Rabu, 26 Juni 2013

KEUTAMAAN TAUHID




Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi rahimahullah (penulis Syarah Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah) mengatakan,“Ketahuilah.

             Tauhid merupakan seruan pertama dakwah para rasul. Ia adalah fase perjalanan pertama dan maqam awal yang harus dipijak oleh seorang yang menempuh jalan menuju Allah ‘azza wa jalla.

Allah ta’ala berfirman yang artinya,

“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Dia menyerukan ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian selain Dia’”.QS. Al-A’raaf  : 59.

Huud ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya,

Sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian selain Dia . QS. Al A’raaf  : 65.
Shalih ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya,

“Sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian selain Dia. QS Al- A’raaf : 73

Tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum engkau melainkan Kami telah wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak kecuali Aku. Maka sembahlah Aku saja”. QS Al Anbiya : 25

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Aku diperintahkan untuk memerangi seluruh manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”

            Oleh sebab itu maka sesungguhnya pendapat yang benar ialah yang menyatakan bahwa kewajiban pertama yang ditanggung oleh setiap hamba adalah bersaksi la ilaha illallah, sehingga tauhid itulah kewajiban yang pertama. Bahkan dia juga menjadi kewajiban terakhir. Hal ini sebagaimana tercantum dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Barangsiapa yang perkataan terakhirnya la ilaha illallah pasti masuk surge.

BUAH TAUHID


         Ibnul Qayyim mengatakan,Tahun ibarat sebatang pohon sedangkan bulan-bulan adalah cabang-cabangnya, jamjam adalah daun-daunnya dan hembusan nafas adalah
buah-buahannya. Barang siapa yang pohonnya tumbuh di atas kemaksiatan maka buah yang dihasilkannya adalah hanzhal (buah yang pahit dan tidak enak dipandang, pent) sedangkan masa untuk memanen itu semua adalah ketika datangnya Yaumul Ma’aad (hari kiamat). Ketika dipanen barulah akan tampak dengan jelas buah yang manis dengan buah yang pahit. Ikhlas dan tauhid adalah ‘sebatang pohon’ di dalam hati yang cabang-cabangnya adalah amal-amal sedangkan buah-buahannya adalah baiknya kehidupan dunia dan surge yang penuh dengan kenikmatan di akherat. Sebagaimana buah-buahan di surga tidak akan akan habis dan tidak terlarang untuk dipetik maka buah dari tauhid dan keikhlasan di dunia pun seperti itu.

           Adapun syirik, kedustaan, dan riya’ adalah pohon yang tertanam di dalam hati yang buahnya di dunia adalah berupa rasa takut, kesedihan, gundah gulana, rasa sempit di dalam dada, dan gelapnya hati, dan buahnya di akherat nanti adalah berupa buah Zaqqum dan siksaan yang terus menerus. Allah telah menceritakan kedua macam pohon ini di dalam surat Ibrahim.”




TAUHID DI ATAS SEGALA-GALANYA.


           Kepentingan manusia untuk bertauhid sungguh jauh berada di atas kepentingan mereka terhadap makanan, minuman atau tempat tinggal. Kalau seseorang tidak makan atau minum, akibat terburuk yang dialami hanyalah sekedar kematian. Namun, kalau seseorang tidak bertauhid barang sekejap saja dan pada saat itu dia meninggal dalam keadaan musyrik, maka siksaan yang kekal di neraka sudah siap menantinya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),”Sesungguhnya orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah (dalam beribadah) maka sungguh Allah telah mengharamkan atasnya surga, dan tempat tinggalnya adalah neraka…” QS. Al Ma’idah  : 72.

         Bahkan amalnya yang bertumpuk-tumpuk selama hidup pun akan menjadi sia-sia apabila di akhir hidupnya dia telah berbuat syirik kepada Rabb-nya dan belum bertaubat darinya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya)

,Sungguh, jika kamu berbuat syirik, akan lenyaplah semua amalmu, dan kamu pasti akan tergolong orang yang merugi.” QS. Az Zumar  : 65

           Terkait dengan pentingnya tauhid ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,“Ketahuilah, sesungguhnya kebutuhan hamba untuk senantiasa beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya merupakan kebutuhan yang tak tertandingi oleh apapun yang bisa dianalogikan dengannya. Akan tetapi dari sebagian sisi ia bisa diserupakan dengan kebutuhan tubuh terhadap makanan dan minuman. Di antara keduanya sebenarnya terdapat banyak sekali perbedaan.

           Karena sesungguhnya jati diri seorang hamba terletak pada hati dan ruhnya. Padahal, tidak ada kebaikan baginya (hati dan ruh) kecuali dengan (pertolongan) Tuhannya, yang tiada ilah (sesembahan) yang haq selain Dia. Sehingga ia tidak akan bisa merasakan ketenangan kecuali dengan mengingat-Nya
.

          Seandainya seorang hamba bisa memperoleh kelezatan dan kesenangan dengan selain Allah maka hal itu tidak akan terus menerus terasa. Akan tetapi ia akan berpindah dari satu jenis ke jenis yang lain, dari satu individu ke individu yang lain. Adapun tuhannya, maka dia pasti membutuhkan-Nya dalam setiap keadaan dan di setiap waktu. Di mana pun dia berada maka Dia (Allah) senantiasa menyertainya.”

HIKMAH PENCIPTAAN.


          Kalaulah kita mau merenungkan untuk apa kita diciptakan di alam dunia ini niscaya kita akan memahami betapa agung kedudukan tauhid dalam hidup ini. Allah ta’ala berfirman yang artinya,

”Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” QS. Adz Dzariyat  : 56.

        Makna beribadah kepada Allah di sini adalah mentauhidkan Allah.

         Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan,”Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya; sesungguhnya hakekat Al Hanifiyah yaitu agama yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim adalah engkau beribadah kepada Allah dengan ikhlas dalam melakukan ketaatan (tidak berbuat syirik)

              Dan dengan hal itulah Allah memerintahkan seluruh manusia dan untuk itulah Allah menciptakan mereka semua...”

             Imam Al Baghawi meriwayatkan di dalam tafsirnya bahwa Ali bin Abi Thalib menafsirkan ayat ini : (tidaklah mereka diciptakan) melainkan untuk Aku perintah beribadah kepada-Ku dan Ku-seru mereka untuk menyembah-Ku.

            Tafsiran Ali ini didukung oleh firman Allah 'azza wa jalla,"Dan tidaklah mereka disuruh melainkan untuk beribadah kepada ilah yang esa." QS. At Taubah  :
31.

             Beliau (Imam Al Baghawi) juga membawakan riwayat dari Mujahid yang menafsirkan ayat ini dengan (tidaklah mereka diciptakan) melainkan supaya mereka mengenal-Ku. Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazaa'iri mengatakan bahwa makna ‘supaya mereka beribadah kepada-Ku’ ialah 'Aku ciptakan mereka supaya tunduk beribadah kepada-Ku, maka barangsiapa yang beribadah kepada-Ku maka akan Aku muliakan, dan barangsiapa yang meninggalkan ibadah kepada-Ku maka akan Aku hinakan.' Imam Ibnu Katsir berkata : Tidaklah mereka Aku (Allah) ciptakan kecuali untuk Kuperintah beribadah kepada-Ku, bukan karena kebutuhan diri-Ku kepada mereka.

           Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan mengatakan : Ayat yang agung ini telah menerangkan hikmah penciptaan jin dan manusia yaitu untuk beribadah. Karena sesungguhnya Allah jalla wa 'ala tidaklah menciptakan makhluk kecuali untuk Allah perintahkan beribadah….

MISI DAKWAH PARA RASUL.


           Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin berkata,”Tauhid merupakan perkara paling agung yang diperintahkan Allah disebabkan ia menjadi pondasi seluruh ajaran agama. Oleh karena itu dengan tauhid lah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memulai dakwahnya mengajak kepada agama Allah, demikian juga beliau memerintahkan utusan dakwahnya supaya memulai dakwah dengan perkara ini.”

           Dan tidaklah salah jika kita katakan bahwa sesungguhnya dakwah tauhid adalah dakwah paling pertama dan paling penting yang diserukan oleh semua Rasul. Syaikh Shalih Al Fauzan berkata,“Semua Rasul mengatakan seruan pertama kali yang ditujukan kepada kaumnya yaitu,Sembahlah Allah, tidak ada bagi kalian satu sesembahan pun (yang haq) selain Dia (QS. Al A’raaf  ayat 59, 65, 73 dan 85), seruan itulah yang dikatakan oleh Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan seluruh nabi kepada kaum mereka”

SYARI’AT ISLAM NOMOR WAHID.


           Tauhid tidak layak untuk dikesampingkan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam saja orang yang paling bijak dalam berdakwah tidak memerintahkan da’i utusannya untuk mendakwahkan tetek bengek ajaran syari’at sebelum dakwah tauhid ditegakkan. Hal ini dikisahkan oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma.

            Beliau menceritakan,”Ketika mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berpesan,”Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu
kaum dari kalangan Ahli Kitab. Hendaknya perkara yang pertama kali engkau dakwahkan adalah supaya mereka mentauhidkan Allah...”
HR. Al Bukhari dan Muslim.

            Di dalam riwayat Muslim dengan lafazh,"Hendaknya perkara paling pertama yang harus engkau sampaikan kepada mereka adalah ibadah kepada Allah." Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ibadah kepada Allah di sini adalah bertauhid.

           Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali menjelaskan,”Hadits ini menjelaskan langkah-langkah dakwah yang wajib ditempuh oleh seorang da’i yang (mengajak orang) kepada (agama) Allah. Perkara pertama yang harus didakwahkan terlebih dulu adalah dakwah (mengajak umat manusia) kepada tauhid, beribadah kepada Allah saja serta menjauhi kesyirikan; yang kecil maupun yang besar. Dan hal itu akan terwujud dengan mewujudkan syahadat laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadar Rasulullah. Maksud dari syahadat ini adalah segala macam ibadah harus dipersembahkan kepada Allah saja, tidak ada sesuatupun selain-Nya yang berhak untuk mendapatkannya barang sedikitpun. Entah dia malaikat yang dekat, Nabi yang diutus, orang shalih, batu, pohon, matahari, ataupun bulan.”


SELURUH AL QUR’AN BERBICARA TENTANG TAUHID!



         Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi rahimahullah mengatakan,

         Mayoritas isi surat-surat yang ada di dalam Al Qur’an mengandung kedua macam tauhid tersebut, bahkan seluruh surat yang ada di dalam Al Qur’an demikian. Hal itu disebabkan isi Al Qur’an terkadang berbicara tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Inilah kandungan tauhid ilmi khabari (tauhid fil itsbat wal ma’rifah). Bisa juga berbicara tentang seruan supaya makhluk beribadah kepada-Nya saja, tidak boleh ada sekutu bagi-Nya serta mencampakkan segala sesembahan selain Allah. Inilah yang kandungan tauhid iradi thalabi (tauhid fi thalab wal qashd).”
“Dan ia juga berisi perintah dan larangan serta pembebanan kewajiban untuk tunduk dan patuh kepada-Nya. Maka yang demikian itu adalah bagian dari hak tauhid dan penyempurnanya. Ia juga berisi informasi tentang kemuliaan yang dianugerahkan Allah kepada orang-orang yang bertauhid. Begitu pula Allah menyebutkan balasan yang mereka dapatkan sewaktu di dunia dan kelak di akherat. Maka itulah balasan atas ketauhidannya. Dan ia juga berisi informasi tentang keadaan yang dialami oleh orang-orang musyrik, hukuman yang mereka terima di dunia serta siksaan yang mereka alami kelak di akherat. Maka itulah hukuman bagi orang-orang yang membangkang dari hukum tauhid.”


INTISARI AJARAN ISLAM.


         Syaikhul Islam mengatakan,Dan telah diketahui dengan pasti suatu prinsip yang termasuk ajaran agama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga disepakati oleh seluruh umat yaitu : pokok ajaran Islam dan perintah pertama yang diberikan kepada manusia ialah syahadat la ilaha illallah wa anna Muhammadar Rasulullah. Dengan itulah seorang kafir berubah menjadi muslim, musuh menjadi teman, yang semula darah dan hartanya boleh diambil berubah menjadi terpelihara darah dan hartanya…”

         Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata, “Simpul ajaran agama (Islam) ada pada dua prinsip :

(1) Kita tidak menyembah kecuali kepada Allah
(2) Dan kita tidak menyembah-Nya kecuali dengan syari’at-Nya, bukan dengan kebid’ahan

Hal ini sebagaimana terkandung dalam firman Allah ta’ala (yang artinya)

Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal shalih dan tidak mempersekutukan sesuatupun (berbuat syirik) dalam beribadat kepada Rabbnya. QS Al-Kahfi : 110

         Itulah perwujudan dua kalimat syahadat. Syahadat la ilaha illallah dan syahadat anna Muhammadar Rasulullaah. Pada (syahadat) yang pertama terkandung prinsip ; kita tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Sedangkan pada (syahadat) yang kedua terkandung prinsip bahwa Muhammad lah utusan-Nya yang menyampaikan wahyu dari-Nya. Oleh sebab itu kita wajib membenarkan beritanya dan mentaati perintahnya…”


FIKIH YANG PALING AGUNG

      
 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 



Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, Allah akan menjadikan dia fakih dalam urusan agama HR. Al Bukhari dari sahabat Mu’awiyah radhiyallahu’anhu

             Maka tanda baiknya seseorang adalah ketika dia diberikan kefakihan (kepahaman) dalam masalah agama.

             Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,”Kesimpulan hukum dari hadits ini adalah barang siapa yang tidak mendalami ilmu agama –tidak mempelajari kaidah-kaidah Islam dan cabang-cabang ilmu yang terkait dengannya- maka sesungguhnya dia telah diharamkan untuk mendapatkan kebaikan”

             Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan bahwa pengertian fikih dalam syari’at adalah mengetahui hukum-hukum Allah yang berupa akidah ataupun amalan. Maka dalam pengertian syari’at fikih tidaklah hanya terbatas pada urusan amal perbuatan orang yang dibebani syari’at atau hukum amaliyah semata. Akan tetapi, fikih itu juga mencakup hukum-hukum akidah. Bahkan sebagian ulama mengatakan : sesungguhnya ilmu akidah itulah fikih yang terbesar (al fiqhu al akbar). Ini adalah pernyataan yang benar. Sebab anda tidak mungkin bias beribadah dengan benar kepada al ma’bud (Allah)

kecuali setelah mengetahui keesaan-Nya dalam hal rububiyah, nama-nama, sifat-sifat, dan uluhiyah-Nya.

           Kalau tidak demikian, maka bagaimana mungkin anda beribadah kepada sesuatu yang tidak dimengerti ? Oleh sebab itu asas yang pertama adalah tauhid, dan memang pantas ia disebut sebagai fikih yang terbesar


KEADILAN YANG PALING ADIL.


          Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bertanya kepada Mu'adz,"Wahai Mu'adz tahukah engkau apakah hak Allah yang wajib ditunaikan hamba dan hak hamba yang pasti dipenuhi Allah ?" Mu'adz menjawab,"Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."

Rasulullah bersabda,

"Hak Allah yang wajib ditunaikan hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya serta tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Adapun hak hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu apapun."
. HR. Al Bukhari dan Muslim.

           Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan berkata,”Hadits ini menunjukkan bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala memiliki hak yang harus ditunaikan oleh para hamba.
Barangsiapa yang menyia-nyiakan hak ini maka sesungguhnya dia telah terjatuh dalam sikap menyianyiakan hak yang paling agung.”


Allah ta’ala berfirman yang artinya,

“Sungguh Kami telah mengutus para utusan Kami dengan keteranganketerangan, dan Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca supaya manusia menegakkan keadilan” QS. Al Hadiid  : 25

          Setelah menyebutkan ayat ini, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,"Allah subhanahu wa ta'ala memberitakan bahwa Dia mengutus para Rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya supaya manusia menegakkan al qisth yaitu keadilan.

          Salah satu di antara nilai-nilai keadilan yang paling agung adalah tauhid. Ia adalah pokok terbesar keadilan dan pilar penegaknya. Sedangkan syirik adalah kezaliman yang sangat besar. Sehingga syirik merupakan kezaliman yang paling zalim, sedangkan tauhid merupakan keadilan yang paling adil..”


           Saudaraku, apabila engkau hendak menunaikan hak seseorang tentunya engkau akan melihat siapakah orang yang akan kau tunaikan haknya. Semakin mulia orang itu dalam pandanganmu niscaya haknya pun akan semakin terhormat dan agung di dalam hatimu. Jelas berbeda antara hak guru dengan hak murid, antara hak orang tua dengan hak anak, sebagaimana berbedanya hak penguasa dengan hak rakyatnya. Lalu sekarang bagaimana apabila pemilik hak itu adalah penguasa dan pencipta seluruh alam semesta? Apakah engkau akan menunda-nunda menunaikan haknya? Apakah engkau akan melalaikannya, sementara setiap jengkal bumi dan langit berada di bawah kekuasaan dan pengawasan-Nya?

         Akankah kita lalaikan dan nomor duakan dakwah tauhid? Ataukah dengan sombong kita mengaku telah paham dan pandai tentang tauhid?

         Lihatlah Nabi shallallahu ‘laihi wa sallam. Berapa lama waktu yang beliau butuhkan untuk membina masyarakat Mekkah dalam hal tauhid? Apakah hanya dengan sekali atau dua kali ‘daurah’, atau kuliah agama satu semester? Atau dengan pendidikan setara S-1 selama empat atau lima tahun? Lihatlah. Bukankah untuk membina mereka saja beliau membutuhkan waktu 13 tahun. Tahun-tahun yang panjang dan penuh cobaan, ujian serta tekanan. Sampai-sampai sebagian kaum muslimin ketika itu harus berhijrah ke Ethiopia. Beliau bersihkan akidah paganisme dari kehidupan mereka dan beliau ajarkan akidah tauhid yang mulia.

             Tiga belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Terlebih lagi beliau adalah sosok da’i paling hebat seantero dunia. Bukan itu saja, bahkan beliau adalah seorang Nabi yang malaikat pun siap untuk menimpakan gunung demi membantu dakwahnya. Belum lagi, beliau harus menghadapi keadaan waqi’ (realitas) masyarakatnya yang diselimuti oleh pekatnya kabut kejahiliyahan.

               Lihat pula Abul Anbiya’ (bapak para nabi) Ibrahim ‘alaihis salam, seorang imamul hunafa’ (pemimpin orang-orang yang hanif), seorang pahlawan tauhid yang telah menghancurkan berhala-berhala kaumnya yang oleh karena itu beliau dibakar dengan tungku api yang sangat besar, seorang anak yang sangat menginginkan ayah dan kaumnya mendapatkan hidayah, seorang ayah yang merelakan puteranya untuk disembelih demi menjalankan perintah Dzat yang paling dicintai-Nya (Allah ta’ala), seorang manusia yang telah diangkat sebagai kekasih oleh Ar Rahman yang menguasai seluruh alam semesta. Dengan kedudukan beliau yang begitu tinggi dan mulia ini beliau tetap menaruh perhatian besar terhadap perkara tauhid dan sangat khawatir terseret ke dalam praktek kesyirikan yang telah beliau perangi dengan segenap jiwa dan raganya. Allah ta’ala mengisahkan do’a yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim di dalam ayat-Nya,“Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada arca-arca.” QS. Ibrahim : 35

            Ibrahim At Taimi mengatakan,Lalu siapakah orang selain Ibrahim yang bisa merasa aman dari ancaman bencana (kesyirikan)?!” Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata,“Maka tidak ada lagi yang merasa aman dari terjatuh dalam kesyirikan kecuali orang yang bodoh tentangnya dan juga tidak memahami sebabsebab yang bisa menyelamatkan diri darinya; yaitu ilmu tentang Allah, ilmu tentang ajaran Rasul-Nya yaitu mentauhidkan-Nya serta larangan dari perbuatan syirik terhadapnya.”

            Lalu bagaimana mungkin kita yang miskin ilmu ini merasa lebih pintar dan lebih piawai dalam menjaga kemurnian tauhid dan mendakwahkannya daripada para nabi dan rasul? Padahal, kita baru saja belajar Tauhid kemarin sore. Apakah kita juga akan mengatakan bahwa kita lebih banyak makan asam garam kehidupan dan lebih lama malang melintang di dunia dakwah daripada Rasulullah dan para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum dan menjuluki pengikut mereka sebagai da’I ‘ingusan’ yang masih miskin pengalaman?!! Wallahul musta’aan, tauhid awwalan yaa du’aatal Islaam!!

Kalau demikian..

            Dari pembahasan dalam bab ini jelaslah bagi kita bahwa dakwah tauhid adalah dakwah paling penting yang harus diprioritaskan oleh semua kalangan dan setiap gerakan ishlah (perbaikan). Maka setiap orang yang ingin merasakan nikmatnya buah ketauhidan di dunia dan di akherat, setiap orang yang ingin selamat dari siksa neraka, setiap orang ingin mengisi sisa hidupnya dengan ketaatan setelah sebelumnya dia kotori dengan lumpur kemaksiatan, setiap orang yang ingin melanjutkan estafet perjuangan dakwah para nabi dan rasul, setiap orang yang ingin memperjuangkan tegaknya syari’at Islam di bumi Allah, setiap orang yang ingin memasyarakatkan ajaran-ajaran Al Qur’an, setiap cendekiawan yang ingin mendalami intisari ajaran Islam, setiap orang yang ingin mendalami ilmu fikih Islam, dan juga setiap orang yang bertekad kuat untuk bekerja keras menegakkan nilai-nilai keadilan di masyarakat atau sebuah negara, maka sudah seharusnya mereka semua (dan ini pun mencakup setiap individu muslim; baik ayah, ibu, ataupun anak) untuk mempelajari tauhid dan memprioritaskan tauhid di atas segala-galanya.

Pentingnya Akidah dan Tauhid




Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Akidah yang benar merupakan pondasi tegaknya agama dan syarat sah diterimanya amalan. Hal itu sebagaimana yang difirmankan oleh Allah,

 Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". QS. Al-Kahfi : 110

             Imam Bukhari mengetengahkan sebuah hadis melalui sahabat Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. berkata kepada malaikat Jibril, "Apakah gerangan yang menyebabkanmu tidak menziarahiku sebagaimana biasanya?". Lalu turunlah firman-Nya, "Dan tidaklah kami turun, melainkan dengan perintah Rabbmu..." (Q.S. Maryam, 64). Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ikrimah yang menceritakan bahwa malaikat Jibril tidak turun membawa wahyu. Kemudian hadis Ikrimah ini menceritakan hal yang sama dengan hadis di atas tadi. Ibnu Murdawaih mengetengahkan sebuah hadis melalui sahabat Anas r.a. yang menceritakan bahwa Nabi saw. bertanya kepada malaikat Jibril tentang daerah mana yang disukai oleh Allah dan daerah mana yang dibenci oleh-Nya. Maka malaikat Jibril menjawab, "Aku tidak tahu, nanti akan kutanyakan (kepada-Nya)". Selanjutnya malaikat Jibril turun lagi yang pada saat itu ia telah absen selama beberapa waktu tidak turun menemui Nabi saw. Maka Nabi saw. berkata kepadanya, "Sungguh engkau absen datang kepadaku, sehingga aku sangat merindukanmu". Ketika itu juga malaikat Jibril membacakan firman-Nya, "Dan tidaklah kami turun, melainkan dengan perintah Rabbmu." (Q.S. Maryam, 64). Ibnu Ishaq mengetengahkan sebuah hadis melalui sahabat Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa ketika orang-orang Quraisy menanyakan kepada Nabi saw. perihal Ash-habul Kahfi, maka selama lima belas hari Allah tidak menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi saw. Ketika malaikat Jibril turun dengan membawa wahyu-Nya, Nabi saw. berkata kepadanya, "Mengapa engkau absen?" Kemudian Ibnu Ishak menyebutkan kelanjutan hadis ini sama dengan hadis-hadis yang sebelumnya.



Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.  QS. Az-Zumar: 65.
Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya),
 “Sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ingatlah, untuk Allah agama/ketaatan yang tulus/murni itu.” QS. Az-Zumar: 2-3.
           Maka ayat-ayat yang mulia ini serta ayat-ayat lain yang semakna -dan itu banyak jumlahnya- menunjukkan bahwa amalan tidak akan diterima kecuali apabila bersih dari syirik. Oleh sebab itulah maka fokus perhatian para rasul -semoga salawat dan keselamatan dicurahkan Allah kepada mereka- menjadikan perbaikan akidah sebagai prioritas utama dakwahnya…”

Jumat, 10 Mei 2013

GADIS YANG MELAWAN ALLAH.



         Ini adalah kisah nyata, aku berharap semua orang dapat mengambil manfaat dari kisah ini dan tidak ada daya upaya kecuali atas pertolongan Allah swt.

         Adalah seorang gadis yang berpenampilan kelewat glamor di tengah bulan ramadhan. Gadis ini menaiki taksi. Pandangan mata sopir sekilas tertuju pada penampilan si gadis. Kemudian ia berbicara kepadanya dengan sopan agar ia bertaqwa kepada Allah dalam berpakaian dan khususnya pada bulan ramadhan yang mulia.

         Akan tetapi,ia justru berkata demikian. Ambilah HP dan Hubungi Rabbmu agar mengkapling untukku satu tempat di Neraka jahnnam dan satu tempat di Jnnah untukmu.


        Balasan Allah sangat cepat dan jawaban Nya pun turun dengan segera. Seketika itu, ruhnya diambil dan dia mati dalam keadaan demikian dan tubuhnya membeku di tempatnya tersebut. Bahkan, ketika ia di keluarkan dari ruang pendingin di rumah sakit, tubuhnya nampak hitam legam. Na'udzubillah min dzalik.....

        Bahkan HP nya pun tidak dapat di keluarkan dari tangannya sehingga telepon seluler tersebut di kubur bersama jasadnya agar menjadi saksi atasnya pada Hari Kiamat.

        Amirul Mu'minin Ali Bin Abi Thalib berkata di salah satu khutbahnya yang terkenal, Aku heran terhadap orang yang mengingkari adanya alam akhirat padahal ia melihat alam dunia. Dan aku heran terhadap orang yang mengingkari adanya pengembalian makhluk padahal ia melihat mula kemunculannya.

Semoga bermanfaat. Amiin........

Sabtu, 23 Maret 2013

MEMEGANG TEGUH AL-QUR'AN DAN AS-SUNNAH.




            Keterpurukan dan kondisi umat Islam saat ini, bukan disebabkan karena kehebatan dan kemajuan umat lain. Namun disebabkan oleh kesalahan kita sendiri dalam memilih cara hidup yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Sebagian pemuka agama ada yang berperilaku seperti perilaku pemuka agama Yahudi dan Nasrani.

           Mereka menyembunyikan yang haq, karena alasan yang bersifat pribadi. Bahkan sebagian yang lain menyembunyikannya karena alasan rejeki. Padahal Ar Razaq itu hanya Allah swt. Bagaimana dapat memperoleh rejeki yang barakah kalau jalannya dengan menyembunyikan yang haq? Sebagian yang lain suka mencampur adukkan yang haq dan yang batil. Sehingga umat tidak bisa melihat dengan jelas mana yang halal dan mana yang haram. Kebenaran yang seharusnya disampaikan dengan jelas menjadi kabur, kelihatan samar-samar.

         Sedangkan sebagian besar rakyat jelata malas mempelajari kebenaran langsung dari sumbernya Al Qur’an dan As Sunnah. Sehingga apa yang mereka dapatkan kebatilan yang dipoles sehingga seolah-olah nampak benar. Yang mereka jadikan rujukan hanya mitos, tradisi, dan pendapat para kyai, bukan Al Qur’an dan As Sunnah. Padahal siapa yang dapat menjamin kebenaran dari ketiganya? Tidak ada sama sekali.
Apalagi sebagian yang lain lebih suka hiburan, foya-foya, dan memuaskan hawa nafsu dari pada menuntut ilmu. Panggung-panggung hiburan yang menampilkan para penyanyi ndhang ndhut selalu dipenuhi oleh anak-anak muda, laki-laki maupun perempuan yang bercampur baur. Sedang pengajian yang mengajarkan Al Qur’an dan As Sunnah mereka abaikan begitu saja. Mereka tidak suka dibimbing untuk menjadi bangsa yang maju terpimpin. Mereka lebih suka hidup bebas untuk memuaskan hawa nafsu.
Maka tidak heran kalau yang kita lihat bukan kemajuan tapi kemerosotan, bukan prestasi tapi dekadensi, bukan kehidupan yang aman, tenteram, damai, dan sejahtera, tetapi kehidupan yang resah, gelisah, penuh kebencian dan kedengkian.

         Bagaimana kita dapat memperbaiki-nya? Sudahkah kita terlambat untuk berbuat? Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat. Selama hayat masih dikandung badan, sebelum nyawa sampai di tenggorokan, Allah tetap akan menghargai pertaubatan kita. Sebagai orang awam sebaiknya segera kita berusaha untuk mempelajari Al Qur’an dan As Sunnah, sehingga tidak mudah tertipu dan tersesat dalam beramal. Rasulullah saw berwasiat dalam sebuah hadist riwayat Ibnu Abdil Barr :

“Aku telah meninggalkan kepadamu dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.” Apa yang kita fahami dari Al Qur’an dan As Sunnah segera kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Amalan inilah yang memungkinkan terjadinya proses perubahan karakter kita yang jelek manjadi baik, malas menjadi rajin, kikir menjadi dermawan, isyrak menjadi ikhlas.

       Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dari Hudzaifah Rasulullah saw berpesan: Duru ma’a kitabillahi haitsu ma dara (Hendaklah kamu sekalian beredar bersama kitab Allah kemana saja dia beredar). Rasulullah saw mengajak kita semua untuk senantiasa mengikuti Al Qur’an. Menjadikan Al Qur’an sebagai imam kita dan pemberi arah gerak kita. Dan menjadikannya sebagai rujukan atas kebenaran, karena Al Qur’an tidak pernah tersentuh oleh kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya (QS 41: 42).

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat (QS 6: 155)

          Ayat yang dikutip di atas mengingatkan kepada kita semua untuk mengikutinya, mengikuti aturan, tata kehidupan dan nilai-nilai moral yang diajarkan Allah di dalamnya dan mengingatkan kita untuk bertakwa agar kita mendapatkan kasih sayang-Nya.

      Begitu pentingnya bertakwa sehingga beliau saw juga berpesan: “Ittaqillaha haitsu ma kunta” (bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada.) Umat ini terpuruk dan hina karena jauh dari cinta dan kasih sayang-Nya. Untuk itu hanya dengan kembali bertaat kepada-Nya dan mengikuti sunnah nabi-Nya kita akan mendapatkan cinta dan kasih sayangnya (QS 3: 31). Bahkan dengan jalan berbuat taat kepada Allah dan Rasul-Nya inilah kita akan mendapatkan kemenangan yang besar (QS 4: 13). Akan tetapi sebaliknya kalau kita durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya yang akan kita peroleh tiada lain kecuali neraka dan siksa yang menghinakan (QS 4: 14).

        Sebagai tokoh masyarakat, pemuka agama, atau orang yang dituakan di lingkungannya, hendaklah kita berusaha untuk senantiasa meningkatkan kualitas moral dan intelektual kita masing-masing. Dengan senantiasa mengoreksi pikiran, ucapan, dan amalan kita dengan ayat-ayat Al Qur’an dan As Sunnah. Apa yang sesuai kita syukuri dengan terus meningkatkan diri dan apa yang tidak sesuai segera kita tinggalkan.

       Dunia ini bergerak dengan cepat, anak muda maju dengan pesat didukung oleh berbagai fasilitas baru seperti CD, komputer, televisi, dan internet. Sebagai orang tua kalau kita tidak bergerak maju, merasa cukup ilmu yang dimiliki, maka kita akan tertinggal dari yang muda. Bukan masanya lagi kita memperdebatkan khilafiyyah. Dengan semangat kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah, mari kita saling menghormati. Lana a’maluna walakum a’malukum. Mari kita saling bekerja-sama, kalau memang tidak bisa mari kita sama-sama bekerja.

      Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa beliau telah meninggalkan 2 perkara yang apabila manusia berpegang teguh kepada keduanya mereka tidak akan tersesat selamanya. Kedua perkara itu adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka menjadi sangat penting bagi orang Islam untuk memahami Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketertinggalan ummat Islam dari ummat lain dalam berbagai bidang kehidupan bukan karena kehebatan ummat lain, tetapi karena ummat Islam tidak memahami ajaran agamanya sendiri
.
        Mereka hidup terombang-ambing oleh keinginan hawa nafsunya, tidak memiliki pegangan yang kuat. Sebagian karena tidak memahami Al-Qur’an dan sebagian lain karena tidak mentaati Al-Qur’an. Menurut Imam Ibnul-Qayyim Al-Jauziy kelompok pertama tidak memperoleh hidayah ilmu, sedang kelompok kedua meski telah memperoleh hidayah ilmu tetapi tidak memperoleh hidayah amal.

          Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan kepadanya, maka Allah akan memberinya kefahaman dalam agamanya. Faham terhadap agamanya berarti memahami Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, yang merupakan warisan yang sangat berharga bagi ummat manusia yang mau memahami dan mengimaninya.

          Bagi kita ummat Islam harus mengimani sepenuh hati, tanpa ragu, bahwa hanya dengan Al-Qur’an manusia secara pribadi maupun secara keseluruhan bisa menjadi baik dan selamat dalam hidupnya di dunia ini maupun di akhirat kelak.
Imam Malik mengatakan, “Tidak akan dapat memperbaiki (keadaan) ummat akhir ini melainkan dengan apa yang pernah memperbaiki (keadaan) ummat pertamanya”. Rasulullah SAW memerintahkan, “Beredarlah kalian mengikuti Al-Qur’an ke mana saja dia beredar [HR. Hakim].

Dan sabdanya yang lain, “Barangsiapa menjadikan Al-Qur’an itu di depannya (untuk diikuti) maka akan membawanya ke surga, dan barangsiapa yang menjadikan Al-Qur’an itu di belakangnya (mengikuti hawa nafsunya), maka akan memasukkan ke dalam neraka. [HR. Ibnu Majah]

        Dari situ jelaslah bahwa manusia sejak dahulu sampai sekarang ini tidak akan bisa menjadi baik tanpa memahami dan mengikuti Al-Qur’an.

         Lebih tegas lagi Allah SWT menjelaskan, “Ini adalah sebuah kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan, penuh berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. [QS. Shaad : 29].

           Dan juga firman Allah SWT yang artinya, “Dan (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa. [QS. Al-An'aam : 153]

Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Qur’an, sedang dia dibacakan kepada mereka ? Sesungguhnya dalam Al-Qur’an itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. [QS. Al-'Ankabuut : 51]
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah, itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu (Al-Qur’an). Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Da barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya. [QS. Az-Zumar : 23]
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab (Al-Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridlaan-Nya ke jalan keselamatan, dan dengan Al-Qur’an itu pula Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap-gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. [QS. Al-Maaidah : 15-16]

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu datang kepada mereka, mereka itu pasti akan celaka, dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebathilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. [QS. Fushshilat : 41-42]

               Dari beberapa ayat Al-Qur’an tersebut memberi pengertian kepada kita serta meyaqinkan bahwa manusia menjadi selamat karena mengimani dan memahami serta mengamalkan Al-Qur’an. Dan manusia menjadi sesat juga karenanya tidak memahami dan tidak mengimani Al-Qur’an. Dengan demikian sangat penting memahami Al-Qur’an bagi siapasaja yang menginginkan keselamatan dan kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat kelak, bagi ummat Islam fardlu ‘ain memahami Al-Qur’an, agar dapat menjadi orang Islam yang benar-benar tingkah lakunya sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an yang merupakan sumbernya ajaran Islam.

Semoga bermanfat bagi kita semua, aamiin.

Jumat, 15 Maret 2013

PENTINGNYA AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR


           Syekh Muhammad Abduh pernah mengatakan: “Al-Islamu mahjuubun bilmuslimiin.” (Islam itu tertutup oleh orang-orang Islam.) Umat Islam seharusnya menjadi umat yang terbaik (khaira ummah), akan tetapi kenyataannya tidak demikian.

           Para pejabat banyak yang melakukan korupsi, pemerasan dan pencucian uang untuk menopang gaya hidup borjuis. Para remaja banyak yang menenggak miras, mengkonsumsi narkoba, dan mendewa-dewakan kebebasan yang kebablasan, mempraktekkan pergaulan dan sex bebas.

           Sementara itu dalam suasana perekonomian yang sulit dan kenaikan harga pangan yang membubung tinggi masih saja ada orang yang tega berbuat riba. Rentenir, bank plecit, dan lintah darat bergerilya ke pasar tradisional dan warung-warung kecil menggerogoti perekonomian rakyat miskin.

Padahal Imam Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA bahwa Nabi SAW pernah bersabda (yang artinya): “Apabila zina dan riba sudah merajalela di suatu negeri, berarti mereka telah menghalalkan/merelakan jatuhnya siksa Allah pada diri mereka sendiri”.

Tidak hanya zina dan riba, hampir semua kemakshiyatan dan kedhaliman tumbuh subur di negeri ini.
Seolah kita tidak berdaya untuk mencegahnya.

Padahal di dalam QS An-Nahl : 61 Allah mengancam: “Jikalau Allah menghukum manusia karena kedhalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata”, Na’udzubillah.

         Saudaraku, tentu kita tidak menghendaki negeri ini dihancurkan Allah dengan sehancur-hancurnya. Kita tidak menghendaki bangsa ini dihancurkan Allah seperti kehancuran yang dialami oleh kaum ‘Aad dan Tsamut, tidak seorangpun disisakan dari mereka. [QS An-Najm : 50-51]

            Kita harus bergerak mencegahnya melalui amar ma’ruf nahi munkar. Menyampaikan buah pikiran yang baik, lalu menganjurkan, mempromosikan, dan mengajak orang lain kepada kebaikan. Dalam waktu yang bersamaan kita melemahkan ide-ide buruk yang berkembang di masyarakat, menunjukkan penolakan, dan mengalahkannya dengan buah pikiran yang cemerlang. Rasulullah SAW menghasung kita untuk mencegah kemungkaran dengan tangan, bila tidak mampu dengan lisan, bila tidak mampu dengan hati.
Kita bisa memanfaatkan aparat penegak hukum untuk mencegah kemungkaran dengan kekuatan yang mereka miliki. Jangan cuek saja bila melihat kemakshiyatan, laporkan kepada aparat penegak hukum terdekat. Bila mereka tidak bergerak mencegahnya, laporkan kepada aparat yang lebih tinggi tingkatannya. Kita tingkatkan kepedulian kita kepada masyarakat untuk mencegah kemurkaan Allah, karena kemungkaran yang dilakukan oleh orang-orang yang jahat. Kita ajak umat untuk kembali ke jalan Allah.

        Kita gencarkan da’wah untuk mengajak umat kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kita yaqinkan ummat bahwa keselamatan dari siksa api neraka dan kejayaan bangsa hanya bisa diperoleh dengan Al-Qur’an. Kita tunjukkan keteladanan yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW melalui sunnahnya. Kita bangun kehidupan kebersamaan dalam Islam, karena bersatu kita, teguh bercerai kita runtuh. Semoga dengan jalan demikian Allah menjauhkan kita dari kehancuran.

 Allah SWT pernah memberikan julukan para sahabat Rasulullah SAW sebagai umat yang terbaik yang dilahirkan untuk kepentingan manusia. Yang demikian itu karena mereka teguh dalam iman kepada Allah dan bersungguh-sungguh melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. [QS Ali Imran : 110].

               Islam sebagai agama sangat berwibawa di mata agama-agama lain di dunia. Umat Islam sebagai pemeluknya sangat dihormati baik oleh kawan maupun lawan. Hak-hak individual maupun sosial di tengah masyarakat sangat dihargai. Namimah, ghibah, dan fitnah dapat diminimalisir. Gangguan keamanan, pencurian dan perampokan amat sangat jarang terdengar. Yang ada justru kehidupan yang digambarkan oleh Rasulullah SAW bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan satu bagian dengan bagian yang lainnya.
Beliau menetapkan bahwa diantara sesama orang beriman itu haram darahnya, haram kehormatannya dan haram hartanya. Semua pelanggaran atas hukum yang telah ditetapkan akan dikenakan sangsi yang ditegakkan dengan adil. Orang yang membunuh akan diqishash kecuali ahli warisnya memaafkan. Remaja yang berzina akan dicambuk, sedang mukhshan/mukhshanat yang berzina akan dirajam. Orang yang mencuri dengan kriteria tertentu akan dipotong tangannya. Keadaan jauh berbeda dengan apa yang dialami umat Islam saat ini. Mereka tidak lagi memiliki kewibawaan, cenderung dilecehkan, dan dikalahkan dalam berbagai kompetisi melawan umat lain.

               Ulama sepakat penyebabnya adalah karena mereka jauh dari Islam, jauh dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Islam tinggal namanya, Qur’an tinggal tulisannya, masjid-masjidnya ramai tetapi jauh dari hidayah Allah. Mereka tidak beriman dengan iman yang sebenarnya. Maka kualitas iman umat Islam tidak ubahnya seperti buih. Tidak yakin akan kehidupan akhirat, tidak percaya akan janji-janji Allah, sehingga tidak muncul keberanian untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
Akibatnya dari pelosok desa sampai pusat kota banyak terjadi tindak kriminalitas. Bahkan para penjahatpun semakin berani melaksanakan aksinya. Sampai-sampai ada sebuah bank di tengah kota dirampok oleh 16 orang perampok bersenjata api, seorang anggota brimob tewas dan dua orang security mengalami luka tembak. Na’udzubillah.
Saudaraku, hidup di dunia ini hanya sebentar, sedang akhiratlah yang kekal

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ

Hai kaumku, Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan Sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal.[QS Al-Mu'min : 39].

             Mari kita perkuat iman kita kepada Allah dan hari Akhir, karena Dialah penentu kebahagiaan hidup kita yang kekal di akhirat. Ketika Allah melalui rasul-Nya memerintahkan kepada kita untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar, maka mari kita sambut dengan senang hati. Kita laksanakan mulai dari diri kita sendiri, anggota keluarga, kerabat dekat, lalu melebar ke tengah masyarakat. Dalam satu hadist Rasululah SAW menilai amar ma’ruf nahi munkar sebagai satu bentuk sedekah.

               Dalam hadist yang lain Rasululah SAW memerintahkan kita untuk mencegah kemunkaran dengan tangan. Jika tidak mampu, maka dengan lisan. Dan jika itu tidak mampu, maka dengan hati. Sedanngkan yang terakhir ini dikategorikan ke dalam iman yang paling lemah. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita iman yang kuat dan keberanian untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar, aamiin