Rabu, 26 Juni 2013

Jauhilah 7 perkara yang mencelakaan




Rasulullah SAW bersabda :



Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ

Hendaklah kalian menghindari tujuh dosa yang dapat menyebabkan kebinasaan.” Dikatakan kepada beliau, “Apakah ketujuh dosa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Dosa menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah untuk dibunuh kecuali dengan haq, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan pertempuran, dan menuduh wanita mukminah baik-baik berbuat zina. HR. Al-Bukhari no. 2560 dan Muslim no. 129

Penjelasan:

           Ini adalah 7 dosa besar yang membinasakan. Dan sebagaimana dimaklumi bersama bahwa dosa-dosa besar itu tidak terbatas pada 7 amalan ini saja, akan tetapi masih banyak dosa besar lainnya yang tersebut dalam hadits-hadits yang lain. Di antaranya adalah hadits Abi Bakrah radhiallahu ‘anhu dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ

Apakah kalian mau aku beritahu dosa besar yang paling besar?” Beliau menyatakannya tiga kali. Mereka menjawab: “Mau, wahai Rasulullah”. Maka Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orangtua”. Lalu Beliau duduk dari sebelumnya berbaring kemudian melanjutkan sabdanya: “Ketahuilah, juga ucapan dusta.” HR. Al-Bukhari no. 2460 dan Muslim no. 126
Syirik Kepada Allah.

          Dalam hadits Abu Hurairah di atas, Nabi shallallahu alaihi wasallam memulai penyebutan 7 dosa yang membinasakan dengan menyebutkan syirik kepada Allah karena dia merupakan dosa yang terbesar. Syirik adalah menjadikan tandingan untuk Allah dalam rububiah-Nya, uluhiah-Nya, serta dalam nama-nama dan sifat-sifatNya. Seperti menyerahkan ibadah kepada selain Allah, baik seluruh ibadah maupun sebagian di antaranya. Allah Azza wa Jalla berfirman:




Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. QS. Al-Maidaah :72.


           Di antara bentuk syirik akbar adalah ruku’ dan sujud kepada makhluk, baik yang masih hidup apalagi yang telah meninggal. Contoh lain adalah tawaf dan berdiam di kubur orang saleh, bernadzar dan menyembelih untuk makhluk, memohon bantuan dan perlindungan kepada makhluk dalam perkara yang hanya Allah yang bisa memberikannya, seperti dalam hal turunnya hujan, menyembuhkan orang yang sakit, dan semacamnya. Jika seorang hamba melakukan salah satu dari amalan ini dan yang semisalnya maka dia telah terjatuh ke dalam amalan syirik akbar, dan Allah tidak akan mengampuninya jika dia meninggal dalam keadaan belum bertaubat.
 Sihir

          Semua praktek sihir dan magic sebenarnya sudah termasuk ke dalam kesyirikan. Akan tetapi Allah Ta’ala menyebutkannya secara tersendiri di sini untuk menunjukkan besarnya dosa dari kesyirikan yang satu ini. Hal itu karena sihir bukan hanya merusak pelakunya akan tetapi kebanyakannya juga akan merusak orang-orang yang ada di sekitarnya. Hakikat dari sihir adalah seorang penyihir meminta bantuan dan perlindungan kepada jin-jin kafir untuk melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan manusia biasa, dengan syarat si penyihir tersebut harus menyerahkan ibadah dan taqarrub kepada jin-jin tersebut. Karenanya Allah Ta’ala menjadikan semua bentuk sihir adalah pengajaran dari setan dalam firman-Nya:

Hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” QS. Al-Baqarah: 102

          Ayat di atas juga menunjukkan kafirnya orang yang mempelajari semua bentuk sihir. Hal itu karena Allah Ta’ala menyebutkan salah satu sebab kafirnya setan adalah mengajarkan sihir. Jadi, jika yang mengajarkan sihir itu kafir maka tentunya yang mempelajari sihir itu juga kafir, walaupun dia tidak memanfaatkan sihir itu.
Allah Ta’ala juga berfirman:

Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat.” QS. Al-Baqarah: 102

           Pelaku dosa besar selama dia masih mempunyai iman maka dia pasti masih mendapatkan bagian kebaikan di akhirat. Akan tetapi tatkala penyihir dikatakan tidak mempunyai bagian di akhirat sedikitpun, maka itu menunjukkan mereka tidaklah mempunyai iman dan agama.

            Qatadah berkata, “Ahli kitab telah mengetahui pada janji yang telah diambil dari mereka bahwa penyihir tidak mempunyai sedikitpun bagian di akhirat.”
Al-Hasan Al-Bashri berkata menafsirkannya, “Penyihir itu tidak mempunyai agama.”
Dan Imam Ahmad telah menegaskan bahwa siapa saja yang mempelajari atau mengajarkan sihir maka dia telah kafir dengannya.”
Membunuh Tanpa Hak

   Dosa yang membinasakan ketiga adalah membunuh jiwa tanpa hak. Allah Ta’ala berfirman:


 Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” QS. Al-Isra`: 33

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:


Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.QS. An-Nisa`: 93
             
             Ibnu Jarir mengetengahkan dari jalur Ibnu Juraij dari Ikrimah bahwa seorang laki-laki Ansar membunuh saudara dari Maqis bin Shababah. Maka Nabi saw. pun memberinya diat yang diterimanya dengan baik. Tetapi kemudian Maqis menerjang orang yang membunuh saudaranya itu lalu dibunuhnya pula. Sabda Nabi saw., "Saya tak ingin menjamin keamanan dirinya, baik di tanah halal atau di tanah haram," dan ternyata ia dibunuh di waktu pembebasan. Kata Ibnu Juraij, "Mengenainyalah turunnya ayat, 'Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin...' sampai akhir ayat." (Q.S. An-Nisa 93)

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَنْ يَزَالَ الْمُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِينِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا

Seorang mukmin masih dalam kelonggaran agamanya selama dia tidak menumpahkan darah haram tanpa alasan yang dihalalkan.” HR. Al-Bukhari no. 6355

          Di antara membunuh tanpa hak adalah membunuh orang kafir dzimmi, kafir mu’ahad, dan kafir musta`man.
         Di antara bentuk membunuh dengan hak 3 jenis pembunuhan yang tersebut dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ الثَّيِّبُ الزَّانِي وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

Tidak halal darah seorang muslim yang telah bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak untuk disembah selain Allah dan aku adalah utusan Allah, kecuali satu dari tiga orang berikut ini: Seorang yang sudah menikah yang berzina, seseorang yang membunuh orang lain, dan orang yang keluar dari agamanya, memisahkan diri dari jama’ah (murtad).” HR. Al-Bukhari no. 6370 dan Muslim no. 3175.
Memakan Harta Riba

          Memakan harta riba dan bergelut dengannya adalah dosa yang sangat besar. Allah Azza wa Jalla berfirman:


Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” QS. Al-Baqarah: 275-276

Dari Abu Juhaifah radhiallahu anhu dia berkata:

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ وَآكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَنَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَكَسْبِ الْبَغِيِّ وَلَعَنَ الْمُصَوِّرِينَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaknat al-wasyimah (wanita yang mentato) dan al-mustausyimah (wanita yang meminta untuk ditato), orang yang memakan riba, dan orang yang memberi dari hasil riba. Dan beliau juga melarang untuk memakan hasil keuntungan dari anjing, dan pelacur. Kemudian beliau juga melaknat para tukang gambar.” HR. Al-Bukhari no. 4928

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma dia berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya dan saksi-saksinya.” Beliau bersabda, “Mereka semua sama.” HR. Muslim no. 2995.
Memakan Harta Anak Yatim

Allah Ta’ala berfirman:


Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” QS. An-Nisa`: 10

         Ayat di atas tegas menyebutkankan memakan atau menghabiskan harta anak yatim adalah dosa besar. Karenanya Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak-anak yatim di dalam firmanya :


Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin.” QS. An-Nisa`: 36

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَأَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

Aku dan orang-orang yang mengurusi anak yatim dalam surga akan dekat seperti ini.” Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah lalu beliau membuka sedikit di antara keduanya.” HR. Al-Bukhari no. 4892
Lari Dari Medan Jihad

Allah Ta’ala berfirman memberikan ancaman:
 

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. QS. Al-Anfal : 15-16
Menuduh Seseorang Berzina Tanpa Saksi

     Allah Azza wa Jalla berfirman:





Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesutatu menurut hakikat yang sebenarnya). QS. An-Nur : 23-25

Allah Ta’ala juga berfirman:



Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. An-Nur : 4-5

            Ada pula yang menyekutukan Allah SWT dengan mengadakan sesembahan-sesembahan seperti berhala, patung dan ada juga yang menyekutukan Allah SWT dengan manusia. Dan mereka orang-orang musyrik akan di masukan kedalam neraka, mereka kekal di dalamnya.

Allah SWT berfirman :

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. QS. Al-Bayyinah : 6
   Dan surga pun di haramkan atas orang-orang musyrik.

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun." QS. Al-Maidah: 72
           Oleh karena itu, barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah SWT, berarti ia telah menempatkan untuk Allah SWT apa yang Allah sendiri menyucikan diri padanya. Dan ini merupakan puncak kesombongan dan permusuhan kepada Allah SWT dan orang muslim pun berlepas diri kepada mereka dan mengingkari kekafirannya, serta  permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya. Karena bagaimanapun antara syirik dan tauhid tidak bias bercampur selama-lamanya. Dalam hal ini Allah SWT menegaskan :

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:” Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,
QS. Al-Mumtahanah : 4

          Beberapa unsur yang dialami oleh orang-orang musyirik ketika di dunia maupun di akhirat nanti :

1.      Bahwa orang musyrik itu mudah di gangu setan, cenderung gugon tuhon, thahayul, khurofat, penakut dan pemecah belah ummat.
Allah SWT berfirman :

 
 
Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim. QS. Ali-Imraan : 151

 Dan setan itu hobinya menakut-nakuti orang-orang musyrik sampai mati. Allah SWT berfirman :

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
"Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman." QS. Ali Imran: 175
2.      Orang musyrik itu ketika sakaratul maut mengalami sengsara.
Allah SWT berfirman :

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah". Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. QS. Al-An’aam : 93



Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah." Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya. QS.  Al- An’aam : 93

          Ibnu Jarir mengetengahkan melalui Ikrimah sehubungan dengan firman Allah, "Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah, atau yang berkata, 'Telah diwahyukan kepada saya,' padahal tidak diwahyukan sesuatu pun kepadanya." (Q.S. Al-An'am 93). Ikrimah mengatakan, "Ayat ini diturunkan sehubungan dengan Musailamah," sedangkan ayat, ".... dan orang yang mengatakan, 'Aku juga diberi wahyu seperti yang telah diturunkan oleh Allah," ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Saad bin Abu Sarh, dia adalah sekretaris Nabi saw. Pada suatu ketika ia disuruh menulis oleh Nabi saw., kata `aziizun hakiim (Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana) akan tetapi ia menuliskan ghafuurun rahiim (Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). Lalu surah hasil tulisannya itu dibaca (dan ia mendapat teguran) akan tetapi ia menjawab, 'Ya, itu sama saja.' Tidak lama kemudian ia menjadi kafir kembali dan bergabung dengan orang-orang Quraisy." Dan telah diketengahkan pula melalui Saddi hadis yang sama, akan tetapi di dalam riwayatnya terdapat tambahan, yaitu, Abdullah bin Saad bin Sarh berkata, "Jika Muhammad telah diberi wahyu, maka sesungguhnya aku pun telah diberi wahyu pula. Dan jika Allah telah menurunkan wahyu kepadanya, maka aku pun telah menurunkan wahyu seperti apa yang diturunkan oleh Allah. Muhammad telah mengatakan samii`an `aliiman (Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), maka aku katakan `aliiman hakiiman (Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana)."

3.      Orang musyrik itu tempatnya neraka dan mereka kekal di dalam nya.
Allah swt berfirman :




Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. QS. Al-Bayyinah : 6
4.      Orang musyrik haram masuk surga.
    

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun." QS. Al-Maidah: 72
5.      Orang musyrik ketika di alam barzah, do’anya orang yang dibumi tidak mencakup untuknya.
Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira. Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat, wal mu’minina mal mu’minat, al ahyaai minum wal amwat, innaka ‘ala kulli syai’inqadir.

Ya Allah ya Tuhan kami, ampunilah kami, ampunilah kedua orang tua kami, ampunilah saudara-saudara kami, kerabat, musllimin muslimat, mu’minim mu’minat baik yang masih ada maupun yang telah wafat. Kasih sayangilah kedua orang tua kami sebagaimana mereka telah menyayangi kami waktu masih kecil.

    Orang yang beriman pun dilarang mendoakan orang-orang musyrik.

  Allah SWT berfirman :



“Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri  di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam Keadaan fasik.” QS. At-Taubah : 84
           Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis melalui Ibnu Umar r.a. yang menceritakan, bahwa sewaktu Abdullah bin Ubay mati, datanglah anaknya menghadap Rasulullah saw. dan meminta kepadanya supaya ia memberikan baju gamisnya untuk mengafani jenazah ayahnya. Rasulullah saw. memberikan baju gamisnya kepada anak Abdullah bin Ubay, akan tetapi anak Abdullah bin Ubay masih mempunyai permintaan lagi, yaitu meminta supaya Rasulullah menyalati jenazah ayahnya. Maka Rasulullah saw. berdiri untuk menyalatinya; tetapi tiba-tiba Umar bin Khattab menarik baju Rasulullah saw. seraya berkata lirih, "Wahai Rasulullah! Apakah engkau akan menyalatkannya juga, bukankah Rabbmu telah melarangmu untuk menyalatkan jenazah orang-orang munafik?" Rasulullah saw. menjawab, "Sesungguhnya Allah hanya menyuruhku untuk memilih," beliau selanjutnya membacakan firman-Nya, "Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja), kendati pun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali." (Q.S. At-Taubah, 80) Kemudian Rasulullah saw. menambahkan, "Aku akan memohonkan ampun tujuh puluh kali lebih." Sahabat Umar bin Khattab r.a. berkata, "Sesungguhnya dia (Abdullah bin Ubay) adalah orang munafik." Akan tetapi Rasulullah saw. tetap melakukan salat jenazah atas Abdullah bin Ubay demi memelihara perasaan anak Abdullah bin Ubay bin Salul karena anaknya kini telah masuk Islam dan menjadi salah satu di antara sahabat Rasulullah saw. yang ikhlas. Akan tetapi setelah ayat 84 surah At-Taubah diturunkan, Rasulullah saw. tidak lagi melakukan hal yang serupa karena larangannya sudah jelas. Maka Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya." (Q.S. At-Taubah 84). Sejak saat diturunkannya ayat di atas Rasulullah saw. tidak lagi melakukan salat jenazah atas orang-orang munafik. Keterangan ini disebutkan di dalam hadisnya Umar, Anas, Jabir dan lainnya.


Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. QS. At-Taubah : 113


Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. QS. At-Taubah : 80
      Sa’id Musayyab mengatakan bahwa saat Abu Thalib menjelang ajal, Rasulullah dating menemuinya. Saat itu Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah berada di samping Abu Thalib. Rasulullah SAW bersabda : “ Wahai paman, ucapanlah kalimat “ Tidak ada Tuhan selain Allah “, agar aku dapat memperjuangkan mu di hadapan Allah di hari kiamat kelak “. Abu Jahal dan Ab dullah berkata : “ Hai Abu Thalib, apakah kamu telah membenci agama Abdul ,uthalib ?” Mereka berdua terus berbicara dengannya, hingga ucapanterakirnya adalah pengakuan kesetiaan dengan agama Abdul Muthalib. Rasul pun berkata : “ Aku akan tetap memintakan ampun untukmu, selama aku tidak dilarang Allah. Kemudian turunlah ayat ini “. HR. Bukhari dan Muslim
6.      Orang musyrik itu najis. Yakni najis aqidahnya, maka orang musyrik tidak pantas memakmurkan masjid.
     Allah SWT berfirman :


Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. QS. At-Taubah : 28




 Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. QS. At-Taubah : 27

KEUTAMAAN TAUHID




Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi rahimahullah (penulis Syarah Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah) mengatakan,“Ketahuilah.

             Tauhid merupakan seruan pertama dakwah para rasul. Ia adalah fase perjalanan pertama dan maqam awal yang harus dipijak oleh seorang yang menempuh jalan menuju Allah ‘azza wa jalla.

Allah ta’ala berfirman yang artinya,

“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Dia menyerukan ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian selain Dia’”.QS. Al-A’raaf  : 59.

Huud ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya,

Sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian selain Dia . QS. Al A’raaf  : 65.
Shalih ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya,

“Sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian selain Dia. QS Al- A’raaf : 73

Tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum engkau melainkan Kami telah wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak kecuali Aku. Maka sembahlah Aku saja”. QS Al Anbiya : 25

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Aku diperintahkan untuk memerangi seluruh manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”

            Oleh sebab itu maka sesungguhnya pendapat yang benar ialah yang menyatakan bahwa kewajiban pertama yang ditanggung oleh setiap hamba adalah bersaksi la ilaha illallah, sehingga tauhid itulah kewajiban yang pertama. Bahkan dia juga menjadi kewajiban terakhir. Hal ini sebagaimana tercantum dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Barangsiapa yang perkataan terakhirnya la ilaha illallah pasti masuk surge.

BUAH TAUHID


         Ibnul Qayyim mengatakan,Tahun ibarat sebatang pohon sedangkan bulan-bulan adalah cabang-cabangnya, jamjam adalah daun-daunnya dan hembusan nafas adalah
buah-buahannya. Barang siapa yang pohonnya tumbuh di atas kemaksiatan maka buah yang dihasilkannya adalah hanzhal (buah yang pahit dan tidak enak dipandang, pent) sedangkan masa untuk memanen itu semua adalah ketika datangnya Yaumul Ma’aad (hari kiamat). Ketika dipanen barulah akan tampak dengan jelas buah yang manis dengan buah yang pahit. Ikhlas dan tauhid adalah ‘sebatang pohon’ di dalam hati yang cabang-cabangnya adalah amal-amal sedangkan buah-buahannya adalah baiknya kehidupan dunia dan surge yang penuh dengan kenikmatan di akherat. Sebagaimana buah-buahan di surga tidak akan akan habis dan tidak terlarang untuk dipetik maka buah dari tauhid dan keikhlasan di dunia pun seperti itu.

           Adapun syirik, kedustaan, dan riya’ adalah pohon yang tertanam di dalam hati yang buahnya di dunia adalah berupa rasa takut, kesedihan, gundah gulana, rasa sempit di dalam dada, dan gelapnya hati, dan buahnya di akherat nanti adalah berupa buah Zaqqum dan siksaan yang terus menerus. Allah telah menceritakan kedua macam pohon ini di dalam surat Ibrahim.”




TAUHID DI ATAS SEGALA-GALANYA.


           Kepentingan manusia untuk bertauhid sungguh jauh berada di atas kepentingan mereka terhadap makanan, minuman atau tempat tinggal. Kalau seseorang tidak makan atau minum, akibat terburuk yang dialami hanyalah sekedar kematian. Namun, kalau seseorang tidak bertauhid barang sekejap saja dan pada saat itu dia meninggal dalam keadaan musyrik, maka siksaan yang kekal di neraka sudah siap menantinya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),”Sesungguhnya orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah (dalam beribadah) maka sungguh Allah telah mengharamkan atasnya surga, dan tempat tinggalnya adalah neraka…” QS. Al Ma’idah  : 72.

         Bahkan amalnya yang bertumpuk-tumpuk selama hidup pun akan menjadi sia-sia apabila di akhir hidupnya dia telah berbuat syirik kepada Rabb-nya dan belum bertaubat darinya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya)

,Sungguh, jika kamu berbuat syirik, akan lenyaplah semua amalmu, dan kamu pasti akan tergolong orang yang merugi.” QS. Az Zumar  : 65

           Terkait dengan pentingnya tauhid ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,“Ketahuilah, sesungguhnya kebutuhan hamba untuk senantiasa beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya merupakan kebutuhan yang tak tertandingi oleh apapun yang bisa dianalogikan dengannya. Akan tetapi dari sebagian sisi ia bisa diserupakan dengan kebutuhan tubuh terhadap makanan dan minuman. Di antara keduanya sebenarnya terdapat banyak sekali perbedaan.

           Karena sesungguhnya jati diri seorang hamba terletak pada hati dan ruhnya. Padahal, tidak ada kebaikan baginya (hati dan ruh) kecuali dengan (pertolongan) Tuhannya, yang tiada ilah (sesembahan) yang haq selain Dia. Sehingga ia tidak akan bisa merasakan ketenangan kecuali dengan mengingat-Nya
.

          Seandainya seorang hamba bisa memperoleh kelezatan dan kesenangan dengan selain Allah maka hal itu tidak akan terus menerus terasa. Akan tetapi ia akan berpindah dari satu jenis ke jenis yang lain, dari satu individu ke individu yang lain. Adapun tuhannya, maka dia pasti membutuhkan-Nya dalam setiap keadaan dan di setiap waktu. Di mana pun dia berada maka Dia (Allah) senantiasa menyertainya.”

HIKMAH PENCIPTAAN.


          Kalaulah kita mau merenungkan untuk apa kita diciptakan di alam dunia ini niscaya kita akan memahami betapa agung kedudukan tauhid dalam hidup ini. Allah ta’ala berfirman yang artinya,

”Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” QS. Adz Dzariyat  : 56.

        Makna beribadah kepada Allah di sini adalah mentauhidkan Allah.

         Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan,”Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya; sesungguhnya hakekat Al Hanifiyah yaitu agama yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim adalah engkau beribadah kepada Allah dengan ikhlas dalam melakukan ketaatan (tidak berbuat syirik)

              Dan dengan hal itulah Allah memerintahkan seluruh manusia dan untuk itulah Allah menciptakan mereka semua...”

             Imam Al Baghawi meriwayatkan di dalam tafsirnya bahwa Ali bin Abi Thalib menafsirkan ayat ini : (tidaklah mereka diciptakan) melainkan untuk Aku perintah beribadah kepada-Ku dan Ku-seru mereka untuk menyembah-Ku.

            Tafsiran Ali ini didukung oleh firman Allah 'azza wa jalla,"Dan tidaklah mereka disuruh melainkan untuk beribadah kepada ilah yang esa." QS. At Taubah  :
31.

             Beliau (Imam Al Baghawi) juga membawakan riwayat dari Mujahid yang menafsirkan ayat ini dengan (tidaklah mereka diciptakan) melainkan supaya mereka mengenal-Ku. Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazaa'iri mengatakan bahwa makna ‘supaya mereka beribadah kepada-Ku’ ialah 'Aku ciptakan mereka supaya tunduk beribadah kepada-Ku, maka barangsiapa yang beribadah kepada-Ku maka akan Aku muliakan, dan barangsiapa yang meninggalkan ibadah kepada-Ku maka akan Aku hinakan.' Imam Ibnu Katsir berkata : Tidaklah mereka Aku (Allah) ciptakan kecuali untuk Kuperintah beribadah kepada-Ku, bukan karena kebutuhan diri-Ku kepada mereka.

           Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan mengatakan : Ayat yang agung ini telah menerangkan hikmah penciptaan jin dan manusia yaitu untuk beribadah. Karena sesungguhnya Allah jalla wa 'ala tidaklah menciptakan makhluk kecuali untuk Allah perintahkan beribadah….

MISI DAKWAH PARA RASUL.


           Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin berkata,”Tauhid merupakan perkara paling agung yang diperintahkan Allah disebabkan ia menjadi pondasi seluruh ajaran agama. Oleh karena itu dengan tauhid lah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memulai dakwahnya mengajak kepada agama Allah, demikian juga beliau memerintahkan utusan dakwahnya supaya memulai dakwah dengan perkara ini.”

           Dan tidaklah salah jika kita katakan bahwa sesungguhnya dakwah tauhid adalah dakwah paling pertama dan paling penting yang diserukan oleh semua Rasul. Syaikh Shalih Al Fauzan berkata,“Semua Rasul mengatakan seruan pertama kali yang ditujukan kepada kaumnya yaitu,Sembahlah Allah, tidak ada bagi kalian satu sesembahan pun (yang haq) selain Dia (QS. Al A’raaf  ayat 59, 65, 73 dan 85), seruan itulah yang dikatakan oleh Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan seluruh nabi kepada kaum mereka”

SYARI’AT ISLAM NOMOR WAHID.


           Tauhid tidak layak untuk dikesampingkan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam saja orang yang paling bijak dalam berdakwah tidak memerintahkan da’i utusannya untuk mendakwahkan tetek bengek ajaran syari’at sebelum dakwah tauhid ditegakkan. Hal ini dikisahkan oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma.

            Beliau menceritakan,”Ketika mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berpesan,”Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu
kaum dari kalangan Ahli Kitab. Hendaknya perkara yang pertama kali engkau dakwahkan adalah supaya mereka mentauhidkan Allah...”
HR. Al Bukhari dan Muslim.

            Di dalam riwayat Muslim dengan lafazh,"Hendaknya perkara paling pertama yang harus engkau sampaikan kepada mereka adalah ibadah kepada Allah." Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ibadah kepada Allah di sini adalah bertauhid.

           Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali menjelaskan,”Hadits ini menjelaskan langkah-langkah dakwah yang wajib ditempuh oleh seorang da’i yang (mengajak orang) kepada (agama) Allah. Perkara pertama yang harus didakwahkan terlebih dulu adalah dakwah (mengajak umat manusia) kepada tauhid, beribadah kepada Allah saja serta menjauhi kesyirikan; yang kecil maupun yang besar. Dan hal itu akan terwujud dengan mewujudkan syahadat laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadar Rasulullah. Maksud dari syahadat ini adalah segala macam ibadah harus dipersembahkan kepada Allah saja, tidak ada sesuatupun selain-Nya yang berhak untuk mendapatkannya barang sedikitpun. Entah dia malaikat yang dekat, Nabi yang diutus, orang shalih, batu, pohon, matahari, ataupun bulan.”


SELURUH AL QUR’AN BERBICARA TENTANG TAUHID!



         Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi rahimahullah mengatakan,

         Mayoritas isi surat-surat yang ada di dalam Al Qur’an mengandung kedua macam tauhid tersebut, bahkan seluruh surat yang ada di dalam Al Qur’an demikian. Hal itu disebabkan isi Al Qur’an terkadang berbicara tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Inilah kandungan tauhid ilmi khabari (tauhid fil itsbat wal ma’rifah). Bisa juga berbicara tentang seruan supaya makhluk beribadah kepada-Nya saja, tidak boleh ada sekutu bagi-Nya serta mencampakkan segala sesembahan selain Allah. Inilah yang kandungan tauhid iradi thalabi (tauhid fi thalab wal qashd).”
“Dan ia juga berisi perintah dan larangan serta pembebanan kewajiban untuk tunduk dan patuh kepada-Nya. Maka yang demikian itu adalah bagian dari hak tauhid dan penyempurnanya. Ia juga berisi informasi tentang kemuliaan yang dianugerahkan Allah kepada orang-orang yang bertauhid. Begitu pula Allah menyebutkan balasan yang mereka dapatkan sewaktu di dunia dan kelak di akherat. Maka itulah balasan atas ketauhidannya. Dan ia juga berisi informasi tentang keadaan yang dialami oleh orang-orang musyrik, hukuman yang mereka terima di dunia serta siksaan yang mereka alami kelak di akherat. Maka itulah hukuman bagi orang-orang yang membangkang dari hukum tauhid.”


INTISARI AJARAN ISLAM.


         Syaikhul Islam mengatakan,Dan telah diketahui dengan pasti suatu prinsip yang termasuk ajaran agama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga disepakati oleh seluruh umat yaitu : pokok ajaran Islam dan perintah pertama yang diberikan kepada manusia ialah syahadat la ilaha illallah wa anna Muhammadar Rasulullah. Dengan itulah seorang kafir berubah menjadi muslim, musuh menjadi teman, yang semula darah dan hartanya boleh diambil berubah menjadi terpelihara darah dan hartanya…”

         Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata, “Simpul ajaran agama (Islam) ada pada dua prinsip :

(1) Kita tidak menyembah kecuali kepada Allah
(2) Dan kita tidak menyembah-Nya kecuali dengan syari’at-Nya, bukan dengan kebid’ahan

Hal ini sebagaimana terkandung dalam firman Allah ta’ala (yang artinya)

Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal shalih dan tidak mempersekutukan sesuatupun (berbuat syirik) dalam beribadat kepada Rabbnya. QS Al-Kahfi : 110

         Itulah perwujudan dua kalimat syahadat. Syahadat la ilaha illallah dan syahadat anna Muhammadar Rasulullaah. Pada (syahadat) yang pertama terkandung prinsip ; kita tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Sedangkan pada (syahadat) yang kedua terkandung prinsip bahwa Muhammad lah utusan-Nya yang menyampaikan wahyu dari-Nya. Oleh sebab itu kita wajib membenarkan beritanya dan mentaati perintahnya…”


FIKIH YANG PALING AGUNG

      
 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 



Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, Allah akan menjadikan dia fakih dalam urusan agama HR. Al Bukhari dari sahabat Mu’awiyah radhiyallahu’anhu

             Maka tanda baiknya seseorang adalah ketika dia diberikan kefakihan (kepahaman) dalam masalah agama.

             Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,”Kesimpulan hukum dari hadits ini adalah barang siapa yang tidak mendalami ilmu agama –tidak mempelajari kaidah-kaidah Islam dan cabang-cabang ilmu yang terkait dengannya- maka sesungguhnya dia telah diharamkan untuk mendapatkan kebaikan”

             Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan bahwa pengertian fikih dalam syari’at adalah mengetahui hukum-hukum Allah yang berupa akidah ataupun amalan. Maka dalam pengertian syari’at fikih tidaklah hanya terbatas pada urusan amal perbuatan orang yang dibebani syari’at atau hukum amaliyah semata. Akan tetapi, fikih itu juga mencakup hukum-hukum akidah. Bahkan sebagian ulama mengatakan : sesungguhnya ilmu akidah itulah fikih yang terbesar (al fiqhu al akbar). Ini adalah pernyataan yang benar. Sebab anda tidak mungkin bias beribadah dengan benar kepada al ma’bud (Allah)

kecuali setelah mengetahui keesaan-Nya dalam hal rububiyah, nama-nama, sifat-sifat, dan uluhiyah-Nya.

           Kalau tidak demikian, maka bagaimana mungkin anda beribadah kepada sesuatu yang tidak dimengerti ? Oleh sebab itu asas yang pertama adalah tauhid, dan memang pantas ia disebut sebagai fikih yang terbesar


KEADILAN YANG PALING ADIL.


          Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bertanya kepada Mu'adz,"Wahai Mu'adz tahukah engkau apakah hak Allah yang wajib ditunaikan hamba dan hak hamba yang pasti dipenuhi Allah ?" Mu'adz menjawab,"Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."

Rasulullah bersabda,

"Hak Allah yang wajib ditunaikan hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya serta tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Adapun hak hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu apapun."
. HR. Al Bukhari dan Muslim.

           Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan berkata,”Hadits ini menunjukkan bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala memiliki hak yang harus ditunaikan oleh para hamba.
Barangsiapa yang menyia-nyiakan hak ini maka sesungguhnya dia telah terjatuh dalam sikap menyianyiakan hak yang paling agung.”


Allah ta’ala berfirman yang artinya,

“Sungguh Kami telah mengutus para utusan Kami dengan keteranganketerangan, dan Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca supaya manusia menegakkan keadilan” QS. Al Hadiid  : 25

          Setelah menyebutkan ayat ini, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,"Allah subhanahu wa ta'ala memberitakan bahwa Dia mengutus para Rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya supaya manusia menegakkan al qisth yaitu keadilan.

          Salah satu di antara nilai-nilai keadilan yang paling agung adalah tauhid. Ia adalah pokok terbesar keadilan dan pilar penegaknya. Sedangkan syirik adalah kezaliman yang sangat besar. Sehingga syirik merupakan kezaliman yang paling zalim, sedangkan tauhid merupakan keadilan yang paling adil..”


           Saudaraku, apabila engkau hendak menunaikan hak seseorang tentunya engkau akan melihat siapakah orang yang akan kau tunaikan haknya. Semakin mulia orang itu dalam pandanganmu niscaya haknya pun akan semakin terhormat dan agung di dalam hatimu. Jelas berbeda antara hak guru dengan hak murid, antara hak orang tua dengan hak anak, sebagaimana berbedanya hak penguasa dengan hak rakyatnya. Lalu sekarang bagaimana apabila pemilik hak itu adalah penguasa dan pencipta seluruh alam semesta? Apakah engkau akan menunda-nunda menunaikan haknya? Apakah engkau akan melalaikannya, sementara setiap jengkal bumi dan langit berada di bawah kekuasaan dan pengawasan-Nya?

         Akankah kita lalaikan dan nomor duakan dakwah tauhid? Ataukah dengan sombong kita mengaku telah paham dan pandai tentang tauhid?

         Lihatlah Nabi shallallahu ‘laihi wa sallam. Berapa lama waktu yang beliau butuhkan untuk membina masyarakat Mekkah dalam hal tauhid? Apakah hanya dengan sekali atau dua kali ‘daurah’, atau kuliah agama satu semester? Atau dengan pendidikan setara S-1 selama empat atau lima tahun? Lihatlah. Bukankah untuk membina mereka saja beliau membutuhkan waktu 13 tahun. Tahun-tahun yang panjang dan penuh cobaan, ujian serta tekanan. Sampai-sampai sebagian kaum muslimin ketika itu harus berhijrah ke Ethiopia. Beliau bersihkan akidah paganisme dari kehidupan mereka dan beliau ajarkan akidah tauhid yang mulia.

             Tiga belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Terlebih lagi beliau adalah sosok da’i paling hebat seantero dunia. Bukan itu saja, bahkan beliau adalah seorang Nabi yang malaikat pun siap untuk menimpakan gunung demi membantu dakwahnya. Belum lagi, beliau harus menghadapi keadaan waqi’ (realitas) masyarakatnya yang diselimuti oleh pekatnya kabut kejahiliyahan.

               Lihat pula Abul Anbiya’ (bapak para nabi) Ibrahim ‘alaihis salam, seorang imamul hunafa’ (pemimpin orang-orang yang hanif), seorang pahlawan tauhid yang telah menghancurkan berhala-berhala kaumnya yang oleh karena itu beliau dibakar dengan tungku api yang sangat besar, seorang anak yang sangat menginginkan ayah dan kaumnya mendapatkan hidayah, seorang ayah yang merelakan puteranya untuk disembelih demi menjalankan perintah Dzat yang paling dicintai-Nya (Allah ta’ala), seorang manusia yang telah diangkat sebagai kekasih oleh Ar Rahman yang menguasai seluruh alam semesta. Dengan kedudukan beliau yang begitu tinggi dan mulia ini beliau tetap menaruh perhatian besar terhadap perkara tauhid dan sangat khawatir terseret ke dalam praktek kesyirikan yang telah beliau perangi dengan segenap jiwa dan raganya. Allah ta’ala mengisahkan do’a yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim di dalam ayat-Nya,“Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada arca-arca.” QS. Ibrahim : 35

            Ibrahim At Taimi mengatakan,Lalu siapakah orang selain Ibrahim yang bisa merasa aman dari ancaman bencana (kesyirikan)?!” Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata,“Maka tidak ada lagi yang merasa aman dari terjatuh dalam kesyirikan kecuali orang yang bodoh tentangnya dan juga tidak memahami sebabsebab yang bisa menyelamatkan diri darinya; yaitu ilmu tentang Allah, ilmu tentang ajaran Rasul-Nya yaitu mentauhidkan-Nya serta larangan dari perbuatan syirik terhadapnya.”

            Lalu bagaimana mungkin kita yang miskin ilmu ini merasa lebih pintar dan lebih piawai dalam menjaga kemurnian tauhid dan mendakwahkannya daripada para nabi dan rasul? Padahal, kita baru saja belajar Tauhid kemarin sore. Apakah kita juga akan mengatakan bahwa kita lebih banyak makan asam garam kehidupan dan lebih lama malang melintang di dunia dakwah daripada Rasulullah dan para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum dan menjuluki pengikut mereka sebagai da’I ‘ingusan’ yang masih miskin pengalaman?!! Wallahul musta’aan, tauhid awwalan yaa du’aatal Islaam!!

Kalau demikian..

            Dari pembahasan dalam bab ini jelaslah bagi kita bahwa dakwah tauhid adalah dakwah paling penting yang harus diprioritaskan oleh semua kalangan dan setiap gerakan ishlah (perbaikan). Maka setiap orang yang ingin merasakan nikmatnya buah ketauhidan di dunia dan di akherat, setiap orang yang ingin selamat dari siksa neraka, setiap orang ingin mengisi sisa hidupnya dengan ketaatan setelah sebelumnya dia kotori dengan lumpur kemaksiatan, setiap orang yang ingin melanjutkan estafet perjuangan dakwah para nabi dan rasul, setiap orang yang ingin memperjuangkan tegaknya syari’at Islam di bumi Allah, setiap orang yang ingin memasyarakatkan ajaran-ajaran Al Qur’an, setiap cendekiawan yang ingin mendalami intisari ajaran Islam, setiap orang yang ingin mendalami ilmu fikih Islam, dan juga setiap orang yang bertekad kuat untuk bekerja keras menegakkan nilai-nilai keadilan di masyarakat atau sebuah negara, maka sudah seharusnya mereka semua (dan ini pun mencakup setiap individu muslim; baik ayah, ibu, ataupun anak) untuk mempelajari tauhid dan memprioritaskan tauhid di atas segala-galanya.

Pentingnya Akidah dan Tauhid




Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Akidah yang benar merupakan pondasi tegaknya agama dan syarat sah diterimanya amalan. Hal itu sebagaimana yang difirmankan oleh Allah,

 Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". QS. Al-Kahfi : 110

             Imam Bukhari mengetengahkan sebuah hadis melalui sahabat Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. berkata kepada malaikat Jibril, "Apakah gerangan yang menyebabkanmu tidak menziarahiku sebagaimana biasanya?". Lalu turunlah firman-Nya, "Dan tidaklah kami turun, melainkan dengan perintah Rabbmu..." (Q.S. Maryam, 64). Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ikrimah yang menceritakan bahwa malaikat Jibril tidak turun membawa wahyu. Kemudian hadis Ikrimah ini menceritakan hal yang sama dengan hadis di atas tadi. Ibnu Murdawaih mengetengahkan sebuah hadis melalui sahabat Anas r.a. yang menceritakan bahwa Nabi saw. bertanya kepada malaikat Jibril tentang daerah mana yang disukai oleh Allah dan daerah mana yang dibenci oleh-Nya. Maka malaikat Jibril menjawab, "Aku tidak tahu, nanti akan kutanyakan (kepada-Nya)". Selanjutnya malaikat Jibril turun lagi yang pada saat itu ia telah absen selama beberapa waktu tidak turun menemui Nabi saw. Maka Nabi saw. berkata kepadanya, "Sungguh engkau absen datang kepadaku, sehingga aku sangat merindukanmu". Ketika itu juga malaikat Jibril membacakan firman-Nya, "Dan tidaklah kami turun, melainkan dengan perintah Rabbmu." (Q.S. Maryam, 64). Ibnu Ishaq mengetengahkan sebuah hadis melalui sahabat Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa ketika orang-orang Quraisy menanyakan kepada Nabi saw. perihal Ash-habul Kahfi, maka selama lima belas hari Allah tidak menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi saw. Ketika malaikat Jibril turun dengan membawa wahyu-Nya, Nabi saw. berkata kepadanya, "Mengapa engkau absen?" Kemudian Ibnu Ishak menyebutkan kelanjutan hadis ini sama dengan hadis-hadis yang sebelumnya.



Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.  QS. Az-Zumar: 65.
Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya),
 “Sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ingatlah, untuk Allah agama/ketaatan yang tulus/murni itu.” QS. Az-Zumar: 2-3.
           Maka ayat-ayat yang mulia ini serta ayat-ayat lain yang semakna -dan itu banyak jumlahnya- menunjukkan bahwa amalan tidak akan diterima kecuali apabila bersih dari syirik. Oleh sebab itulah maka fokus perhatian para rasul -semoga salawat dan keselamatan dicurahkan Allah kepada mereka- menjadikan perbaikan akidah sebagai prioritas utama dakwahnya…”