati ini tidak
memperdulikan hal-hal tersebut, baginya yang terpenting adalah bagaimana
ia bisa melimpahkan hawa nafsunya. Ia menghamba kepada selain Alloh,
jika ia mencinta maka mencinta karena hawa nafsu, jika ia membenci maka
ia membenci karena hawa nafsu.
Alloh berfirman:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى
عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ
غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya
sebagai tuhannya, dan Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan
Alloh mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah
Alloh (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil
pelajaran?” (QS. Al Jaatsiyah: 23)
Pemilik hati ini jika dibacakan kepadanya ayat-ayat Al Quran maka
dirinya tidak tergetar, ia senantiasa ingin menjauh dari Al Quran, ia
lebih senang mendengar suara-suara yang membuatnya lalai, ia lebih
senang mendengar nyanyian, mendengar musik, mendengar suara-suara yang
menggejolakkan hawa nafsunya. Pemilik hati ini senantiasa gelisah, ia
tidak tahu harus kepada siapa ia menyandarkan dirinya, ia tidak tahu
kepada siapa ia berharap, ia tidak tahu kepada siapa ia meminta,
kehidupannya terombang-ambing, ke mana saja angin bertiup ia akan
mengikutinya, ke mana saja syahwat mengajaknya ia akan mengikutinya,
wahai betapa menderitanya pemilik hati ini!
3. Hati yang Sakit
Hati ini adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit. Hati ini
akan mengikuti unsur kuat yang mempengaruhinya, terkadang hati ini
cenderung kepada “kehidupan” dan terkadang cenderung kepada “penyakit”.
Pada hati ini ada kecintaan kepada Alloh, keimanan, keikhlasan dan
tawakal kepada-Nya. Akan tetapi pada hati ini juga terdapat kecintaan
kepada syahwat, ketamakan, hawa nafsu, dengki, kesombongan dan sikap
bangga diri.
Ia ada di antara dua penyeru, penyeru kepada Alloh, Rosul dan hari
akhir dan penyeru kepada kehidupan duniawi. Seruan yang akan disambutnya
adalah seruan yang paling dekat dan paling akrab kepadanya.
Pemilik hati ini akan senantiasa berubah-ubah, terkadang ia berada
dalam ketaatan dan kebaikan, terkadang ia berada dalam maksiat dan dosa.
Amalannya senantiasa berubah sesuai dengan lingkungannya, jika
lingkungannya baik maka ia berubah menjadi baik adapun jika
lingkungannya buruk maka ia akan terseret pula kepada keburukan.
Demikianlah, hati yang pertama adalah hati yang hidup,
khusyu’,
tawadhu’,
lembut dan selalu berjaga. Hati yang kedua adalah hati yang gersang dan
mati. Hati yang ketiga adalah hati yang sakit, kadang-kadang dekat
kepada keselamatan dan kadang-kadang dekat kepada kebinasaan.
Maka wahai kaum muslimin! hendaknya kita menginterospeksi diri kita
sendiri, termasuk dalam golongan yang manakah hati kita? apakah hati
kita termasuk dalam hati yang sehat, hati yang sakit atau malah hati
kita telah mati? Maka renungkanlah Firman Alloh dalam surat Al-Kahfi
ayat 49:
وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ
وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ
صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا
حَاضِراً وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَداً
“Dan diletakkanlah kitab (kitab amalan perbuatan), lalu kamu akan
melihat orang-orang berdosa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di
dalamnya, dan mereka berkata: Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang
tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia
mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan
hadir (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” (QS. Al Kahfy: 49)
Dan sebaliknya Firman-Nya dalam Surat Al-Kahfi ayat 29-30:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ
أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلاً أُوْلَئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي
مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ
وَيَلْبَسُونَ ثِيَاباً خُضْراً مِّن سُندُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ
مُّتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ
مُرْتَفَقاً
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh,
tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang
mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. Mereka itulah (orang-orang
yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam
surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian
hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil
bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang
sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah.” (QS. Al Kahfy: 29,30)
Wahai zat yang membolak-bolakkan hati, teguhkanlah hati kami diatas
agamamu, wahai zat yang membolak-balikkan hati tuntunlah hati kami teguh
di atas ketaatan kepada-Mu…
Cinta dan Benci
1. Barangsiapa ingin dicintai Allah dan
rasulNya hendaklah dia berbicara benar (jujur), menepati amanat dan
tidak mengganggu tetangganya. (HR. Al-Baihaqi)
2.
Barangsiapa
mengutamakan kecintaan Allah atas kecintaan manusia maka Allah akan
melindunginya dari beban gangguan manusia. (HR. Ad-Dailami)
3. Paling kuat tali hubungan keimanan ialah cinta karena Allah dan benci karena Allah. (HR. Ath-Thabrani)
4. Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
5. Cinta berkelanjutan (diwariskan) dan benci berkelanjutan (diwariskan). (HR. Bukhari)
6.
Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah hendaklah dia
mengamati bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya. Sesungguhnya Allah
menempatkan hambaNya dalam kedudukan sebagaimana dia menempatkan
kedudukan Allah pada dirinya. (HR. Al Hakim)
Dukun dan Peramal
1.
Barangsiapa mendatangi dukun peramal dan bertanya kepadanya tentang
sesuatu (lalu mempercayainya) maka shalatnya selama empat puluh malam
tidak akan diterima. (HR. Muslim)
2. Barangsiapa mendatangi dukun
peramal dan percaya kepada ucapannya maka dia telah mengkufuri apa yang
diturunkan Allah kepada Muhammad Saw. (Abu Dawud)
3. Sesungguhnya pengobatan dengan mantra-mantra, kalung-gelang penangkal sihir dan guna-guna adalah syirik. (HR. Ibnu Majah)
4.
Barangsiapa membatalkan maksud keperluannya karena ramalan mujur-sial
maka dia telah bersyirik kepada Allah. Para sahabat bertanya, “Apakah
penebusannya, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah: “Ya Allah,
tiada kebaikan kecuali kebaikanMu, dan tiada kesialan kecuali yang
Engkau timpakan dan tidak ada ilah (tuhan / yang disembah) kecuali
Engkau.” (HR. Ahmad)
5. Ramalan mujur-sial adalah syirik. (Beliau
mengulanginya tiga kali) dan tiap orang pasti terlintas dalam hatinya
perasaan demikian, tetapi Allah menghilangkan perasaan itu dengan
bertawakal. (HR. Bukhari dan Muslim)
Penjelasan:
Thair artinya burung. Ramalan tentang mujur dan sial semula dikaitkan dengan burung yaitu suara atau arah terbangnya.
Hewan
1. Rasulullah Saw melarang membunuh hewan dengan mengurungnya dan membiarkannya mati karena lapar dan haus. (HR. Muslim)
2. Allah melaknat orang yang menyiksa hewan dan memperlakukannya dengan sadis. (HR. Bukhari)
3. Nabi Saw melarang mengadu domba antara hewan-hewan ternak. (HR. Abu Dawud)
Penjelasan:
Mengadu kerbau, sapi, domba, kambing, ayam dan lain sebagainya.
4.
Seorang wanita masuk neraka karena mengikat seekor kucing tanpa
memberinya makanan atau melepaskannya mencari makan dari serangga tanah.
(HR. Bukhari)
5. Seorang wanita pelacur melihat seekor anjing di
atas sumur dan hampir mati karena kehausan. Lalu wanita itu melepas
sepatunya, diikatnya dengan kerudungnya dan diambilnya air dari sumur
(lalu diminumkan ke anjing itu). Dengan perbuatannya itu dosanya
diampuni. (HR. Bukhari)
Kebersihan
1.
Sesungguhnya
Allah baik dan menyukai kebaikan, bersih, dan menyukai kebersihan,
murah hati dan senang kepada kemurahan hati, dermawan dan senang kepada
kedermawanan. Karena itu bersihkanlah halaman rumahmu dan jangan
meniru-niru orang-orang Yahudi. (HR. Tirmidzi)
Penjelasan:
Orang-orang Yahudi suka menumpuk sampah di halaman rumah.
2. Suatu keharusan atas tiap orang muslim mandi dan memakai wewangian serta gosok gigi pada hari Jum’at. (HR. Ahmad)
3.
Fitrah manusia ada lima yaitu dikhitan (disunat), mencukur rambut
kemaluan, menggunting (merapikan) kumis, memotong kuku (kuku tangan dan
kaki) serta mencabuti bulu ketiak. (HR. Bukhari)
4. Sesungguhnya
banyak siksa kubur dikarenakan kencing maka bersihkanlah dirimu dari
(percikan dan bekas) kencing. (HR. Al Bazzaar dan Ath-Thahawi)
5.
Barangsiapa tidur dan tangannya masih berbau atau masih ada bekas
makanan dan tidak dicucinya lalu terkena sedikit gangguan penyakit kulit
maka janganlah menyalahkan kecuali dirinya sendiri. (HR. Ibnu Hibban
dan Abu Dawud)
6. Malaikat jibril terus-menerus berpesan agar aku
menggosok gigi (bersiwak) sehingga aku khawatir gigi-gigiku tanggal dan
aku ompong tanpa gigi. (HR. Ath-Thahawi)
7. Wahai Abu Hurairah,
potonglah (perpendek) kuku-kukumu. Sesungguhnya setan mengikat (melalui)
kuku-kuku yang panjang. (HR. Ahmad)
Penjelasan:
Mengikat dengan sihir, rayuan dan godaan.
8. Janganlah kamu kencing di air yang tidak mengalir kemudian kamu berwudhu dari situ. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
9.
Apabila seorang bersenggama dengan isterinya dan hendak mengulangi,
hendaklah dia berwudhu lebih dulu agar lebih segar pengulangannya. (HR.
Muslim)
10. Siapa yang mengenakan pakaian hendaklah dengan yang bersih. (HR. Ath-Thahawi)
11.
Apabila seorang bangun tidur jangan langsung memasukkan tangannya ke
dalam ember (bak) air sehingga mencucinya lebih dulu tiga kali.
Sesungguhnya dia tidak mengetahui dimana tangannya bermalam atau dimana
tangannya melayang. (HR. Abu Dawud)
Kesombongan
1. Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan. (HR. Muslim)
2.
Barangsiapa memanjangkan pakaiannya (sehingga menyeret di tanah) karena
kesombongannya maka Allah tidak akan memandangnya kelak pada hari
kiamat. (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Keagungan adalah sarungKu dan
kesombongan adalah pakaianKu. Barangsiapa merebutnya (dari Aku) maka
Aku menyiksanya. (HR. Muslim)
4. Selagi orang berjalan dan merasa
bangga dengan tutup kepala dan kedua baju rangkapnya maka tiba-tiba dia
dibenamkan ke dalam tanah lalu dia bergelimang di dalam tanah sampai
hari kiamat. (HR. Muslim)
5. Ada tiga perkara yang membinasakan
yaitu hawa nafsu yang dituruti, kekikiran yang dipatuhi, dan seorang
yang membanggakan dirinya sendiri. (HR. Ath-Thabrani dan Anas)
6.
Barangsiapa membanggakan dirinya sendiri dan berjalan dengan angkuh
maka dia akan menghadap Allah dan Allah murka kepadanya. (HR. Ahmad)
Al-Quran
1.
Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama
berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah
Rasulullah Saw. (HR. Muslim)
2. Sesungguhnya Allah, dengan kitab
ini (Al Qur’an) meninggikan derajat kaum-kaum dan menjatuhkan derajat
kaum yang lain. (HR. Muslim)
Penjelasan:
Maksudnya:
Barangsiapa yang berpedoman dan mengamalkan isi Al Qur’an maka Allah
akan meninggikan derajatnya, tapi barangsiapa yang tidak beriman kepada
Al Qur’an maka Allah akan menghinakannya dan merendahkan derajatnya.
3. Apabila seorang ingin berdialog dengan Robbnya maka hendaklah dia membaca Al Qur’an. (Ad-Dailami dan Al-Baihaqi)
4.
Orang yang pandai membaca Al Qur’an akan bersama malaikat yang mulia
lagi berbakti, dan yang membaca tetapi sulit dan terbata-bata maka dia
mendapat dua pahala. (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Sebaik-baik kamu ialah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya. (HR. Bukhari)
6. Orang yang dalam benaknya tidak ada sedikitpun dari Al Qur’an ibarat rumah yang bobrok. (Mashabih Assunnah)
7. Barangsiapa mengulas Al Qur’an tanpa ilmu pengetahuan maka bersiaplah menduduki neraka. (HR. Abu Dawud)
Penjelasan:
Maksud
hadits ini adalah menterjemah, menafsirkan atau menguraikan Al Qur’an
hanya dengan akal pikirannya sendiri tanpa panduan dari hadits
Rasulullah, panduan dari para sahabat dan ulama yang shaleh, serta tanpa
akal dan naqal yang benar.
8. Barangsiapa menguraikan Al Qur’an
dengan akal pikirannya sendiri dan benar, maka sesungguhnya dia telah
berbuat kesalahan. (HR. Ahmad)
9. Barangsiapa membaca satu huruf
dari Al Qur’an maka baginya satu pahala dan satu pahala diganjar sepuluh
kali lipat. (HR. Tirmidzi)
Pembicaraan dan Ucapan
1. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam. (HR. Bukhari)
2.
Siapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara di antara
rahangnya (mulut) dan di antara kedua pahanya (kemaluan) niscaya aku
menjamin baginya surga. (HR. Bukhari)
3. Barangsiapa akhir ucapannya “Laa ilaaha illallah” ‘Tiada Tuhan selain Allah’ niscaya dia masuk surga.( HR. Abu Dawud)
4. Sesungguhnya di antara ungkapan kata dan keterangan adalah sihir. (HR. Bukhari)
5. Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam. (HR. Ahmad)
Penjelasan:
Bicara saat emosi (marah) dapat menyesatkan.
6. Diam (tidak bicara) adalah suatu kebijaksanaan dan sedikit orang yang melakukannya. (HR. Ibnu Hibban)
7.
Sesungguhnya Allah melarang kamu banyak omong, yang diomongkan, dan
menyia-nyiakan harta serta banyak bertanya. (HR. Asysyihaab)
8.
Apabila ada orang yang mencaci-maki kamu tentang apa yang dia ketahui
pada dirimu, janganlah kamu mencaci-maki dia tentang apa yang kamu
ketahui pada dirinya karena pahalanya untuk kamu dan kecelakaan untuk
dia. (HR. Ad-Dailami)
9. Barangsiapa banyak bicara maka banyak
pula salahnya dan barangsiapa banyak salah maka banyak pula dosanya, dan
barangsiapa banyak dosanya maka api neraka lebih utama baginya. (HR.
Ath-Thabrani)
10. Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
11. Berhati-hatilah dalam memuji (menyanjung-nyanjung), sesungguhnya itu adalah penyembelihan. (HR. Bukhari)
12.
Seorang memuji-muji kawannya di hadapan Nabi Saw, lalu beliau berkata
kepadanya, “Waspadalah kamu, sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya,
sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya (diucapkan berulang-ulang)”.
(HR. Ahmad)
13. Taburkanlah pasir ke wajah orang-orang yang suka memuji dan menyanjung-nyanjung.(HR. Muslim)
14.
Tahukah kamu apa ghibah itu? Para sahabat menjawab, “Allah dan rasulNya
lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Menyebut-nyebut sesuatu tentang
saudaramu hal-hal yang dia tidak sukai.”(HR. Muslim)
15. Seorang mukmin bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk. (HR. Bukhari dan Al Hakim)
16.
Semua umatku diampuni kecuali yang berbuat (keji) terang-terangan yaitu
yang melakukannya pada malam hari lalu ditutup-tutupi oleh Allah,
tetapi esok paginya dia membeberkan sendiri dengan berkata, “Hai Fulan,
tadi malam aku berbuat begini…begini.” Dia membuka tabir yang telah
disekat oleh Allah Azza wajalla. (Mutafaq’alaih)
17. Yang paling aku takutkan bagi umatku adalah orang munafik yang pandai bersilat lidah. (HR. Abu Ya’la)
Pengobatan dan Penyakit
1.
Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kami berobat?” Beliau menjawab,
“Ya, wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya Allah meletakkan penyakit
dan diletakkan pula penyembuhannya, kecuali satu penyakit yaitu penyakit
ketuaan (pikun)”. (HR. Ashabussunnah)
2. Allah menurunkan
penyakit dan menurunkan pula obatnya, diketahui oleh yang mengetahui dan
tidak akan diketahui oleh orang yang tidak mengerti. (HR. Bukhari dan
Muslim)
3. Barangsiapa mengobati sedang dia tidak dikenal sebagai ahli pengobatan maka dia bertanggung jawab. (HR. Ibnu Majah)
4.
Apabila terjadi dalam satu negeri suatu wabah penyakit dan kamu di situ
janganlah kamu ke luar meninggalkan negeri itu. Jika terjadi sedang
kamu di luar negeri itu janganlah kamu memasukinya. (HR. Bukhari)
5. Wafat karena wabah adalah mati syahid. (HR. Bukhari)
Penjelasan:
Tentu tidak setingkat dengan gugur di jalan Allah.
6. Janganlah orang sakit mengunjungi orang sehat. (HR. Bukhari dan Muslim)
7.
Sebaik-baik menjenguk orang sakit adalah berdiri sebentar (tidak
berlama-lama) dan ta’ziah (melayat ke rumah duka) cukup sekali saja.
(HR. Ad-Dailami)
8. Allah tidak menjadikan penyembuhanmu dengan apa yang diharamkan atas kamu. (HR. Al-Baihaqi)
Penjelasan:
Yang haram tidak dapat dijadikan obat untuk menyembuhkan penyakit.
9. Apabila seorang yang sakit dari kamu menginginkan sesuatu makanan berikanlah. (HR. Ibnu Majah)
10.
Mohonlah kepada Allah keselamatan dan afiat (kesehatan). Sesungguhnya
tiada sesuatu pemberian Allah sesudah keyakinan (iman) lebih baik
daripada kesehatan. (HR. Ibnu Majah)
11. Larilah dari penderita lepra sebagaimana kamu lari dari harimau. (HR. Bukhari)
12.
Apabila seorang hamba sakit sedang dia biasa melakukan sesuatu kebaikan
maka Allah berfirman kepada malaikat: “Catatlah bagi hambaKu pahala
seperti yang biasa ia lakukan ketika sehat.” (HR. Abu Hanifah)
13.
Rasulullah Saw ditanya tentang azal (mengeluarkan air mani diluar
kemaluan istri). Beliau lalu menjawab, “Lakukanlah yang kamu pandang
baik dan apa yang telah ditakdirkan Allah pasti akan terjadi, dan bukan
kepastian bahwa dari tiap air mani dapat terjadi anak. “(HR. Al Hakim)
Persoalan-Persoalan Pribadi
1.
Ambillah kesempatan lima sebelum lima: mudamu sebelum tua, sehatmu
sebelum sakit, kayamu sebelum melarat, hidupmu sebelum mati, dan
senggangmu sebelum sibuk. (HR. Al Hakim dan Al-Baihaqi)
2.
Pandanglah orang yang di bawah kamu dan janganlah memandang kepada yang
di atasmu, karena itu akan lebih layak bagimu untuk tidak menghina
kenikmatan Allah untukmu. (HR. Muslim)
3. Sesungguhnya
persoalan-persoalan itu ada tiga macam, yaitu persoalan yang jelas
bagimu kebenarannya maka ikutilah, persoalan yang jelas bagimu sesatnya
maka jauhilah, dan persoalan yang terdapat perselisihan di dalamnya maka
serahkanlah (kembalikan penentuan hukumnya) kepada yang alim (ilmuwan).
(HR. Ath-Thabrani)
4. Buta yang paling buruk ialah buta hati. (HR. Asysyihaab)
5.
Sesungguhnya Allah melampaui ketentuan bagiku dengan (memaafkan) umatku
dalam kesalahan yang tidak disengaja, karena lupa, dan karena dipaksa
melakukannya. (HR. Ibnu Majah)
6. Usia umatku antara enam puluh dan tujuh puluh tahun. Sedikit dari mereka yang melampauinya. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
7. Mungkin pelampiasan nafsu syahwat sebentar berakibat kesedihan yang lama. (HR. Al-Baihaqi)
Keterangan:
Banyak
kasus yang terjadi, gara-gara melampiaskan nafsu syahwat dengan berzina
lalu hamil, maka hal tersebut menimbulkan trauma yang dalam dan
berkepanjangan bagi sang wanita. Orang tua dan keluarga menjadi sedih
dan malu. Juga akibat-akibat buruk lainnya yang dapat terjadi diluar
perkiraan.
8. Rasulullah bersabda dengan membawakan firman Allah
dalam hadits Qudsi: “Pandangan mata adalah panah beracun dari antara
panah-panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada-Ku
maka Aku ganti dengan keimanan yang dirasakan manis dalam hatinya.” (HR.
Al Hakim)
9. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Ketika aku sakit,
Rasulullah datang menjenguk dan aku berkata, “Ya Rasulullah, bolehkah
aku mewakafkan seluruh hartaku?” Nabi Saw menjawab, “Tidak.” Aku
bertanya lagi, “Separonya?”, Nabi menjawab, “Tidak.” Aku bertanya lagi,
“Sepertiganya?” Beliau menjawab, “Meninggalkan keluargamu dalam keadaan
baik (senang) lebih baik daripada membiarkan mereka miskin mengemis pada
orang-orang.” (HR. Bukhari)
Keterangan:
Batas maksimum wasiat adalah sepertiga dari seluruh hartanya, karena sepertiga itu sudah banyak.
10.
Barangsiapa bernazar untuk mentaati Allah, hendaklah dia mentaatiNya
dan barangsiapa bernazar untuk bermaksiat terhadap Allah maka janganlah
ia melakukannya. (HR. Bukhari)
11. Mimpi yang baik (sholeh) adalah dari Allah dan mimpi (buruk) adalah dari setan. (Bukhari)
12. Sesungguhnya yang dimaksud nazar ialah apa yang diharapkan dengannya keridhoan Allah ‘Azza wajalla. (HR. Ahmad)
13. Mimpi yang paling benar ialah (yang terjadi) menjelang waktu sahur (sebelum fajar). (HR. Al Hakim dan Tirmidzi)
14.
Hak seorang muslim yang memiliki harta (peninggalan untuk diwasiatkan)
ialah tidak melampaui dua malam kecuali wasiatnya sudah tertulis dan
sudah ditangannya. (HR. Muslim)
15. Mimpi yang baik oleh seorang yang sholeh merupakan satu dari empat puluh enam bagian dari mimpi kenabian. (HR. Bukhari)
16.
Apabila Allah memberikan kenikmatan kepada seseorang hendaknya dia
pergunakan pertama kali untuk dirinya dan keluarganya. (HR. Muslim)
17.
Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah. Jika seseorang membongkar
keburukan yang diketahuinya pada dirimu janganlah kamu membongkar
keburukan yang kamu ketahui ada pada dirinya. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Perzinaan
1.
Apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri maka mereka
(penghuninya) sudah menghalalkan atas mereka sendiri siksaan Allah. (HR.
Ath-Thabrani dan Al Hakim)
2. Ada dua golongan dari penghuni
neraka yang Aku tidak sampai melihat mereka yaitu suatu kaum yang
menyandang pecut seperti ekor sapi (yang) dipakai untuk memukuli
orang-orang dan wanita-wanita berpakaian mini, telanjang. Mereka
melenggang bergoyang. Rambutnya ibarat punuk unta yang miring. Mereka
tidak akan masuk surga atau mencium harumnya surga yang sebenarnya dapat
dirasakan dari jarak sekian sekian. (HR. Muslim)
3. Tercatat
atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua
mata zinanya melihat, kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya
bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya
melangkah (berjalan) dan hati yang berhasrat dan berharap. Semua itu
dibenarkan (direalisir atau diwujudkan) oleh kelamin atau digagalkannya.
(HR. Bukhari)
4. Perzinaan mengakibatkan kemiskinan. (HR. Al-Baihaqi dan Asysyihaab)
5. Perbuatan lesbian di antara kaum wanita adalah perzinaan. (HR. Ath-Thabrani)
Riya dan Nifak
1. Riya menyia-nyiakan amal sebagaimana syirik menyia-nyiakannya. (HR. Ar-Rabii’)
2.
Yang paling aku takuti atas kamu sesudah aku tiada ialah orang munafik
yang pandai bersilat lidah. (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)
3. Tidak akan tiba hari kiamat sampai penguasa-penguasa tiap umat ialah orang-orang yang munafik. (HR. Ar-Rabii’)
4. Sesungguhnya riya adalah syirik yang kecil. (HR. Ahmad dan Al Hakim)
5.
Seburuk-buruk manusia ialah orang yang mempunyai dua muka, mendatangi
kelompok ini dengan wajah yang satu dan mendatangi kelompok lain dengan
wajahnya yang lain. (Mutafaq’alaih)
6. Orang yang riya berciri
tiga, yakni apabila di hadapan orang dia giat tapi bila sendirian dia
malas, dan selalu ingin mendapat pujian dalam segala urusan. Sedangkan
orang munafik ada tiga tanda yakni apabila berbicara bohong, bila
berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat. (HR. Ibnu
Babawih).
7. Paling banyak orang munafik dari umatku ialah yang pandai bacaannya. (HR. Bukhari)
8. Menyukai sanjungan dan pujian membuat orang buta dan tuli. (HR. Ad-Dailami).
9.
Bila kamu melihat orang-orang yang sedang memuji-muji dan
menyanjung-nyanjung maka taburkanlah pasir ke wajah-wajah mereka. (HR.
Ahmad)
Ujian dan Cobaan
1. Besarnya pahala sesuai dengan
besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila
menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka
baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka
Allah. (HR. Tirmidzi)
2. Tiada seorang muslim tertusuk duri atau
yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan
menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari)
3. Sa’ad bin Abi Waqqash
berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, siapakah
orang yang paling berat ujian dan cobaannya?” Nabi Saw menjawab, “Para
nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru
(menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau
agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila
imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus
sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari)
4. Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari)
5.
Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat
mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan
mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani)
6. Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi)
7.
Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia
bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad)
8.
Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan),
diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang
menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR.
Bukhari)
9. Seorang mukmin meskipun dia masuk ke dalam lobang
biawak, Allah akan menentukan baginya orang yang mengganggunya. (HR. Al
Bazzaar)
10. Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya.
Para sahabat bertanya, “Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?”
Nabi Saw menjawab, “Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak
tahan menderitanya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
11. Bukanlah dari
(golongan) kami orang yang menampar-nampar pipinya dan merobek-robek
bajunya apalagi berdoa dengan doa-doa jahiliyah. (HR. Bukhari)
Penjelasan:
Dilakukan pada saat kematian anggota keluarga pada jaman jahiliyah.
12.
Allah menguji hambaNya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang
menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas
murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang
kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar
seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR.
Ath-Thabrani)
13. Salah seorang dari mereka lebih senang
mengalami ujian dan cobaan daripada seorang dari kamu (senang) menerima
pemberian. (HR. Abu Ya’la)
14. Sesungguhnya Allah Azza Wajalla
menguji hambanya dalam rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia
ridho dengan bagian yang diterimanya maka Allah akan memberkahinya dan
meluaskan pemberianNya. Kalau dia tidak ridho dengan pemberianNya maka
Allah tidak akan memberinya berkah. (HR. Ahmad)
17. Barangsiapa
ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya lalu dirahasiakannya
dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah
untuk mengampuninya. (HR. Ath-Thabrani)
15. Bencana yang paling
payah ialah bila kamu membutuhkan apa yang ada di tangan orang lain dan
kamu ditolak (pemberiannya). (HR. Ad-Dailami)
16. Barangsiapa
diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan
menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka
tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi)
Amal Perbuatan
1. Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman. (HR. Ath-Thabrani)
2.
Sesungguhnya jika Allah Ta’ala menghendaki kebaikan bagi seorang hamba
maka dia dikaryakannya. Para sahabat lalu bertanya tentang sabda Nabi
Saw tersebut, “Bagaimana dikaryakannya itu, ya Rasulullah?” Nabi Saw
menjawab, “Diberinya taufiq untuk beramal sholeh sebelum wafatnya.”
(Mashabih Assunnah)
3. Barangsiapa melakukan amal perbuatan yang bukan atas perintah kami maka itu tertolak. (HR. Muslim)
Penjelasan:
Yang dimaksud adalah amal perbuatan yang berhubungan dengan pelaksanaan peribadatan.
4.
Seorang yang melakukan perbuatan di dalam batu besar yang tidak ada
pintu maupun lubang anginnya, pasti akan diketahui manusia apapun yang
terjadi (mau tidak mau). (HR. Al Hakim)
5. Seorang melakukan
amalan-amalan ahli surga sebagaimana tampak bagi orang-orang tetapi
sesungguhnya dia termasuk penghuni neraka, dan seorang lagi melakukan
amalan-amalan ahli neraka sebagaimana disaksikan orang-orang tetapi
sebenarnya dia tergolong penghuni surga. (HR. Bukhari)
6. Dunia
dihuni empat ragam manusia. Pertama, seorang hamba diberi Allah harta
kekayaan dan ilmu pengetahuan lalu bertakwa kepada Robbnya, menyantuni
sanak-keluarganya dan melakukan apa yang diwajibkan Allah atasnya maka
dia berkedudukan paling mulia. Kedua, seorang yang diberi Allah ilmu
pengetahuan saja, tidak diberi harta, tetapi dia tetap berniat untuk
bersungguh-sungguh. Sebenarnya jika memperoleh harta dia juga akan
berbuat seperti yang dilakukan rekannya (kelompok yang pertama). Maka
pahala mereka berdua ini adalah (kelompok pertama dan kedua) sama.
Ketiga, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan tetapi tidak diberi
ilmu pengetahuan. Dia membelanjakan hartanya dengan berhamburan
(foya-foya) tanpa ilmu (kebijaksanaan). Ia juga tidak bertakwa kepada
Allah, tidak menyantuni keluarga dekatnya, dan tidak memperdulikan hak
Allah. Maka dia berkedudukan paling jahat dan keji. Keempat, seorang
hamba yang tidak memperoleh rezeki harta maupun ilmu pengetahuan dari
Allah lalu dia berkata seandainya aku memiliki harta kekayaan maka aku
akan melakukan seperti layaknya orang-orang yang menghamburkan uang,
serampangan dan membabi-buta (kelompok yang ketiga), maka timbangan
keduanya sama. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
7. Seorang yang kurang amalan-amalannya maka Allah akan menimpanya dengan kegelisahan dan kesedihan. (HR. Ahmad)
8.
Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, yang bagaimanakah orang yang
baik itu?” Nabi Saw menjawab, “Yang panjang usianya dan baik amal
perbuatannya.” Dia bertanya lagi, “Dan yang bagaimana orang yang paling
buruk (jahat)?” Nabi Saw menjawab, “Adalah orang yang panjang usianya
dan jelek amal perbuatannya.” (HR. Ath-Thabrani dan Abu Na’im)
9. Amalan-amalan yang paling disukai Allah ialah yang lestari (langgeng atau berkesinambungan) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)
10. Jangan mengagumi amal perbuatan sampai ia menyelesaikan yang terakhir. (HR. Ath-Thabrani dan Al Bazzar)
11. Lakukan apa yang mampu kamu amalkan. Sesungguhnya Allah tidak jemu sehingga kamu sendiri jemu. (HR. Bukhari)
12. Amalkan semua yang diwajibkan (fardhu) Allah, niscaya kamu menjadi orang yang paling bertakwa. (Ath-Thahawi)
Kezaliman
1.
Jauhilah kezaliman, sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan pada hari
kiamat. Jauhilah kekikiran, sesungguhnya kekikiran telah membinasakan
(umat-umat) sebelum kamu, mereka saling membunuh dan menghalalkan
apa-apa yang diharamkan. (HR. Bukhari)
2. Barangsiapa berjalan
bersama seorang yang zalim untuk membantunya dan dia mengetahui bahwa
orang itu zalim maka dia telah ke luar dari agama Islam. (HR. Ahmad dan
Ath-Thabrani)
3. Do’anya seorang yang dizalimi terkabul meskipun dia orang jahat dan kejahatannya menimpa dirinya sendiri. (HR. Ahmad)
4.
Waspadalah terhadap do’a orang yang dizalimi. Sesungguhnya antara dia
dengan Allah tidak ada tabir penyekat. (HR. Mashabih Assunnah)
5.
Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menangguhkan azabnya terhadap orang
zalim dan bila mengazabnya tidak akan luput. Kemudian Rasulullah
membacakan doa dalam surat Hud ayat 102: “Dan begitulah azab Tuhanmu,
apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim.
Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (HR. Muslim)
6.
Allah Azza Wajalla berfirman (hadits Qudsi): “Dengan keperkasaan dan
keagunganKu, Aku akan membalas orang zalim dengan segera atau dalam
waktu yang akan datang. Aku akan membalas terhadap orang yang melihat
seorang yang dizalimi sedang dia mampu menolongnya tetapi tidak
menolongnya.” (HR. Ahmad)
7. Kebaikan yang paling cepat mendapat
ganjaran ialah kebajikan dan menyambung hubungan kekeluargaan, dan
kejahatan yang paling cepat mendapat hukuman ialah kezaliman dan
pemutusan hubungan kekeluargaan. (HR. Ibnu Majah)
8. Bila
orang-orang melihat seorang yang zalim tapi mereka tidak mencegahnya
dikhawatirkan Allah akan menimpakan hukuman terhadap mereka semua. (HR.
Abu Dawud)
9. Barangsiapa menzalimi orang lain terhadap sejengkal
lahan maka kelak dia akan dililit dengan tujuh bumi. (HR. Bukhari dan
Muslim)
Murah Hati – Boros – Kikir
1. Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima). (HR. Bukhari)
2.
Maafkanlah kesalahan orang yang murah hati (dermawan). Sesungguhnya
Allah menuntun tangannya jika dia terpeleset (jatuh). Seorang pemurah
hati dekat kepada Allah, dekat kepada manusia dan dekat kepada surga.
Seorang yang bodoh tapi murah hati (dermawan) lebih disukai Allah
daripada seorang alim (tekun beribadah) tapi kikir. (HR. Ath-Thabrani)
3. Barangsiapa melakukan pemborosan (royal dan tabdzir) maka Allah akan mencegahnya dari perolehan (rezekiNya). (HR. Asysyihaab)
4. Tidak akan berkumpul dalam hati seorang hamba kekikiran dan keimanan. (HR. Aththalayisi)
5. Jauhilah kekikiran. Sesungguhnya kekikiran itu telah rnembinasakan (umat-umat) sebelum kamu. (HR. Muslim)
6.
Kemurahan hati adalah dari (harta) kemurahan hati dan pemberian Allah.
Bermurah hatilah niscaya Allah bermurah hati kepadamu. (HR.
Ath-Thabrani)
Zuhud dan Tamak
1. Seorang sahabat datang
kepada Nabi Saw dan bertanya, “Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu
amalan yang bila aku amalkan niscaya aku akan dicintai Allah dan
manusia.” Rasulullah Saw menjawab, “Hiduplah di dunia dengan berzuhud
(bersahaja) maka kamu akan dicintai Allah, dan jangan tamak terhadap apa
yang ada di tangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia.” (HR.
Ibnu Majah).
2. Telah sukses orang yang beriman dan memperoleh
rezeki yang kecil dan hatinya pun akan disenangkan Allah dengan
pemberianNya itu. (HR. Muslim)
Penjelasan:
Dia merasa senang dengan rezeki yang diberikan Allah meskipun sedikit.
3.
Ya Allah, langsungkan hidupku dalam kemiskinan dan wafatkan aku dalam
keadaan miskin, dan bangkitkan pula aku kembali dalam kelompok
orang-orang miskin. (HR. Bukhari)
4. Robbku menawarkan kepadaku
untuk menjadikan lembah Mekah seluruhnya emas. Aku menjawab, “Jangan ya
Allah, aku ingin satu hari kenyang dan satu hari lapar. Apabila aku
lapar aku akan memohon dan ingat kepada-Mu dan bila kenyang aku akan
bertahmid dan bersyukur kepada-Mu.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
5. Cukup bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya. (HR. Ath-Thabrani)
6.
Barangsiapa ridho dengan rezeki yang sedikit dari Allah maka Allah akan
ridho dengan amal yang sedikit dari dia, dan menanti-nanti
(mengharap-harap) kelapangan adalah suatu ibadah. (HR. Bukhari)
7. Kepuasan (rela dengan bagiannya) adalah pusaka yang tidak bisa hilang. (HR. Al-Baihaqi)
8. Barangsiapa zuhud di dunia maka ringan baginya segala musibah. (HR. Asysyihaab)
9. Dua orang pelahap yang tidak pernah kenyang yaitu penuntut ilmu dan penuntut dunia. (HR. Al Bazzaar)
10. Ketamakan menghilangkan kebijaksanaan dari hati para ulama. (HR. Ath-Thabrani)
11. Kekayaan bukan banyaknya harta-benda yang dimiliki tetapi kekayaan jiwa. (HR. Bukhari)
Keberanian dan Ketakutan
1.
Rasa takut (segan) terhadap manusia jangan sampai menghalangi kamu
untuk menyatakan apa yang sebenarnya jika memang benar kamu melihatnya,
menyaksikan atau mendengarnya. (HR. Ahmad)
2. Rasa takut (segan)
kepada manusia jangan sampai mencegah seorang apabila rnengetahui suatu
yang hak untuk menegakkannya. (HR. Ahmad)
3. Di antara
wasiat-wasiat (pesan-pesan) Rasulullah Saw adalah: “Jangan takut berada
di jalan Allah terhadap celaan orang yang suka mencela.” Aku berkata,
“Tambah lagi ya Rasulullah.” Beliau melanjutkan pesannya: “Katakanlah
apa yang hak meskipun akibatnya terasa pahit.”( HR. Ibnu Hibban)
Benar dan Dusta
1.
Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada
kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seorang benar dan
selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar
(jujur). Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada
kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan
selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta
(pembohong). (HR. Bukhari)
2. Tanda-tanda orang munafik ada
tiga, yaitu bila berbicara dusta, bila berjanji tidak ditepati, dan bila
diamanati dia berkhianat. (HR. Muslim)
3. Celaka bagi orang yang
bercerita kepada satu kaum tentang kisah bohong dengan maksud agar
mereka tertawa. Celakalah dia…celaka dia. (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
4. Seorang mukmin mempunyai tabiat atas segala sifat aib kecuali khianat dan dusta. (HR. Al Bazzaar)
5.
Rasulullah Saw membolehkan dusta dalam tiga perkara, yaitu dalam
peperangan, dalam rangka mendamaikan antara orang-orang yang bersengketa
dan pembicaraan suami kepada isterinya. (HR. Ahmad)
Penjelasan:
Bila
dikhawatirkan ucapan suami yang benar dapat berakibat buruk, maka suami
boleh berdusta kepada isteri untuk memelihara kerukunan.
6.
Suatu khianat besar bila kamu berbicara kepada kawanmu dan dia
mempercayai kamu sepenuhnya padahal dalam pembicaraan itu kamu berbohong
kepadanya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
7. Sesungguhnya Allah
menyukai dusta yang bertujuan untuk memperbaiki dan mendamaikan
(merukunkan), dan Allah membenci kebenaran (kejujuran) yang
mengakibatkan kerusakan. (HR. Ibnu Babawih)
Tolong-Menolong
1.
Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seumpama bangunan saling
mengokohkan satu dengan yang lain. (Kemudian Rasulullah Saw merapatkan
jari-jari tangan beliau). (Mutafaq’alaih)
2. Kaum muslimin ibarat satu tangan terhadap orang-orang yang di luar mereka. (HR. Asysyihaab)
3.
Kekuatan disertakan kepada jama’ah. Barangsiapa menyimpang (serong dan
memisahkan diri) maka dia menyimpang menuju neraka. (HR. Tirmidzi)
4.
Tiadalah kamu mendapat pertolongan (bantuan) dan rezeki kecuali karena
orang-orang yang lemah dari kalangan kamu. (HR. Bukhari)
5. Pertolonganmu terhadap orang lemah adalah sodaqoh yang paling afdol. (HR. Ibnu Abi Ad-Dunia dan Asysyihaab)
6. Allah selalu menolong orang selama orang itu selalu menolong saudaranya (semuslim). (HR. Ahmad)
7. Seorang menjadi kuat karena banyak kawannya. (HR. Ibnu Abi Ad-Dunia dan Asysyihaab)
Sabar
1. Sabar adalah separo iman dan keyakinan adalah seluruh keimanan. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
2. Tidak ada suatu rezeki yang Allah berikan kepada seorang hamba yang lebih luas baginya daripada sabar. (HR. Al Hakim)
3. Sabar yang sebenarnya ialah sabar pada saat bermula (pertama kali) tertimpa musibah. (HR. Bukhari)
4.
Ada tiga hal yang termasuk pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan
keluhan, merahasiakan musibah dan merahasiakan sodaqoh (yang kita
keluarkan). (HR. Ath-Thabrani)
5. Orang yang bahagia ialah yang
dijauhkan dari fitnah-fitnah dan orang yang bila terkena ujian dan
cobaan dia bersabar. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Akhlak yang Buruk
1. Berhati-hatilah terhadap buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh. (HR. Bukhari)
2. Makar, tipu muslihat dan pengkhianatan rnenyeret pelakunya ke neraka. (HR. Abu Dawud)
3. Orang yang paling dibenci Allah ialah yang bermusuh-musuhan dengan keji dan kejam. (HR. Bukhari)
4. Bila hilang budaya malumu lakukanlah apa saja yang kamu kehendaki. (HR. Bukhari)
5.
Sesungguhnya Allah membenci orang yang keji, yang berkata kotor dan
membenci orang yang meminta-minta dengan memaksa. (AR. Ath-Thahawi)
6. Sesungguhnya Allah tidak menyukai banyak bicara, menghambur-hamburkan harta dan terlalu banyak bertanya. (HR. Bukhari)
7.
Semua (dosa) umatku akan diampuni kecuali orang yang berbuat (dosa)
terang-terangan, yaitu yang melakukan perbuatan dosa pada malam hari
lalu Allah menutup-nutupinya kemudian pada esok harinya dia bercerita
kepada kawannya, “Tadi malam aku berbuat begini…begini…” Lalu dia
membongkar rahasia yang telah ditutup-tutupi Allah ‘Azza wajalla.
(Mutafaq’alaih)
8. Barangsiapa mengintai-ngintai (menyelidiki)
keburukan saudaranya semuslim maka Allah akan mengintai-intai
keburukannya. Barangsiapa diintai keburukannya oleh Allah maka Allah
akan mengungkitnya (membongkarnya) walaupun dia melakukan itu di dalam
(tengah-tengah) rumahnya. (HR. Ahmad)
9. Sesungguhnya bila kamu mengintai-intai keburukan orang maka kamu telah merusak mereka atau hampir merusak mereka. (HR. Ahmad)
10.
Di antara tanda-tanda kesengsaraan adalah mata yang beku, hati yang
kejam, dan terlalu memburu kesenangan dunia serta orang yang
terus-menerus melakukan perbuatan dosa. (HR. Al Hakim)
11.
Tahukah kamu siapa orang yang bangkrut? Para sahabat menjawab, “Allah
dan rasulNya lebih mengetahui.” Nabi Saw lalu berkata, ” Sesungguhnya
orang yang bangkrut dari umatku ialah (orang) yang datang pada hari
kiamat dengan membawa amalan puasa, shalat dan zakat, tetapi dia pernah
mencaci-maki orang ini dan menuduh orang itu berbuat zina. Dia pernah
memakan harta orang itu lalu dia menanti orang ini menuntut dan
mengambil pahalanya (sebagai tebusan) dan orang itu mengambil pula
pahalanya. Bila pahala-pahalanya habis sebelum selesai tuntutan dan
ganti tebusan atas dosa-dosanya maka dosa orang-orang yang menuntut itu
diletakkan di atas bahunya lalu dia dihempaskan ke api neraka.” (HR.
Muslim)
12. Sesungguhnya Allah membenci orang yang selalu berwajah muram di hadapan kawan-kawannya. (HR. Ad-Dailami)
13.
Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah ialah
yang dijauhi manusia karena ditakuti kejahatannya. (Mutafaq’alaih)
14. Dua sifat tidak akan bertemu dalam diri seorang mukmin yaitu kikir (bakhil) dan akhlak yang buruk. (HR. Ahmad)
15.
Akan tiba satu jaman atas manusia dimana perhatian mereka hanya tertuju
pada urusan perut dan kehormatan mereka hanya benda semata-mata. Kiblat
mereka hanya urusan wanita (seks) dan agama mereka adalah harta mas dan
perak. Mereka adalah makhluk Allah yang terburuk dan tidak akan
memperoleh bagian yang menyenangkan di sisi Allah. (HR. Ad-Dailami)
16.
Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka
sendiri dengan tidak mengurusi (membicarakan) aib-aib orang lain. (HR.
Ad-Dailami)
17. Sesungguhnya Allah membenci orang yang berhati
kasar (kejam dan keras), sombong, angkuh, bersuara keras di pasar-pasar
(tempat umum) pada malam hari serupa bangkai dan pada siang hari serupa
keledai, mengetahui urusan-urusan dunia tetapi jahil (bodoh dan tidak
mengetahui) urusan akhirat. (HR. Ahmad)
18. Barangsiapa menyerupai (meniru-niru) tingkah-laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka. (HR. Abu Dawud)
19.
Kelak akan menimpa umatku penyakit umat-umat terdahulu yaitu penyakit
sombong, kufur nikmat dan lupa daratan dalam memperoleh kenikmatan.
Mereka berlomba mengumpulkan harta dan bermegah-megahan dengan harta.
Mereka terjerumus dalam jurang kesenangan dunia, saling bermusuhan dan
saling iri, dengki, dan dendam sehingga mereka melakukan kezaliman
(melampaui batas). (HR. Al Hakim)
Akhlak
1. Paling dekat
dengan aku kedudukannya pada had kiamat adalah orang yang paling baik
akhlaknya dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap
keluarganya. (HR. Ar-Ridha)
2. Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak yang baik. (HR. Abu Dawud)
3.
Ummu Salamah, isteri Nabi Saw bertanya, “Ya Rasulullah, seorang wanita
dari kami ada yang kawin dua, tiga dan empat kali lalu dia wafat dan
masuk surga bersama suami-suaminya juga. Siapakah kelak yang akan
menjadi suaminya di surga?” Nabi Saw menjawab, “Dia disuruh memilih dan
yang dia pilih adalah yang paling baik akhlaknya dengan berkata, “Ya
Robbku, orang ini ketika dalam negeri dunia paling baik akhlaknya
terhadapku. Kawinkanlah aku dengan dia. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang
baik membawa kebaikan untuk kehidupan dunia dan akhirat.” (HR.
Ath-Thabrani)
4. Kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang
dengan hartamu tetapi dengan wajah yang menarik (simpati) dan dengan
akhlak yang baik. (HR. Abu Ya’la dan Al-Baihaqi)
5. Kebajikan itu
ialah akhlak yang baik dan dosa itu ialah sesuatu yang merisaukan
dirimu dan kamu tidak senang bila diketahui orang lain. (HR. Muslim)
6.
Ya Rasulullah, terangkan tentang Islam dan aku tidak perlu lagi
bertanya-tanya kepada orang lain. Nabi Saw menjawab, “Katakan: ‘Aku
beriman kepada Allah lalu bersikaplah lurus (jujur)’.” (HR. Muslim)
7.
Jauhilah segala yang haram niscaya kamu menjadi orang yang paling
beribadah. Relalah dengan pembagian (rezeki) Allah kepadamu niscaya kamu
menjadi orang paling kaya. Berperilakulah yang baik kepada tetanggamu
niscaya kamu termasuk orang mukmin. Cintailah orang lain pada hal-hal
yang kamu cintai bagi dirimu sendiri niscaya kamu tergolong muslim, dan
janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu banyak tertawa
itu mematikan hati. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
8. Di antara akhlak
seorang mukmin adalah berbicara dengan baik, bila mendengarkan
pembicaraan tekun, bila berjumpa orang dia menyambut dengan wajah ceria
dan bila berjanji ditepati. (HR. Ad-Dailami)
9. Tidak ada
kemelaratan yang lebih parah dari kebodohan dan tidak ada harta
(kekayaan) yang lebih bermanfaat dari kesempurnaan akal. Tidak ada
kesendirian yang lebih terisolir dari ujub (rasa angkuh) dan tidak ada
tolong-menolong yang lebih kokoh dari musyawarah. Tidak ada kesempurnaan
akal melebihi perencanaan (yang baik dan matang) dan tidak ada
kedudukan yang lebih tinggi dari akhlak yang luhur. Tidak ada wara’ yang
lebih baik dari menjaga diri (memelihara harga dan kehormatan diri),
dan tidak ada ibadah yang lebih mengesankan dari tafakur (berpikir),
serta tidak ada iman yang lebih sempurna dari sifat malu dan sabar. (HR.
Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)
10. Menghemat dalam nafkah separo
pendapatan (belanja), dan mengasihi serta menyayangi orang lain adalah
separo akal, sedangkan bertanya dengan baik adalah separo ilmu. (HR.
Ath-Thabrani)
11. Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya
(kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah
akhlaknya. (HR. Ahmad dan Al Hakim)
12. Kebijaksanaan adalah
tongkat yang hilang bagi seorang mukmin. Dia harus mengambilnya dari
siapa saja yang didengarnya, tidak peduli dari sumber mana datangnya.
(HR. Ibnu Hibban)
13. Kalau kamu sudah tidak punya malu lagi, lakukanlah apa yang kamu kehendaki. (HR. Bukhari)
14.
Tidak ada sesuatu yang ditelan seorang hamba yang lebih afdhol di sisi
Allah daripada menelan (menahan) amarah yang ditelannya karena keridhoan
Allah Ta’ala. (HR. Ahmad)
15. Seorang sahabat berkata kepada
Nabi Saw, “Ya Rasulullah, berpesanlah kepadaku.” Nabi Saw berpesan,
“Jangan suka marah (emosi).” Sahabat itu bertanya berulang-ulang dan
Nabi Saw tetap berulang kali berpesan, “Jangan suka marah.” (HR.
Bukhari)
16. Barangsiapa banyak diam maka dia akan selamat. (HR. Ahmad)
17. Hati-hatilah terhadap prasangka. Sesungguhnya prasangka adalah omongan paling dusta. (HR. Bukhari)
18.
Bukan akhlak seorang mukmin berbicara dengan lidah yang tidak sesuai
kandungan hatinya. Ketenangan (sabar dan berhati-hati) adalah dari Allah
dan tergesa-gesa (terburu-buru) adalah dari setan. (HR. Asysyihaab)
19. Seorang yang baik keislamannya ialah yang meninggalkan apa-apa yang tidak berkepentingan dengannya. (HR. Tirmidzi)
20.
Dekatkan dirimu kepada-Ku (Allah) dengan mendekatkan dirimu kepada kaum
lemah dan berbuatlah ihsan kepada mereka. Sesungguhnya kamu memperoleh
rezeki dan pertolongan karena dukungan dan bantuan kaum lemah di
kalangan kamu. (HR. Muslim)
21. Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Al Bazzaar)
22.
Barangsiapa rendah hati kepada saudaranya semuslim maka Allah akan
mengangkat derajatnya, dan barangsiapa mengangkat diri terhadapnya maka
Allah akan merendahkannya. (HR. Ath-Thabrani)
23. Allah
mewahyukan kepadaku agar kamu berprilaku rendah hati agar tidak ada
orang yang menzalimi orang lain atau menyombongkan dirinya terhadap
orang lain. (HR. Ahmad)
25. Sifat malu adalah dari iman dan
keimanan itu di surga, sedangkan perkataan busuk adalah kebengisan
tabi’at dan kebengisan tabi’at di neraka. (HR. Bukhari dan Tirmidzi)
26.
Sesungguhnya cemburu (yakni cemburu yang wajar dan masuk akal adalah
bagian) dari keimanan. (HR. Al-Baihaqi dan Ibnu Babawih)
27.
Kebajikan ialah akhlak yang baik dan dosa ialah sesuatu yang mengganjal
dalam dadamu dan kamu tidak suka bila diketahui orang lain. (HR. Muslim)
28.
Mintalah fatwa (keterangan hukum) kepada hati dan jiwamu. Kebajikan
ialah apa yang menyebabkan jiwa dan hati tentram kepadanya, sedangkan
dosa ialah apa yang merisaukan jiwa dan menyebabkan ganjalan dalam dada
walaupun orang-orang meminta atau memberi fatwa kepadamu. (HR. Muslim)
24. Orang yang membawa (mengangkut) sendiri barang dagangannya maka dia terbebas dari kesombongan. (HR. Al-Baihaqi)
Anak Yatim
1. Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini. (HR. Bukhari)
Penjelasan:
(Rasulullah Saw. menunjuk jari telunjuk dan jari tengah dan merapatkan keduanya).
2.
Sebaik-baik rumah kaum muslimin ialah rumah yang terdapat di dalamnya
anak yatim yang diperlakukan (diasuh) dengan baik, dan seburuk-buruk
rumah kaum muslimin ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim
tapi anak itu diperlakukan dengan buruk. (HR. Ibnu Majah)
3. Aku
dan seorang wanita yang pipinya kempot dan wajahnya pucat bersama-sama
pada hari kiamat seperti ini (Nabi Saw menunjuk jari telunjuk dan jari
tengah). Wanita itu ditinggal wafat suaminya dan tidak mau kawin lagi.
Dia seorang yang berkedudukan terhormat dan cantik namun dia mengurung
dirinya untuk menekuni asuhan anak-anaknya yang yatim sampai mereka
kawin (berkeluarga dan berumah tangga) atau mereka wafat. (HR. Abu Dawud
dan Ahmad)
4. Harta-benda anak yatim tidak terkena zakat sampai dia baligh. (HR. Abu Ya’la dan Abu Hanifah)
5. Tidak disebut lagi anak yatim bila sudah baligh. (HR. Abu Hanifah)
6.
Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa orang yang
mengasihi dan menyayangi anak yatim, berbicara kepadanya dengan lembut
dan mengasihi keyatiman serta kelemahannya, dan tidak bersikap angkuh
dengan apa yang Allah anugerahkan kepadanya terhadap tetangganya. Demi
yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menerima sedekah seorang
yang mempunyai kerabat keluarga yang membutuhkan santunannya sedang
sedekah itu diberikan kepada orang lain. Demi yang jiwaku dalam
genggamanNya, ketahuilah, Allah tidak akan memandangnya
(memperhatikannya) kelak pada hari kiamat. (HR. Ath-Thabrani)
7.
Barangsiapa menjadi wali atas harta anak yatim hendaklah diperkembangkan
(diperdagangkan) dan jangan dibiarkan harta itu susut karena dimakan
sodaqoh (zakat). (HR. Al-Baihaqi)
Pembantu Rumah Tangga dan Para Budak
1.
Abu Sa’id Al Badri berkata, “Aku sedang menyambuk budakku yang muda,
lalu aku mendengar suara orang menyeru dari belakangku. Orang itu
berkata, “Ketahuilah hai Aba Mas’ud.” Sungguh aku tidak tahu suara
siapakah itu karena ketika itu aku sedang berang (marah). Ketika orang
itu mendekatiku tahulah aku ternyata yang datang adalah Rasulullah Saw.
Beliau berkata, “Ketahuilah hai Aba Mas’ud…Ketahuilah hai Aba Mas’ud.”
Mendengar perkataan itu aku campakkan cambuk dari tanganku. Beliau
kemudian melanjutkan ucapannya, “Ketahuilah, hai Aba Mas’ud,
sesungguhnya Allah lebih mampu bertindak terhadapmu daripada tindakanmu
terhadap anak muda itu.” Aku spontan menjawab, “Ya Rasulullah, dia
sekarang ini aku merdekakan karena Allah.” Nabi Saw berkata, “Kalau kamu
tidak memerdekakannya maka api neraka akan menjilatmu.” (HR. Muslim)
2.
Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah Saw, “Pelayan (pembantu rumah
tangga) saya berbuat keburukan dan kezaliman.” Nabi Saw menjawab, “Kamu
harus memaafkannya setiap hari tujuh puluh kali.” (HR. Al-Baihaqi)
3. Apa yang kamu ringankan dari pekerjaan pembantumu bagimu pahala di neraca timbanganmu. (HR. Ibnu Hibban)
4.
Bagi seorang budak jaminan pangan dan sandangnya. Dia tidak boleh
dipaksa melakukan pekerjaan yang tidak mampu dilakukannya. (HR. Muslim)
5.
Pelayan-pelayanmu adalah saudara-saudaramu. Allah menjadikan mereka
bernaung di bawah kekuasaanmu. Barangsiapa saudaranya yang berada di
bawah naungan kekuasaannya hendaklah mereka diberi makan serupa dengan
yang dia makan dan diberi pakaian serupa dengan yang dia pakai.
Janganlah membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak dapat mereka
tunaikan. Jika kamu memaksakan suatu pekerjaan hendaklah kamu ikut
membantu mereka. (HR. Bukhari)
6. Ada tiga golongan orang yang
kelak pada hari kiamat akan menjadi musuhku. Barangsiapa menjadi musuhku
maka aku memusuhinya. Pertama, seorang yang berjanji setia kepadaku
lalu dia ingkar (berkhianat). Kedua, seorang yang menjual orang yang
merdeka (bukan budak) lalu memakan uang harga penjualannya. Ketiga,
seorang yang mengkaryakan (memperkerjakan) seorang buruh tapi setelah
menyelesaikan pekerjaannya orang tersebut tidak memberinya upah. (HR.
Ibnu Majah)
7. Jangan memukul budak perempuanmu hanya karena dia
memecahkan barang pecah-belahmu. Sesungguhnya barang pecah-belah itu ada
waktu ajalnya seperti ajalnya manusia. (HR. Abu Na’im dan Ath-Thabrani)
8. Berikanlah kepada buruh upahnya sebelum kering keringatnya. (HR. Abu Ya’la)
9.
Apabila seseorang memukul pelayannya (pembantunya) lalu dia menyebut
Allah maka hendaklah dia mengangkat tangannya (menghentikan niat
memukul). (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
10. Berdosalah orang yang menahan pemberian pangan kepada orang yang menjadi tanggungannya. (HR. Muslim)
11. Nabi Saw melarang memperkerjakan seorang buruh sebelum jelas upah yang akan diterimanya. (HR. An-Nasaa’i)
12. Menzhalimi upah terhadap buruh termasuk dosa besar. (HR. Ahmad)
13.
Seorang budak yang setia kepada tuannya dan beribadah kepada Robbnya
dengan baik maka baginya dua kali lipat pahala. (HR. Asysyihaab)
14.
Barangsiapa yang merusak hubungan pelayannya dengan keluarganya
bukanlah dia dari golongan kami dan barangsiapa yang merusak hubungan
seorang wanita dengan suaminya maka dia juga bukan termasuk golongan
kami. (HR. Al-Baihaqi)
Tetangga
1. Malaikat Jibril
Alaihissalam selalu berpesan kepadaku tentang tetangga sehingga aku
mengira dia akan menetapkan hak waris bagi tetangga. (HR. Bukhari)
2.
Tiap empat puluh rumah adalah tetangga-tetangga, yang di depan, di
belakang, di sebelah kanan dan di sebelah kiri (rumahnya). (HR.
Ath-Thahawi).
3. Tetangga adalah orang yang paling berhak membeli rumah tetangganya. (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Janganlah seorang melarang tetangganya menyandarkan kayunya (dijemur) pada dinding rumahnya. (HR. Bukhari)
5.
Hak tetangga ialah bila dia sakit kamu kunjungi dan bila wafat kamu
menghantar jenazahnya. Bila dia membutuhkan uang kamu pinjami dan bila
dia mengalami kemiskinan (kesukaran) kamu tutup-tutupi (rahasiakan).
Bila dia memperoleh kebaikan kamu mengucapkan selamat kepadanya dan bila
dia mengalami musibah kamu datangi untuk menyampaikan rasa duka.
Janganlah meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya yang
dapat menutup kelancaran angin baginya dan jangan kamu mengganggunya
dengan bau periuk masakan kecuali kamu menciduk sebagian untuk diberikan
kepadanya. (HR. Ath-Thabrani)
6. Di antara kebahagiaan seorang
muslim ialah mempunyai tetangga yang shaleh, rumah yang luas dan
kendaraan yang meriangkan. (HR. Ahmad dan Al Hakim)
7. Nabi Saw
berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk di
tempat pemukiman. Sesungguhnya tetangga-tetangga orang-orang Badui suka
berpindah-pindah.” (HR. Ibnu ‘Asakir)
8. Tiada beriman kepadaku
orang yang bermalam (tidur) dengan kenyang sementara tetangganya lapar
padahal dia mengetahui hal itu. (HR. Al Bazzaar)
9. Barangsiapa
ingin disenangi Allah dan rasulNya hendaklah berbicara jujur, menunaikan
amanah dan tidak mengganggu tetangganya. (HR. Al-Baihaqi) .
10.
Pilihlah tetangga (lihat calon tetangganya atau lingkungannya dulu)
sebelum memilih rumah. Pilihlah kawan perjalanan sebelum memilih jalan
dan siapkan bekal sebelum berangkat (bepergian). (HR. Al Khatib)
Ayah – Ibu – Anak – Keluarga
1.
Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka
Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)
2.
Seorang datang kepada Nabi Saw. Dia mengemukakan hasratnya untuk ikut
berjihad. Nabi Saw bertanya kepadanya, “Apakah kamu masih mempunyai
kedua orangg tua?” Orang itu menjawab, “Masih.” Lalu Nabi Saw bersabda,
“Untuk kepentingan mereka lah kamu berjihad.” (Mutafaq’alaih)
Penjelasan:
Nabi Saw melarangnya ikut berperang karena dia lebih diperlukan kedua orang tuanya untuk mengurusi mereka.
3. Rasulullah Saw pernah berkata kepada seseorang, “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu.” (Asy-Syafi’i dan Abu Dawud)
Keterangan:
Terdapat
satu riwayat yang cukup panjang berkaitan dengan hal ini. Dari Jabir Ra
meriwayatkan, ada laki-laki yang datang menemui Nabi Saw dan melapor.
Dia berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku
….” “Pergilah Kau membawa ayahmu kesini”, perintah beliau. Bersamaan
dengan itu Malaikat Jibril turun menyampaikan salam dan pesan Allah
kepada beliau. Jibril berkata: “Ya, Muhammad, Allah ‘Azza wa Jalla
mengucapkan salam kepadamu, dan berpesan kepadamu, kalau orangtua itu
datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang dikatakan dalam hatinya dan
tidak didengarkan oleh teliganya. Ketika orang tua itu tiba, maka nabi
pun bertanya kepadanya: “Mengapa anakmu mengadukanmu? Apakah benar
engkau ingin mengambil uangnya?” Lelaki tua itu menjawab: “Tanyakan saja
kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk
beberapa orang ammati (saudara ayahnya) atau khalati (saudara ibu) nya,
atau untuk keperluan saya sendiri?” Rasulullah bersabda lagi:
“Lupakanlah hal itu. Sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang engkau
katakan di dalam hatimu dan tak pernah didengar oleh telingamu!” Maka
wajah keriput lelaki itu tiba-tiba menjadi cerah dan tampak bahagia, dia
berkata: “Demi Allah, ya Rasulullah, dengan ini Allah Swt berkenan
menambah kuat keimananku dengan ke-Rasul-anmu. Memang saya pernah
menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya …”
Nabi mendesak: “Katakanlah, aku ingin mendengarnya.” Orang tua itu
berkata dengan sedih dan airmata yang berlinang: “Saya mengatakan
kepadanya kata-kata ini: ‘Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu
waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila
kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah, lantaran sakit dan
deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan
kau yang menderita. Lalu airmataku berlinang-linang dan meluncur deras.
Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal pasti akan
datang. Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa yang kau cita-citakan,
kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah
pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang…, kau tak mampu penuhi hak
ayahmu, kau perlakukan daku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu
menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di
dirimu …, seakanakan kesejukann bagi orang-orang yang benar sudah
dipasrahkan.’ Selanjutnya Jabir berkata: “Pada saat itu Nabi langsung
memegangi ujung baju pada leher anak itu seraya berkata: “Engkau dan
hartamu milik ayahmu!” (HR. At-Thabarani dalam “As-Saghir” dan
Al-Ausath).
4. Jangan mengabaikan (membenci dan menjauhi) orang tuamu. Barangsiapa mengabaikan orang tuanya maka dia kafir. (HR. Muslim)
Penjelasan:
Yang dimaksud kufur nikmat dan bukan kufur akidah.
5.
Barangsiapa menisbatkan keturunan dirinya kepada selain ayahnya sendiri
dan dia mengetahuinya bahwa dia bukan ayah yang sebenarnya maka surga
diharamkan baginya. (HR. Muslim)
6. Seorang sahabat bertanya, “Ya
Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan
persahabatanku?” Nabi Saw menjawab, “ibumu…ibumu…ibumu, kemudian ayahmu
dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu.”
(Mutafaq’alaih).
7. Ibu dan Bapak berhak makan dari harta milik
anak mereka dengan cara yang makruf. Seorang anak tidak boleh makan dari
harta ibu bapaknya kecuali dengan ijin mereka. (HR. Ad-Dailami).
8.
Barangsiapa berhaji untuk kedua orang tuanya atau melunasi
hutang-hutangnya maka dia akan dibangkitkan Allah pada hari kiamat dari
golongan orang-orang yang mengamalkan kebajikan. (HR. Ath-Thabrani dan
Ad-Daar Quthni).
9. Rasulullah Saw ditanya tentang peranan kedua
orang tua. Beliau lalu menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan)
surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah)
Penjelasan:
Kalau berbakti masuk surga dan kalau bersikap durhaka kepada mereka masuk neraka.
10. Apabila seorang meninggalkan do’a bagi kedua orang tuanya maka akan terputus rezekinya. (HR. Ad-Dailami)
11.
Termasuk dosa besar seorang yang mencaci-maki ibu-bapaknya. Mereka
bertanya, “Bagaimana (mungkin) seorang yang mencaci-maki ayah dan ibunya
sendiri?” Nabi Saw menjawab, “Dia mencaci-maki ayah orang lain lalu
orang itu (membalas) mencaci-maki ayahnya dan dia mencaci-maki ibu orang
lain lalu orang lain itupun (membalas) mencaci-maki ibunya.
(Mutafaq’alaih)
12. Kedudukan seorang paman sebagai (pengganti) kedudukan ayahnya. (HR. Adarqothani)
13.
Warisan bagi Allah ‘Azza wajalla dari hambaNya yang beriman ialah
puteranya yang beribadah kepada Allah sesudahnya. (HR. Ath-Thahawi).
14. Salah satu kenikmatan Allah atas seorang ialah dijadikan anaknya mirip dengan ayahnya (dalam kebaikan). (HR. Ath-Thahawi)
15.
Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan
ibunya lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi
(penyembah api dan berhala). (HR. Bukhari)
16. Seorang datang
kepada Nabi Saw dan bertanya, ” Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?” Nabi
Saw menjawab, “Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan
memberinya kedudukan yang baik (dalam hatirnu).” (HR. Aththusi).
17.
Cintailah anak-anak dan kasih sayangi lah mereka. Bila menjanjikan
sesuatu kepada mereka tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya
kamulah yang memberi mereka rezeki. (HR. Ath-Thahawi).
18. Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu. (HR. Bukhari dan Muslim)
19.
Sama ratakan pemberianmu kepada anak-anakmu. Jika aku akan mengutamakan
yang satu terhadap yang lain tentu aku akan mengutamakan pemberian
kepada yang perempuan. (HR. Ath-Thabrani)
20. Barangsiapa mempunyai dua anak perempuan dan diasuh dengan baik maka mereka akan menyebabkannya masuk surga. (HR. Bukhari)
21. Anak menyebabkan kedua orang tuanya kikir dan penakut. (HR. Ibnu Babawih dan Ibnu ‘Asakir).
22.
Barangsiapa memelihara (mengasuh) tiga anak perempuan atau tiga saudara
perempuan wajib baginya masuk surga. (HR. Ath-Thahawi).
23.
Seorang ibu yang kematian tiga orang puteranya lalu berserah diri
(pasrah) kepada Allah, rela dan ikhlas, maka dia akan masuk surga. (HR.
Muslim)
24. Ajarkan putera-puteramu berenang dan memanah. (HR. Ath-Thahawi).
25.
Setiap anak tergadai dengan (tebusan) akikahnya (seekor atau dua ekor
kambing) yang disembelih pada umur tujuh hari dan dicukur rambut
kepalanya (sebagian atau seluruhnya) dan diberi nama. (HR. An-Nasaa’i)
26.
Barangsiapa menjamin untukku satu perkara, aku jamin untuknya empat
perkara. Hendaklah dia bersilaturrahim (berhubungan baik dengan keluarga
dekat) niscaya keluarganya akan mencintainya, diperluas baginya
rezekinya, ditambah umurnya dan Allah memasukkannya ke dalam surga yang
dijanjikanNya. (HR. Ar-Rabii’).
27. Ibu mertua kedudukannya sebagai ibu. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
28. Abang yang tertua (sulung) kedudukannya sebagai ayah. (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani)
29. Orang yang memutus hubungan kekeluargaan tidak akan masuk surga. (Mutafaq’alaih)
30.
Rahim adalah cabang dari nama Arrahman (Arrahman Arrahim). Rahim
mengucapkan keluhan dan pengaduan: “Ya Robbi, aku telah diputus
(hubungan kekeluargaanku), aku telah diperlakukan dengan buruk oleh
keluarga dekatku. Ya Robbi, aku telah dizalimi mereka, ya Robbi, ya
Robbi.” Lalu Allah menjawab: “Tidakkah kamu ridha Aku menyambung
hubunganKu dengan orang yang menghubungimu dan Aku putus hubunganKu
dengan orang yang memutus hubungannya dengan kamu. (HR. Bukhari)
31.
Rasulullah Saw memberi uang belanja kepada keluarga beliau dari bagian
rampasan perang yang menjadi hak beliau untuk kebutuhan rumah tangga
selama setahun. Apabila ternyata ada kelebihannya maka uang itu diminta
kembali dan dimasukkan ke dalam perbendaharaan negara (baitul maal).
(HR. Ahmad)
33. Cukup berdosa orang yang menyia-nyiakan tanggungjawab keluarga. (HR. Abu Dawud).
32.
Bukanlah dari golongan kami orang yang diperluas rezekinya oleh Allah
lalu kikir dalam menafkahi keluarganya. (HR. Ad-Dailami)
Wanita
1. Wanita adalah belahan separo (yang sama) dengan pria. (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
2. Jihadnya kaum wanita ialah haji dan umroh. (HR. Ahmad)
3.
Diperlihatkan kepadaku neraka kebanyakan penghuninya kaum wanita karena
kekufuran mereka. Para sahabat bertanya, “Apakah mereka kufur kepada
Allah?” Nabi Saw menjawab, “Mereka mengkufuri pergaulan dan kebajikan
(kebaikan). Apabila kamu berbuat ihsan kepada seorang dari mereka
sepanjang umur lalu dia mengalami sesuatu yang tidak menyenangkannya dia
akan berkata, “Kamu belum pernah berbuat baik kepadaku.” (HR. Bukhari)
4.
Wahai kaum wanita, aku tidak melihat dari suatu kaum (orang-orang) yang
lemah akal (pemikiran) dan lemah agama lebih menghilangkan hati
orang-orang yang sehat akal dan benaknya dari pada kamu (kaum wanita).
Aku telah menyaksikan neraka yang penghuninya paling banyak kaum wanita.
Maka dekatkanlah dirimu kepada Allah sedapat mungkin. (HR. Bukhari)
5.
Apabila seorang dari kamu tertarik melihat seorang perempuan dan
terkesan dalam hatinya, maka hendaklah menggauli isterinya sendiri
karena hal itu akan meredam gejolak dan gangguan dalam dirinya. (HR.
Muslim)
6. Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan perempuan (bukan mahram) karena yang ketiganya adalah syetan. (HR. Abu Dawud)
7. Barangsiapa berjabatan tangan dengan perempuan yang bukan mahramnya maka dia dimurkai Allah Azza wajalla. (HR.Ibnu Baabawih)
8.
Janganlah laki-laki berduaan dengan perempuan (lain) kecuali perempuan
itu didampingi mahramnya, dan janganlah seorang perempuan melakukan
perjalanan (musafir) kecuali didampingi mahramnya. (HR. Muslim)
9.
Rasulullah Saw melarang kami memasuki rumah wanita yang suaminya sedang
tidak ada di rumah (sedang ke luar atau bepergian). (HR. Ahmad)
10. Janganlah seorang lelaki bermalam di rumah seorang janda kecuali sudah dinikahinya atau dia mahramnya. (HR. Muslim)
11.
Seorang wanita yang memakai minyak wangi lalu lewat di tengah-tengah
kaum (laki-laki) dengan maksud agar mereka menghirup bau harumnya maka
wanita itu adalah pelacur. (HR. An-Nasaa’i)
12. Tiada aku
meninggalkan suatu fitnah sesudahku lebih berbahaya terhadap kaum pria
daripada godaan wanita. (HR. Bukhari dan Muslim)
13. Tiap
menjelang pagi hari dua malaikat berseru: “Celaka laki-laki dari godaan
wanita dan celaka wanita dari godaan laki-laki.” (HR. Ibnu Majah dan Al
Hakim)
14. Wanita adalah alat perangkap (penjaring) setan. (HR. Asysyihaab).
Pergaulan
1. Apabila seorang datang langsung berbicara sebelum memberi salam maka janganlah dijawab. (HR. Ad-Dainuri dan Tirmidzi)
2. Lakukanlah ziarah dengan jarang-jarang agar lebih menambah kemesraan. (HR. Ibnu Hibban)
3. Laki-laki memberi salam kepada wantia dan wanita jangan memberi salam kepada laki-laki. (HR. Ad-Dainuri)
4.
Apabila kamu saling berjumpa maka saling mengucap salam dan
bersalam-salaman, dan bila berpisah maka berpisahlah dengan ucapan
istighfar. (HR. Ath-Thahawi)
5. Sahabat Anas Ra berkata, “Kami
disuruh oleh Rasulullah Saw agar jawaban kami tidak lebih daripada
“wa’alaikum”. (HR. Ad-Dainuri).
Penjelasan:
Yakni ketika
orang non muslim (Yahudi, Nasrani, dan lain-lain) memberi salam kepada
seorang muslim maka jawabannya tidak boleh lebih dari: “Wa’alaikum,”
artinya: “Dan juga bagimu”. Namun jika yang mengucapkan salam tersebut
orang Islam, maka kita harus membalasnya dengan ucapan yang lebih baik,
atau minimal sama. Firman Allah, “Apabila kamu dihormati dengan suatu
penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik,
atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan
segala sesuatu.” (Surat 4. AN NISAA’ – Ayat 86)
6. Apabila dua
orang muslim saling berjumpa lalu berjabatan tangan dan mengucap
“Alhamdulillah” dan beristighfar maka Allah ‘Azza Wajalla mengampuni
mereka. (HR. Abu Dawud)
7. Senyummu ke wajah saudaramu adalah sodaqoh. (Mashabih Assunnah)
8.
Apabila berkumpul tiga orang janganlah yang dua orang berbisik-bisik
(bicara rahasia) dan meninggalkan orang yang ketiga (karena hal tersebut
akan menimbulkan kesedihan dan perasaan tidak enak baginya). (HR.
Bukhari)
9. Apabila seorang bertamu lalu minta ijin (mengetuk
pintu atau memanggil-manggil) sampai tiga kali dan tidak ditemui (tidak
dibukakan pintu) maka hendaklah ia pulang. (HR. Bukhari)
10.
Seorang tamu yang masuk ke rumah suatu kaum hendaklah duduk di tempat
yang ditunjuk kaum itu sebab mereka lebih mengenal tempat-tempat aurat
rumah mereka. (HR. Ath-Thabrani)
11. Menyendiri lebih baik
daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang sholeh lebih
baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik
daripada berdiam dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara
(ngobrol) yang buruk. (HR. Al Hakim)
12. Seseorang adalah sejalan
dan sealiran dengan kawan akrabnya, maka hendaklah kamu berhati-hati
dalam memilih kawan pendamping. (HR. Ahmad)
13. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyukai kelestarian atas keakraban kawan lama, maka peliharalah kelangsungannya. (HR. Ad-Dailami)
14.
Seorang mukmin yang bergaul dan sabar terhadap gangguan orang, lebih
besar pahalanya dari yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar
dalam menghadapi gangguan mereka. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
15.
Amal perbuatan yang paling disukai Allah sesudah yang fardhu (wajib)
ialah memasukkan kesenangan ke dalam hati seorang muslim. (HR.
Ath-Thabrani)
16. Barangsiapa mengintip-intip rumah suatu kaum tanpa ijin mereka maka sah bagi mereka untuk mencolok matanya. (HR. Muslim)
17. Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya dia segera memperbaikinya. (HR. Bukhari)
18.
Tiga perbuatan yang termasuk sangat baik, yaitu berzikir kepada Allah
dalam segala situasi dan kondisi, saling menyadarkan (menasihati) satu
sama lain, dan menyantuni saudara-saudaranya (yang memerlukan). (HR.
Ad-Dailami)
19. Jibril Alaihissalam yang aku cintai menyuruhku
agar selalu bersikap lunak (toleran dan mengalah) terhadap orang lain.
(HR. Ar-Rabii’)
20. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim
lainnya, tidak menzaliminya dan tidak mengecewakannya (membiarkannya
menderita) dan tidak merusaknya (kehormatan dan nama baiknya). (HR.
Muslim)
21. Rasulullah Saw melarang mendatangi undangan orang-orang fasik. (HR. Ath-Thabrani)
22.
Janganlah kamu duduk-duduk di tepian jalan. Para sahabat berkata, “Ya
Rasulullah, kami memerlukan duduk-duduk untuk berbincang-bincang.”
Rasulullah kemudian berkata, “Kalau memang harus duduk-duduk maka
berilah jalanan haknya.” Mereka bertanya, “Apa haknya jalanan itu, ya
Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Memalingkan pandangan (bila wanita
lewat), menghindari gangguan, menjawab ucapan salam (dari orang yang
lewat), dan beramar ma’ruf nahi mungkar.” (Mutafaq’alaih)
23. Termasuk sunnah bila kamu menghantar pulang tamu sampai ke pintu rumahmu. (HR. Al-Baihaqi)
24. Rasulullah Saw menerima pemberian hadiah dan mendoakan ganjaran atas pemberian hadiah tersebut. (HR. Bukhari)
25. Jangan menolak hadiah dan jangan memukul kaum muslimin. (HR. Ahmad)
26.
Hendaknya kamu saling memberi hadiah. Sesungguhnya pemberian hadiah itu
dapat melenyapkan kedengkian. (HR. Tirmidzi dan dan Ahmad)
27.
Seorang pemuda yang menghormati orang tua karena memandang usianya yang
lanjut maka Allah mentakdirkan baginya pada usia lanjut orang akan
menghormatinya. (HR. Tirmidzi)
28. Barangsiapa beriman kepada
Allah dan hari akhir hendaklah menghormati tamunya. Kewajiban menjamu
tamu hanya satu hari satu malam. Masa bertamu adalah tiga hari dan
sesudah itu termasuk sedekah. Tidak halal bagi si tamu tinggal lebih
lama sehingga menyulitkan tuan rumah. (HR. Al-Baihaqi)
29.
Barangsiapa menerima kebaikan (pemberian) dari kawannya (saudaranya)
tanpa diminta hendaklah diterima dan jangan dikembalikan. Sesungguhnya
itu adalah rezeki yang disalurkan Allah untuknya. (HR. Al Hakim)
30.
Barangsiapa membela (nama baik dan kehormatan) saudaranya tanpa
kehadirannya maka Allah akan membelanya di dunia dan di akhirat. (HR.
Al-Baihaqi)
31. Apabila kawan muslim seseorang digunjing dan dia
tidak menyanggah (membelanya) padahal sebenarnya dia mampu membelanya
maka Allah akan merendahkannya di dunia dan di akhirat. (HR. Al Baghowi
dan Ibnu Babawih)
32. Jiwa-jiwa manusia ibarat pasukan. Bila
saling mengenal menjadi rukun dan bila tidak saling mengenal timbul
perselisihan. (HR. Muslim)
33. Tiada beriman seorang dari kamu
sehingga dia mencintai segala sesuatu bagi saudaranya sebagaimana yang
dia cintai bagi dirinya. (HR. Bukhari)
34. Hubungilah orang yang
memutus hubungannya dengan kamu dan berilah (sesuatu) kepada orang yang
enggan memberimu. Hindarkan dirimu dari orang yang menzalimi kamu
(Artinya, jangan menghiraukan orang yang menzalimi kamu). (HR. Ahmad)
35.
Belalah (tolonglah) kawanmu baik dia zalim maupun dizalimi. Apabila dia
zalim, cegahlah dia dari perbuatannya dan bila dia dizalimi upayakanlah
agar dia dimenangkan (dibela). (HR. Bukhari)
36. Barangsiapa tidak memperhatikan (mempedulikan) urusan kaum muslimin maka dia bukan termasuk dari mereka. (HR. Abu Dawud)
37.
Jangan menunjukkan kegembiraan atas penderitaan saudaramu, niscaya
Allah akan menyelamatkannya dan akan menimpakan (musibah) kepadamu. (HR.
Aththusi dan Tirmidzi)
38. Apabila kamu memukul, hindarilah wajah. (HR. Mashabih Assunnah)
39.
Wahai segenap manusia, sesungguhnya Robbmu satu dan bapakmu satu. Tidak
ada kelebihan bagi seorang Arab atas orang Ajam (bukan Arab) dan bagi
seorang yang bukan Arab atas orang Arab dan yang (berkulit) merah atas
yang hitam dan yang hitam atas yang merah, kecuali dengan ketakwaannya.
Apakah aku sudah menyampaikan hal ini? (HR. Ahmad)
40. Tidak boleh ada gangguan (akibat yang merugikan dan menyedihkan) dan tidak boleh ada paksaan. (HR. Malik)
41. Cukup jahat orang yang menghina saudaranya. (HR. Muslim)
42.
Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi (memutuskan hubungan) dengan
saudaranya melebihi tiga malam. Hendaklah mereka bertemu untuk berdialog
mengemukakan isi hati dan yang terbaik ialah yang pertama memberi salam
(menyapa). (HR. Bukhari)
43. Barangsiapa meniru-niru tingkah laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
44. Tidak akan masuk surga orang yang suka mencuri berita (suka mendengar-dengar berita rahasia orang lain). (HR. Bukhari)
45.
Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling cinta kasih dan
belas kasih seperti satu tubuh. Apabila kepala mengeluh (pusing) maka
seluruh tubuh tidak bisa tidur dan demam. (HR. Muslim)
46. Kawan
pendamping yang sholeh ibarat penjual minyak wangi. Bila dia tidak
memberimu minyak wangi, kamu akan mencium keharumannya. Sedangkan kawan
pendamping yang buruk ibarat tukang pandai besi. Bila kamu tidak
terjilat apinya, kamu akan terkena asapnya. (HR. Bukhari)
Halal dan Haram
1.
Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya
terdapat hal-hal musyabbihat (syubhat / samar, tidak jelas
halal-haramnya), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia.
Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia telah membersihkan
kehormatan dan agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus dalam
syubhat, maka ia seperti penggembala di sekitar tanah larangan,
hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja
mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan
Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam
tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh
itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu
pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.” (HR. Bukhari)
Keterangan:
Khusus
untuk hadits no.1 ini saya ambil langsung dari kitab Ringkasan Shahih
Bukhari karya Al-Albani, karena saya lihat arti (terjemahan) yang
bersumber dari buku 1100 Hadits Terpilih ini kurang tepat. Disana
disebutkan, “Barangsiapa terperosok ke dalam hal yang syubhat
(perkara-perkara yang diragukan hukumnya) maka dia terperosok dalam yang
haram.” Padahal kalimat yang tepat bukan menyatakan “pasti”, tapi
“hampir-hampir” terperosok kepada yang haram. Wallaahu’alam.
2.
Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw: “Apabila aku shalat
semua yang fardhu (yang wajib / shalat lima waktu) dan puasa pada bulan
Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram dan tidak
lebih dari itu, apakah aku bisa masuk surga?” Nabi Saw menjawab, “Ya.”
(HR. Muslim)
3. Lautan airnya suci (untuk wudhu) dan bangkai ikannya halal (untuk dimakan). (HR. Bukhari)
4. Orang yang mengharamkan sesuatu yang halal serupa dengan orang yang menghalalkan sesuatu yang haram. (HR. Asysyihaab)
5.
Yang halal jelas dan yang haram jelas. Di antara keduanya ada
perkara-perkara yang kelam (syubhat / kabur / samar-samar). (HR.
Bukhari)
6. Akan datang satu masa dimana tiada seorangpun yang
tidak makan uang riba. Kalau tidak ribanya maka ia akan terkena asapnya
(atau debunya). (HR. Abu Dawud)
7. Tiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram maka api neraka lebih utama membakarnya. (HR. Ath-Thabrani)
Ilmu Pengetahuan dan Kebodohan
1.
Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri
kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak
mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan
orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan
adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat. (HR. Ar-Rabii’)
2.
Wahai Aba Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah lebih baik
bagimu daripada shalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan
satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik
daripada shalat seribu raka’at. (HR. Ibnu Majah)
3. Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)
4.
Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan
diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu. (HR.
Ath-Thabrani)
5. Janganlah kalian menuntut ilmu untuk
membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan
orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk
penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik
perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya
neraka … neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
6. Kelebihan
seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang ‘abid (ahli ibadah) ibarat bulan
purnama terhadap seluruh bintang. (HR. Abu Dawud )
7. Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (HR. Muslim)
8. Duduk bersama para ulama adalah ibadah. (HR. Ad-Dailami)
9.
Apabila kamu melewati taman-taman surga, minumlah hingga puas. Para
sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud taman-taman surga
itu?” Nabi Saw menjawab, “Majelis-majelis taklim.” (HR. Ath-Thabrani)
10.
Apabila muncul bid’ah-bid’ah di tengah-tengah umatku wajib atas seorang
‘alim menyebarkan ilmunya (yang benar). Kalau dia tidak melakukannya
maka baginya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Tidak akan
diterima sodaqohnya dan kebaikan amalannya. (HR.Ar-Rabii’)
11.
Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dirahasiakannya maka dia
akan datang pada hari kiamat dengan kendali (di mulutnya) dari api
neraka. (HR. Abu Dawud)
12. Seorang alim apabila menghendaki
dengan ilmunya keridhoan Allah maka dia akan ditakuti oleh segalanya,
dan jika dia bermaksud untuk menumpuk harta maka dia akan takut dari
segala sesuatu. (HR. Ad-Dailami)
13. Yang aku takuti terhadap umatku ialah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (HR. Abu Dawud)
14.
Yang aku takuti terhadap umatku ada tiga perbuatan, yaitu kesalahan
seorang ulama, hukum yang zalim, dan hawa nafsu yang diperturutkan. (HR.
Asysyihaab)
15. Celaka atas umatku dari ulama yang buruk. (HR. Al Hakim)
16. Barangsiapa dimintai fatwa sedang dia tidak mengerti maka dosanya adalah atas orang yang memberi fatwa. (HR. Ahmad)
17.
Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim
yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat. (HR. Al-Baihaqi)
18. Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)
19.
Seorang ulama yang tanpa amalan seperti lampu membakar dirinya sendiri
(Berarti amal perbuatan harus sesuai dengan ajaran-ajarannya). (HR.
Ad-Dailami)
20. Termasuk mengagungkan Allah ialah menghormati
(memuliakan) ilmu, para ulama, orang tua yang muslim dan para pengemban
Al Qur’an dan ahlinya[1], serta penguasa yang adil. (HR. Abu Dawud dan
Aththusi)
21. Sesungguhnya Allah tidak menahan ilmu dari manusia
dengan cara merenggut tetapi dengan mewafatkan para ulama sehingga tidak
lagi tersisa seorang alim. Dengan demikian orang-orang mengangkat
pemimpin-pemimpin yang dungu lalu ditanya dan dia memberi fatwa tanpa
ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. (Mutafaq’alaih)
22.
Sedikit ilmu lebih baik dari banyak ibadah. Cukup bagi seorang
pengetahuan fiqihnya jika dia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik)
dan cukup bodoh bila seorang merasa bangga (ujub) dengan pendapatnya
sendiri. (HR. Ath-Thabrani)
23. Maafkanlah dosa orang yang murah
hati, kekeliruan seorang ulama dan tindakan seorang penguasa yang adil.
Sesungguhnya Allah Ta’ala membimbing mereka apabila ada yang
tergelincir. (HR. Bukhari)
24. Saling berlakulah jujur dalam ilmu
dan jangan saling merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu
pengetahuan lebih berat hukumannya daripada berkhianat dalam harta. (HR.
Abu Na’im)
Catatan Kaki:
[1] Pengemban Al Qur’an dan ahlinya termasuk pembaca, penghafal, ahli tafsir, dan penegak ajaran Al Qur’an.
Jaman
1.
Sebaik-baik umatku adalah pada abadku ini, kemudian yang sesudahnya dan
yang sesudahnya. Kemudian sesudah mereka muncul suatu kaum yang memberi
kesaksian tetapi tidak bisa dipercaya kesaksiannya. Mereka berkhianat
dan tidak dapat diamanati. Mereka bernazar (berjanji) tetapi tidak
menepatinya dan mereka tampak gemuk-gemuk. (HR. Tirmidzi)
2.
Tiada datang kepadamu jaman kecuali yang sesudahnya lebih buruk dari
pada yang sebelumnya sampai kamu berjumpa dengan Allah. (HR. Ahmad)
3.
Jangan memaksa dirimu berjaga (tidak tidur) pada malam hari karena kamu
tidak mampu melakukannya. Bila seseorang mengantuk maka hendaklah dia
tidur di tempat tidurnya sendiri dan itu lebih aman. (HR. Ad-Dailami)
4.
Pada hari Jum’at terdapat saat yang apabila seorang muslim memohon
kepada Allah sesuatu kebaikan maka Allah akan memberinya, yaitu saat
antara duduknya seorang imam (Khatib) sampai usainya shalat. (HR.
Muslim)
Dunia dan Segala Isinya
1. Barangsiapa pada pagi
hari aman dalam kelompoknya, sehat tubuhnya, memiliki pangan untuk
seharinya, maka dia seolah-olah memperoleh dunia dengan segala isinya.
(HR. Tirmidzi)
2. Perbandingan dunia dengan akhirat seperti
seorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut lalu diangkatnya
dan dilihatnya apa yang diperolehnya. (HR. Muslim dan Ibnu Majah)
3.
Aku dan dunia ibarat orang dalam perjalanan menunggang kendaraan, lalu
berteduh di bawah pohon untuk beristirahat dan setelah itu
meninggalkannya. (HR. Ibnu Majah)
4. Dunia ini cantik dan hijau.
Sesungguhnya Allah menjadikan kamu kholifah dan Allah mengamati apa yang
kamu lakukan, karena itu jauhilah godaan wanita dan dunia. Sesungguhnya
fitnah pertama yang menimpa bani Israil adalah godaan kaum wanita. (HR.
Ahmad)
5. Dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh
bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang yang berebut melahap isi
mangkok (makanan). Para sahabat bertanya, “Apakah saat itu jumlah kami
sedikit, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan saat itu jumlah
kalian banyak sekali tetapi seperti buih air bah (tidak berguna) dan
kalian ditimpa penyakit wahan.” Mereka bertanya lagi, “Apa itu penyakit
wahan, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kecintaan yang sangat kepada
dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)
6. Demi Allah, bukanlah
kemelaratan yang aku takuti bila menimpa kalian, tetapi yang kutakuti
adalah bila dilapangkannya dunia bagimu sebagaimana pernah dilapangkan
(dimudahkan) bagi orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian saling
berlomba sebagaimana mereka berlomba, lalu kalian dibinasakan olehnya
sebagaimana mereka dibinasakan. (HR. Ahmad)
7. Malaikat Jibril
datang kepada Nabi Saw, lalu berkata, “Hai Muhammad, hiduplah sesukamu
namun engkau pasti mati. Berbuatlah sesukamu namun engkau pasti akan
diganjar, dan cintailah siapa yang engkau sukai namun pasti engkau akan
berpisah dengannya. Ketahuilah, kemuliaan seorang mukmin tergantung
shalat malamnya dan kehormatannya tergantung dari ketidakbutuhannya
kepada orang lain.” (HR. Ath-Thabrani)
8. Janganlah kalian
mencaci-maki dunia. Dia adalah sebaik-baik kendaraan. Dengannya orang
dapat meraih kebaikan dan dapat selamat dari kejahatan. (HR. Ad-Dailami)
9.
Sesungguhnya Allah melindungi hambaNya yang mukmin dari godaan dunia
dan Allah juga menyayanginya sebagaimana kamu melindungi orangmu yang
sakit dan mencegahnya dari makanan serta minuman yang kamu takuti akan
mengganggu kesehatannya. (HR. Al Hakim dan Ahmad)
Muamalah (Hubungan Kemasyarakatan)
1. Biarlah manusia saling memberi rezeki kepada yang lainnya. (HR. Al-Baihaqi)
2.
Apabila Allah menginginkan kemajuan dan kesejahteraan kepada suatu kaum
maka Allah memberi mereka karunia kemudahan dalam jual-beli dan
kehormatan diri. Namun bila Allah menginginkan bagi suatu kaum kemacetan
dan kegagalan maka Allah membuka bagi mereka pintu pengkhianatan. (HR.
Ath-Thabrani)
3. Jangan kamu saling dengki dan iri dan jangan
pula mengungkit keburukan orang lain. Jangan saling benci dan jangan
saling bermusuhan serta jangan saling menawar lebih tinggi atas
penawaran yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang
muslim adalah saudara muslim lainnya dengan tidak menzhaliminya, tidak
mengecewakannya, tidak membohonginya dan tidak merendahkannya. Letak
takwa ada di sini (Nabi Saw menunjuk ke dada beliau sampai diulang tiga
kali). Seorang patut dinilai buruk bila merendahkan saudaranya yang
muslim. Seorang muslim haram menumpahkan darah, merampas harta, dan
menodai kehormatan muslim lainnya. (HR. Muslim)
4. Pedagang yang
jujur amanatnya kelak di hari kiamat bersama-sama para nabi, shiddiqin
dan para shuhada. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
5. Nabi Saw melarang menjual-beli uang muka (persekot). Artinya, memperjual belikan uang muka. (HR. Abu Dawud)
6.
Apabila terjadi perselisihan antara penjual dan pembeli maka keputusan
ada di tangan penjual. Apakah pembeli menyetujuinya atau jual-beli
batal. (HR. Abu Hanifah)
7. Barangsiapa menjual buah-buahan lalu
buah-buahan itu rusak (busuk) maka dilarang menerima uang penjualannya.
Mengapa dia mengambil dengan tidak sah uang saudaranya semuslim? (HR.
Ibnu Majah)
8. Rasulullah Saw melarang orang menjual air. (Mutafaq’alaih)
Keterangan:
Yakni
air yang bersumber dari sumber aslinya, seperti air hujan, mata air
pegunungan, air sungai, air laut, air danau, dan lain-lain. Seandainya
ada orang yang hendak mengambil air ke sumber-sumber air tersebut, maka
siapapun tidak berhak untuk melarang atau pun menjual dan menentukan
harga airnya. Siapapun tidak ada yang boleh menguasai dan memonopoli
sumber-sumber air tersebut. Firman Allah, “Dia-lah, Yang telah
menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman
dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat
tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.” (Surat 16. AN NAHL – Ayat 10).
Namun, seandainya air tersebut sudah di proses, misalnya yang semula
masih kurang hygenis, lalu diolah dan diproses menjadi air murni yang
segar (seperti air dalam kemasan) yang layak untuk diminum, maka boleh
untuk dijual, karena orang atau perusahaan yang telah memprosesnya
tersebut telah mengeluarkan tenaga serta biaya juga. Wallaahu’alam.
9.
Apabila seorang kehilangan atau kecurian barangnya kemudian ditemukan
di tangan seseorang maka orang itu (yang kehilangan) lebih berhak
memiliki kembali barangnya. Adapun orang yang membeli barang tersebut
hendaknya menuntut pengembalian uangnya dari penjual barang tersebut.
(HR. Ibnu Majah)
10. Tidak boleh menjual buah-buahan sampai terbukti benar kebaikannya. (HR. Ath-Thahawi)
11.
Allah memberkahi penjualan yang mudah, pembelian yang mudah, pembayaran
yang mudah dan penagihan yang mudah. (HR. Ath-Thahawi)
12.
Rasulullah Saw melarang penjualan karena terpaksa (dipaksa menjual
karena terdesak kebutuhan) dan melarang penjualan dengan pemalsuan
(penipuan). (HR. Mashabih Assunnah)
13. Tidak sah perceraian, penjualan atau pembelian yang dilakukan orang gila. (HR. Abu Hanifah)
14.
Allah Ta’ala berfirman (dalam hadits Qudsi) :”Aku yang ketiga (bersama)
dua orang yang berserikat dalam usaha (dagang) selama yang seorang
tidak berkhianat (curang) kepada yang lainnya. Apabila berlaku curang
maka Aku ke luar dari mereka.” (Abu Dawud)
15. Orang yang
mendatangkan barang dagangan (impor) untuk dijual selalu akan memperoleh
rezeki dan orang yang menimbun barang akan dikutuk Allah. (HR. Ibnu
Majah dan Aththusi)
16. Barangsiapa menimbun bahan pangan
kebutuhan kaum muslimin maka Allah akan menimpanya dengan kebangkrutan
dan penyakit lepra. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
17. Rasulullah Saw memutuskan untuk mendahulukan penyelesaian hutang sebelum melaksanakan wasiat. (HR. Al Hakim)
Keterangan:
Hadits
ini merupakan petunjuk bagaimana tata urutan menunaikan harta warisan
ketika seseorang meninggal dunia. Maka yang pertama adalah pembayaran
hutang, lalu menunaikan wasiat, kemudian baru sisa harta warisan yang
ada dibagikan kepada ahli waris.
18. Berhati-hatilah dalam
berhutang. Sesungguhnya berhutang itu suatu kesedihan pada malam hari
dan kerendahan diri (kehinaan) di siang hari. (HR. Ibnu Babawih dan
Al-Baihaqi)
19. Orang kaya yang menunda-nunda (mengulur-ulurkan waktu) pembayaran hutangnya adalah kezaliman. (HR. Bukhari)
20. Roh seorang mukmin masih terkatung-katung (sesudah wafatnya) sampai hutangnya di dunia dilunasi. (HR. Ahmad)
21.
Barangsiapa mengambil harta orang-orang untuk disampaikannya (kepada
yang berhak) maka Allah akan menyampaikannya dan barangsiapa
mengambilnya dengan maksud merusaknya maka Allah akan merusak orang itu.
(HR. Bukhari)
22. Jangan menimbulkan ketakutan pada dirimu
sendiri sesudah terasa olehmu keamanan (ketentraman). Para sahabat
bertanya, “Apa yang menimbulkan ketakutan itu, ya Rasulullah?” Beliau
menjawab, “Hutang.” (HR. Ahmad)
23. Sebaik-baik kamu ialah yang paling baik dalam membayar hutangnya. (HR. Bukhari)
24.
Seorang hamba muslim yang membayar hutang saudaranya maka Allah akan
melepaskan ikatan penggadaiannya pada hari kiamat. (HR. Mashabih
Assunnah)
25. Hutang adalah bendera Allah di muka bumi. Apabila
Allah hendak menghinakan seorang hamba maka diikatkan ke lehernya. (HR.
Ahmad dan Al Hakim)
26. Waspadalah dan hindarilah do’a orang yang dalam kesulitan untuk membayar kembali hutangnya. (HR. Ad-Dailami)
27.
Berlakulah lunak dan saling mengasihi. Hendaklah kamu saling mengalah
terhadap yang lain. Apabila orang yang punya hak mengetahui kebaikan
yang akan diperolehnya disebabkan menunda tuntutannya atas haknya pasti
orang yang punya tuntutan atas haknya akan lari menjauhi orang yang
dituntutnya. (HR. Bukhari)
28. Apabila seorang menghutangi orang lain maka janganlah mengambil suatu kelebihan (komisi). (HR. Ahmad)
29.
Barangsiapa mengangkat senjata terhadap kami tidaklah dia dari golongan
kami dan barangsiapa menipu kami maka dia bukan dari golongan kami.
(HR. Bukhari)
30. Unta yang digadaikan boleh ditunggangi karena
dikeluarkan biaya pemeliharaannya dan susunya boleh diminum oleh orang
yang menyimpan unta tersebut. (HR. Bukhari)
31. Seorang laki-laki
yang menzinai wanita merdeka atau budak maka anaknya adalah anak zina.
Dia tidak mewarisi dan tidak diwarisi oleh laki-laki tersebut. (HR.
Tirmidzi)
32. Pembunuh tidak bisa menerima warisan dari orang yang dibunuhnya. (HR. Tirmidzi)
33.
Seorang kafir tidak boleh mewarisi harta orang muslim dan orang muslim
pun tidak boleh mewarisi harta orang kafir. (HR. Bukhari)
34. Apabila kamu menimbang hendaklah ditepati. (HR. Ibnu Majah)
35.
Barangsiapa menanami lahan orang lain tanpa ijin dari pemiliknya maka
baginya pengembalian biaya penanaman dan tidak mendapat bagian dari
hasil tanaman. (HR. Ahmad)
36. Pemilik hak berhak pula berbicara agak keras (misalnya terhadap yang berhutang). (HR. Bukhari dan Muslim)
37.
Kaum muslimin berserikat (memiliki bersama) dalam tiga hal, yaitu air,
rerumputan (di padang rumput yang tidak bertuan), dan api. (HR. Abu
Dawud)
Menunaikan Amanat
1. Tunaikanlah amanat terhadap
orang yang mengamanatimu dan janganlah berkhianat terhadap orang yang
mengkhianatimu. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
2. Tiada beriman orang yang tidak memegang amanat dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji. (HR. Ad-Dailami)
3.
Orang yang diajak bermusyawarah (dimintai pendapat) adalah orang yang
bisa memegang amanat (jujur, ikhlas dan dapat menyimpan rahasia). (HR.
Ath-Thabrani)
4. Apa yang dibicarakan dan terjadi dalam
majelis-majelis (rapat atau pertemuan) harus dijaga dan dipelihara
sebagai amanat. (HR. Abu Dawud)
Kemiskinan
1. Aku
menjenguk ke surga dan aku melihat kebanyakan penghuninya orang-orang
fakir (miskin). Lalu aku menjenguk ke neraka dan aku melihat kebanyakan
penghuninya adalah kaum wanita. (HR. Bukhari dan Muslim)
2.
Orang-orang fakir-miskin akan memasuki surga lima ratus tahun[1] sebelum
orang-orang kaya memasukinya. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
3. Kesengsaraan yang paling sengsara ialah miskin di dunia dan disiksa di akhirat. (HR. Ath-Thabrani dan Asysyihaab)
4. Balasan amal dari seorang miskin terhadap orang kaya ialah kesetiaan (keikhlasan) dan doa. (HR. Abu Dawud)
5.
Kasihanilah tiga golongan orang yaitu orang kaya dalam kaumnya lalu
melarat, seorang yang semula mulia (terhormat dalam kaumnya) lalu
terhina, dan seorang ‘alim yang dipermainkan (diperolok-olok) oleh
orang-orang yang dungu dan jahil. (HR. Asysyihaab)
6. Hampir saja kemiskinan (kemiskinan jiwa dan hati) berubah menjadi kekufuran. (HR. Ath-Thabrani)
Catatan Kaki:
[1] Lima ratus tahun adalah setengah hari di surga karena sehari di sisi Allah sama dengan seribu tahun di dunia. Wallaahu’alam.
Harta dan Kekayaan
1.
Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta-benda tetapi kekayaan
yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati). (HR. Abu Ya’la)
2. Setiap orang lebih berhak atas harta miliknya daripada ayahnya atau anaknya dan segenap manusia. (HR. Al-Baihaqi)
3. Harta kekayaan adalah sebaik-baik penolong bagi pemeliharaan ketakwaan kepada Allah. (HR. Ad-Dailami)
4.
Tiap menjelang pagi hari dua malaikat turun. Yang satu berdoa: “Ya
Allah, karuniakanlah bagi orang yang menginfakkan hartanya tambahan
peninggalan.” Malaikat yang satu lagi berdoa: “Ya Allah, timpakan
kerusakan (kemusnahan) bagi harta yang ditahannya (dibakhilkannya).”
(Mutafaq’alaih)
5. Harta yang dizakati tidak akan susut (berkurang). (HR. Muslim)
6. Sesungguhnya rezeki mencari seorang hamba sebagaimana ajal mencarinya. (HR. Ath-Thabrani)
7. Cinta yang sangat terhadap harta dan kedudukan dapat mengikis agama seseorang. (HR. Aththusi)
8.
Anak Adam berkata: “Hartaku… hartaku…” Nabi Saw bersabda: “Adakah
hartamu, hai anak Adam kecuali yang telah kamu belanjakan untuk makan
atau membeli sandang lalu kumal, atau sedekahkan lalu kamu tinggalkan.”
(HR. Muslim)
9. Apa yang sedikit tetapi mencukupi lebih baik daripada banyak tetapi melalaikan. (HR. Abu Dawud)
10. Bagi tiap sesuatu terdapat ujian dan cobaan, dan ujian serta cobaan terhadap umatku ialah harta-benda. (HR. Tirmidzi)
11.
Akan datang bagi manusia suatu jaman dimana orang tidak peduli apakah
harta yang diperolehnya halal atau haram. (HR. Bukhari)
12. Wahai ‘Amru, alangkah baiknya harta yang sholeh di tangan orang yang sholeh. (HR. Ahmad)
13. Pada akhir jaman kelak manusia harus menyediakan harta untuk menegakkan urusan agama dan urusan dunianya. (HR. Ath-Thabrani)
14.
Orang yang paling dirundung penyesalan pada hari kiamat ialah orang
yang memperoleh harta dari sumber yang tidak halal lalu menyebabkannya
masuk neraka. (HR. Bukhari)
15. Sesungguhnya orang-orang yang
mengelola harta Allah dengan tidak benar maka bagi mereka api neraka
pada hari kiamat. (HR. Bukhari)
16. Janganlah kamu mengagumi
orang yang terbentang kedua lengannya menumpahkan darah. Di sisi Allah
dia adalah pembunuh yang tidak mati. Jangan pula kamu mengagumi orang
yang memperoleh harta dari yang haram. Sesungguhnya bila dia
menafkahkannya atau bersedekah maka tidak akan diterima oleh Allah dan
bila disimpan hartanya tidak akan berkah. Bila tersisa pun hartanya akan
menjadi bekalnya di neraka. (HR. Abu Dawud)
17. Sesungguhnya
uang dinar dan dirham ini telah membinasakan orang-orang sebelum kamu
dan di masa yang akan datang pun akan membinasakan. (HR. Ath-Thabrani)
18. Apabila kamu diberi sesuatu tanpa kamu minta maka pergunakanlah (makanlah) dan sedekahkanlah sebagiannya. (HR. Muslim)
19.
Barangsiapa mengumpulkan harta dengan tidak sewajarnya (tidak benar)
maka Allah akan memusnahkannya dengan air (banjir) dan tanah (longsor).
(HR. Al-Baihaqi)
Mata Pencaharian dan Hasil Kerja
1.
Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu
(seperti shalat, puasa, dll). (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
2.
Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku
bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya.
Karena itu hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata
pencaharianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu
memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah karena apa yang ada di
sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya. (HR. Abu Zar
dan Al Hakim)
3. Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang
berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa
bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan
seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad)
4.
Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan
kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh
Allah. (HR. Ahmad)
5. Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang
tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, sedekah atau haji
namun hanya dapat ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah.
(HR. Ath-Thabrani)
6. Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah (lelah) dalam mencari rezeki yang halal. (HR. Ad-Dailami)
7.
Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu
bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk
mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari seorang
yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang
ditolak. (Mutafaq’alaih)
8. Tiada makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangan sendiri. (HR. Bukhari)
9. Apabila dibukakan bagi seseorang pintu rezeki maka hendaklah dia melestarikannya. (HR. Al-Baihaqi)
Keterangan:
Yakni
senantiasa bersungguh-sungguh dan konsentrasi di bidang usaha tersebut,
serta jangan suka berpindah-pindah ke pintu-pintu rezeki lain atau
berpindah-pindah usaha karena di khawatirkan pintu rezeki yang sudah
jelas dibukakan tersebut menjadi hilang dari genggaman karena kesibukkan
nya mengurus usaha yang lain. Seandainya memang mampu maka hal tersebut
tidak mengapa.
10. Seusai shalat fajar (subuh) janganlah kamu tidur sehingga melalaikan kamu untuk mencari rezeki. (HR. Ath-Thabrani)
11.
Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu.
Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barokah dan keberuntungan. (HR.
Ath-Thabrani dan Al-Bazzar)
12. Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi hari mereka (bangun fajar). (HR. Ahmad)
13. Barangsiapa menghidupkan lahan mati maka lahan itu untuk dia. (HR. Abu Dawud dan Aththusi)
Keterangan:
Hal
tersebut khusus untuk lahan atau tanah kosong yang tidak ada
pemiliknya. Jika lahan atau tanah kosong tersebut ada pemiliknya maka
tidak boleh diambil dengan jalan yang bathil.
14. Carilah rezeki di perut bumi. (HR. Abu Ya’la)
15. Pengangguran menyebabkan hati keras (keji dan membeku). (HR. Asysyihaab)
16. Allah memberi rezeki kepada hambaNya sesuai dengan kegiatan dan kemauan kerasnya serta ambisinya. (HR. Aththusi)
17.
Mata pencaharian paling afdhol adalah berjualan dengan penuh kebajikan
dan dari hasil keterampilan tangan. (HR. Al-Bazzar dan Ahmad)
18. Sebaik-baik mata pencaharian ialah hasil keterampilan tangan seorang buruh apabila dia jujur (ikhlas). (HR. Ahmad)
Jihad dan Perang
1.
Aku menginginkan berperang di jalan Allah, lalu aku terbunuh,
dihidupkan lagi dan mati lagi, lalu dihidupkan lagi. (HR. Bukhari)
2. Kedua kaki hambaKu yang dilibat debu dalam perang fisabilillah tidak akan tersentuh api neraka. (HR. Bukhari)
3.
Berjaga-jaga satu malam dalam perang fisabilillah lebih afdhol dari
seribu malam dishalati malam harinya dan dipuasai siang harinya. (HR. Al
Hakim)
4. Tidak ada hijrah lagi sesudah fathu Mekah selain
jihad, niat, dan apabila diserukan berangkat (pergi berperang) maka
berangkatlah. (HR. Bukhari)
5. Puncak persoalan adalah Islam.
Barangsiapa pasrah diri (masuk Islam) maka dia selamat. Tiangnya Islam
adalah shalat dan atapnya adalah jihad (perjuangan). Yang dapat
mencapainya hanya orang yang paling utama di antara mereka. (HR.
Ath-Thabrani)
6. Berjihadlah melawan kaum musyrikin dengan harta, jiwa dan lidahmu. (HR. An-Nasaa’i)
7.
Manusia yang paling dekat derajatnya kepada derajat kenabian ialah para
mujahidin dan ilmuwan (cendekiawan) karena kaum mujahidin melaksanakan
ajaran para rasul dan ilmuwan membimbing manusia untuk melaksanakan
ajaran nabi-nabi. (HR. Ad-Dailami)
8. Tiada setetes yang lebih disukai Allah ‘Azza wajalla daripada setetes darah di jalan Allah. (HR. Ath-Thahawi)
9.
Barangsiapa memberi perlengkapan bagi seorang yang berperang di jalan
Allah maka dia terhitung ikut berperang dan barangsiapa ikut memenuhi
kebutuhan keluarga (menyantuni) orang yang berperang maka dia terhitung
ikut berperang di jalan Allah. (HR. Bukhari)
10. Wahai segenap
manusia, janganlah kamu mengharap-harap bertemu dengan musuh. Mohonlah
kepada Allah akan keselamatan. Bila bertemu dengan mereka maka
bersabarlah (yakni sabar menderita, gigih, ulet dan tabah dalam melawan
mereka). Ketahuilah, surga terletak di bawah bayang-bayang pedang. (HR.
Bukhari)
11. Rasulullah Saw bila melepas pasukan yang akan pergi
berperang (tanpa disertainya) berpesan: “Dengan nama Allah, dengan
disertai Allah, di jalan Allah dan atas sunah Rasulullah. Janganlah kamu
berlebihan mengambil barang rampasan tanpa seijin pimpinan pasukan.
Janganlah kamu berkhianat dan jangan pula melakukan sadisme (menganiaya)
terhadap musuh. Jangan membunuh anak-anak, wanita-wanita dan laki-laki
yang telah tua.” (HR. Ath-Thabrani dan Abu Dawud)
12. Rasulullah
Saw mengikutsertakan kaum wanita dalam peperangan. Mereka mengobati
orang yang terluka. Rasulullah tidak pernah memberi mereka bagian dari
harta rampasan tetapi memberi mereka dari kelebihan (sisa) pembagian.
(HR. Muslim)
13. Perang adalah tipu daya. (HR. Bukhari)
14.
Kalau kamu melakukan perdagangan dengan riba, hanya menjadi
peternak-peternak dan senang hanya dengan bertani saja dan meninggalkan
jihad (perjuangan) maka Allah akan menimpakan kehinaan atasmu. Kamu
tidak dapat mencabut kehinaan itu sehingga kamu kembali kepada Ad
Dienmu. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
15. Ada tiga hal yang
menyebabkan tidak bergunanya seluruh amalan, yaitu: syirik kepada Allah,
durhaka kepada orang tua, dan lari menghindari pertempuran (dalam
perang fisabilillah) (HR. Ath-Thabrani)
16. Suatu kaum yang meninggalkan perjuangan akan Allah timpakan kepada mereka azab. (HR. Ath-Thabrani)
17.
Jika terjadi saling membunuh antara dua orang muslim maka yang membunuh
dan yang terbunuh keduanya masuk neraka. Para sahabat bertanya, “Itu
untuk si pembunuh, lalu bagaimana tentang yang terbunuh?” Nabi Saw
menjawab, “Yang terbunuh juga berusaha membunuh kawannya.” (HR. Bukhari)
Penjelasan:
Yang terbunuh berusaha membunuh tetapi kedahuluan terbunuh.
18. Rasulullah Saw melarang penyebaran racun (wabah penyakit / virus / senjata kimia) di negeri musuh. (HR. Ath-Thahawi)
19. Saling berpesanlah untuk memperlakukan para tawanan dengan baik. (HR. Ath-Thabrani)
20. Kami tidak menggunakan bantuan kaum musyrikin untuk memerangi kaum musyrikin. (HR. Ahmad)
21.
Orang yang pergi berperang di jalan Allah dan yang pergi untuk
menunaikan haji atau umroh adalah tamu-tamu Allah. Allah menyerukan
kepada mereka, dan mereka menyambutnya dan mereka memohon kepada-Nya,
lalu Allah mengabulkan permohonan mereka. (HR. Ibnu Majah).
22.
Barangsiapa menolak ketaatan (membangkang) dan meninggalkan jama’ah lalu
mati maka matinya jahiliyah, dan barangsiapa berperang di bawah panji
(bendera) nasionalisme (kebangsaan atau kesukuan) yang menyeru kepada
fanatisme atau bersikap marah (emosi) karena mempertahankan fanatisme
(golongan) lalu terbunuh maka tewasnya pun jahiliyah. (HR. An-Nasaa’i)
Penjelasan:
Asysyathibi memberi definisi tentang yang dimaksud jama’ah, yaitu: 1. Orang-orang Islam yang berhimpun dalam satu urusan.
2. Mayoritas orang-orang Islam
3. Kumpulan ulama mujtahidin.
4. Jama’atul muslimin jika berhimpun di bawah komando seorang amir (pemimpin).
5. Para sahabat yang diridhoi Allah dan tentu pada kondisi yang khusus. Suatu jama’ah akan terbentuk bila ada musyawarah.
Hakim dan Kehakiman
1.
Hakim terdiri dari tiga golongan. Dua golongan hakim masuk neraka dan
segolongan hakim lagi masuk surga. Yang masuk surga ialah yang
mengetahui kebenaran hukum dan mengadili dengan hukum tersebut. Bila
seorang hakim mengetahui yang haq tapi tidak mengadili dengan hukum
tersebut, bahkan bertindak zalim dalam memutuskan perkara, maka dia
masuk neraka. Yang segolongan lagi hakim yang bodoh, yang tidak
mengetahui yang haq dan memutuskan perkara berdasarkan kebodohannya,
maka dia juga masuk neraka. (HR. Abu Dawud dan Ath-Thahawi)
2. Lidah seorang hakim berada di antara dua bara api sehingga dia menuju surga atau neraka. (HR. Abu Na’im dan Ad-Dailami)
3. Barangsiapa diangkat menjadi hakim maka dia telah disembelih tanpa menggunakan pisau. (HR. Abu Dawud)
4.
Allah beserta seorang hakim selama dia tidak menzalimi. Bila dia
berbuat zalim maka Allah akan menjauhinya dan setanlah yang selalu
mendampinginya. (HR. Tirmidzi)
5. Bila seorang hakim mengupayakan
hukum (dengan jujur) dan keputusannya benar, maka dia akan memperoleh
dua pahala. Tetapi bila keputusannya salah maka dia akan memperoleh satu
pahala. (HR. Bukhari)
6. Janganlah hendaknya seorang wanita menjadi hakim yang mengadili urusan masyarakat umum. (HR. Ad-Dailami)
7. Salah satu dosa paling besar ialah kesaksian palsu. (HR. Bukhari)
8.
Rasulullah Saw bersabda : “Disejajarkan kesaksian palsu dengan
bersyirik kepada Allah.” Beliau mengulang-ulang sabdanya itu sampai tiga
kali. (Mashabih Assunnah)
9. Nabi Saw mengadili dengan sumpah dan saksi. (HR. Muslim)
10.
Maukah aku beritahukan saksi yang paling baik? Yaitu yang datang
memberi kesaksian sebelum dimintai kesaksiannya. (HR. Muslim)
11. Pria paling dibenci Allah ialah orang yang bermusuhan dengan sengit. (HR. Bukhari)
12. Janganlah hendaknya seorang hakim mengadili antara dua orang dalam keadaan marah. (HR. Muslim)
13.
Tidak halal darah (dihukum mati) seorang muslim kecuali karena salah
satu dari tiga sebab. Pertama, duda atau janda yang berzina (juga suami
atau isteri). Kedua, hukuman pembalasan karena menghilangkan nyawa orang
lain (Qishas), dan ketiga, yang murtad dari Islam dan meninggalkan
jama’ah. (HR. Bukhari)
14. Rasulullah Saw pernah memenjarakan seseorang karena suatu tuduhan kemudian dibebaskannya. (HR. An-Nasaa’i)
15.
Sesungguhnya aku mengadili dan memutuskan perkara antara kalian dengan
bukti-bukti dan sumpah-sumpah. Sebagian kamu lebih pandai mengemukakan
alasan dari yang lain. Siapapun yang aku putuskan memperoleh harta
sengketa yang ternyata milik orang lain (saudaranya), sesungguhnya aku
putuskan baginya potongan api neraka. (HR. Aththusi)
16. Seorang
wanita di jaman Rasulullah Saw sesudah fathu Mekah telah mencuri. Lalu
Rasulullah memerintahkan agar tangan wanita itu dipotong. Usamah bin
Zaid menemui Rasulullah untuk meminta keringanan hukuman bagi wanita
tersebut. Mendengar penuturan Usamah, wajah Rasulullah langsung berubah.
Beliau lalu bersabda : “Apakah kamu akan minta pertolongan
(mensyafa’ati) untuk melanggar hukum-hukum Allah Azza Wajalla?” Usamah
lalu menjawab, “Mohonkan ampunan Allah untukku, ya Rasulullah.” Pada
sore harinya Nabi Saw berkhotbah setelah terlebih dulu memuji dan
bersyukur kepada Allah. Inilah sabdanya : “Amma ba’du. Orang-orang
sebelum kamu telah binasa disebabkan bila seorang bangsawan mencuri
dibiarkan (tanpa hukuman), tetapi jika yang mencuri seorang awam (lemah)
maka dia ditindak dengan hukuman. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya.
Apabila Fatimah binti Muhammad mencuri maka aku pun akan memotong
tangannya.” Setelah bersabda begitu beliau pun kembali menyuruh memotong
tangan wanita yang mencuri itu. (HR. Bukhari)
17. Bila dua orang
yang bersengketa menghadap kamu, janganlah kamu berbicara sampai kamu
mendengarkan seluruh keterangan dari orang kedua sebagaimana kamu
mendengarkan keterangan dari orang pertama. (HR. Ahmad)
18. Kami
bersama Rasulullah Saw dalam suatu majelis. Rasulullah bersabda
:”Berbai’atlah kamu untuk tidak syirik kepada Allah dengan sesuatu
apapun, tidak berzina, tidak mencuri, dan tidak membunuh jiwa yang
diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan (alasan) yang benar.
Barangsiapa menepatinya maka baginya pahala di sisi Allah dan
barangsiapa yang melanggar sesuatu dari perkara-perkara itu maka dia
dihukum dan itulah tebusannya (kafarat). Namun barangsiapa yang
melanggar perkara-perkara itu dan dirahasiakan oleh Allah maka
persoalannya adalah di tangan Allah. Bila Dia menghendaki maka akan
diampuniNya atau disiksaNya (di akhirat).” (HR. Muslim)
19.
Hindarkanlah tindakan hukuman terhadap seorang muslim sedapat mungkin
karena sesungguhnya lebih baik bagi penguasa bertindak salah karena
membebaskannya daripada salah karena menjatuhkan hukuman. (HR. Tirmidzi
dan Al-Baihaqi)
20. Barangsiapa menjauhi kehidupannya sebagai
badui maka dia mengisolir dirinya, dan barangsiapa yang mengikuti
perburuan maka dia akan lengah dan lalai. Barangsiapa yang mendatangi
pintu-pintu penguasa maka dia akan terkena fitnah. Ketahuilah, seorang
yang makin mendekatkan dirinya kepada penguasa akan bertambah jauh dari
Allah. (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Kepemimpinan, Keadilan, dan Politik
1. Pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka. (HR. Abu Na’im)
2. Tidak akan sukses suatu kaum yang mengangkat seorang wanita sebagai pemimpin. (HR. Bukhari)
3. Barangsiapa menghina penguasa Allah di muka bumi maka Allah akan menghinanya. (HR. Tirmidzi)
4.
Rasulullah Saw berkata kepada Abdurrahman bin Samurah, “Wahai
Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau menuntut suatu jabatan.
Sesungguhnya jika diberi karena ambisimu maka kamu akan menanggung
seluruh bebannya. Tetapi jika ditugaskan tanpa ambisimu maka kamu akan
ditolong mengatasinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Apabila Allah
menghendaki kebaikan bagi suatu kaum maka dijadikan pemimpin-pemimpin
mereka orang-orang yang bijaksana dan dijadikan ulama-ulama mereka
menangani hukum dan peradilan. Juga Allah jadikan harta-benda di tangan
orang-orang yang dermawan. Namun, jika Allah menghendaki keburukan bagi
suatu kaum maka Dia menjadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang
berakhlak rendah. DijadikanNya orang-orang dungu yang menangani hukum
dan peradilan, dan harta berada di tangan orang-orang kikir. (HR.
Ad-Dailami)
6. Kami tidak mengangkat orang yang berambisi berkedudukan. (HR. Muslim)
7.
Ada tiga perkara yang tergolong musibah yang membinasakan, yaitu (i)
Seorang penguasa bila kamu berbuat baik kepadanya, dia tidak
mensyukurimu, dan bila kamu berbuat kesalahan dia tidak mengampuni; (2)
Tetangga, bila melihat kebaikanmu dia pendam (dirahasiakan / diam saja)
tapi bila melihat keburukanmu dia sebarluaskan; (3) Isteri bila
berkumpul dia mengganggumu (diantaranya dengan ucapan dan perbuatan yang
menyakiti) dan bila kamu pergi (tidak di tempat) dia akan
mengkhianatimu. (HR. Ath-Thabrani)
8. Allah melaknat penyuap, penerima suap dan yang memberi peluang bagi mereka. (HR. Ahmad)
9.
Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas
mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila
telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka
lebih busuk dari bangkai. (HR. Ath-Thabrani)
l0. Jabatan
(kedudukan) pada permulaannya penyesalan, pada pertengahannya
kesengsaraan (kekesalan hati) dan pada akhirnya azab pada hari kiamat.
(HR. Ath-Thabrani)
Keterangan:
Hal tersebut karena dia menyalah gunakan jabatannya dengan berbuat yang zhalim dan menipu (korupsi dll).
11.
Aku mendengar Rasulullah Saw memprihatinkan umatnya dalam enam perkara:
(1) diangkatnya anak-anak sebagai pemimpin (penguasa); (2) terlampau
banyak petugas keamanan; (3) main suap dalam urusan hukum; (4) pemutusan
silaturahmi dan meremehkan pembunuhan; (5) generasi baru yang
menjadikan Al Qur’an sebagai nyanyian; (6) Mereka mendahulukan atau
mengutamakan seorang yang bukan paling mengerti fiqih dan bukan pula
yang paling besar berjasa tapi hanya orang yang berseni sastra lah. (HR.
Ahmad)
12. Barangsiapa diserahi kekuasaan urusan manusia lalu
menghindar (mengelak) melayani kaum lemah dan orang yang membutuhkannya
maka Allah tidak akan mengindahkannya pada hari kiamat. (HR. Ahmad)
13. Khianat paling besar adalah bila seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya. (HR. Ath-Thabrani)
14. Menyuap dalam urusan hukum adalah kufur. (HR. Ath-Thabrani dan Ar-Rabii’)
15.
Barangsiapa tidak menyukai sesuatu dari tindakan penguasa maka
hendaklah bersabar. Sesungguhnya orang yang meninggalkan (membelot)
jamaah walaupun hanya sejengkal maka wafatnya tergolong jahiliyah. (HR.
Bukhari dan Muslim)
16. Jangan bersilang sengketa. Sesungguhnya
orang-orang sebelum kamu bersilang sengketa (cekcok, bermusuh-musuhan)
lalu mereka binasa. (HR. Ahmad)
17. Ka’ab bin ‘Iyadh Ra bertanya,
“Ya Rasulullah, apabila seorang mencintai kaumnya, apakah itu tergolong
fanatisme?” Nabi Saw menjawab, “Tidak, fanatisme (Ashabiyah) ialah bila
seorang mendukung (membantu) kaumnya atas suatu kezaliman.” (HR. Ahmad)
18. Kaum muslimin kompak bersatu menghadapi yang lain. (HR. Asysyihaab)
19. Kekuatan Allah beserta jama’ah (seluruh umat). Barangsiapa membelot maka dia membelot ke neraka. (HR. Tirmidzi)
20.
Semua kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.
Seorang imam (amir) pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya.
Seorang suami pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas
kepemimpinannya. Seorang isteri pemimpin dan bertanggung jawab atas
penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (karyawan) bertanggung jawab
atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan
harta ayahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)
21. Barangsiapa membaiat
seorang imam (pemimpin) dan telah memberinya buah hatinya dan jabatan
tangannya maka hendaklah dia taat sepenuhnya sedapat mungkin. (HR.
Muslim)
22. Akan terlepas (kelak) ikatan (kekuatan) Islam, ikatan
demi ikatan. Setiap kali terlepas satu ikatan maka orang-orang akan
berpegangan kepada yang lainnya. Yang pertama kali terlepas ialah hukum
dan yang terakhir adalah shalat. (HR. Ahmad dan Al Hakim)
23.
Hendaklah kamu mendengar, patuh dan taat (kepada pemimpinmu), dalam masa
kesenangan (kemudahan dan kelapangan), dalam kesulitan dan kesempitan,
dalam kegiatanmu dan di saat mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan
sekalipun keadaan itu merugikan kepentinganmu. (HR. Muslim dan
An-Nasaa’i)
24. Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu dalam
kesesatan. Karena itu jika terjadi perselisihan maka ikutilah suara
terbanyak. (HR. Anas bin Malik)
25. Dua orang lebih baik dari
seorang dan tiga orang lebih baik dari dua orang, dan empat orang lebih
baik dari tiga orang. Tetaplah kamu dalam jamaah. Sesungguhnya Allah
Azza wajalla tidak akan mempersatukan umatku kecuali dalam petunjuk
(hidayah) (HR. Abu Dawud)
Fitnah
1. Umatku ini dirahmati
Allah dan tidak akan disiksa di akhirat, tetapi siksaan terhadap mereka
di dunia berupa fitnah-fitnah, gempa bumi, peperangan dan
musibah-musibah. (HR. Abu Dawud)
2. Fitnah itu sedang tidur (reda) dan laknat Allah terhadap orang yang membangkitkannya. (HR. Ar-Rafii).
3. Rasulullah Saw melarang penjualan senjata di kala berjangkitnya fitnah. (HR. Ath-Thabrani)
4.
Jangan mendekati fitnah jika sedang membara dan jangan menghadapinya
bila sedang timbul, bersabarlah bila fitnah datang menimpa. (HR.
Ath-Thabrani)
5. Jika kamu berbicara (menyampaikan ucapan)
tentang sesuatu perkara kepada suatu kaum padahal perkara itu tidak
terjangkau (tidak dipahami) oleh akal pikiran mereka, niscaya akan
membawa fitnah di kalangan mereka. (HR. Muslim)
Bahaya Bersumpah
1.
Jangan bersumpah kecuali dengan nama Allah. Barangsiapa bersumpah
dengan nama Allah, dia harus jujur (benar). Barangsiapa disumpah dengan
nama Allah ia harus rela (setuju). Kalau tidak rela (tidak setuju)
niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah. (HR. Ibnu Majah dan
Aththusi)
2. Barangsiapa merampas hak orang muslim (dari) hasil
sumpahnya maka Allah mengharamkan baginya masuk surga dan mewajibkannya
masuk neraka. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, meskipun barang itu
sedikit?” Nabi menjawab, “Meskipun hanya sebatang kayu araak (kayu yang
dipakai untuk siwak/gosok gigi).” (HR. Muslim)
3. Sumpah dengan maksud melariskan dagangan adalah penghapus barokah. (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Barangsiapa bersumpah tidak dengan (menyebut) nama Allah maka dia telah berbuat syirik (menyekutukan Allah). (HR. Ad-Dailami)
Kenikmatan
1.
Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat
sehat dan waktu senggang (Artinya, saat-saat sehat dan waktu senggang /
luang orang sering menggunakannya untuk melakukan perbuatan yang sia-sia
dan terlarang). (HR. Bukhari)
2. Membesarnya kenikmatan Allah
bagi seseorang adalah bertambah banyaknya kebutuhan orang kepadanya
(banyak dibutuhkan orang). Tetapi barangsiapa enggan memenuhi
kebutuhan-kebutuhan orang-orang itu maka dia telah membiarkan kenikmatan
itu lenyap. (HR. Al-Baihaqi)
3. Mohonlah kepada Allah kesehatan
(keselamatan). Sesungguhnya karunia yang lebih baik sesudah keimanan
adalah kesehatan (keselamatan). (HR. Ibnu Majah)
4. Apabila Allah
memberikan kenikmatan kepada hambaNya maka Allah suka agar
kenikmatanNya itu tampak pada diri (hamba) Nya. (HR. Ath-Thabrani)
5. Yang pertama kali ditanyakan kepada seorang hamba dari
kenikmatan-kenikmatan
Allah kelak pada hari kiamat ialah ucapan, “Bukankah telah Kami berikan
kesehatan pada tubuhmu dan Kami berikan air minum yang sejuk?” (HR.
Tirmidzi)
Rahmat Allah
1. Orang yang belas kasihan akan
dikasihi Arrahman (Yang Maha Pengasih), karena itu kasih sayangilah yang
di muka bumi, niscaya kamu dikasih-sayangi mereka yang di langit. (HR.
Bukhari)
2. Allah Azza wajalla berfirman (hadits Qudsi): “RahmatKu mendahului murkaKu.” (HR. Muslim)
3. Tiada dicabut rahmat kecuali dari (hati) seorang pendurhaka. (HR. Abu Dawud)
4. Barangsiapa tidak mengasihi dan menyayangi manusia maka dia tidak dikasihi dan tidak disayangi Allah. (HR. Bukhari)
5. Barangsiapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah akan memberinya maaf pada hari kesulitan. (HR. Ath-Thabrani)
6. Pengampunan Allah lebih besar dari dosamu. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
7. Allah Azza Wajalla merahasiakan dosa hambanya di dunia dan merahasiakannya pula di akhirat. (HR. Muslim).
8.
Seorang masuk surga bukan karena amalnya tetapi karena rahmat Allah
Ta’ala. Karena itu bertindaklah yang lurus (baik dan benar). (HR.
Muslim)
Yang Berhak Mendapat Syafa’at
1. Sesungguhnya syafa’atku diperuntukkan bagi umatku yang sama sekali tidak berbuat syirik kepada Allah. (HR. Ahmad)
2. Syafa’atku adalah bagi pelaku-pelaku dosa-dosa besar (kabair) dari kalangan umatku. (HR. Tirmidzi)
3.
Pada hari kiamat ada tiga golongan manusia yang dapat memberi syafa’at
yaitu para nabi, para ulama dan para syuhada. (HR. Ahmad)
Perihal Mesjid
1. Semua lahan adalah mesjid, kecuali kuburan dan tempat pemandian. (HR. Ahmad)
2.
Rasulullah Saw menyuruh kita membangun masjid-masjid di daerah-daerah
dan agar masjid-masjid itu dipelihara kebersihan dan keharumannya. (HR.
Abu Dawud dan Tirmidzi)
3. Aku tidak menyuruh kamu membangun
masjid untuk kemewahan (keindahan) sebagaimana yang dilakukan kaum
Yahudi dan Nasrani. (HR. Ibnu Hibban dan Abu Dawud)
4. Janganlah
menjadikan kuburanku sebagai tempat pemujaan berhala. Allah melaknat
suatu kaum yang menjadikan kuburan-kuburan para nabi sebagai
masjid-masjid. (HR. Bukhari dan Abu Ya’la)
5. Mimbarku (terletak) di tepi jalur menuju surga. Antara mimbarku dan kamarku adalah taman dari taman-taman surga. (HR. Ahmad)
6.
Tidak dibenarkan ziarah (kunjungan) ke masjid-masjid kecuali pada
ketiga masjid, yaitu masjidil Haram (Mekah), masjidil Aqsha (Baitul
Maqdis), dan masjidku ini (Madinah). (HR. Bukhari dan Muslim)
7.
Shalat di masjidku ini lebih afdol (utama) dari seribu shalat di
masjid-masjid lainnya, kecuali masjidil Haram, dan shalat di masjidil
Haram lebih afdol (utama) dari seratus shalat di masjidku ini. (HR.
Ahmad)
8. Apabila seorang mengantuk saat shalat Jum’at di masjid
maka hendaklah pindah tempat duduknya ke tempat duduk lainnya. (HR. Al
Hakim dan Al-Baihaqi)
9. Bila seorang masuk ke masjid hendaklah shalat (sunnat) dua rakaat sebelum duduk. (HR. Ahmad)
10. Apabila seorang isteri minta ijin suaminya untuk pergi ke masjid maka janganlah sang suami melarangnya. (HR. Bukhari)
11. Sebaik-baik masjid (tempat bersujud) untuk wanita ialah dalam rumahnya sendiri. (HR. Al-Baihaqi dan Asysyihaab)
12. Tidak ada shalat bagi tetangga masjid, selain dalam masjid. (HR. Adarqathani)
13.
Apabila kamu melihat orang yang terbiasa masuk masjid maka saksikanlah
bahwa dia beriman karena sesungguhnya Allah telah berfirman dalam surat
At taubah ayat 18: “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah lah
orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap
mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun)
selain kepada Allah. Maka mereka lah orang-orang yang diharapkan
termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (HR. Ahmad dan
Tirmidzi)
14. Beritakanlah kabar gembira kepada orang-orang yang
berjalan kaki di malam gelap-gulita menuju masjid bahwa bagi mereka
cahaya yang terang-benderang di hari kiamat. (HR. Al Hakim dan Tirmidzi)
15.
Barangsiapa membangun untuk Allah sebuah masjid (mushola) walaupun
sebesar kandang unggas (rumah gubuk) maka Allah akan membangun baginya
rumah di surga. (HR. Asysyihaab dan Al Bazzar)
16. Nabi Saw
bertanya kepada malaikat Jibril As, “Wahai Jibril, tempat manakah yang
paling disenangi Allah?” Jibril As menjawab, “Masjid-masjid dan yang
paling disenangi ialah orang yang pertama masuk dan yang terakhir ke
luar meninggalkannya.” Nabi Saw bertanya lagi,” Tempat manakah yang
paling tidak disukai oleh Allah Ta’ala?” Jibril menjawab, “Pasar-pasar
dan orang-orang yang paling dahulu memasukinya dan paling akhir
meninggalkannya.” (HR. Muslim)
Keutamaan Takwa
1.
Barangsiapa mengucapkan “Laa ilaaha illallah” dengan ikhlas, masuk
surga. Para sahabat bertanya, “Apa keikhlasannya, ya Rasulullah?” Nabi
Saw menjawab, “Memagarinya (melindunginya) dari segala apa yang
diharamkan Allah.” (HR. Ath-Thabrani)
2. Tiap orang yang bertakwa termasuk keluarga Muhammad (umat Muhammad). (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
3.
Kemuliaan dunia adalah kekayaan dan kemuliaan akhirat adalah ketakwaan.
Kamu, baik laki-laki maupun perempuan, kemuliaanmu adalah kekayaanmu,
keutamaanmu adalah ketakwaanmu, kedudukanmu adalah akhlakmu dan
(kebanggaan) keturunanmu adalah amal perbuatanmu. (HR. Ad-Dailami)
4.
Rasulullah Saw ditanya tentang sebab-sebab paling banyak yang
memasukkan manusia ke surga. Beliau menjawab, “Ketakwaan kepada Allah
dan akhlak yang baik.” Beliau ditanya lagi, “Apa penyebab banyaknya
manusia masuk neraka?” Rasulullah Saw menjawab, “Mulut dan kemaluan.”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)
5. Bertakwalah kepada Allah
dimanapun kamu berada dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan
baik, niscaya menghapusnya. Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang
luhur. (HR. Tirmidzi)
6. Tiadalah kamu beriman sehingga perilaku hawa nafsumu sesuai dengan tuntunan ajaran yang aku bawa. (HR. Ath-Thabrani)
7.
Bertakwalah kepada Allah karena itu adalah kumpulan segala kebaikan,
dan berjihadlah di jalan Allah karena itu adalah kerahiban kaum
muslimin, dan berzikirlah kepada Allah serta membaca kitabNya karena itu
adalah cahaya bagimu di dunia dan ketinggian sebutan bagimu di langit.
Kuncilah lidah kecuali untuk segala hal yang baik. Dengan demikian kamu
dapat mengalahkan setan. (HR. Ath-Thabrani)
8. Cukup berdosa orang yang jika diingatkan agar bertakwa kepada Allah, dia marah. (HR. Ath-Thabrani)
Keutamaan Ta’at Kepada Allah
1. Kebahagiaan yang paling bahagia ialah panjang umur dalam ketaatan kepada Allah. (HR. Ad-Dailami dan Al Qodho’i)
2.
Di antara wahyu Allah kepada nabi Dawud As : “Tiada seorang hamba yang
taat kepada-Ku melainkan Aku memberinya sebelum dia minta, dan
mengabulkan permohonannya sebelum dia berdoa, dan mengampuni dosanya
sebelum dia mohon pengampunan (istighfar).” (HR. Ad-Dailami)
3.
Semua umatku masuk surga kecuali orang yang menolaknya. Mendengar sabda
tersebut para sahabat bertanya, “Siapa orang yang menolak itu, ya
Rasulullah?” Rasulullah Saw menjawab, “Orang yang menentang (perintah
dan larangan)ku adalah orang yang menolak masuk surga.” (HR. Bukhari)
4.
Barangsiapa mencari keridhoan manusia dengan apa yang memurkakan Allah,
maka orang-orang yang tadinya memuji akan berobah mencelanya. Namun
barangsiapa mengutamakan ketaatan kepada Allah, meskipun berakibat
orang-orang menjadi marah kepadanya maka cukuplah Allah yang menjadi
penolong dan pembelanya dalam menghadapi permusuhan tiap musuh,
kedengkian tiap pendengki dan kezaliman tiap orang zalim. (HR. Aththusi)
5.
Apa yang aku larang jauhilah dan apa yang aku perintahkan kerjakanlah
sampai batas kemampuanmu. Sesungguhnya Allah telah membinasakan
orang-orang sebelum kamu disebabkan terlalu banyak menuntut dan
menentang nabi-nabinya. (HR. Bukhari)
6. Tidak ada ketaatan kepada orang yang tidak taat kepada Allah. (Abu Ya’la)
7. Ketaatan hanya untuk perbuatan makruf. (HR. Bukhari)
8. Tiada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Pencipta (Allah). (HR. Ahmad dan Al Hakim)
9.
Sebaik-baik pemimpin adalah yang kamu cintai dan mereka mencintaimu.
Kamu mendoakan mereka dan mereka mendoakanmu. Sejahat-jahat pemimpin
adalah yang kamu benci dan mereka membencimu. Kamu kutuk mereka dan
mereka mengutukmu. Para sahabat bertanya, “Tidakkah kami mengangkat
senjata terhadap mereka?” Nabi Saw menjawab, “Jangan, selama mereka
mendirikan shalat. Jika kamu lihat perkara-perkara yang tidak kamu
senangi maka bencimu terhadap amal perbuatannya dan jangan membatalkan
ketaatanmu kepada mereka.” (HR. Muslim)
Keutamaan Ikhlas
1.
Barangsiapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai
karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka
sempurnalah imannya. (HR. Abu Dawud)
2. Sesungguhnya Allah Ta’ala
tidak memandang postur tubuhmu dan tidak pula pada kedudukan maupun
harta kekayaanmu, tetapi Allah memandang pada hatimu. Barangsiapa
memiliki hati yang shaleh maka Allah menyukainya. Bani Adam yang paling
dicintai Allah ialah yang paling bertakwa. (HR. Ath-Thabrani dan Muslim)
3.
Barangsiapa memurkakan (membuat marah) Allah untuk meraih keridhaan
manusia maka Allah murka kepadanya dan menjadikan orang yang semula
meridhoinya menjadi murka kepadanya. Namun barangsiapa meridhokan Allah
(meskipun) dalam kemurkaan manusia maka Allah akan meridhoinya dan
meridhokan kepadanya orang yang pernah memurkainya, sehingga Allah
memperindahnya, memperindah ucapannya dan perbuatannya dalam
pandanganNya. (HR. Ath-Thabrani)
4. Barangsiapa memperbaiki
hubungannya dengan Allah maka Allah akan menyempurnakan hubungannya
dengan manusia. Barangsiapa memperbaiki apa yang dirahasiakannya maka
Allah akan memperbaiki apa yang dilahirkannya (terang-terangan). (HR. Al
Hakim)
5. Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah, “Ya
Rasulullah, seseorang melakukan amal (kebaikan) dengan dirahasiakan dan
bila diketahui orang dia juga menyukainya (merasa senang).” Rasulullah
Saw berkata, “Baginya dua pahala yaitu pahala dirahasiakannya dan pahala
terang-terangan.” (HR. Tirmidzi)
6. Agama ialah keikhlasan
(kesetiaan atau loyalitas). Kami lalu bertanya, “Loyalitas kepada siapa,
ya Rasulullah?” Rasulullah Saw menjawab, “Kepada Allah, kepada kitabNya
(Al Qur’an), kepada rasulNya, kepada penguasa muslimin dan kepada
rakyat awam.” (HR. Muslim)
Penjelasan:
Artinya, patuh dan
taat kepada penguasa dan pemerintahan (muslim) dan setia kepada rakyat
dengan tidak merugikan mereka atau mengambil (mengurangi) hak mereka.
Akibat Berbuat Maksiat
1. Janganlah memandang kecil kesalahan (dosa) tetapi pandanglah kepada siapa yang kamu durhakai. (HR. Aththusi)
2.
Perbuatan dosa mengakibatkan sial terhadap orang yang bukan pelakunya.
Kalau dia mencelanya maka bisa terkena ujian (cobaan). Kalau
menggunjingnya dia berdosa dan kalau dia menyetujuinya maka seolah-olah
dia ikut melakukannya. (HR. Ad-Dailami)
3. Demi yang jiwaku dalam
genggamanNya. Tiada dua orang saling mengasihi lalu bertengkar dan
berpisah kecuali karena akibat dosa yang dilakukan oleh salah seorang
dari keduanya. (HR. Ad-Dailami)
4. Celaka orang yang banyak zikrullah dengan lidahnya tapi bermaksiat terhadap Allah dengan perbuatannya. (HR. Ad-Dailami)
5.
Barangsiapa mencari pujian manusia dengan bermaksiat terhadap Allah
maka orang-orang yang memujinya akan berbalik mencelanya. (Ibnu Hibban)
6.
Tiada sesuatu yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tiada yang
dapat menambah umur kecuali amal kebajikan. Sesungguhnya seorang
diharamkan rezeki baginya disebabkan dosa yang diperbuatnya. (HR.
Tirmidzi dan Al Hakim)
7. Tiada seorang hamba ditimpa musibah
baik di atasnya maupun di bawahnya melainkan sebagai akibat dosanya.
Sebenarnya Allah telah memaafkan banyak dosa-dosanya. Lalu Rasulullah
membacakan ayat 30 dari surat Asy Syuura yang berbunyi : “Dan apa saja
musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu
sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalahanmu).” (Mashabih Assunnah)
8. Apabila suatu
kesalahan diperbuat di muka bumi maka orang yang melihatnya dan tidak
menyukainya seolah-olah tidak hadir di tempat, dan orang yang tidak
melihat terjadinya perbuatan tersebut tapi rela maka seolah-olah dia
melihatnya. (HR. Abu Dawud)
9. Barangsiapa meninggalkan maksiat
terhadap Allah karena takut kepada Allah maka ia akan memperoleh
keridhoan Allah. (HR. Abu Ya’la)
10. Jangan mengkafirkan orang
yang shalat karena perbuatan dosanya meskipun (pada kenyataannya) mereka
melakukan dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah
bersama tiap penguasa. (HR. Ath-Thabrani)
11. Jangan menyiksa dengan siksaan Allah (artinya: menyiksa dengan api). (HR. Tirmidzi dan Al-Baihaqi)
12.
Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang maka dipercepat
tindakan hukuman atas dosanya (di dunia) dan jika Allah menghendaki bagi
hambanya keburukan maka disimpan dosanya sampai dia harus menebusnya
pada hari kiamat. (HR. Tirmidzi dan Al-Baihaqi)
13. Apabila kamu
menyaksikan pemberian Allah dari materi dunia atas perbuatan dosa
menurut kehendakNya, maka sesungguhnya itu adalah uluran waktu dan
penangguhan tempo belaka. Kemudian Rasulullah Saw membaca firman Allah
Swt dalam surat Al An’am ayat 44 : “Maka tatkala mereka melupakan
peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua
pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira
dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan
sekonyong-konyong, maka ketika itu, mereka terdiam berputus asa.” (HR.
Ahmad dan Ath-Thabrani)
14. Sayyidina Ali Ra berkata: “Rasulullah
menyuruh kami bila berjumpa dengan ahli maksiat agar kami berwajah
masam.” (HR. Ath-Thahawi)
15. Bagaimana kamu apabila dilanda lima
perkara? Kalau aku (Rasulullah Saw), aku berlindung kepada Allah agar
tidak menimpa kamu atau kamu mengalaminya. (1) Jika perbuatan mesum
dalam suatu kaum sudah dilakukan terang-terangan maka akan timbul wabah
dan penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu.
(2) Jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat maka Allah akan
menghentikan turunnya hujan. Kalau bukan karena binatang-binatang ternak
tentu hujan tidak akan diturunkan sama sekali. (3) Jika suatu kaum
mengurangi takaran dan timbangan maka Allah akan menimpakan paceklik
beberapa waktu, kesulitan pangan dan kezaliman penguasa. (4) Jika
penguasa-penguasa mereka melaksanakan hukum yang bukan dari Allah maka
Allah akan menguasakan musuh-musuh mereka untuk memerintah dan merampas
harta kekayaan mereka. (5) Jika mereka menyia-nyiakan Kitabullah dan
sunah Nabi maka Allah menjadikan permusuhan di antara mereka. (HR. Ahmad
dan Ibnu Majah)
16. Tiada seorang berzina selagi dia mukmin,
tiada seorang mencuri selagi dia mukmin, dan tiada seorang minum khamar
pada saat minum dia mukmin. (Mutafaq’alaih)
Penjelasan:
Ketika seorang berzina, mencuri dan minum khamar maka pada saat itu dia bukan seorang mukmin.
17.
Aku beritahukan yang terbesar dari dosa-dosa besar. (Rasulullah Saw
mengulangnya hingga tiga kali). Pertama, mempersekutukan Allah. Kedua,
durhaka terhadap orang tua, dan ketiga, bersaksi palsu atau berucap
palsu. (Ketika itu beliau sedang berbaring kemudian duduk dan mengulangi
ucapannya tiga kali, sedang kami mengharap beliau berhenti
mengucapkannya). (Mutafaq’alaih)
18. Rasulullah Saw melaknat
orang yang mengambil riba, yang menjalani riba dan kedua orang saksi
mereka. Beliau bersabda: “Mereka semua sama (berdosanya)”. (HR. Ahmad)
19.
Ada empat kelompok orang yang pada pagi dan petang hari dimurkai Allah.
Para sahabat lalu bertanya, “Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?”
Beliau lalu menjawab, “Laki-laki yang menyerupai perempuan, perempuan
yang menyerupai laki-laki, orang yang menyetubuhi hewan, dan orang-orang
yang homoseks. (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)
20. Tiap minuman yang memabukkan adalah haram (baik sedikit maupun banyak). (HR. Ahmad)
21.
Allah menyukai keringanan-keringanan perintahNya (rukhsah) dilaksanakan
sebagaimana Dia membenci dilanggarnya laranganNya. (HR. Ahmad)
22.
Ada tiga jenis orang yang diharamkan Allah masuk surga, yaitu pemabuk
berat, pendurhaka terhadap kedua orang tua, dan orang yang merelakan
kejahatan berlaku dalam keluarganya (artinya, merelakan isteri atau anak
perempuannya berbuat serong atau zina). (HR. An-Nasaa’i dan Ahmad)
Perintah Beramar Ma’ruf Nahi Mungkar
1.
Hendaklah kamu beramar ma’ruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi
mungkar (melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan
menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat di antara kamu,
kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kamu berdo’a dan tidak
dikabulkan (do’a mereka). (HR. Abu Zar)
2. Wahai segenap manusia,
menyerulah kepada yang ma’ruf dan cegahlah dari yang mungkar sebelum
kamu berdo’a kepada Allah dan tidak dikabulkan serta sebelum kamu
memohon ampunan dan tidak diampuni. Amar ma’ruf tidak mendekatkan ajal.
Sesungguhnya para robi Yahudi dan rahib Nasrani ketika mereka
meninggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, dilaknat oleh Allah melalui
ucapan nabi-nabi mereka. Mereka juga ditimpa bencana dan malapetaka.
(HR. Ath-Thabrani)
3. Masih tetap ada dari segolongan umatku yang
menegakkan perintah Allah. Tidak menghambat dan tidak mengecewakan
mereka orang-orang yang menentangnya sampai tiba keputusan Allah. Mereka
masih tetap konsisten (mantap / teguh) baik dalam sikap maupun
pendiriannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Jihad paling afdhol
ialah menyampaikan perkataan yang adil di hadapan penguasa yang zalim
dan kejam. (HR. Aththusi dan Ashhabussunan)
5. Barangsiapa
melihat suatu kemungkaran hendalah ia merobah dengan tangannya. Apabila
tidak mampu, hendaklah dengan lidahnya (ucapan), dan apabila tidak mampu
juga hendaklah dengan hatinya dan itulah keimanan yang paling lemah.
(HR. Muslim)
Penjelasan:
Dengan hati artinya tindakan
aktif dan bukan pasif, senantiasa membencinya dan berusaha merubahnya
seandainya ia sudah mampu atau berani.
6. Apabila Allah memberi
hidayah kepada seseorang melalui upayamu, itu lebih baik bagimu daripada
apa yang dijangkau matahari sejak terbit sampai terbenam.[1] (HR.
Bukhari dan Muslim)
7. Bukanlah dari golongan kami orang yang
tidak mengasihi dan menyayangi yang lebih muda, tidak menghormati orang
yang lebih tua, dan tidak beramar ma’ruf dan nahi mungkar. (HR.
Tirmidzi)
8. Permudahlah (segala urusan), jangan dipersulit dan ajaklah dengan baik, jangan menyebabkan orang menjauh. (HR. Bukhari)
Penjelasan:
Ini termasuk kebijaksanaan dalam berdakwah dan beramar ma’ruf nahi mungkar.
9.
Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang, maka dirinya
sendirilah yang dijadikannya untuk mengingatkannya, menyuruhnya dan
melarangnya. (HR. dan Ad-Dailami)
10. Pada hari kiamat seorang
dihadapkan dan dilempar ke neraka. Orang-orang bertanya, “Hai Fulan,
mengapa kamu masuk neraka sedang kamu dahulu adalah orang yang menyuruh
berbuat ma’ruf dan mencegah perbuatan mungkar?” Orang tersebut menjawab,
“Ya benar, dahulu aku menyuruh berbuat ma’ruf, sedang aku sendiri tidak
melakukannya. Aku mencegah orang lain berbuat mungkar sedang aku
sendiri melakukannya.” (HR. Muslim)
11. Nabi meniadakan pemberian pelajaran untuk beberapa hari karena khawatir kejenuhan kami. (HR. Ahmad)
12.
Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla tidak menyiksa (orang) awam karena
perbuatan (dosa) orang-orang yang khusus sehingga mereka melihat mungkar
di hadapan mereka dan mereka mampu mencegahnya, tetapi mereka tidak
mencegahnya (menentangnya). Kalau mereka berbuat demikian maka Allah
menyiksa yang khusus dan yang awam (seluruhnya). (HR. Ahmad dan
Ath-Thabrani)
13. Tidaklah seharusnya orang menyuruh yang ma’ruf
dan mencegah yang mungkar kecuali memiliki tiga sifat, yakni
lemah-lembut dalam menyuruh dan dalam melarang (mencegah), mengerti apa
yang harus dilarang dan adil terhadap apa yang harus dilarang. (HR.
Ad-Dailami)
14. Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi
Allah pada hari kiamat ialah yang paling banyak berkeliling di muka bumi
dengan bernasihat kepada manusia (makhluk Allah). (HR. Ath-Thahawi)
15.
Pada suatu hari Rasulullah Saw bersabda kepada para sahabatnya: “Kamu
kini jelas atas petunjuk dari Robbmu, menyuruh kepada yang ma’ruf,
mencegah dari yang mungkar dan berjihad di jalan Allah. Kemudian muncul
di kalangan kamu dua hal yang memabukkan, yaitu kemewahan hidup (lupa
diri) dan kebodohan. Kamu beralih kesitu dan berjangkit di kalangan kamu
cinta dunia. Kalau terjadi yang demikian kamu tidak akan lagi beramar
ma’ruf, nahi mungkar dan berjihad di jalan Allah. Di kala itu yang
menegakkan Al Qur’an dan sunnah, baik dengan sembunyi maupun
terang-terangan tergolong orang-orang terdahulu dan yang pertama-tama
masuk Islam. (HR. Al Hakim dan Tirmidzi)
Catatan Kaki:
[1] Dalam hadits lain dikatakan: “Lebih baik bagimu daripada memperoleh satu lembah berisi penuh ternak.”
Kebaikan dan Kebajikan
1.
Barangsiapa melapangkan kesusahan (kesempitan) untuk seorang mukmin di
dunia maka Allah akan melapangkan baginya kesusahan dari
kesusahan-kesusahan pada hari kiamat dan barangsiapa memudahkan
kesukaran seseorang maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan
akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan
menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah selalu menolong hamba
yang suka menolong kawannya. Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu
maka Allah akan mempermudah baginya jalan ke surga. Suatu kaum yang
berkumpul dalam sebuah rumah dari rumah-rumah Allah, bertilawat Al
Qur’an dan mempelajarinya bersama maka Allah akan menurunkan ketentraman
dan menaungi mereka dengan rahmat. Para malaikat mengitari mereka dan
Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan para malaikat yang ada di
sisiNya. Barangsiapa lambat dengan amalan-amalannya maka tidak dapat
dipercepat dengan mengandalkan keturunannya. (HR. Muslim)
2. Jangan meremehkan sedikitpun tentang makruf meskipun hanya menjumpai kawan dengan berwajah ceria (senyum). (HR. Muslim)
3.
Barangsiapa dibukakan baginya pintu kebaikan (rezeki) hendaklah
memanfaatkan kesempatan itu (untuk berbuat baik) sebab dia tidak
mengetahui kapan pintu itu akan ditutup baginya. (HR. Asysyihaab)
4. Kebaikan itu banyak tetapi pengamalnya (yang melaksanakannya) sedikit. (HR. Abu Hanifah)
5. Bagi Allah ada hamba-hambaNya yang dikhususkan melayani
kebutuhan-kebutuhan
orang banyak. Mereka berlindung kepadanya untuk memenuhi kebutuhan
mereka. Orang-orang itulah yang aman dari azab Allah. (HR. Ath-Thabrani)
6. Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan sama pahalanya seperti orang yang melakukannya. (HR. Bukhari).
7.
Barangsiapa memperoleh suatu yang makruf maka hendaklah menyebutnya
karena berarti dia mensyukurinya, dan kalau merahasiakannya (berarti)
dia mengkufuri nikmat itu. (HR. Ath-Thabrani)
8. Barangsiapa
menerima suatu kebajikan lalu berkata kepada pemberinya ucapan
“Jazakallahu khairon” (semoga Allah membalas anda dengan kebaikan) maka
sesungguhnya dia sudah berlebih-lebihan dalam berterima kasih. (HR.
Tirmidzi dan An-Nasaa’i)
9. Orang yang paling berat disiksa pada
hari kiamat ialah orang yang dipandang (dianggap) ada kebaikannya
padahal sebenarnya tidak ada kebaikannya sama sekali. (HR. Ad-Dailami)
10.
Barangsiapa ada kelebihan tempat (tempat yang kosong) dalam kendaraan
(punggung unta) hendaklah diberikan kepada orang yang tidak punya
kendaraan (diajak serta), dan barangsiapa punya kelebihan bekal
(perjalanan) maka hendaklah diberikannya kepada orang yang tidak punya
bekal. (HR. Muslim)
11. Janganlah kamu menjadi orang yang
“ikut-ikutan” dengan mengatakan “Kalau orang lain berbuat kebaikan, kami
pun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim kami pun akan
berbuat zalim”. Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, “Kalau
orang lain berbuat kebaikan kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang
lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya”. (HR. Tirmidzi)
Zakat dan Sodaqoh
1.
Bersodaqoh pahalanya sepuluh, memberi hutang (tanpa bunga) pahalanya
delapan belas, menghubungkan diri dengan kawan-kawan pahalanya dua puluh
dan silaturrahmi (dengan keluarga) pahalanya dua puluh empat. (HR. Al
Hakim)
2. Yang dapat menolak takdir ialah doa dan yang dapat memperpanjang umur yakni kebajikan (amal bakti). (HR. Ath-Thahawi)
3.
Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu sodaqoh
jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk
orang lain, dan anak (baik laki-laki maupun perempuan) yang
mendoakannya. (HR. Muslim)
4. Allah Tabaraka wata’ala berfirman
(di dalam hadits Qudsi): “Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah
hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (HR. Muslim)
5.
Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang
miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia
tidak merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tidak pernah
berbuka. (HR. Bukhari)
6. Seorang sahabat bertanya kepada
Rasulullah Saw, “Sodaqoh yang bagaimana yang paling besar pahalanya?”
Nabi Saw menjawab, “Saat kamu bersodaqoh hendaklah kamu sehat dan dalam
kondisi pelit (mengekang) dan saat kamu takut melarat tetapi mengharap
kaya. Jangan ditunda sehingga rohmu di tenggorokan baru kamu berkata
untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian.” (HR. Bukhari)
7.
Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya
hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR.
Ahmad)
8. Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sodaqoh) sebutir kurma. (Mutafaq’alaih)
9. Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi)
10.
Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari
kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi
datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani)
11. Tiada seorang bersodaqoh dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya. (HR. Ahmad)
12. Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sodaqohnya. (HR. Ahmad)
13.
Tiap muslim wajib bersodaqoh. Para sahabat bertanya, “Bagaimana kalau
dia tidak memiliki sesuatu?” Nabi Saw menjawab, “Bekerja dengan
ketrampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya lalu bersodaqoh.”
Mereka bertanya lagi. Bagaimana kalau dia tidak mampu?” Nabi menjawab:
“Menolong orang yang membutuhkan yang sedang teraniaya” Mereka bertanya:
“Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?” Nabi menjawab: “Menyuruh
berbuat ma’ruf.” Mereka bertanya: “Bagaimana kalau dia tidak
melakukannya?” Nabi Saw menjawab, “Mencegah diri dari berbuat kejahatan
itulah sodaqoh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
14. Apa yang kamu
nafkahkan dengan tujuan keridhoan Allah akan diberi pahala walaupun
hanya sesuap makanan ke mulut isterimu. (HR. Bukhari)
15. Sodaqoh paling afdhol ialah yang diberikan kepada keluarga dekat yang bersikap memusuhi. (HR. Ath-Thabrani dan Abu Dawud)
16.
Satu dirham memacu dan mendahului seratus ribu dirham. Para sahabat
bertanya, “Bagaimana itu?” Nabi Saw menjawab, “Seorang memiliki (hanya)
dua dirham. Dia mengambil satu dirham dan bersodaqoh dengannya, dan
seorang lagi memiliki harta-benda yang banyak, dia mengambil seratus
ribu dirham untuk disodaqohkannya. (HR. An-Nasaa’i)
17. Orang
yang membatalkan pemberian (atau meminta kembali) sodaqohnya seperti
anjing yang makan kembali muntahannya. (HR. Bukhari)
18.
Barangsiapa diberi Allah harta dan tidak menunaikan zakatnya kelak pada
hari kiamat dia akan dibayang-bayangi dengan seekor ular bermata satu di
tengah dan punya dua lidah yang melilitnya. Ular itu mencengkeram kedua
rahangnya seraya berkata, “Aku hartamu, aku pusaka simpananmu.”
Kemudian nabi Saw membaca firman Allah surat Ali Imran ayat 180: “Dan
janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada
mereka dari karuniaNya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka.
Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka
bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan
kepunyaan Allah lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi.”
(HR. Bukhari)
19. Tiada suatu kaum menolak mengeluarkan zakat
melainkan Allah menimpa mereka dengan paceklik (kemarau panjang dan
kegagalan panen). (HR. Ath-Thabrani)
20. Barangsiapa memperoleh
keuntungan harta (maka) tidak wajib zakat sampai tibanya perputaran
tahun bagi pemiliknya. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Penjelasan:
Perhitungan perputaran tahun (haul) untuk menunaikan zakat ialah dengan tahun Hijriyah.
21.
Tentang sodaqoh yang seakan-akan berupa hadiah, Rasulullah Saw
bersabda: “Baginya sodaqoh dan bagi kami itu adalah hadiah.” (HR.
Bukhari)
22. Allah Ta’ala mengharamkan bagiku dan bagi keluarga rumah tanggaku untuk menerima sodaqoh. (HR. Ibnu Saad)
Penjelasan:
Nabi Saw menolak menerima sodaqoh tetapi mau menerima hadiah.
23.
Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang
diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada sasaran yang benar, dan
seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksaan lalu dia melaksanakan dan
mengajarkannya. (HR. Bukhari)
24. Allah mengkhususkan pemberian
kenikmatanNya kepada kaum-kaum tertentu untuk kemaslahatan umat manusia.
Apabila mereka membelanjakannya (menggunakannya) untuk kepentingan
manusia maka Allah akan melestarikannya namun bila tidak, maka Allah
akan mencabut kenikmatan itu dan menyerahkannya kepada orang lain. (HR.
Ath-Thabrani dan Abu Dawud)
25. Abu Dzarr Ra berkata bahwa
beberapa sahabat Rasulullah Saw berkata, “Ya Rasulullah, orang-orang
yang banyak hartanya memperoleh lebih banyak pahala. Mereka shalat
sebagaimana kami shalat dan berpuasa sebagaimana kami berpuasa dan
mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Nabi Saw lalu
berkata, “Bukankah Allah telah memberimu apa yang dapat kamu sedekahkan?
Tiap-tiap ucapan tasbih adalah sodaqoh, takbir sodaqoh, tahmid sodaqoh,
tahlil sodaqoh, amar makruf sodaqoh, nahi mungkar sodaqoh, bersenggama
dengan isteri pun sodaqoh.” Para sahabat lalu bertanya, “Apakah
melampiaskan syahwat mendapat pahala?” Nabi menjawab, “Tidakkah kamu
mengerti bahwa kalau dilampiaskannya di tempat yang haram bukankah itu
berdosa? Begitu pula kalau syahwat diletakkan di tempat halal, maka dia
memperoleh pahala. (HR. Muslim)
26. Tiap-tiap amalan makruf
(kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah
berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu
untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad)
Wudhu
1. Barangsiapa berwudhu dengan baik keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya sampaipun dari bawah kuku-kukunya. (HR. Muslim)
2.
Seorang yang selesai berwudhu dengan baik lalu mengucapkan dua kalimat
syahadat, maka akan terbuka baginya pintu-pintu surga yang delapan dan
dia dapat memasuki pintu yang mana saja dia kehendaki. (HR. Ahmad dan
Ibnu Majah)
3. Nabi Saw melihat Sa’ad yang sedang berwudhu, lalu
beliau berkata, “Pemborosan apa itu, hai Sa’ad?” Sa’ad bertanya, “Apakah
dalam wudhu ada pemborosan?” Nabi menjawab, “Ya, meskipun kamu
(berwudhu) di sungai yang mengalir.” (HR. Ahmad)
4. Akan terdapat
dalam umat ini suatu kaum yang berlebih-lebihan dalam berwudhu dan
berdo’a. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)
5. Umatku akan
tampil pada hari kiamat dengan wajah bersinar, tangan serta kakinya
berkilauan dari bekas-bekas wudhu. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)
Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
1.
Sesungguhnya amal-amal perbuatan tergantung niatnya, dan bagi tiap
orang apa yang diniatinya. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan
rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa
hijrahnya untuk meraih kesenangan dunia atau menikahi wanita, maka
hijrahnya adalah kepada apa yang ia hijrahi. (HR. Bukhari)
2. Niat seorang mukmin lebih baik dari amalnya. (HR. Al-Baihaqi dan Ar-Rabii’)
3. Manusia dibangkitkan kembali kelak sesuai dengan niat-niat mereka. (HR.-Muslim)
Keutamaan Do’a
1. Do’a adalah otaknya (sumsum / inti nya) ibadah. (HR. Tirmidzi)
2. Do’a adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi. (HR. Abu Ya’la)
3. Akan muncul dalam umat ini suatu kaum yang melampaui batas kewajaran dalam berthaharah dan berdoa. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Penjelasan:
Yakni
berdoa atau mohon kepada Allah untuk hal-hal yang tidak mungkin
dikabulkan karena berlebih-lebihan atau untuk sesuatu yang tidak halal
(haram).
4. Do’a seorang muslim untuk kawannya yang tidak hadir dikabulkan Allah. (HR. Ahmad)
5.
Jangan mendo’akan keburukan (mengutuk) dirimu atau anak-anakmu atau
pelayan-pelayanmu (karyawan-karyawanmu) atau harta-bendamu, (karena
khawatir) saat itu cocok dikabulkan segala permohonan dan terkabul pula
do’amu. (Ibnu Khuzaimah)
6. Rasulullah Saw ditanya, “Pada waktu
apa do’a (manusia) lebih didengar (oleh Allah)?” Lalu Rasulullah Saw
menjawab, “Pada tengah malam dan pada akhir tiap shalat fardhu (sebelum
salam).” (Mashabih Assunnah)
7. Do’a yang diucapkan antara azan dan iqomat tidak ditolak (oleh Allah). (HR. Ahmad)
8.
Bermohonlah kepada Robbmu di saat kamu senang (bahagia). Sesungguhnya
Allah berfirman (hadits Qudsi): “Barangsiapa berdo’a (memohon) kepada-Ku
di waktu dia senang (bahagia) maka Aku akan mengabulkan do’anya di
waktu dia dalam kesulitan, dan barangsiapa memohon maka Aku kabulkan dan
barangsiapa rendah diri kepada-Ku maka aku angkat derajatnya, dan
barangsiapa mohon kepada-Ku dengan rendah diri maka Aku merahmatinya dan
barangsiapa mohon pengampunanKu maka Aku ampuni dosa-dosanya.”
(Ar-Rabii’)
9. Ada tiga orang yang tidak ditolak do’a mereka: (1)
Orang yang berpuasa sampai dia berbuka; (2) Seorang penguasa yang adil;
(3) Dan do’a orang yang dizalimi (teraniaya). Do’a mereka diangkat oleh
Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah
bertitah, “Demi keperkasaanKu, Aku akan memenangkanmu (menolongmu)
meskipun tidak segera.” (HR. Tirmidzi)
10. Barangsiapa tidak (pernah) berdo’a kepada Allah maka Allah murka kepadanya. (HR. Ahmad)
11.
Apabila kamu berdo’a janganlah berkata, “Ya Allah, ampunilah aku kalau
Engkau menghendaki, rahmatilah aku kalau Engkau menghendaki dan berilah
aku rezeki kalau Engkau menghendaki.” Hendaklah kamu bermohon dengan
kesungguhan hati sebab Allah berbuat segala apa yang dikehendakiNya dan
tidak ada paksaan terhadap-Nya. (HR. Bukhari dan Muslim)
12. Hati
manusia adalah kandungan rahasia dan sebagian lebih mampu merahasiakan
dari yang lain. Bila kamu mohon sesuatu kepada Allah ‘Azza wajalla maka
mohonlah dengan penuh keyakinan bahwa do’amu akan terkabul. Allah tidak
akan mengabulkan do’a orang yang hatinya lalai dan lengah. (HR. Ahmad)
13.
Apabila tersisa sepertiga dari malam hari Allah ‘Azza wajalla turun ke
langit bumi dan berfirman : “Adakah orang yang berdo’a kepadaKu akan
Kukabulkan? Adakah orang yang beristighfar kepada-Ku akan Kuampuni dosa-
dosanya? Adakah orang yang mohon rezeki kepada-Ku akan Kuberinya
rezeki? Adakah orang yang mohon dibebaskan dari kesulitan yang
dialaminya akan Kuatasi kesulitan-kesulitannya?” Yang demikian (berlaku)
sampai tiba waktu fajar (subuh). (HR. Ahmad)
14. Tidak ada yang lebih utama (mulia) di sisi Allah daripada do’a. (HR. Ahmad)
15.
Tiga macam do’a dikabulkan tanpa diragukan lagi, yaitu doa orang yang
dizalimi, doa kedua orang tua, dan do’a seorang musafir (yang berpergian
untuk maksud dan tujuan baik). (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
16.
Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Murah hati. Allah malu bila ada
hambaNya yang menengadahkan tangan (memohon kepada-Nya) lalu
dibiarkannya kosong dan kecewa. (HR. Al Hakim)
17. Tiada seorang
berdo’a kepada Allah dengan suatu do’a, kecuali dikabulkanNya, dan dia
memperoleh salah satu dari tiga hal, yaitu dipercepat terkabulnya
baginya di dunia, disimpan (ditabung) untuknya sampai di akhirat, atau
diganti dengan mencegahnya dari musibah (bencana) yang serupa. (HR.
Ath-Thabrani)
18. Barangsiapa mendo’akan keburukan terhadap orang
yang menzaliminya maka dia telah memperoleh kemenangan. (HR. Tirmidzi
dan Asysyihaab)
19. Ambillah kesempatan berdo’a ketika hati sedang lemah-lembut karena itu adalah rahmat. (HR.Ad-Dailami)
20.
Ali Ra berkata, “Rasulullah Saw lewat ketika aku sedang mengucapkan
do’a : “Ya Allah, rahmatilah aku”. Lalu beliau menepuk pundakku seraya
berkata, “Berdoalah juga untuk umum (kaum muslimin) dan jangan khusus
untuk pribadi. Sesungguhnya perbedaan antara doa untuk umum dan khusus
adalah seperti bedanya langit dan bumi.” (HR. Ad-Dailami)
21.
Berlindunglah kepada Allah dari kesengsaraan (akibat) bencana dan dari
kesengsaraan hidup yang bersinambungan (silih berganti dan
terus-menerus) dan suratan takdir yang buruk dan dari cemoohan
lawan-lawan. (HR. Muslim)
22. Tidak ada manfaatnya bersikap siaga
dan berhati-hati menghadapi takdir, akan tetapi do’a bermanfaat bagi
apa yang diturunkan dan bagi apa yang tidak diturunkan. Oleh karena itu
hendaklah kamu berdoa, wahai hamba-hamba Allah. (HR. Ath-Thabrani)
23.
Barangsiapa ingin agar do’anya terkabul dan kesulitan-kesulitannya
teratasi hendaklah dia menolong orang yang dalam kesempitan. (HR. Ahmad)
Perintah Takut Kepada Allah
1.
Barangsiapa takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala sesuatu
takut kepadanya. Barangsiapa tidak takut kepada Allah, maka Allah
menjadikannya takut kepada segala sesuatu. (HR. Al-Baihaqi)
2.
Dua mata yang diharamkan dari api neraka, yaitu mata yang menangis
karena takut kepada Allah, dan mata yang menjaga serta mengawasi Islam
dan umatnya dari (gangguan) kaum kafir. (HR. Bukhari)
3. Puncak
kebijaksanaan ialah takut kepada Allah. Sebaik-baik yang tertanam dalam
hati adalah keyakinan. Keragu-raguan (dalam beriman) termasuk kekufuran.
Kepemudaan termasuk kelompok kegilaan (radikal). Orang bahagia adalah
yang dapat mengambil pelajaran dari (peristiwa) orang lain, dan orang
yang sengsara ialah yang sengsara sejak dalam kandungan ibunya. Tiap
perkara yang akan datang adalah dekat. (HR. Al-Baihaqi)
Ibadah
1. Laksanakan segala apa yang diwajibkan Allah, niscaya kamu menjadi orang yang paling bertakwa. (HR. Ath-Thabrani)
2. Laksanakan ibadah sesuai kemampuanmu. Jangan membiasakan ibadah lalu meninggalkannya. (HR. Ad-Dailami)
Penjelasan:
Yang dimaksud ialah ibadah selain yang fardhu.
3. Amal (kebaikan) yang disukai Allah ialah yang langgeng meskipun sedikit. (HR. Bukhari)
4. Sebaik-baik ibadah ialah yang dirahasiakan (tidak dipamerkan). (HR. Asysyihaab)
5.
Allah Azza Wajalla berfirman (hadits Qudsi): “Hai anak Adam, luangkan
waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan
kekayaan dan Aku menghindarkan kamu dari kemelaratan. Kalau tidak, Aku
penuhi tanganmu dengan kesibukan kerja dan Aku tidak menghindarkan kamu
dari kemelaratan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
6. Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan dalam beribadah. (HR. Muslim)
Sabda Nabi Saw Tentang Kuburan
1. Tiada aku melihat sesuatu (yang buruk) kecuali (pasti) kuburan lebih buruk daripadanya. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
2. Jangan kamu shalat menghadap kuburan dan jangan shalat di atas kuburan. (HR. Ath-Thabrani)
3.
Rasulullah Saw melarang mengapur kuburan, duduk-duduk di atas kuburan
dan membina kuburan (dibangun dengan bata atau dengan ubin, dll) tapi
berupa unggukan tanah saja setinggi satu jengkal. (HR. Muslim)
4.
Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani karena menjadikan kuburan
nabi-nabi mereka sebagai tempat beribadah. (HR. Bukhari)
Syuhada
1.
Para syuhada di lembah (tepi) sungai dekat pintu surga dalam bangunan
berkubah berwarna hijau. Rezeki mereka datang dari surga setiap pagi dan
petang. (HR. Al Hakim dan Ahmad)
2. Seorang yang mati syahid
diberi enam perkara pada saat tetesan darah pertama mengalir dari
tubuhnya: semua dosanya diampuni (tertebus), diperlihatkan tempatnya di
surga, dikawinkan dengan bidadari, diamankan dari kesusahan kedahsyatan
yang besar (pada hari kiamat), diselamatkan dari siksa kubur dan dihiasi
dengan pakaian keimanan. (HR. Bukhari)
3. Barangsiapa tewas membela Ad Dien-Nya (maka) matinya syahid. (HR. Asysyihaab)
4.
Orang yang tewas melindungi keselamatan hartanya mati syahid dan yang
membela (kehormatan) keluarganya mati syahid dan membela dirinya
(kehormatan dan jiwanya) juga mati syahid. (HR. Ahmad)
5. Bagi
Allah ada hamba-hamba yang dipelihara dari pembunuhan. Umur mereka
diperpanjang dengan amalan kebaikan-kebaikari. Rezeki mereka
ditingkatkan dan hidup mereka serba selamat. Nyawa mereka direnggut
dengan selamat di atas tempat tidurnya dan mereka diberi kedudukan
sebagai syuhada. (HR. Ath-Thabrani)
6. Barangsiapa mencari mati
syahid dengan sungguh-sungguh maka akan Aku berikan kepadanya meskipun
dia mati di atas tempat tidurnya. (HR. Muslim)
7. Seorang yang mati syahid dapat memberi syafaat bagi tujuh puluh anggota keluarganya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
8.
Apa yang dirasakan seorang syahid yang terbunuh adalah seperti yang
dirasakan seorang dari cubitan (gigitan serangga). (Tirmidzi dan Ibnu
Majah)
9. Pahlawan syuhada adalah Hamzah bin Abdul Mutthalib dan
orang yang menghadap penguasa yang zalim dan kejam untuk menyuruhnya
berlaku baik dan mencegahnya berbuat kejahatan lalu dia dibunuh oleh
penguasa. (HR. Al Hakim)
Maut dan Kematian
1. Kematian yang paling mulia ialah matinya para syuhada. (Asysyihaab)
2.
Tidak ada sesuatu yang dialami anak Adam dari apa yang diciptakan Allah
lebih berat daripada kematian. Baginya kematian lebih ringan daripada
apa yang akan dialaminya sesudahnya. (HR. Ahmad)
3. Perbanyaklah
mengingat kematian. Seorang hamba yang banyak mengingat mati maka Allah
akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya akan sakitnya
kematian. (HR. Ad-Dailami)
Penjelasan:
Dia mati dengan mudah dan ringan pada saat sakaratul maut.
Bid’ah dan Kesesatan
1. Barangsiapa menimbulkan sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kita yang bukan dari ajarannya maka tertolak. (HR. Bukhari)
2.
Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan
sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan
seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang
diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah sesat, dan tiap
kesesatan (menjurus) ke neraka. (HR. Muslim)
3. Dua golongan dari umatku yang tidak punya bagian dalam Islam adalah kaum Jabariyah dan kaum Kadariyah. (HR. Ahmad)
4.
Apabila kamu melihat orang-orang yang ragu dalam agamanya dan ahli
bid’ah sesudah aku (Rasulullah Saw) tiada maka tunjukkanlah sikap
menjauh (bebas) dari mereka. Perbanyaklah lontaran cerca dan kata
tentang mereka dan kasusnya. Dustakanlah mereka agar mereka tidak makin
merusak (citra) Islam. Waspadai pula orang-orang yang dikhawatirkan
meniru-niru bid’ah mereka. Dengan demikian Allah akan mencatat bagimu
pahala dan akan meningkatkan derajat kamu di akhirat. (HR. Ath-Thahawi)
5.
Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi
sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke
lubang biawak pun kamu ikut memasukinya. Para sahabat lantas bertanya,
“Siapa ‘mereka’ yang baginda maksudkan itu, ya Rasulullah?” Beliau
menjawab, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani.” (HR. Bukhari)
6. Tiga
perkara yang aku takuti akan menimpa umatku setelah aku tiada:
kesesatan sesudah memperoleh pengetahuan, fitnah-fitnah yang
menyesatkan, dan syahwat perut serta seks. (Ar-Ridha)
7.
Barangsiapa menipu umatku maka baginya laknat Allah, para malaikat dan
seluruh manusia. Ditanyakan, “Ya Rasulullah, apakah pengertian tipuan
umatmu itu?” Beliau menjawab, “Mengada-adakan amalan bid’ah, lalu
melibatkan orang-orang kepadanya.” (HR. Daruquthin dari Anas).
Sunnah-Sunnah Yang Utama
1.
Orang yang berpegangan kepada sunahku pada saat umatku dilanda
kerusakan maka pahalanya seperti seorang syahid. (HR. Ath-Thabrani)
2.
Barangsiapa dikaruniai Allah kenikmatan hendaklah dia bertahmid
(memuji) kepada Allah, dan barangsiapa merasa diperlambat rezekinya
hendaklah dia beristighfar kepada Allah. Barangsiapa dilanda kesusahan
dalam suatu masalah hendaklah mengucapkan “Laa haula walaa quwwata illaa
illaahil’aliyyil’adzhim.”
(Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang
Maha Tinggi lagi Maha Agung)” (HR. Al-Baihaqi dan Ar-Rabii’)
3.
Orang yang cerdik ialah orang yang dapat menaklukkan nafsunya dan
beramal untuk bekal sesudah wafat. Orang yang lemah ialah yang mengikuti
hawa nafsunya dan berangan-angan muluk terhadap Allah. (HR. Abu Dawud)
4.
Angin adalah dari kebaikan Allah yang membawa rahmat dan azab, maka
janganlah kamu mencaci-makinya. Mohonlah kepada Allah limpahan
kebaikannya dan berlindunglah kepada Allah dari keburukannya. (HR.
Bukhari)
5. Rasulullah Saw melarang bernazar dengan sabdanya :
“Sesungguhnya itu (nazar) tidak dapat menolak sedikitpun dari takdir dan
hanya penarikan uang dari orang bakhil.” (HR. Bukhari)
Penjelasan:
Orang bakhil tidak bisa ditarik uangnya dengan rela hati, tetapi dimungkinkan melalui nazar.
6.
Anas Ra berkata,”Kami bertanya kepada Rasulullah Saw, “Bila berjumpa
sahabat (saudara seiman) apakah kita saling membungkuk?” Nabi Saw
menjawab, “Tidak usah.” Kami bertanya lagi, “Apakah berpelukan satu sama
lain?” Nabi menjawab, “Tidak, tetapi cukup dengan saling bersalaman.”
(HR. Ibnu Majah)
7. Rasulullah Saw melarang kami mengenakan
pakaian dari sutera, memakai cincin emas dan minum dengan tempat yang
biasa dipakai untuk minum arak (seperti kendi). (HR. An-Nasaa’i)
Keterangan:
Khusus
untuk kaum wanita (muslimah) diperkenankan untuk menggunakan perhiasan
dari emas dan perak, serta memakai pakaian sutera dan pakaian yang
dibordir dengan sutera (yang terdapat suteranya), namun hal tersebut
diharamkan untuk kaum pria (muslimin). Khusus untuk kaum pria yang
mempunyai penyakit gatal-gatal (penyakit exim) yang umumnya sering
menggaruk-garuk pada kulit yang gatal tersebut, maka menggunakan pakaian
sutera diperbolehkan untuk mereka. Hal tersebut pernah dialami oleh
Zubair dan Abdurrahman bin ‘Auf, dan Rasulullah pun mengizinkannya.
8. Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahannya (yang adil atau tidak berlebih-lebihan). (HR. Al-Baihaqi)
9. Allah tidak menyukai pria yang bersuara keras (tinggi), tetapi Allah suka kepada yang bersuara lembut. (HR. Al-Baihaqi)
10.
Sesungguhnya Allah Ta’ala indah dan suka kepada keindahan. Allah suka
melihat tanda-tanda kenikmatannya pada diri hambaNya, membenci
kemelaratan dan yang berlagak melarat. (HR. Muslim)
11. Bersenda-guraulah dan bermain-mainlah. Sesungguhnya aku tidak suka kalau terjadi kekerasan dalam agamamu. (HR. Al-Baihaqi)
Penjelasan:
Yang dimaksud, agar dalam beragama kita bersikap luwes dan tidak kaku.
12.
Laksanakan urusan-urusanmu dengan dirahasiakan. Sesungguhnya banyak
orang menaruh dengki kepada orang yang memperoleh kenikmatan. (HR.
Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
13. “Hiburlah hatimu pada saat-saat
tertentu.” (maksudnya, adalah hiburan yang tidak melanggar norma agama
dan akhlak). (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
14. Tidak kecewa
orang yang istikharah (memohon pilihan yang lebih baik dari Allah),
tidak menyesal orang yang bermusyawarah dan tidak akan melarat orang
yang hidup hemat. (Ath-Thabrani).
15. Orang yang paling dekat dengan Allah ialah yang memulai memberi salam. (Abu Dawud)
16.
Demi yang jiwaku dalam genggamanNya. Kamu tidak dapat masuk surga
kecuali harus beriman dan tidak beriman kecuali harus saling menyayangi.
Maukah aku tunjukkan sesuatu bila kamu lakukan niscaya kamu saling
berkasih sayang? Sebarkan salam di antara kamu. (HR. Muslim)
17. Janganlah kamu berbaring dan meletakkan kaki yang satu di atas yang satu lagi. (HR. Muslim)
18. Rasulullah Saw bila menerima berita yang menggembirakan, beliau sujud syukur kepada Allah ‘Azza wajalla. (HR. Al Hakim)
19.
Demi Allah, aku ini orang yang paling takut kepada Allah dan paling
bertakwa kepada-Nya. Tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan
tidur, dan aku mengawini wanita- wanita. Barangsiapa mengabaikan
sunnahku maka dia bukan dari golonganku. (Mutafaq’alaih)
20. Jangan membiarkan api tetap menyala di rumahmu selama kamu tidur. (HR. Bukhari)
21.
Sesungguhnya Assalaam nama dari nama-nama Allah Ta’ala diletakkan di
bumi, maka sebarkanlan ucapan “Assalaam” di antara kamu. (HR. Bukhari)
22. Rasulullah Saw melarang orang makan atau minum sambil berdiri. (HR. Muslim)
23. Sesungguhnya Allah Tunggal (Esa) dan suka kepada yang ganjil (bilangan yang tidak genap). (HR. Tirmidzi).
24. Pakaian untukmu yang terbaik ialah yang berwarna putih, maka pakailah dan juga untuk mengkafani mayit-mayitmu. (Ath-Thahawi)
25.
Rasulullah Saw apabila bersin, beliau menutup wajahnya dengan tangan
atau dengan bajunya dan mengecilkan (merendahkan) suaranya. (HR. Abu
Dawud dan Tirmidzi)
26. Sesungguhnya Allah pemalu dan suka
merahasiakan. jika kamu akan mandi hendaklah menutupinya (bertabir)
dengan sesuatu. (Abu Dawud)
27. Rasulullah Saw menyukai
mendahulukan yang kanan dalam segala hal, meskipun waktu berjalan dan
ketika memakai sandal. (HR. Ibnu Hibban)
28. Perlahan-lahan dalam segala hal adalah baik, kecuali dalam amalan untuk akhirat. (HR. Abu Dawud dan Al Hakim)
29.
Aku berwasiat kepadamu agar bertakwa kepada Allah ‘Azza wajalla, agar
mendengar, taat dan patuh meskipun pemimpinmu seorang budak. Barangsiapa
hidup panjang umur dari kamu maka dia akan melihat banyak
silang-sengketa. Berpeganglah kepada sunnahku dan sunnah-sunnah
khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk dan hidayah (sesudahku).
Gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu. Waspadalah terhadap ciptaan
persoalan-persoalan baru. Sesungguhnya tiap bid’ah mengandung kesesatan.
(HR. Tirmidzi)
Hari Kiamat dan Hisab
1. Seorang Arab
Badui bertanya, “Kapankah tibanya kiamat?” Nabi Saw lalu menjawab,
“Apabila amanah diabaikan maka tunggulah kiamat.” Orang itu bertanya
lagi, “Bagaimana hilangnya amanat itu, ya Rasulullah?” Nabi Saw
menjawab, “Apabila perkara (urusan) diserahkan kepada orang yang bukan
ahlinya, maka tunggulah kiamat.” (HR. Bukhari)
2. Mendekati
kiamat akan terjadi fitnah-fitnah seolah-olah kepingan-kepingan malam
yang gelap-gulita. Seorang yang pagi hari beriman maka pada sore harinya
menjadi kafir, dan orang yang pada sore harinya beriman maka pada pagi
harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya dengan (imbalan) harta-benda
dunia. (HR. Abu Dawud)
3. Belum terjadi kiamat sehingga orang-orang dari umatku kembali menyembah berhala-berhala selain Allah. (HR. Abu Dawud)
Keutamaan Mempelajari Fiqih dan Ilmu Agama
1.
Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi
pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan
belajar. (HR. Bukhari)
2. Para ulama fiqih adalah pelaksana
amanat para rasul selama mereka tidak memasuki (bidang) dunia. Mendengar
sabda tersebut, para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa arti
memasuki (bidang) dunia?” Beliau menjawab, “Mengekor kepada penguasa dan
kalau mereka melakukan seperti itu maka hati-hatilah terhadap mereka
atas keselamatan agamamu. (HR. Ath-Thabrani)
3. Rasulullah Saw
bersabda : “Ya Allah, rahmatilah khalifah-khalifahku.” Para sahabat lalu
bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah khalifah-khalifahmu?” Beliau
menjawab, “Orang-orang yang datang sesudahku mengulang-ulang pelajaran
hadits-hadits dan sunahku dan mengajarkannya kepada orang-orang
sesudahku.” (HR. Ar-Ridha)
Keistimewaan Muslimin dan Mukminin
1. Tidak ada orang yang lebih mulia di sisi Allah dari seorang mukmin. (HR. Ath-Thabrani)
2. Umatku (umat Muhammad) ibarat air hujan, tidak diketahui mana yang lebih baik awalnya atau akhirnya. (Mashabih Assunnah)
3.
Sesungguhnya di kalangan hamba-hamba Allah ada orang yang apabila
memohonkan sesuatu maka Allah akan menerimanya (mengabulkannya). (HR.
Bukhari dan Muslim)
4. Waspadalah terhadap firasat seorang mukmin. Sesungguhnya dia melihat dengan nur Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ath-Thabrani)
5.
Sebaik-baik umatku adalah apabila pergi (musafir) dia berbuka puasa dan
shalat Qashar, dan jika berbuat kebaikan merasa gembira, tetapi apabila
melakukan keburukan dia beristighfar. Dan seburuk-buruk umatku adalah
yang dilahirkan dalam kenikmatan dan dibesarkan dengannya, makanannya
sebaik-baik makanan, dia mengenakan pakaian mewah-mewah dan bila berkata
tidak benar (tidak jujur). (HR. Ath-Thabrani)
6. Barangsiapa
menyenangi amalan kebaikannya dan menyedihkan (bersedih dengan)
keburukannya maka dia adalah seorang mukmin. (HR. Al Hakim)
7.
Akan ada suatu umat dari umatku yang masih tetap melaksanakan perintah
Allah, maka tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang mengecewakan
dan menentangnya dan sampai tiba ketentuan Allah mereka tetap dalam
penderitaan tersebut. (HR. Al Hakim)
8. Orang yang shaleh selalu mendapat tekanan-tekanan. (HR. Al Hakim)
9.
Allah Azza wajalla mewajibkan tujuh hak kepada seorang mukmin terhadap
mukmin lainnya, yaitu: (1) melihat saudara seimannya dengan rasa hormat
dalam pandangan matanya; (2) mencintainya di dalam hatinya; (3)
menyantuninya dengan hartanya; (4) tidak menggunjingnya atau mendengar
penggunjingan terhadap kawannya; (5) menjenguknya bila sakit; (6)
melayat jenazahnya; (7) dan tidak menyebut kecuali kebaikannya sesudah
ia wafat. (HR. Ibnu Baabawih)
10. Sebaik-baik kamu ialah yang
diharapkan kebaikannya dan aman dari kejahatannya, dan seburuk-buruk
kamu ialah yang tidak diharapkan kebaikannya dan tidak aman dari
kejahatannya. (HR. Tirmidzi dan Abu Ya’la)
11. Mencaci-maki seorang mukmin adalah suatu kejahatan, dan memeranginya adalah suatu kekufuran. (HR. Muslim)
12.
Aku mengagumi seorang mukmin. Bila memperoleh kebaikan dia memuji Allah
dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar.
Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal walaupun dalam sesuap
makanan yang diangkatnya ke mulut isterinya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
13.
Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada
seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan. Peliharalah apa-apa
yang menguntungkan kamu dan mohonlah pertolongan Allah, dan jangan lemah
semangat (patah hati). Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata,
“Oh andaikata aku tadinya melakukan itu tentu berakibat begini dan
begitu”, tetapi katakanlah, “Ini takdir Allah dan apa yang dikehendaki
Allah pasti dikerjakan-Nya.” Ketahuilah, sesungguhnya ucapan:
“andaikata” dan “jikalau” membuka peluang bagi (masuknya) karya
(kerjaan) setan.” (HR. Muslim)
14. Seorang muslim ialah yang
menyelamatkan kaum muslimin (lainnya) dari (kejahatan) lidah dan
tangannya. Seorang mukmin ialah yang dipercaya oleh kaum beriman
terhadap jiwa dan harta mereka, dan seorang muhajir ialah yang berhijrah
meninggalkan dan menjauhi keburukan (kejahatan). (HR. Ahmad)
15. Seorang mukmin tidak akan digigit dua kali dari lobang yang satu (sama). (Mutafaq’alaih)
16. Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti saudaranya yang muslim. (HR. Abu Dawud)
17. Seorang mukmin bukanlah pengumpat dan yang suka mengutuk, yang keji dan yang ucapannya kotor. (HR. Bukhari)
Islam – Iman – Ihsan
1.
Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama
Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian
putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda perjalanan.
Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk
menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki
Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha
Rasulullah Saw, seraya berkata, “Ya Muhammad, beritahu aku tentang
Islam.” Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Islam ialah bersyahadat bahwa
tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan
shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila
mampu.” Kemudian dia bertanya lagi, “Kini beritahu aku tentang iman.”
Rasulullah Saw menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar
baik dan buruknya.” Orang itu lantas berkata, “Benar. Kini beritahu aku
tentang ihsan.” Rasulullah berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah
anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya
Allah melihat anda. Dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang Assa’ah
(azab kiamat).” Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari
yang bertanya.” Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang
tanda-tandanya.” Rasulullah menjawab, “Seorang budak wanita melahirkan
nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat
dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung
bertingkat.” Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata.
Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, “Hai Umar, tahukah kamu siapa
orang yang bertanya tadi?” Lalu aku (Umar) menjawab, “Allah dan
rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw lantas berkata, “Itulah
Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR. Muslim)
2. Iman terbagi dua, separo dalam sabar dan separo dalam syukur. (HR. Al-Baihaqi)
3. Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada. (HR. Ath Thobari)
4.
Sufyan bin Abdullah berkata,”Ya Rasulullah, terangkan kepadaku tentang
Islam. Aku tidak akan bertanya lagi kepada orang lain.” Lalu Rasulullah
Saw menjawab, “Ikrarkanlah (katakan): Aku beriman kepada Allah, kemudian
berlakulah jujur (istiqomah).” (HR. Muslim)
5. Peliharalah
(perintah dan larangan) Allah, niscaya kamu akan selalu merasakan
kehadiran-Nya. Kenalilah Allah waktu kamu senang, niscaya Allah akan
mengenalimu waktu kamu dalam kesulitan. Ketahuilah, apa yang luput dari
kamu adalah sesuatu yang pasti tidak mengenaimu dan apa yang akan
mengenaimu pasti tidak akan meleset dari kamu. Kemenangan (keberhasilan)
hanya dapat dicapai dengan kesabaran. Kelonggaran bersamaan dengan
kesusahan dan datangnya kesulitan bersamaan dengan kemudahan. (HR.
Tirmidzi)
6. Sesungguhnya bermula datangnya Islam dianggap asing
(aneh) dan akan datang kembali asing. Namun berbahagialah orang-orang
asing itu. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah,
apa yang dimaksud orang asing (aneh) itu?” Lalu Rasulullah menjawab,
“Orang yang melakukan kebaikan-kebaikan di saat orang-orang melakukan
pengrusakan.” (HR. Muslim)
7. Umat terdahulu selamat (jaya)
karena teguhnya keyakinan dan zuhud. Dan umat terakhir kelak akan binasa
karena kekikiran (harta dan jiwa) dan cita-cita kosong.” (Ibnu Abi
Ad-Dunia)
8. Tiga perkara berasal dari iman: (1) Tidak
mengkafirkan orang yang mengucapkan “Laailaaha illallah” karena suatu
dosa yang dilakukannya atau mengeluarkannya dari Islam karena sesuatu
perbuatan; (2) Jihad akan terus berlangsung semenjak Allah mengutusku
sampai pada saat yang terakhir dari umat ini memerangi Dajjal tidak
dapat dirubah oleh kezaliman seorang zalim atau keadilan seorang yang
adil; (3) Beriman kepada takdir-takdir. (HR. Abu Dawud)
9. Pokok segala urusan ialah Al Islam dan tiangnya adalah shalat, dan puncaknya (atapnya) adalah berjihad. (HR. Tirmidzi)
10. Tiada lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tiada lurus hatinya sehingga lurus lidahnya. (HR. Ahmad)
Perintah Berpegang Pada Ad-Diin-Nya
1.
Sesungguhnya agama ini mudah dan tiada seorang yang mempersulit agama,
kecuali pasti dikalahkannya. Bertindaklah tepat, lakukan pendekatan,
sebarkan berita gembira, permudahlah dan gunakan siang dan malam hari
serta sedikit waktu fajar sebagai penolongmu. (HR. Bukhari)
2.
Tiada manusia mengabaikan sesuatu dari urusan agama untuk kepentingan
keduniaan mereka, kecuali Allah menimbulkan bagi mereka perkara-perkara
yang lebih membahayakan mereka. (HR. Ahmad)
3. Sesungguhnya Allah
mengutus kepada umat ini pada penghujung tiap seratus tahun orang yang
memperbaharui (ajaran) agama mereka. (HR. Abu Dawud dan Al Hakim)
4.
Akan datang satu masa, hati seorang mukmin cair sebagaimana cairnya
timah dalam api disebabkan melihat bala dan peristiwa yang merugikan
agamanya tetapi dia tidak mampu merubahnya. (Aththusi)
5. Agama
ini kokoh dan kuat. Masukilah dengan lunak dan jangan sampai timbul
dalam dirimu kejenuhan beribadah kepada Robbmu. (HR. Al-Baihaqi)
6. Yang menyebabkan agama cacat ialah hawa nafsu. (HR Asysyihaab)
7.
Umatku dibebaskan (dari tuntutan) disebabkan kesalahan (yang tidak
disengaja), lupa dan terhadap apa yang dipaksakan kepada mereka. (HR.
Ath Thobari)
8. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk diampuni
dan kembali kepada jalan Allah yang telah Allah tangguhkan ajalnya
sehingga dia sudah mencapai usia enam puluh tahun. (HR. Bukhari)
Penjelasan:
Jadi
bila sudah mencapai usia 60 tahun dan belum mau bertobat atas perbuatan
dosanya maka tidak ada lagi alasan baginya pada saat menghadapi
perhitungan Allah.
9. Allah menyukai akan rukhsah-rukhsah-Nya[1]
diterima dan diamalkan sebagaimana seorang hamba menyukai
pengampunan-Nya. (HR. Ath Thobari)
10. Sesungguhnya Allah akan mendukung (mengokohkan) agama ini (Islam) dengan perantaraan seorang yang durhaka. (Mutafaq’alaih)
Catatan Kaki:
[1]
Rukshah artinya dispensasi dan keringanan-keringanan dari Allah,
seperti shalat Qoshar dan berbuka (tidak puasa) bagi musafir.
Larangan Mencaci Sahabat-Sahabat Rasulullah Saw
1.
Janganlah kamu mencaci-maki sahabat-sahabatku. Kalau ada orang yang
menafkahkan emas sebesar gunung Uhud, tidak akan mencapai satu cupak[1]
atau separonya dari yang telah mereka infakkan. (Mashabih Assunnah)
2. Sahabat-sahabatku ibarat bintang-bintang. Barangsiapa menelusuri salah satunya dia mendapat petunjuk jalan. (Ad-daarami)
Catatan Kaki:
[1] Satu cupak kurang lebih 1 Ons
Muhammad Rasulullah Saw
1.
Rasulullah Saw bersabda: “Aku kesayangan Allah (dan tidak congkak). Aku
membawa panji “PUJIAN” pada hari kiamat, di bawahnya Adam dan yang
sesudahnya (dan tidak congkak). Aku yang pertama pemberi syafa’at dan
yang diterima syafaatnya pada hari kiamat (dan tidak congkak). Aku yang
pertama menggerakkan pintu surga dan Allah membukanya untukku dan aku
dimasukkanNya bersama-sama orang-orang beriman yang fakir (dan tidak
congkak). Dan Aku lah paling mulia dari kalangan terdahulu dan
terbelakang di sisi Allah (dan tidak congkak).” (HR. Tirmidzi)
2.
Ketika Aisyah Ra ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw, maka dia
menjawab, “Akhlaknya adalah Al Qur’an.” (HR. Abu Dawud dan Muslim)
3. Aku penutup para nabi. Tidak ada nabi lagi sesudah aku. (HR. Ahmad dan Al Hakim).