Rabu, 07 Januari 2015

Merealisasikan tauhid secara keseluruhan dan bergantung secara penuh kepada Allah yang tiada sekutu bagi-Nya.


  • Inilah jalan terbaik untuk keluar dari seluruh kesulitan di dunia dan kerugian di akhirat. Karena itulah Allah menciptakan makhluk, mengutus utusan dan menurunkan Al Kitab (al-Qur’an). Beribadah kepada Allah berarti pengabdian secara total dan kecintaan yang tulus kepada Allah yang mengandung ketaatan dan ketundukan kepada-Nya.
    Allah tidak rela kecuali pengabdian yang seperti itu, sebagaimana firman Allah:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz Dzariyat: 56).
    Dan bagian dari ibadah hati adalah mahabbah (mencintai) Allah secara sempurna. Maka barangsiapa memalingkan sedikit saja kecintaan tersebut dari Allah maka dia telah kafir, sebab Allah berfirman:
    وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ) )
    “Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu: “Jika kamu memperse-kutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az Zumar 65).
    Bahkan surga diharamkan baginya, seperti firman Allah:
    إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ))
    “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga.” (Al Maidah: 72).
    Dan juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
    مَنْ تَعَلّقَ شَيْئًا وُكِّلَ إِلَيْهِ.
    “Barangsiapa menggantungkan sesuatu maka ia akan bergantung kepadanya.”
    Wahai remaja putri yang telah terjangkit penyakit kagum dan telah mengakar dalam jiwa, sebenarnya kamu memiliki teladan dan idola sejati, seorang nabi mulia yang telah diuji oleh Allah dengan tidak dikaruniai anak dalam waktu yang lama, maka beliau terus berdoa memohon kepada Allah agar dikaruniai anak, maka Allah mengabulkannya. Karena terlalu cintanya kepada anak yang menyebabkan beliau bergantung kepadanya, maka Allah subhanahu wata’aala menguji kecintaan tersebut dengan diperintahkan untuk menyembelih anaknya agar kecintaan kepada kekasih utamanya yaitu Allah menjadi tulus. Perintah menyembelih anak merupakan ujian berat dan cobaan besar yang harus dilaksanakan oleh Ibrahim alaihis salam, bukan hanya sekedar ujian menyembelih anak akan tetapi menyembelih ketergantungan hati kepada kecintaan terhadap anak agar hati Ibrahim hanya murni bergantung kepada Allah. Setelah Nabi Ibrahim khalilullah bersegera memenuhi panggilan Allah dan mendahulukan cinta Allah daripada cinta anak, maka tujuan utamanya tercapai dan penyembelihan diganti Allah dengan sembelihan kibas (domba) yang sangat besar, sebagaimana firman Allah:
    “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab:”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan dengan seekor sembelihan yang besar.” (As Shaffaat: 102-107).
    Wahai remaja putri yang sedang kagum kepada seorang idola dan figur yang terfitnah, sebenarnya ada figur dan idola idaman dan sosok panutan yaitu nabi yang mulia Ibrahim alaihis salam, renungkanlah keutamaan tauhid dan ikhlas.
    Suatu contoh Nabi Yusuf disekap dalam fitnah besar, dengan fitnah kecintaan dan harta serta kedudukkan. Beliau mendapat rayuan dan ajakan keji dari seorang isteri raja dengan segala fasilitas yang serba lengkap, tetapi beliau berlindung dari ajakan kotor dan keji tersebut di belakang benteng yang sangat kuat, maka perhatikan bagaimana pengaruh sikap ikhlas sebagaimana firman Allah:
    وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَنْ رَأى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
    “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih.” (Yusuf: 24).
    Yang dimaksud dengan hamma (hendak melakukan) berasal dari bisikan dan godaan syaithan dalam jiwanya, maka lihatlah pengaruh keikhlasan pada diri Yusuf, bagaimana hal itu ternyata menjadi kunci kesuksesan sehingga ia menjadi manusia terpilih, bersih, suci dan mulia di sisi Allah dan renungkanlah bagaimana keberuntungan yang diraih Yusuf setelah keluar dari penjara akibat menolak hal yang haram.
    Jadi, barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan mengganti dengan sesuatu yang lebih baik, dengan menahan diri dari perbuatan haram maka Allah memberi karunia isteri yang shalihah dan anak-anak cucu yang salih berbahagia di dunia dan di akhirat.
    Barangsiapa mencintai seseorang lebih atau sama seperti mencintai Allah, berarti ia telah menjadikan sekutu bagi Allah, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    يَخْرُجُ عُنُقٌ مِنْ النَّار يَوْمَ القِيَامَةِ لَهُ عَيْنَانِ تُبْصِرَانِ وَلَهُ أُذُنَانِ تَسْمَعَانِ وَلِسَانٌ يَنْطِقٌ يَقُوْلُ إِنّيِ وُكِلْتُ بِثَلاثَةٍ بِمَنْ جَعَلَ مَعَ الله إِلَهاً آخَرَ وَبِكُلِّ جَباَرٍ عَنِيْدٍ وَبِاْلمُصَوِّرِين.
    “Akan keluar dari neraka pada hari Kiamat leher ber-kepala yang memiliki dua mata yang bisa melihat, memiliki dua telinga yang bisa mendengar, memiliki lisan yang bisa berbicara dan berkata: Sesungguhnya aku dipasrahi mengurusi tiga orang, yaitu orang yang menyekutukan Allah dengan tuhan selain-Nya, orang yang diktator dan sombong dan orang yang suka menggambar (gambar yang bernyawa).”
  • Muraqabatullah (selalu merasa diawasi Allah).
    Terkadang Allah menunda murka-Nya dan terkadang tidak, maka hendaklah hati-hati terhadap kecemburuan Allah, seperti hadits dari Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    لاَ أَغْيَرَ مِنَ اللهِ تَعَالىَ.
    “Tiada yang lebih ghirah (cemburu) daripada Allah.” (dishahihkan oleh Al-Albany)
    Dan dalam sabda lain:
    أَنَّ الله لَيَغَارُ وَإِنَّ غَيْرتَهُ أَنْ تُؤتَى مَحارِمُه.
    “Sesungguhnya Allah lebih cemburu dan cemburunya Allah adalah pada saat dilanggar perkara yang diharamkan-Nya.”
    Dan juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam :
    أَتَعْجَبُوْنَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ وَاللهِ لأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ وَاللهُ أَغْيَرُ مِنِّي وَمِنْ أَجْلِ غَيْرَةِ الله حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْها ومَا بَطَنَ.
    “Adakah kalian heran terhadap ghirah (cemburunya) Sa’ad? demi Allah aku lebih pencemburu daripada dia dan Allah lebih pencemburu daripada aku oleh karena Allah cemburu maka Dia mengharamkan kekejian, baik yang zhahir maupun batin.”
    Perhatikanlah siksaan Allah yang menimpa orang-orang yang menentang perintah-Nya dan melanggar apa yang diharamkan-Nya, sebagaimana firman Allah:
    وَلَقَدْ رَاوَدُوهُ عَن ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَآ أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُواْ عَذَابِى وَنُذُرِ . وَلَقَدْ صَبَّحَهُم بُكْرَةً عَذَابٌ مُّسْتَقِرٌّ
    “Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah adzab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa adzab yang kekal.” (Al Qamar: 37-38).
    Oleh sebab itu malaikat membawa dua perintah kepada Nabi Luth ‘alaihis salam, hendaklah membawa pergi keluarganya pada akhir malam dan tidak boleh seorang pun dari mereka menoleh tatkala mendengar suara adzab Allah menimpa kaumnya, maka Allah berfirman:
    فَلَمَّا جَآءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عاليها سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنْضُودٍ . مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ وَمَا هِىَ مِنَ الظالمين بِبَعِيدٍ
    “Maka tatkala datang adzab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim.” (Huud: 82-83)
    Imam Ibnu Katsir rahimahullah menuturkan bahwa Jibril menjebol bumi dengan salah satu sayapnya dan bumi yang terkoyak hancur sebanyak tujuh kota beserta manusia dan berbagai macam hewan-hewannya. Perhatikanlah pengaruh dan akibat buruk yang ditimbulkan oleh maksiat; membuat beberapa kota dan tempat tinggal hancur berantakan, suara jeritan dan ratapan tangis sampai ke langit hingga para malaikat mendengar suara ayam, anjing dan yang lain sedang menjerit histeris, kemudian Allah membalik permukaan bumi. Imam Mujahid berkata bahwa yang pertama kali hancur berantakan adalah balkon mereka lalu Allah menurunkan hujan batu dari langit yang panas membara siap membakar datang bertubi-tubi dan masing-masing batu tertulis nama pemiliknya dan batu itu menghantam kepala mereka hingga hancur. Setelah itu Allah mengubah daerah itu menjadi danau luas yang berbau busuk, airnya dan apa yang ada di sekitarnya tidak bermanfaat dan tanaman tidak bisa tumbuh serta hewan tidak bisa hidup di tempat tersebut begitu pula perahu tidak bisa berlabuh di danau itu, sehingga tempat tersebut menjadi peringatan, pelajaran dan tanda-tanda kebesaran serta kekuasaan Allah serta betapa hebatnya siksaan Allah bagi orang yang menentang perintah-Nya.
    Begitu juga siksaan Allah yang hebat akan menimpa orang-orang yang menentang dan melanggar apa yang diharamkan Allah, yaitu akan muncul berbagai wabah dan penyakit yang belum pernah menimpa umat-umat terdahulu, sebagaimana dalam riwayat hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    خَمْسُ خِصَالٍ إنِ ابْتُلِيْتُمْ بِهِنَّ وَنَزَلَتْ بِكُمْ وَأَعُوْذُ بِاللهِ أَنْ تُدْرِكُوْهُنَّ لَمْ تَظْهَرِ الفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطٌ حَتَّى يُعْلِنُوْا بِهَا إلاَّ فَشَا فِيْهِمْ الطَّاعُوْنُ وَاْلأَوْجَاعُ الَّتِيْ لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمْ … الحديث.
    “Lima bencana yang akan menguji kalian dan pasti akan turun kepada kalian, aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak menemuinya, tidaklah perzinahan merajalela dalam suatu kaum dan mereka lakukan terang-terangan melainkan Allah akan menimpakan kepada mereka berbagai tha’un dan wabah penyakit yang tidak pernah menimpa pada umat terdahulu.”
    Imam Ibnu Katsir rahimahullah menuturkan riwayat dalam tafsirnya dari Ubay bin Ka’ab berkata; “Aku telah mendengar beberapa perkara yang akan terjadi pada umat ini saat mendekati hari Kiamat antara lain, wanita menikah dengan wanita padahal itu termasuk perbuatan haram yang paling dimurkai Allah dan Rasul-Nya, shalat mereka tidak dianggap selagi masih melakukan perbuatan itu hingga bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya”.
  • Sibuk dengan amal shalih.
    Di antara cara mengobati penyakit kagum adalah menyibukkan diri dengan ibadah sebagaimana tujuan Allah menciptakan manusia untuk beribadah dan taat kepada Allah serta meninggalkan seluruh apa yang menjadi larangan-Nya. Allah berfirman:
    والذين جاهدوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ الله لَمَعَ المحسنين
    Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (Al Ankabut: 69).
    Dan Allah berfirman:
    واعبد رَبَّكَ حتى يَأْتِيَكَ اليقين
    “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (Al Hijr: 99).
    Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda bahwa Allah berfirman:
    إذَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وإذَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وإذَا أتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً.
    “Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta dan jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sedepa dan bila ia mendatangi (perintah)-Ku dengan berjalan biasa maka Aku akan mendatanginya dengan lari-lari kecil.”
    Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ.
    ”Mayit akan dihantarkan oleh tiga perkara, dihantarkan keluarganya, hartanya dan amalnya. Maka dua perkara akan kembali dan yang ikut menetap bersamanya hanya satu; keluarga dan hartanya akan kembali dan amalnya akan tetap bersamanya.”
    حافظوا عَلَى الصلوات والصلاوة ا لْوُسْطَى
    Amalan yang paling penting setelah tauhid adalah shalat, oleh karena itu Allah berfirman:
    “Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wustha.” (Al Baqarah: 238).
    Dan Allah berfirman:
    إِنَّ الصلاة تنهى عَنِ الفحشاء والمنكر
    “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (Al Ankabuut: 45).
    Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam amal apa yang paling utama? Beliau bersabda, “Shalat pada waktunya”.
    Dan juga sabda beliau kepadanya:
    عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُجُوْدِ فَإِنَّكَ لَنْ تَسْجُدَ للهِ سَجْدَةً إلاَّ رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وحُطَّ عَنْكَ خَطِيْئَةً.
    “Perbanyaklah kamu bersujud, sesungguhnya tidaklah kamu bersujud kepada Allah sekali saja melainkan Allah akan mengangkatmu dengannya satu derajat dan menghapus darimu satu kesalahan.”
    Berusahalah untuk selalu qiyamul lail, karena Allah berfirman:
    تتجافى جُنُوبُهُمْ عَنِ المضاجع يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفاً وَطَمَعًا
    “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya, dengan rasa takut dan harap.” (As Sajdah 16).
    Dan Allah juga berfirman:
    كَانُواْ قَلِيلاً مّن اليل مَا يَهْجَعُون
    “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.” (Adz Dzariyaat: 17).
    Dari Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوْا السَّلاَمَ وأَطْعِمُوْا الطَعَامَ وصَلُّوْا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوْا اْلجَنَّةَ بِسَلاَمٍ.
    “Wahai manusia sebarkanlah salam, berilah makan (kepada fakir miskin) dan shalatlah pada malam hari sementara orang-orang sedang terlelap tidur maka kalian akan masuk Surga dengan selamat.”
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمضَانَ شَهْرُ اللهِ اْلمُحَرَّمُ وأَفْضَلُ الصَّلاةِ بَعْدَ الفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ.
    “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa bulannya Allah yaitu Muharram dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat pada malam hari.”
    Dari Abu Said Al Khudhri radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُوْمُ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللهِ إلاَّ بَاعَدَ اللهُ بِذَلِكَ اليَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِيْنَ خَرِيْفَا.
    “Tiadalah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya dari Neraka tujuh puluh tahun karena puasa seharinya tersebut.”
    Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    صَوْمُ ثَلاَثَةِ أيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ.
    “Puasa tiga hari setiap bulan sama halnya puasa satu tahun penuh.”
    Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ يُكْتَبْ لَهُ شَيْءٌ فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ عَلَيْهِ سَيَّئَةٌ وَاحِدَةٌ.
    “Barangsiapa hendak melakukan satu kebaikan tapi belum dikerjakan, maka akan dicatat baginya satu kebaikan dan bila dikerjakan maka dicatat baginya sepuluh kebaikan. Dan barangsiapa hendak melakukan satu keburukan tapi belum dikerjakan maka tidak dicatat baginya suatu apapun dan bila dikerjakan maka akan dicatat baginya satu kejelekan.”
    Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda bahwasanya Allah berfirman:
    مَنْ آذَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ اسْتَحَلَّ مُحَارَبَتِي وَمَا تَقَرَّب إِليَّ عَبْدِي بِمِثْلِ أدَاءِ فَرِيْضَتِي وإنَّ عَبْدِي لَيَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ عَيْنُهُ الَّتِي يُبْصِرُ بِهَا وَيَدُهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا ورِجْلُهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَفُؤَادُهُ الَّذِي عَقَلَ بِهِ وَلِسَانُهُ الَّذِي يَتَكَلَّمُ بِهِ وَإِنْ دَعَانِي أَجَبْتُهُ وَإِنْ سَأَلَنِي أَعْطَيْتُهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ مَوْتِهِ وَذَلِكَ أَنَهُّ يَكْرَهُ المَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مُسَاءَتَهُ.
    “Barangsiapa menyakiti wali-Ku maka ia telah menghalalkan perang dengan-Ku dan tiadalah taqarrub seorang hamba-Ku sepadan dengan menunaikan kewajiban-Ku. Sesungguhnya seorang hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan perkara yang nafilah hingga Aku akan mencintainya, bila Aku mencintainya maka Aku sebagai matanya tatkala melihat, sebagai tangannya pada saat memegang, sebagai kakinya pada saat berjalan, sebagai hatinya pada saat berfikir dan Aku sebagai lisannya pada saat berbicara. Bila dia berdoa maka Aku akan kabulkan dan bila meminta Aku akan memberinya, Aku tidak ragu-ragu dari melakukan sesuatu yang aku sendiri melakukannya seperti keragu-raguan-Ku dari mematikannya, sebab dia benci dari kematian dan Aku pun tidak mau mengganggunya.”
    Amalan baik selanjutnya adalah membaca Al-Qur’an dan berdzikir kepada Allah, karena Allah berfirman:
    قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدًى وَشِفَاءٌ
    “Katakanlah: “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.” (Fushshilaat: 44).
    Dan Allah berfirman:
    وَنُنَزّلُ مِنَ القرءان مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظالمين إَلاَّ خَسَارًا
    “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian.” (Al Israa’: 82).
    Diriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    اِقْرَأُوا الْقُرْآنَ فإِنَّه يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا ِلأَصْحَابهِ.
    “Bacalah kamu sekalian Al-Qur’an karena sesungguhnya ia datang di hari kiamat memberikan syafaat kepada pembacanya.”
    Dari Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    يُؤْتَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِالقُرْآنِ وأَهْلِهِ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ بِهِ فِي الدُّنْيَا تُقَدِّمُهُ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ وَآلِ عِمْرَانَ تَحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا.
    “Didatangkan pada hari Kiamat dengan Al-Qur’an dan ahlinya yang selalu mengamalkan di dunia, maka majulah surat Al Baqarah dan Ali Imran membela para ahlinya.”
    Dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam mengabarkan tentang surat yang paling agung dan beliau bersabda:
    الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ الْفَاتِحَةُ وَهِيَ السَّبْعُ اْلمَثَانِي وَالقُرْآنُ الْعَظِيْمُ الَّذِي أُوْتِيْتُهُ.
    “Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, surat Al Fatihah adalah sab’ul matsani dan Al-Qur’anul Adzim yang telah diberikan kepadaku dengannya.”
    Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Tahukah kamu ayat-ayat yang turun pada malam hari ini tidak ada yang sepadan dengannya sama sekali, (yaitu) Qul a’udzu birabbil falaq dan Qul a’udzu birabbin naas.”
    Diriwayatkan dari Abu Mas’ud Al Badri radhiyallahu ‘anhu bahwa nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    مَنْ قَرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سَوْرَةِ البَقَرَةِ كَفَتَاهُ.
    “Barangsiapa membaca dua ayat dari akhir surat Al Baqarah maka cukuplah baginya.”
    Yaitu dicukupkan dari hal-hal yang di benci pada malam itu atau di cukupkan dari Qiyamul lail.
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    لاَ تَجْعَلُوا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ إنَّ الشَيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ يُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ البَقَرَةِ وَأَخْذُهَا بَرَكَةٌ وتَرْكُهَا حَسْرَةٌ وَلاَ تَسْتَطِيْعُهَا الْبَطَلَةُ.
    “Janganlah jadikan rumah kalian laksana kuburan, karena syaithan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al Baqarah karena mengambilnya suatu keberkahan dan meninggalkan suatu kerugian serta syaithan tidak mampu menembusnya.”
    Hendaklah kamu menyibukkan diri dengan dzikrullah karena dzikir merupakan modal utama untuk mengusir syaithan, sebab penyakit batin yang kamu derita saat sekarang hanya imbas dari makar dan tipu daya syaithan terhadapmu agar kamu lalai dari dzikir kepada Allah dan tidak ada yang mampu mengusir syaithan kecuali dzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an, karena Allah berfirman:
    فاذكرونى أَذْكُرْكُمْ
    “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (Al Baqarah: 152).
    Dan Allah berfirman:
    وَلَذِكْرُ الله أَكْبَرُ
    “Dan sesungguhnya mengingat Allah (Shalat) adalah lebih besar.” (Al Ankabuut: 45).
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ فيْ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عِدْلُ عَشْرِ رِِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ ومُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزاً مِنَ الشَيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ إلاَّ رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْهُ.
    “Barangsiapa membaca : “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan dan pujian, Dialah Maha kuasa atas segala sesuatu”, dalam satu hari seratus kali maka baginya seperti membebaskan sepuluh orang budak, ditulis baginya seratus kebaikan dan dihapuskan darinya seratus keburukan serta baginya akan mendapat perlindungan dari syaithan pada hari itu hingga sore hari, dan tiada seorangpun yang membawa pahala lebih baik kecuali orang yang melakukan lebih banyak darinya.”
  • Menjaga semua indra dari apa yang diharamkan oleh Allah.
    Karena Allah berfirman:
    حتى إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وأبصارهم وَجُلُودُهُم بِمَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ .
    وَقَالُواْ لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدتُّمْ عَلَيْنَا قَالُواْ أَنطَقَنَا الله الذى أَنطَقَ كُلَّ شَىْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
    “Sehingga apabila mereka sampai ke Neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab, “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Fushshilaat 20-21).
    Dan Allah berfirman:
    وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السمع والبصر والفؤاد كُلُّ أولئك كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً
    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al Israa’: 36).
    Dan Allah berfirman:
    وَقُل للمؤمنات يَغْضُضْنَ مِنْ أبصارهن وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
    “Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya’.” (An Nur: 31).
    Tidak diragukan lagi bahwa yang menjadi penyebab utama segala macam bencana adalah pendengaran dan penglihatan sebagai bias dari pencemaran hati yang sakit kemudian timbul fitnah, semoga Allah melindungi kita. Mendengar suara yang haram baik berupa musik, nyanyian atau syair-syair gila dan murahan bisa membuat hati sakit sehingga akan menjadi mangsa segala macam ketergantungan yang diharamkan.
    Ibnu Qayyim berkata, “Di antara tipu daya dan jeratan iblis atas orang yang memiliki bagian sedikit dari ilmu, kepahaman dan kesadaran agama, hati orang-orang bodoh dan ahli kebatilan, adalah ketertarikan dan kegemaran mendengar suara tepuk tangan dan siulan serta nyanyian dengan alat musik yang diharamkan yang bertujuan untuk memalingkan hati dari Al-Qur’an sehingga menjadi terlena dan terbiasa dengan kefasikan dan kemaksiatan. Musik merupakan qur’an syaithan yang menghalangi dari kenikmatan membaca Al-Qur’an dan musik hanya jampi-jampi untuk membangkitkan perbuatan kaum Luth dan zina.”
    Maka bacalah kitab Al-Adillah minal Kitab was Sunnah fi Hurmatil Aghani wal Malahi karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, yang tidak mungkin dijelaskan secara rinci dalam kitab ini. Begitu juga wajib menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan bagaimanapun bentuknya sebab dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    كُتِبَ عَلَى ابْنِْ آدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النّظَرُ وَاْلأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالقَلْبُ يَهْوِيْ وَيَتَمَّنَى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ.
    “Setiap anak Adam pasti mendapat bagian dari zina yang tidak terelakkan, kedua mata berzina dan zinanya adalah memandang, kedua telinga berzina dan zinanya adalah mendengar, lisan berzina dan zinanya adalah berbicara, tangan dan zinanya adalah memegang, kaki dan zinanya adalah berjalan dan hati berkeinginan dan berangan-angan lalu kemaluan membenarkan atau mendustakan itu.”
  • Memutuskan hubungan dengan teman buruk.
    Masing-masing orang memiliki akhlak dan latar belakang hidup serta pemahaman yang beraneka ragam, di antara mereka ada yang mempunyai akhlak buruk dan pribadinya terjerumus dalam kubangan lumpur syahwat dan kelezatan dunia semata, tiada mengenal dalam kehidupannya kecuali hanya untuk melampiaskan syahwat dan birahi sehingga mereka tidak bisa diharapkan untuk memberi kebaikan dan kemanfaatan kepada masyarakat. Bahkan masyarakat merasa aman dan tenteram bila jauh dan tidak tergantung kepada mereka.
    Allah berfirman:
    وَيَوْمَ يَعَضُّ الظالم على يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِى اتخذت مَعَ الرسول سَبِيلاً . يا وَيْلَتَا لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلاَناً خَلِيلاً . لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ الذكر بَعْدَ إِذْ جآءَنِى وَكَانَ الشيطان للإنسان خَذُولاً
    “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaithan itu tidak mau menolong manusia.” (AlFurqan 27-29).
    Dan firman Allah:
    وَلاَ تَرْكَنُواْ إِلَى الذين ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ النار وَمَا لَكُمْ مِّن دُونِ الله مِنْ أَوْلِيآءَ ثُمَّ لاَ تُنصَرُونَ
    “Dan kamu cenderung kepada orang-orang yang dzalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Huud: 113).
    Nabi shallallahu ‘alahi wasallam juga bersabda:
    الرَّجُلُ عَلَي دِيْنِ خَلِيْلهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.
    “Seseorang sangat tergantung agama temannya maka lihatlah di antara kamu sekalian siapa orang yang menjadi temannya.”
    إِنَّمَا الْجَلِيْسُ الصَّالِحُ وَالْجَلِيْسُ السُّوْءُ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِحِ الْكِيْرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أنْ يُهْدِيَكَ وَإِماَّ أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً ونَافِخُ الكِيْرِ إمَّا أنْ يَحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإمَّا أنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثَةً.
    “Perumpamaan teman baik dengan teman buruk bagaikan penjual minyak wangi dengan tukang pandai besi, maka penjual minyak wangi terkadang memberi hadiah kepadamu atau kamu membeli minyak darinya atau kamu mendapat aroma semerbak darinya, dan tukang pandai besi mungkin menjadikan pakaianmu terbakar atau kamu akan mendapatkan darinya bau yang tidak sedap.”
    Maka renungkanlah dampak pergaulan dengan teman yang buruk, karena mereka mampu merusak aqidah. Tidak hanya terjatuh dalam kubangan maksiat, seorang teman bahkan bisa jadi membuat seseorang kekal di Neraka. Suatu contoh Uqbah bin Abu Muith, sangat sering duduk bersama Rasul tetapi dia tidak mengganggu beliau sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang kafir Quraisy sehingga sebagian orang Quraisy menyangka bahwa dia telah masuk Islam. Dia mempunyai teman di daerah Syam, setelah teman tersebut mengajaknya maka sikapnya berubah memusuhi Rasulullah hingga sampai pada kondisi yang sangat buruk, maka akhirnya dia terbunuh pada waktu perang Badar dalam keadaan kafir. Begitu juga Abu Thalib pada saat menghadapi ajal tiba Rasulullah mencoba mengajari tauhid sementara dua temannya, yaitu Abu Jahal dan Abu Umaiyah berada di samping kepalanya membimbing kalimat kekafiran akhirnya mati dalam keadaan kafir.
  • Bersegera menikah.
    Setiap remaja muslimah hendaknya mempunyai gairah dan semangat untuk segera menikah karena menikah bisa membawa banyak kemaslahatan agama dan dunia, antara lain menjaga harga diri dan kesehatan badan serta lahirnya generasi sehingga Allah telah menjunjung kehidupan orang-orang mukmin dalam firman:
    والذين يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أزواجنا وذرياتنا قُرَّةِ أَعْيُنٍ واجعلنا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً
    “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anu-gerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqan 74).
    Nabi juga bersabda:
    يَا مَعْشَرَ الشَبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإنَّهُ أَغَضُّ للبَصَرِ وأَحْصَنُ للفَرَجِ.
    “Wahai para pemuda barangsiapa di antara kalian mampu menikah, maka hendaklah menikah karena sesungguhnya nikah itu bisa lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.”
    Dan Nabi bersabda:
    إذَا أتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ إلاَّ تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ.
    “Jika telah datang seorang laki-laki kepada kalian (para wali) yang kamu telah ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia (dengan putrimu) bila tidak maka akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang berat.”
    Para wanita yang enggan menikah karena sibuk belajar atau sibuk dengan masalah lain, dalam realitas hidup merupakan orang yang paling merugi dan paling bernasib buruk di dunia serta paling riskan terhadap fitnah sehingga terkadang muncul tidak bergairah lagi untuk menikah pada akhirnya dia hidup dalam kesunyian, kehampaan dan sebatang kara sehingga lupa sama sekali berfikir untuk menikah. Pada saat itu dia terhalang dari nikmat, sebagaimana hadits Rasulullah:
    إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ …. منها وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ.
    “Jika anak Adam meninggal maka terputus amalnya kecuali dari tiga… di antaranya, anak salih yang mendoakan kepadanya.”
    Maka hendaklah merenungkan dan mengenal hakekat dan alasan dalam hadits di atas. dan bahwasannya apa yang saudari rasakan berupa gejolak yang ada di dalam jiwa tidak lain kecuali fitnah, sedangkan Allah berfirman:
    والفتنة أَشَدُّ مِنَ القتل
    “Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan.” (Al Baqarah 191).
    dan firman Allah:
    والفتنة أَكْبَرُ مِنَ القتل
    “Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) dari pada membunuh.” (AlBaqarah 217).
    Imam Ahmad telah menafsiri ayat di atas dengan makna syirik, tetapi manusia yang paling terhormat adalah ibu, dialah orang yang paling berhak dihormati, mungkinkah bisa diterima akal sehat seorang ibu yang terhormat bisa ditukar dengan wanita jalanan, wanita yang berada di tempat maksiat, wanita yang selalu beradu pandang dengan laki-laki hidung belang dan ibu yang selalu diganggu oleh tulisan surat dan deringan telpon. Jikalau kita mengetahui ada seorang wanita yang melakukan hal itu maka kita akan memandang dengan penuh kerendahan dan kehinaan bahkan kita anggap wanita murahan lagi rendah akalnya.
    Padahal ibu adalah orang yang paling berhak mendapat penghormatan dan kasih sayang bahkan Allah memerintahkan agar kita mencurahkan kasih sayang dan penghormatan kepada ibu bahkan hal itu termasuk bagian dari ibadah.
    Oleh sebab itu bagaimana mengungkapkan kekaguman kepada orang yang kita sayangi, kita cintai secara berlebihan hingga membuat lalai untuk mencintai orang yang berhak mendapat curahan kasih sayang yang paling besar setelah Allah. Wahai saudariku, ketahuilah semoga kamu diberkahi Allah, sesungguhnya syaithan tidak mungkin menggoda manusia secara langsung dengan kekafiran bahkan godaan itu secara bertahap suatu contoh mencintai sesuatu yang berawal dengan penuh keterpaksaan lalu berubah menjadi terpaksa harus melayani balasan cinta hingga akhirnya tergantung kepada orang yang dicintai kemudian cinta untuk melebihi cintanya kepada Allah sebagaimana Allah berfirman:
    وَمِنَ الناس مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ الله أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ الله
    “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (Al Baqarah 165).
    Saya tidak ingin mengotori pikiran anda dengan beberapa ungkapan yang ditulis oleh sebagian para pengagum idola yang penuh dengan muatan nilai syirik kepada Allah dan semoga Allah melindungi kita sebagaimana firman Allah:
    رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
    “Ya Tuhan kami janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (Al Imran 8).
  • Takut meninggal dalam keadaan su’ul khatimah.
    Dari Jabir berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى ما مَاتَ عَلَيْهِ.
    “Seorang hamba dibangkitkan di atas amal pada waktu kematian.”
    Ibnu Qayyim berkata: “Sangat jauh kemungkinan orang yang su’ul khatimah untuk bisa masuk Surga karena demikian itu merupakan sanksi atas perbuatan buruknya. Allah akan menjatuhkan sanksi atas keburukan dengan keburukan pula sehingga sanksi semakin berlipat ganda sebagaimana orang baik akan mendapat balasan kebaikannya pula. Jika kita mau memperhatikan kondisi kebanyakan orang (yang perangainya buruk) pada saat menghadapi kematian, ia terhalang dari khusnul khatimah sebagai sanksi atas perbuatan buruknya”.
    Kemudian beliau menyebutkan beberapa contoh su’ul khatimah antara lain:
    Diceritakan bahwa di Mesir ada seorang pemuda yang selalu rajin pergi ke masjid untuk adzan, iqamah dan shalat, padanya ada pancaran sinar ketaatan dan ibadah. Pada suatu saat seperti biasanya dia naik ke atas menara untuk adzan dan di bawah menara tersebut terdapat rumah orang Nasrani, maka iapun melongok ke arah rumah itu maka tiba-tiba terlihat olehnya seorang putri cantik anak pemilik rumah tersebut yang akhirnya dia terfitnah dengan putri pemilik rumah itu kemudian ia meninggalkan adzan dan turun lalu masuk ke rumah perempuan tadi. Maka anak perempuan itu bertanya kepadanya, “Kenapa kamu ke sini dan apa yang kamu inginkan?” Maka ia memberitahu keinginannya untuk menikah dengannya, ia berkata, “Kamu muslim.” Sementara dia adalah wanita Nasrani dan bapaknya menolaknya, maka iapun menyampaikan keinginannya untuk memeluk agama Nasrani, kemudian ia masuk Nasrani dan tinggal bersama keluarga isterinya di rumah tersebut, akhirnya pada tengah hari itu dia naik ke atap rumah lalu terjatuh dan mati.
  • Taubat dan doa.
    Allah berfirman:
    وَلَوْ يُؤَاخِذُ الله الناس بِظُلْمِهِمْ مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِن دَابَّةٍ
    “Jikalau Allah menghukum manusia karena kezhalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi suatupun dari makhluk yang melata.” (An Nahl: 61).
    Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya anak burung mati di sarangnya akibat kezhaliman orang yang zhalim.”
    Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidaklah bencana turun kecuali akibat dosa dan tidaklah bencana bisa ditolak kecuali dengan taubat.”
    Ketahuilah bahwa dosa dan kezhaliman yang paling besar adalah syirik serta petaka dan bencana yang paling berbahaya adalah musibah yang menimpa aqidah. Wahai remaja puteri yang tertimpa musibah tersebut, bersegeralah taubat kepada Allah dan semoga Allah menerima taubat kita semua, janganlah menunda-nunda taubat dan janganlah berbicara “besok saya akan bertaubat” sebab banyak remaja puteri yang menunda-nunda taubat hingga kematian terlanjur menjemputnya. Kita memohon kepada Allah agar mendapat husnul khathimah, berlakulah jujur dalam niat bersama Allah dan realisasikanlah syarat taubat semoga Allah menyingkap tabir musibah dan kita memohon agar Allah memberi kepada kita semua keselamatan dan keberuntungan.
    Mohonlah pertolongan dari Allah dan lakukan berulang-ulang dalam setiap doa anda karena Allah berfirman:
    وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنّي فَإِنّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الداع إِذَا دَعَانِ
    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (Al Baqarah 186).
    Allah berfirman:
    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
    “Dan Tuhanmu berfirman, ”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Al Mukmin: 60).
    Dari Salman radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    لاَ يَرُدُّ القَضَاءَ إلاَّ الدُعَاءُ ولاَ يَزِيْدُ فِي العُمْرِ إلاَّ البِرُّ
    “Tidak ada yang mampu menolak putusan takdir kecuali doa dan tidak ada yang bisa menambah umur kecuali kebaikan.”
    Penuhilah syarat dan etika berdoa, serta carilah waktu-waktu terkabulnya doa, di antaranya di ujung setiap shalat fardhu, pada waktu sedang dikumandangkan adzan, pada waktu antara adzan dan iqamah, pada waktu tengah malam dan akhir saat hari Jum’at. Yakinlah bahwa doa anda pasti dapat terkabulkan.
    Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    اُدْعُوا اللهَ تَعَالىَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِاْلإِجَابَةِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَاِفلٍ لاَهٍ.
    “Berdoalah kamu kepada Allah ta’ala sementara kamu yakin akan dikabulkan dan ketahuilah sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai lagi lengah.”
    Bergembiralah pasti Allah akan mengabulkan doa anda.
  • Ingatlah dan bersiaplah menyambut kematian
    Allah berfirman:
    قُلْ إِنَّ الموت الذى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ ملاقيكم ثُمَّ تُرَدُّونَ إلى عالم الغيب والشهادة فَيُنَبّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
    “Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerja-kan”. (Al Jumu’ah: 8).
    Dan Allah berfirman:
    وَلَوْ تَرَى إِذِ الظالمون فِى غَمَرَاتِ الموت والملائكة بَاسِطُواْ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُواْ أَنفُسَكُمُ
    “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang dzalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu.” (Al An’aam 93).
    Syaikh Abdul Aziz bin Salman hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya iblis terlaknat telah menggoda mayit dan orang yang sedang menghadapi kematian dalam masalah dunia dan agamanya, dan telah diri-wayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wasallam selalu berdoa:
    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الغَرَقِ والحَرَقِ والهَدَمِ وأَعُوْذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَيْطَانُ عِنْدَ المَوْتِ.
    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari teng-gelam, kebakaran dan tertimpa reruntuhan, dan aku berlindung kepada-Mu dari gangguan syaithan pada saat kematian.”
    Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa Iblis sangat bersungguh-sungguh dalam menggoda anak Adam pada saat kematian, dia berkata kepada bala ten-taranya, “Kamu harus berhasil menggoda sekarang ini, bila tidak, maka tidak akan ada kesempatan lagi untuk menggodanya.” Pada saat itu mungkin saja iblis mampu menggoda dan menyesatkan keyakinannya atau mung-kin saja berhasil menguasainya sehingga tidak mampu bertaubat atau dihalangi keluar dari kezhaliman atau putus asa dari rahmat Allah.
    Syaithan membisikkan kepadanya. “Kamu sedang menghadapi sakaratul maut yang sangat dahsyat dan tarikan nyawa yang sangat menyakitkan.” Boleh jadi orang itu gelisah, ketakutan dam terjatuh dalam was-was dan bisikan jahat sehingga berburuk sangka kepada ketentuan Allah. Semoga kita terlindung darinya.
    Setiap wanita muslimah hendaknya paham bahwa pada saat kematian, saat keluarnya roh, saat paling kritis dan genting sehingga sangat dibutuhkan ketaba-han ddan kesabaran serta memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Hidup dan Maha Perkasa untuk bisa mengalahkan musuh terlaknat yang senan-tiasa ingin menyesatkan kita agar kembali dalam kerugian.
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
    إنَّ المُؤْمِنَ لَيُنْضِي شَيَاطِيْنَهُ كَمَا يُنْضِيَ أَحَدُكُمْ بَعِيْرَهُ فِي السَفَرِ.
    “Sesungguhnya orang mukmin membuat kurus syaithannya seperti seorang di antara kalian membuat (kurus, lelah) ontanya dalam keadaan bepergian.”
    Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Cobaan paling akhir yang dihadapi oleh seorang mukmin adalah kematian.”

Sabtu, 27 Desember 2014

Tahun (Baru) Masehi: Mitos Musyrik Romawi yang Diadopsi Gereja, Mengapa Umat Islam Merayakannya?



Tahun masehi mendasarkan perhitungannya pada peredaran matahari. Sementara Tahun Hijriyah mendasarkan perhitungannya pada peredaran bulan.
Jadi, sangat logis jika tahun hijriyah menyebut Muharram, Safar, Rabiul Awwal, dan seterusnya dengan nama BULAN.
Tetapi, adalah janggal, jika nama-nama Januari, Februari, Maret, dan seterusnya disebut sebagai nama-nama BULAN, sebab perhitungannya berdasarkan peredaran MATAHARI.
Jadi, yang logis, Januari, Februari, Maret, dan seterusnya disebut sebagai MATAHARI Januari, MATAHARI Februari, MATAHARI MARET, dan seterusnya. Mungkin terasa tidak enak ya menyebut Januari dan seterusnya sebagai MATAHARI, bukan BULAN?
Ketidaklogisan lainnya, misalnya, saat pergantian tahun, mengawali 1 Januari, tepat pada tengah malam jam 00.
Mestinya, perhitungan Masehi dimulai di siang hari saat sang mentari beredar, sebagaimana tahun hijriyah mengawali perhitungannya ketika bulan mulai mengorbit. Sebut misalnya, saat umat Islam menetapkan awal dan akhir Ramadhan dengan melihat bulan atau mendasarkan perhitungannya pada bulan.
Begitulah. Nanti kita akan temukan lagi ketidaklogisan nama-nama MATAHARI ini, semisal September yang berarti TUJUH, tetapi ditempatkan pada posisi ke-9.
JANUARI. Mengapa tahun Masehi diawali Januari? Semula Januari bukan yang pertama, melainkan Maret.
Tapi ketika gereja mengadopsi kalendernya Romawi Kuno, Maret berubah menjadi Januari. Alasannya, untuk yang pertama harus baik. Sementara Maret identik dengan peperangan.
Januari Dalam mitologi musyrik Romawi Kuno, dikenal sebagai dewa berwajah dua. Satu menghadap ke depan dan satunya ke belakang.
Untuk menentukan mana yang depan atau belakang, ditandai dengan wajah yang menghadap depan selalu tersenyum dan optimis, sedangkan yang menghadap ke belakang selalu terlihat muram dan sedih.
Dewa itu bernama Janus, yang bisa pula berarti pintu, gerbang, gapura atau lorong masuk.
Itulah mengapa untuk yang pertama setiap tahun dinamakan dengan JANUARI. Januarius Mensis (Latin, Januari) bisa dikatakan berwajah dua. Wajah yang satu menghadap ke tahun sebelumnya dan lainnya ke tahun berjalan.
Dewa Janus dikatakan bermuka dua, namun, menurut kepercayaan Romawi kuno, bermuka dua dalam konteks waktu.
FEBRUARI. Merupakan periode kedua dalam tahun Masehi. Berasal dari nama dewa Februus, Dewa Penyucian.
MARET. Merupakan periode ketiga dalam tahun Masehi. Berasal dari nama Dewa Mars, Dewa Perang.
Pada mulanya, Maret menempati posisi pertama dalam kalender Romawi, lalu pada tahun 45 SM Julius Caesar menambahkan Januari dan Februari di depannya sehingga Maret “dikudeta” oleh gereja menjadi yang ketiga.
Alasannya untuk memulai yang pertama, harus penuh optimisme menatap ke depan. Sementara Maret identik dengan peperangan, sebab Maret yang dari kata Dewa Mars adalah Dewa Perang. Jadi, gereja juga meyakini akan keyakinan musyrik Romawi kuno itu.
APRIL. Merupakan “Matahari” keempat dalam tahun Masehi. Berasal dari nama Dewi Aprilis, atau dalam bahasa Latin disebut juga Aperire yang berarti ”membuka”.
Diduga kuat sebutan ini berkaitan dengan musim bunga dimana kelopak bunga mulai membuka. Juga diyakini sebagai nama lain dari Dewi Aphrodite atau Apru, Dewi Cinta orang Romawi.
MEI. Merupakan “Matahari” yang kelima dalam kalender Masehi. Berasal dari nama Dewi Kesuburan Bangsa Romawi, Dewi Maia.
JUNI. Merupakan “Matahari” yang keenam dari tahun Masehi. Berasal dari nama Dewi Juno.
JULI. Jadi urutan ketujuh dari tahun Masehi. Di periode “Matahari” ini Julius Caesar lahir, sebab itu dinamakan Juli.
Sebelumnya Juli disebut sebagai Quintilis, yang berarti kelima dalam bahasa Latin. Hal ini lantaran kalender Romawi pada awalnya menempatkan Maret pada urutan pertama.
Tahun masehi-caesar_augustus_bust-jpeg.image
Kaisar Agustus
Pergeseran dari Maret yang semula di urutan pertama menjadi ketiga, berdampak pada urutan berikutnya.
AGUSTUS. Merupakan urutan kedelapan dalam kalender Masehi. Seperti juga nama Juli yang berasal dari nama Julius Caesar, maka Agustus berasal dari nama kaisar Romawi, yaitu Agustus.
Pada awalnya, ketika Maret masih menjadi yang pertama, Agustus menjadi yang keenam dengan sebutan Sextilis.
SEPTEMBER. Merupakan “Matahari” kesembilan dari tahun Masehi. Nama ini berasal dari bahasa Latin Septem, yang berarti tujuh. Tapi janggalnya, sampai sekarang September di urutan kesembilan, padahal artinya “tujuh”.
Sejarahnya, September bertahan di posisi ketujuh dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.
OKTOBER. Merupakan “Matahari” kesepuluh dari tahun Masehi. Nama ini berasal dari bahasa Latin Octo, yang berarti delapan.
Lucu memang, meski artinya “delapan”, tetapi di kalender Masehi si Octo menempati urutan kesepuluh. Oktober bertahan di posisi kedelapan dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.
NOVEMBER. Merupakan “Matahari” kesebelas dari tahun Masehi. Nama ini berasal dari bahasa Latin Novem, yang berarti sembilan.
Tapi, janggalnya lagi, meskipun artinya “Sembilan”, di kalender masehi si Novem digeser jadi yang kesebelas.
November bertahan di urutan kesembilan dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.
DESEMBER. Merupakan “Matahari” keduabelas atau yang terakhir dari periode tahun Masehi. Nama ini berasal dari bahasa Latin Decem, yang berarti sepuluh.
Walaupun artinya “sepuluh”, di kalender masehi sang “Decem” digeser menjadi yang keduabelas atau terakhir.
Desember di urutan kesepuluh dalam kalender Romawi bertahan sampai dengan tahun 153 SM.
Pada Desember inilah diyakini lahirnya Dewa Matahari (25 Desember) yang kemudian diadopsi oleh Kristen menjadi perayaan gereja, yakni Natal Yesus Kristus.
Itulah keanehan dan kejanggalan nama-nama hitungan “Matahari” pada Tahun Masehi yang mengadopsi mitosnya bangsa Romawi Kuno. Dan, lebih aneh bin janggal lagi, umat Islam merayakannya, tanpa memahami akar dan historisnya.Tanpa pengetahuan tentangnya.
Sama halnya dengan natal 25 Desember yang mengadopsi kelahiran dewa matahari, berakar dari Romawi Kuno. Maka, sesungguhnya natal 25 Desember dengan 1 Januari, awal tahun baru masehi, itu adalah satu paket.
Akar, sumber dan historisnya sama. Kalangan gereja “memborong” dua “tema” sekaligus: tema ‘natal’ dan ‘tahun baru masehi 1 Januari’, sehingga jadi semarak.
Jadi, aneh dan janggal pula, jika ada sementara pihak yang mengatakan: mengucapkan selamat natal haram, tapi mengucapkan tahun baru 1 Januari tak apa! Yaa Robb, na’uudzubillaahi mindzaalik.
TAHUN HIJRIYAH
Berbeda dengan penetapan kalender Hijriyah yang dilakukan pada zaman Umar bin Khaththab, diambil dari peristiwa hijrahnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (ditemani Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu) dari Makkah ke Madinah.
Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan (nah, penyebutan bulan di sini adalah logis, karena tahun hijriyah mendasari perhitungannya pada bulan), dengan jumlah hari berkisar 29-30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman ALLAH SWT:
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) ad-Din yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa,” (At Taubah: 36).
1. Muharram
Artinya, yang diharamkan atau menjadi pantangan. Di bulan Muharram, dilarang untuk berperang.
2. Shafar
Artinya, kosong. Di bulan ini, lelaki Arab pergi untuk merantau atau berperang.
3. Rabi’ul Awal
Artinya masa kembalinya kaum lelaki yang merantau (shafar).
4. Rabi’ul Akhir
Artinya akhir masa menetapnya kaum lelaki.
5. Jumadil Awal
Artinya awal kekeringan. Maksudnya, mulai terjadi musim kering.
6. Jumadil Akhir
Artinya akhir kekeringan. Dengan demikian, musim kering berakhir.
7. Rajab
Artinya mulia. Zaman dahulu, bangsa Arab sangat memuliakan bulan ini.
8. Sya’ban
Artinya berkelompok. Biasanya bangsa Arab berkelompok mencari nafkah.
9. Ramadhan
Artinya sangat panas. Bulan yang memanggang (membakar) dosa, karena di bulan ini kaum Mukmin diharuskan berpuasa/shaum sebulan penuh.
Men Leading Camels in Desert
Tahun Hijriyah: Tonggak peradaban Islam
10. Syawwal
Artinya kebahagiaan, peningkatan (setelah ujian Ramadhan, mestinya kualitas amaliah dan hidup menjadi meningkat).
11. Zulqaidah
Artinya waktu istirahat bagi kaum lelaki Arab.
12. Zulhijjah
Artinya yang menunaikan haji.

Selasa, 23 Desember 2014

Tokoh Tabi’in Syuraih al-Qadhi Hakim yang Bijak



Hari itu, amirul mukminin Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu membeli seekor kuda dari seorang dusun. Setelah membayarnya, beliau menaiki kuda tersebut dan bermaksud pulang menuju rumahnya. Namun tak seberapa jauh dari tempat itu, tiba-tiba kuda tersebut menjadi cacat dan tak mampu melanjutkan perjalanan. Maka Umar membawanya kembali kepada si penjual seraya berkata,
Umar: “Aku kembalikan kudamu, karena ternyata dia cacat.”
Penjual: “Tidak wahai amirul mukminin, tadi aku menjualnya dalam keadaan baik.”
Umar: “Kita cari seseorang yang akan memutuskan permasalahan ini.
Penjual: “Aku setuju, aku ingin Syuraih bin al-Harits al-Kindi menjadi hakim bagi kita berdua.”
Umar: “Mari.”
Amirul mukminin Umar bin Khathab bersama penjual kuda tersebut mendatangi Syuraih. Umar mengadukan penjual itu kepadanya. Setelah mendengarkan juga keterangan dari orang dusun tersebut, Syuraih menoleh kepada Umar bin Khathab sambil berkata,
Syuraih: “Apakah Anda mengambil kuda darinya dalam keadaan baik?”
Umar: “Benar.”
Syuraih: “Ambillah yang telah Anda beli wahai amirul mukminin, atau kembalikan kuda tersebut dalam keadaan seperti tatkala Anda membelinya.”
Umar: (memperhatikan Syuraih dengan takjub lalu berkata) “Hanya beginikah pengadilan ini? Kalimat yang singkat, dan hukum yang adil. Berangkatlah ke Kufah, karena aku mengangkatmu menjadi qadhi di sana.”
Ketika Umar menetapkan Syuraih bin al-Harits sebagai qadhi, beliau bukanlah sosok yang asing di kalangan masyarakat Madinah. Beliau adalah orang yang memiliki kedudukan di antara para ahli ilmu, tokoh-tokoh terkemuka, para sahabat dan para tokoh tabi’in.
Beliau termasuk dalam bilangan ulama yang terhormat dan utama, diperhitungkan dalam tingkat kecerdasan, kebagusan perilaku, banyaknya pengalaman, dan kedalaman wawasannya.
Beliau dilahirkan di Yaman kota al-Kindi, hidup lama dalam masa jahiliyah. Ketika cahaya hidayah datang di jazirah Arab memancarkan sinar Islamnya sampai ke Yaman, Syuraih termasuk orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, turut menyambut dakwah menuju hidayah dan kebenaran.
Siapapun yang mengetahui keutamaan dan keistimewaan pribadinya berandai sekiranya Syuraih lebih cepat sampai ke Madinah dan bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum wafat, tentu beliau bisa menggali ilmu dari sumbernya secara langsung tanpa perantara. Beliau bisa mendapat bagian kehormatan sebagai sahabat setelah mendapatkan hidayah itu, hanya saja apa yang telah ditakdirkan untuknya telah terjadi.
Bukanlah berarti gegabah jika al-Faruq Umar bin Khathab menyerahkan jabatan dalam pengadilan agung itu kepada seorang tabi’in, meski dalam masyarakat Islam saat itu masih banyak sahabat Nabi yang bersinar cemerlang bagai cahaya bintang. Waktu pun telah membuktikan betapa firasat dan pilihan Umar radhiyallahu ‘anhu adalah tepat.
Terbukti, Syuraih menjadi qadhi di pengadilan selama 60 tahun secara berturut-turut sejak masa khilafah Umar bin Khathab, lalu Utsman bin Affan, lalu Ali bin Abi Thalib, Muawiyah serta khalifah setelah Mu’awiyah dari Bani Umayyah. Hingga akhirnya beliau mengundurkan diri pada awal pemerintahan Hajjaj bin Yusuf sebagai wali di Irak.
Beliau telah berumur 107 tahun. Hidupnya penuh dengan peritiwa dan pujian. Pengadilan Islam bersinar karena keindahan keputusan-keputusan Syuraih dan semerbak dengan indahnya kepatuhan dari kaum muslimin maupun non muslim. Itu semua karena ditegakkannya syariat-syariat Allah oleh Syuraih, juga berkat kerelaan semua orang untuk menerima keputusannya.
Lembaran buku-buku sangat padat menceritakan indahnya keputusan orang yang cerdik ini, tentang berita, perkataan dan perilakunya.
Di antara kisah tersebut adalah ketika Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kehilangan pakaian perang yang menjadi kesayangannya. Lalu dia dapatkan bahwa barang tersebut berada di tangan seorang kafir dzimmi (kafir yang dilindungi di negeri Islam) yang tengah berjualan di pasar Kufah. Begitu melihatnya, spontan Ali berkata: “Ini adalah milikku yang jatuh dari ontaku pada malam anu di tempat anu.”
Namun dia mengelak dan berkata, “Ini adalah barangku dan berada di tanganku wahai amirul mukminin!” Ali berkata, “Ini milikku, aku tak merasa pernah menjualnya kepada orang lain atau memberikannya hingga sampai berada di tanganmu.”
Orang dzimmi berkata, “Kalau begitu kita datang kepada qadhi!”
Ali berkata, “Engkau adil, mari kita ke sana!”
Maka pergilah keduanya menuju qadhi Syuraih. Setelah masuk dan duduk dalam sidangnya, bertanyalah qadhi Syuraih,
Syuraih: “Apa tuduhanmu wahai amirul mukminin?”
Ali: “Kudapati barangku berada di tangan orang ini. Barang itu jatuh dari ontaku pada malam anu di tempat anu, lalu sampai di tangan orang ini, padahal aku tidak menjual kepadanya tidak pula kuberikan sebagai hadiah.”
Syuraih: “Bagaimana jawaban Anda?” (wahai dzimmi)
Dzimmi: “Barang ini milikku, dia ada di tanganku. Tapi aku tidak menuduh amirul mukminin berdusta.”
Syuraih: “Aku tidak meragukan kejujuran Anda wahai amirul mukminin, bahwa barang ini milikmu. Tetapi harus ada dua orang saksi yang membuktikan kebenaran tuduhanmu.”
Ali: “Baik, aku punya dua orang saksi, pembantuku Qanbar dan putraku Hasan.”
Syuraih: “Tetapi kesaksian anak bagi ayahnya tidak berlaku wahai amirul mukminin.”
Ali: “Subhanallah, seorang ahli surga ditolak kesaksiannya? Apakah Anda tak pernah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Hasan dan Husein adalah pemuka para pemuda penduduk surga?”
Syuraih: “Aku mengetahui itu wahai amirul mukminin, hanya saja kesaksian anak untuk ayahnya tidak berlaku.”
Mendengar jawaban itu, Ali menoleh kepada si dzimmi dan berkata, “Ambillah barang itu, sebab aku tak punya saksi lagi selain keduanya.”
Si dzimmi berkata, “Aku bersaksi bahwa barang itu adalah milik Anda wahai amirul mukminin. Ya Allah, amirul mukminin menghadapkan aku kepada seorang hakimnya, dan hakimnya memenangkan aku. Aku bersaksi bahwa agama  yang mengajarkan seperti ini adalah agama yang benar dan suci. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Wahai qadhi, ketahuilah bahwa barang ini adalah milik amirul mukminin, waktu itu aku mengikuti pasukannya ketika menuju ke Shiffin. Pakaian ini jatuh dari onta, lalu aku mengambilnya.”
Berkatalah Ali kepada si dzimmi: “Karena kini Anda telah menjadi muslim, maka aku hadiahkan pakaian ini untukmu, dan aku hadiahkan kuda ini untukmu juga.”
Tak lama setelah peristiwa itu, tampak orang itu turut memerangi golongan Khawarij di bawah panji Ali radhiyallahu ‘anhu pada hari an-Nahwaran. Ia bertempur dengan penuh semangat hingga mendapati rezeki syahid.
Bukti akan ketegasan Syuraih nampak di saat putranya berkata, “Wahai ayah, aku sedang memiliki masalah dengan suatu kaum, Aku berharap ayah mempertimbangkannya. Jika kebenaran ada dipihakku, maka putuskanlah di pengadilan, tetapi jika kebenaran ada di pihak mereka, maka usahakanlah jalan damai.” Lalu dia menceritakan semua masalahnya. Syuraih berkata, “Ajukanlah masalahmu ke pengadilan!”
Kemudian putra Syuraih mendatangi orang yang berselisih dengannya dan mengajak mereka untuk memperkarakan masalah antara mereka ke pengadilan dan mereka pun setuju. Begitu menghadap Syuraih, ternyata kemenangan tidak berada di pihak putranya.
Sesampainya Syuraih dan putranya di rumah, putranya berkata, “Wahai ayah, keputusanmu telah membuatku malu. Demi Allah, kalau saja sebelumnya aku tidak bermusyawarah denganmu, tentulah aku tidak menyalahkanmu.”
Syuraih berkata, “Wahai putraku, demi Allah aku mencintaimu lebih dari dunia dan seisinya. Tetapi, bagiku Allah lebih agung dari itu semua dan dari dirimu. Aku khawatir jika aku beritahukan terlebih dahulu bahwa kebenaran berada di pihak mereka, maka engkau akan mencari jalan damai dan itu merugikan sebagian hak mereka. Oleh sebab itu, aku putuskan perkara seperti yang kau dengar tadi.”
Suatu ketika, salah satu putra Syuraih telah memberikan jaminan kepada seseorang dan jaminannya diterima. Tapi ternyata orang yang dijamin tersebut melarikan diri dari pengadilan. Tanpa pandang bulu Syuraih memenjarakan putranya, karena dialah yang menjadi jaminannya. Lalu beliau menjenguk dan membawakan makanan untuk putranya ke penjara setiap harinya.
Terkadang keraguan Syuraih muncul ketika mendengar kesaksian sebagian saksi, tapi dia tidak bisa menolak kesaksian mereka karena memenuhi semua syarat pengadilan. Bila menghadapi hal yang demikian, maka sebelum orang-orang itu bersaksi Syuraih berkata kepada mereka, “Dengarkanlah, semoga Allah memberi hidayah kepada kalian. Pada hakikatnya yang menghukum orang ini adalah kalian, sesungguhnya aku takut jika kalin masuk neraka karena bersaksi palsu, sedangkan kalian tentunya lebih layak untuk takut. Sekarang masih ada waktu untuk berpikir kembali sebelum kalian memberikan kesaksian.”
Ketika mereka tetap dengan pendiriannya, maka Syuraih menoleh kepada si tertuduh dan berkata, “Ketahuilah saudara, bahwa aku menghukum Anda atas dasar kesaksian mereka. Andai saja kulihat engkau ini zalim sekalipun, aku tidak akan menghukum atas dasar tuduhan, melainkan atas dasar kesaksian. Keputusanku tidaklah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah atasmu.”
Motto yang selalu diulang-ulang oleh Syuraih di sidang pengadilan adalah:
Kelak yang zalim akan tahu kerugian di pihak siapa
Yang zalim menanti siksa
Yang dizalimin menunggu keadilan
Aku bersumpah atas nama Allah bahwa setiap orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya aku merasa kehilangan dia.
Syuraih tidak hanya mampu mewujudkan nasihat bagi Allah, Rasul, dan kitab-Nya saja, namun juga nasihat bagi seluruh kaum muslimin secara umum maupun yang khusus (pemimpin mereka).
Salah seorang sahabatnya bercerita, “Suatu kali, Syuraih mendengar keluhanku kepada seorang teman. Kemudian beliau mengajakku ke suatu tempat lalu berkata, “Wahai putra saudaraku.. janganlah engkau mengeluh kepada selain Allah.. karena sesungguhnya barangsiapa yang mengeluh kepada selain Allah berarti dia mengeluhkannya kepada teman atau kepada musuh. Jika mengeluh kepada teman berarti kamu telah membuat temanmu bertambah sedih.. dan jika kau keluhkan terhadap musuh (orang yang membencimu) niscaya dia akan meledekmu.” Kemudian beliau berkata, ‘Lihatlah sebelah mataku ini, demi Allah aku tidak bisa melihat orang ataupun jalan dengannya selama lebih dari 15 tahun, tapi akut idak pernah memberitahukannya kepada siapapun kecuali engkau sekarang ini. Tidakkah Anda mendengar ucapan hamba Allah yang shalih:
“Aku hanya mengeluhkan segala kesedihan dan keresahanku kepada Allah.” (QS. Yusuf: 86)
Maka jadikanlah Allah sebagai tempat pengaduanmu dan mencurahkan keresahanmu setiap kali musibah menimpa dirimu, sebab Dia Maha Pemurah dan sangat dekat.”
Pernah beliau melihat seseorang minta sesuatu  kepada orang lain, maka beliau berkata, “Wahai putra saudaraku, barangsiapa meminta kepada orang lain untuk suatu hajat, maka dia menyiapkan dirinya untuk diperbudak. Bila diberi, maka dia dibeli, bila ditolak, keduanya menjadi hina. Yang satu karena kikirnya, yang satu karena ditolak. Ketahuilah bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah, tidak ada pertolongan kecuali dari Allah.
Telah terjadi wabah tha’un di Kufah, lalu salah seorang teman Syuraih mengungsi ke Najaf untuk menghindari wabah. Syuraih menulis surat kepadanya:
“Amma ba’du, sesungguhnya bahwa tempat yang engkau lari dari padanya tidak akan mendekatkan ajalmu dan merampas hari-harimu. Dan tempat di mana kamu tinggal sekarang juga berada di tangan dan genggaman yang tak bisa dihindari oleh orang yang lari, tak ada yang bisa menghalangi kehendak-Nya. Kami dan kalian berada dalam satu atap dan kekuasaan satu Raja, sedangkan Najaf adalah sangat dekat bagi Yang Maha Mampu dan Maha Kuasa.”
Di samping segala kelebihan tersebut, Syuraih juga termasuk orang yang lembut perasaannya, mudah tersentuh hatinya, menyenangkan tatkala bergaul dan periang. Ada suatu riwayat yang menceritakan bahwa beliau memiliki anak kecil berusia 10 tahun. Anak itu senang bermain-main. Suatu hari dia meninggalkan pelajarannya untuk pergi melihat anjing.
Begitu pulang, bertanyalah sang ayah: “Sudah shalatkah engkau?” “Belum,” jawabnya.
Maka Syuraih mengirim surat kepada gurunya:
Dia tinggalkan shalat karena anjing yang sedang berkejaran dengan betinanya, maka dia akan datang esok kepada Anda dengan lembaran tercatat sebagai tertuduh. Bila datang kepadamu, obatilah dengan teguran atau ingatkan ia dengan nasihat yang tepat. Bila harus dicambuk pakailah rotan, setelah hitungan ketiga hentikanlah.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati al-Faruq radhiyallahu ‘anhu yang telah menaruh dalam keadilan Islam sebutir berlian yang tak ternilai harganya. Ditaruhnya Syuraih sebagai qadhi, seorang yang bersih hatinya dan indah keputusannya, seorang yang mencintai kaum muslimin. Beliau adalah lentera yang bersinar, yang hingga kini terus menjadi pantulan fikih bagi syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, di mana kaum muslimin mendapatkan dan pemahamannya akan sunah Rasul-Nya yang akan menajdi kebanggaannya di hari kiamat karena kefakihan dia akan syariat Allah.
Semoga Allah merahmati Syuraih yang telah menegakkan neraca keadilan di tengah masyarakat muslim selama 60 tahun. Beliau tidak pernah takut kepada sesama manusia, tidak melanggar batas-batas kebenaran dan tidak membedakan raja dengan rakyat jelata.

Kisah-kisah Menakjubkan dari Sang Qadhi; Syuraih bin al-Harits al-Kindi


 “Ada orang yang bertanya kepada Syuraih, ‘Bagaimana anda mendapatkan ilmu ini?.’ Dia menjawab, ‘Dengan bermudzakarah bersama para ulama; Aku mengambil dari mereka dan mereka mengambil dariku” (Sufyan al-Ausi)

Amirul mu’minin, Umar bin Al-Khaththab membeli seekor kuda dari seorang laki-laki Badui, dan membayar kontan harganya, kemudian menaiki kudanya dan pergi.


Akan tetapi belum jauh mengendarai kuda, beliau menemukan luka pada kuda itu yang membuatnya terganggu ketika berpacu, maka beliau segera kembali ke tempat dimana beliau berangkat, lalu berkata kepada orang Badui tersebut, “Ambillah kudamu, karena ia terluka.”

Maka orang itu menjawab, “Aku tidak akan mengambilnya -wahai Amirul mu’minin- karena aku telah menjualnya kepada anda dalam keadaan sehat tanpa cacat sedikitpun.”Lalu Umar berkata, “Tunjuklah seorang hakim yang akan memutus antaramu dan aku.”Lalu orang itu berkata, “Yang akan menghakimi di antara kita adalah Syuraih bin al-Harits al-Kindi.”Lalu Umar berkata, “Baiklah, aku setuju.”

Amirul mu’minin Umar bin al-Khathab dan pemilik kuda pun menyerahkan perkaranya kepada Syuraih. Ketika Syuraih mendengar perkataan orang Badui, dia menengok ke arah Umar bin al-Khaththab dan berkata,“Apakah engkau menerima kuda dalam keadaan tanpa cacat, wahai Amirul mu’minin?.”“Ya.” Jawab ‘Umar Syuraih berkata, “Simpanlah apa yang anda beli- wahai Amirul mu’minin- atau kembalikanlah sebagaimana anda menerima.”

Maka Umar melihat kepada Syuraih dengan pandangan kagum dan berkata, “Beginilah seharusnya putusan itu; ucapan yang pasti dan keputusan yang adil. Pergilah anda ke Kufah, aku telah mengangkatmu sebagai hakim (Qadli) di sana.”

Pada saat diangkat sebagai hakim, Syuraih bin al-Harits bukanlah seorang yang tidak dikenal oleh masyarakat Madinah atau seorang yang kedudukannya tidak terdeteksi oleh ulama dan Ahli Ra’yi dari kalangan para pembesar Sahabat dan Tabi’in.

Orang-orang besar dan generasi dahulu, telah mengetahui kecerdasan dan kecerdikan Syuraih yang sangat tajam, akhlaknya yang mulia dan pengalaman hidupnya yang lama dan mendalam.

Dia adalah seorang berkebangsaan Yaman dan keturunan Kindah, mengalami hidup yang tidak sebentar pada masa Jahiliyah.

Ketika jazirah Arab telah bersinar dengan cahaya hidayah, dan sinar Islam telah menembus bumi Yaman, Syuraih termasuk orang-orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta menyambut dakwah hidayah dan kebenaran. Waktu itu mereka telah mengetahui keutamaannya dan mengakui akhlak dan keistimewaannya.

Mereka sangat menyayangkan dan bercita-cita andaikata dia ditakdirkan untuk datang ke Madinah lebih awal sehingga bertemu Rasulullah sebelum beliau kembali kepada Tuhannya, dan mentransfer ilmu beliau yang jernih bersih secara langsung, bukan melalui perantara dan supaya beruntung mendapatkan predikat “sahabat” setelah mengenyam nikmatnya iman. Dengan begitu, dia akan dapat menghimpun segala kebaikan. Akan tetapi dia sudah ditakdirkan untuk tidak bertemu dengan Rasulullah.

Umar al-Faruq radliyallâhu ‘anhu tidaklah tergesa-gesa, ketika menempatkan seorang Tabi’in pada posisi besar di peradilan, sekalipun pada waktu itu langit-langit Islam masih bersinar-sinar dengan bintang-bintang sahabat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam. Waktu telah membuktikan kebenaran firasat Umar dan ketepatan tindakannya dimana Syuraih menjabat sebagai hakim di tengah kaum muslimin sekitar enam puluh tahun berturut-turut tanpa putus.

Pengakuan terhadap kapasitasnya dalam jabatan ini dilakukan secara silih berganti sejak dari pemerintahan Umar, Utsman, Ali hingga Muawiyah radliyallâhu ‘anhum.

Begitu pula dia diakui oleh para khalifah Bani Umayyah pasca Muawiyah, hingga akhirnya pada zaman pemerintahan al-Hajjaj dia meminta dirinya dibebaskan dari jabatan tersebut.

Dan pada waktu itu dia telah berumur seratus tujuh tahun, dimana hidupnya diisi dengan segala keagungan dan kebesaran.

Sejarah Peradilan Islam telah bergelimang dengan sikap Syuraih yang menawan dan berkibar dengan ketundukan kalangan elit dan awam kaum Muslimin terhadap syari’at Allah yang ditegakkan Syuraih dan penerimaan mereka terhadap hukum-hukum-Nya. Buku-buku induk penuh dengan keunikan, berita, perkataan dan tindakan tokoh langka satu ini.

Di antara contohnya adalah, bahwa suatu hari Ali bin Abi Thalib kehilangan baju besinya yang sangat disukainya dan amat berharga baginya. Tidak lama dari itu, dia menemukannya berada di tangan orang kafir dzimmi. Orang itu sedang menjualnya di pasar Kufah. Ketika beliau melihatnya, beliau mengetahui dan berkata, “Ini adalah baju besiku yang jatuh dari ontaku pada malam anu, i tempat anu.”

Lalu kafir Dzimmi itu berkata, “Ini adalah baju besiku dan sekarang ada di tanganku, wahai Amirul mu’minin.”Lalu Ali berkata,“Itu adalah baju besiku, aku belum pernah menjualnya atau memberikannya kepada siapapun, hingga kemudian bisa jadi milik kamu.”

Lalu orang kafir itu berkata, “Mari kita putuskan melalui seorang Hakim kaum Muslimin. ”Lalu Ali berkata, “Kamu benar, mari kita ke sana. ”Kemudian keduanya pergi menemui Syuraih al-Qadli, dan ketika keduanya telah berada di tempat persidangan, Syuraih berkata kepada Ali, “Ada apa wahai Amirul mu’minin?.”

Lalu Ali menjawab, “Aku telah menemukan baju besiku di bawa orang ini, baju besi itu telah terjatuh dariku pada malam anu dan di tempat anu. Kini ia telah berada di tangannya tanpa melalui jual beli ataupun hibah.”

Lalu Syuraih berkata kepada orang kafir itu, “Dan apa jawabmu, wahai orang laki-laki?.”

Lalu dia menjawab, “Baju besi ini adalah milikku dan ia ada di tanganku tapi aku tidak menuduh Amirul mu’minin berdusta. ”Maka Syuraih menoleh ke arah Ali dan berkata, “Aku tidak meragukan bahwa anda adalah orang yang jujur dalam perkataanmu, wahai Amirul mu’minin, dan bahwa baju besi itu adalah milikmu, akan tetapi anda harus mendatangkan dua orang saksi yang akan bersaksi atas kebenaran apa yang anda klaim tersebut.”

Lalu Ali berkata, “Baiklah! Budakku Qanbar dan anakku al-Hasan akan bersaksi untukku.”

Maka Syuraih berkata,“Akan tetapi kesaksian anak untuk ayahnya tidak boleh, wahai Amirul mu’minin.”

Lalu Ali berkata, “Ya Subhanallah!! Orang dari ahli surga tidak diterima kesaksiannya!! Apakah anda tidak mendengar bahwasanya Rasulullah bersabda, “al-Hasan dan al-Husain adalah dua pemuda ahli surga.”

Lalu Syuraih berkata, “Benar wahai Amirul mu’minin! namun aku tidak menerima kesaksian anak untuk ayahnya.”Setelah itu Ali menoleh ke arah orang kafir itu dan berkata,“Ambillah, karena aku tidak mempunyai saksi selain keduanya.”Maka kafir Dzimmi itu berkata,“Akan tetapi aku bersaksi bahwa baju besi itu adalah milikmu, wahai Amirul mu’minin.”

Kemudian dia meneruskan perkataannya, “Ya Allah! Kok ada Amirul mu’minin menggugatku di hadapan hakim yang diangkatnya sendiri, namun hakimnya malah memenangkan perkaraku terhadapnya!! Aku bersaksi bahwa agama yang menyuruh ini pastilah agama yang haq. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Hamba dan utusan Allah.”

Ketahuilah wahai Qadli, bahwa baju besi ini adalah benar milik Amirul mu’minin. Aku mengikuti tentara yang sedang berangkat ke Shiffin (Suatu daerah di Siria, di sana terjadi peperangan besar antara Ali dan Muawiyah ) lalu menemukan baju besi terjatuh dari onta berwarna abu-abu, lalu memungutnya.”

Maka Ali berkata kepadanya, “Karena engkau telah masuk Islam, maka aku menghibahkannya kepadamu, dan aku memberimu juga seekor kuda.”

Dan belum lama dari kejadian ini, orang kafir itu ternyata ditemukan mati syahid saat ikut berperang melawan orang-orang Khawarij di bawah bendera Ali, pada perang Nahrawan. Orang itu amat bersemangat dalam berperang hingga dia mati syahid.”

Di antara sikap menawan yang ditunjukkan juga oleh Syuraih adalah bahwa pernah suatu hari, putranya berkata kepadanya, “Wahai ayahku, sesungguhnya antara aku dan kaum kita ada perselisihan, maka telitilah perkaranya; jika kebenaran ada di pihakku, aku akan menggugat mereka ke pengadilan dan jika kebenaran ada di pihak mereka, aku akan mengajak mereka berdamai.” Kemudian sang putra menuturkan kisahnya kepada ayahnya.

Lalu ayahnya berkata kepadanya, “Kalau begitu, pergilah dan ajukan mereka ke pengadilan.”

Lalu putranya menemui lawannya dan mengajak mereka memperkarakannya ke pengadilan. Mereka pun menyetujuinya.

Dan ketika mereka telah berada di hadapan Syuraih, Syuraih memenangkan perkara mereka terhadap putranya.

Ketika syuraih dan putranya telah pulang ke rumah, sang putra berkata kepada ayahnya, “Engkau telah mempermalukanku, wahai ayahku!” Demi Allah seandainya aku tidak mengkonsultasikannya terlebih dahulu kepadamu, tentu aku tidak akan mengecammu seperti ini.” Maka syuraih berkata, “Wahai anakku, Sungguh engkau memang lebih aku cintai daripada bumi dan seisinya, akan tetapi Allah ‘Azza wa Jalla lebih Mulia dan berharga bagiku daripada dirimu. Bila aku beritahukan kepadamu bahwa kebenaran berada di pihak mereka, aku khawatir engkau akan mengajak mereka berdamai dimana hal ini akan menghilangkan sebagian hak mereka.

Karenanya, aku mengatakan kepadamu seperti itu tadi.”

Pernah terjadi bahwa anak Syuraih menjadi jaminan seseorang, dan Syuraih menerimanya, ternyata orang itu kabur dari pengadilan. Maka Syuraih memenjarakan anaknya sebagai ganti jaminan orang yang kabur itu.

Akhirinya, Syuraih sendiri yang mengirimi makanannya setiap hari ke penjara.

Terkadang, Syuraih meragukan sebagian saksi. Namun dia tidak mendapatkan jalan untuk menolak kesaksiannya, karena syarat keadilan telah mencukupi mereka, maka dia berkata kepada mereka sebelum mereka menyatakan kesaksiannya,

“Dengarkanlah aku -mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepada anda semua- Sesungguhnya yang menghakimi orang ini adalah kalian sendiri. Dan sesungguhnya aku hanya menjaga diri dari api neraka melalui kalian. Karena itu, bila kalian sendiri yang berlindung darinya adalah lebih utama lagi.”

Sekarang memungkinkan bagi kalian untuk tidak memberikan kesaksian dan berlalu.

Jika mereka bersikeras untuk bersaksi, Syuraih menoleh kepada orang yang mereka bersaksi untuknya, seraya berkata,
“Ketahuilah, wahai tuan, sesungguhnya aku mengadili anda melalui kesaksian mereka. Dan sesungguhnya aku melihat anda adalah orang yang dzalim. Akan tetapi aku tidak boleh memberikan putusan berdasarkan sangkaan, tetapi berdasarkan kesaksian para saksi. Dan sesungguhnya keputusanku, tidak menghalalkan sama sekali apa yang diharamkan Allah terhadapmu.”

Dan ungkapan yang sering diulang-ulang oleh Syuraih di ruang sidangnya adalah perkataannya,
“Besok orang dzalim akan mengetahui siapa yang rugi. Sesungguhnya orang yang dzalim sedang menunggu siksa. Sedangkan orang yang teraniaya menunggu keadilan. Dan sesungguhnya aku bersumpah kepada Allah, bahwa tidak ada seorangpun yang meninggalkan sesuatu karena Allah Azza wa Jalla, kemudian dia merasa kehilangannya.”

Syuraih bukan hanya sebagai penasehat karena Allah, Rasul-Nya dan Kitab-Nya saja, akan tetapi dia juga penasehat untuk kalangan awam dan kalangan khusus kaum muslimin semua.

Salah seorang dari mereka meriwayatkan, “Syuraih memperdengarkan kepadaku suatu ucapan saat aku mengadukan sebagian sesuatu yang meresahkanku karena ulah seorang kawanku.

Lantas Syuraih memegang tanganku dan menarikku ke pinggir seraya berkata,
“Wahai anak saudaraku, janganlah kamu mengadu kepada selain Allah Azza wa Jalla. Karena sesungguhnya orang yang kamu mengadu kepadanya, bisa jadi dia adalah kawanmu atau musuhmu. Kalau dia kawan, berarti kamu akan membuatnya bersedih. Dan kalau dia musuh, maka kamu akan ditertawakannya.”

Kemudian dia berkata,

“Lihatlah mataku ini- dan dia menunjuk ke salah satu matanya- Demi Allah, aku tidak bisa melihat seseorang dan jalan karenanya sejak lima belas tahun lalu. Sekalipun demikian, aku tidak ceritakan kepada siapapun mengenainya, kecuali kepadamu sekarang ini. Tidakkah kamu mendengar ucapan seorang hamba yang shaleh (yakni Nabi Ya’qub ‘alaihi salam), ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.’(Yusuf:86). Maka jadikanlah Allah Azza wa Jalla sebagai tempat mengadu dan melampiaskan kesedihanmu setiap kali musibah menimpamu. Karena Dia adalah Dzat Yang paling Dermawan dan Yang paling dekat untuk diseru.”

Pada suatu hari, dia melihat ada seseorang sedang meminta sesuatu kepada orang lain, lalu dia berkata kepadanya,
“Wahai anak saudaraku, siapa yang memohon hajat kepada manusia, maka dia telah menjerumuskan dirinya ke dalam perbudakan. Jika orang yang diminta itu memberinya, maka dia telah menjadikannya budak karena pemberian itu.

Dan jika orang itu tidak memberinya, maka keduanya akan kembali dengan kehinaa. Yang satu, hina karena bakhil sedangkan yang satu lagi hina karena ditolak.Maka jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan jika kamu memohon pertolongan, memohonlah pertolongan kepada Allah.

Dan ketahuilah, bahwa tidak ada upaya, kekuatan dan pertolongan kecuali dengan Allah.

Saat suatu ketika, di Kufah telah mewabah penyakit Tha’un, lalu salah seorang sahabat Syuraih kabur dari sana menuju ke Najef untuk menyelamatkan diri dari penyakit tersebut, maka Syuraih mengirim surat kepadanya,

“Amma ba’du, Sesungguhnya daerah yang kamu tinggalkan tidak mendekatkan kematianmu dan tidak juga merampas hari-harimu.Dan sesungguhnya daerah yang kamu pindah ke sana adalah berada dalam genggaman Dzat Yang tidak bisa dikalahkan dengan usaha dan tidak akan luput pelarian itu dari-Nya.

Dan sesungguhnya kami dan kamu juga berada di atas hamparan Raja Yang Satu.Dan sesungguhnya Najef adalah sangat dekat dari Dzat Yang Maha Kuasa.”Di samping hal itu semua, Syuraih juga seorang penyair, mudah dicerna, manis penyampaiannya dan tema-temanya begitu memikat.

Menurut suatu riwayat, dia mempunyai seorang anak berumur sekitar sepuluh tahun, dan anak itu lebih suka meghabiskan waktu untuk bermain dan berhura-hura.Pada suatu hari dia kehilangan anak itu, dan ternyata anak itu tidak masuk sekolah dan menggunakan wakut tersebut untuk melihat anjing-anjing.

Dan ketika anak itu pulang, dia bertanya kepadanya, Apakah kamu sudah shalat?Maka anak itu menjawab, Belum. Lalu Syuraih meminta kertas dan pena, lalu menulis surat kepada guru anak itu dalam untain berikut:

Anak ini meninggalkan shalat karena mencari anjing-anjing Mengincar kejelekan bersama anak-anak nakal
Sungguh dia akan menemuimu besok membawa secarik lembaran
Dituliskan untuknya seperti lembaran pemohon (minta dieksekusi)
Jika dia datang kepadamu, maka obatilah dengan celaan
Atau nasehati dengan nasehat orang bijak lagi cerdik
Jika ingin memukulnya, maka pukullah dengan alat
Jika pukulan telah sampai tiga kali, maka hentikanlah
Ketahuilah bahwa anda tidak akan mendapatkan sepertinya
Apapun yang diperbuatnya, ia adalah jiwa yang paling berharga bagiku

Mudah-mudahan Allah meridhai Umar al-Faruq yang telah menghias wajah peradilan Islam dengan permata yang mulia lagi asli. Mutiara yang putih dan tampak menawan.

Beliau telah memberikan lentera terang kepada kaum muslimin yang hingga sekarang mereka masih mengambil sinar kefiqihannya terhadap syariat Allah.

Berpetunjuk dengan cahaya kefahamannya terhadap Sunnah Rasulullah.

Dan berbangga dengannya terhadap umat-umat lain pada hari kiamat.

Mudah-mudahan Allah merahmati Syuraih aql-Qadhli.

Dia telah menegakkan keadilan di tengah manusia selama enam puluh tahun, tidak pernah berbuat dzalim terhadap siapapun, tidak pernah melenceng dari kebenaran serta tidak pernah membedakan antara raja dan masyarakat biasa.

Sumber :

- Ath-Thabaqat al-Kubra, oleh Ibnu Sa’d, 6/11, 34, 94, 108, 109, 170, 206, 268, dan 7/151, 194, 453 dan 8/ 494,

- Shifat ash-Shafwah, oleh Ibnu Al-Jauzi (cetakan Halb), 3/38.

- Hilyatu al-Auliya, oleh Al-Ashfahani, 4/256-258.

- Tarikh ath-Thabari, oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jilid 4,5,6 (Lihat daftar isi di jilid 10),

- Tarikh Khalifah Ibnu Khayyath, 129, 158, 184, 217, 251, 266, 298, 304.

- Syadzarat adz-Dzahab, 1/85-86.

- Fawat al-Wafayat, 2/167-169.

- Kitab al-Wafayat, oleh Ahmad bin Hasan bin Ali bin Al-Khathib, 80-81.

KISAH SYURAIH AL-QADHI DAN ISTERINYA



Syuraih Al-Qadhi  pernah menceritakan kehidupan rumah tangganya kepada seorang sahabat, Asy-Sya’bi. “Selama 20 tahun aku tidak melihat isteriku berbuat sesuatu yang membuatku marah.” Asy-Sya’bi bertanya, “Mengapa demikian?”
Syuraih berkata, “Mulai malam pertama yang aku lihat padanya adalah keindahan dan kecantikan belaka. Di malam pertama aku berniat dalam hati untuk solat dua rakaat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah s.w.t. Ketika aku menoleh untuk melakukan salam, aku melihat mendapati isteriku menunaikan solat denganku.”
Isteri Syuraih mengulurkan tangannya seraya berkata, ‘Selamat datang wahai Abi Umayah. Alhamdulillah aku memuji dan memohon pertolonganNya. Semoga selawat dan salam atas Nabi Muhammad dan keluarganya. Sesungguhnya aku adalah wanita asing bagimu. Aku sama sekali tidak mengetahui akhlakmu. Maka terangkanlah kepadaku apa yang engkau sukai sehingga aku akan melakukannya dan apa yang tidak engkau sukai sehingga aku meninggalkannya.’
“Aku yakin,” Isteri Syuraih melanjutkan, ‘di antara kaummu pasti ada orang yang ingin mengahwinkan wanitanya denganmu. Begitu pula kaumku terdapat lelaki yang sekufu denganku. Akan tetapi apa yang telah ditetapkan Allah harus dilaksanakan. Sekarang aku telah menjadi milikmu. Lakukanlah sesuai dengan  apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Aku ucapkan sampai di sini saja, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untukmu.’
Syuraih berkata, “-Demi Allah wahai Asy-Sya’bi-, ia membuatku berhajatkan kepada khutbah seperti yang diucapkan isteriku,” Kata Syuraih pada sahabatnya itu.
Maka Syuraih menjawab ungkapan isterinya ‘Alhamdulillah segala puji bagi Allah, selawat dan salam untuk Nabi Muhammad dan keluarganya. Sesungguhnya engkau mengatakan suatu pembicaraan yang bila engkau teguh di atasnya, maka itu menjadi keberuntunganmu, dan jika engkau meninggalkannya, maka itu menjadi hujjah atasmu. Aku menyukai demikian dan demikian, dan tidak menyukai demikian dan demikian. Apa yang engkau lihat baik, maka sebarkanlah, dan apa yang engkau lihat buruk, maka tutupilah!’
Ia mengatakan, ‘Bagaimana kesukaanmu dalam mengunjungi keluargaku?’
 ‘Aku ingin suami anak perempuanku tidak membosankanku,” jawab Syuraih.
 Ia bertanya, ‘Siapa yang engkau sukai dari para tetanggamu untuk masuk ke rumahmu sehingga aku akan mengizinkannya, dan siapa yang tidak engkau sukai sehingga aku tidak mengizinkannya masuk?’ Maka Syuraih pun menghabiskan malam pertama tersebut dengan perbincangn penuh kelembutan dan kebahgian.
Syuraih berkata, “Aku hidup bersamanya selama setahun pertama itu, aku tidak pernah melihat kecuali yang menenangkan” Demikian Syuraih menceritakan kebahagiaan keluargnya kepada Asy-Sya’bi.
Demikianlah lembutnya penampilan isteri Syuraih pada malam pertama itu. Ia tampak memiliki kematangan emosional yang amat bagus, tenang, tidak tergesa-gesa dan mampu berbicara lancer. Sikap ini terbangunnya suasana yang indah dan menyebabkan Syuraih pun mengambil sikap yang sama, tenang, lembut dan tidak tergesa-gesa.

 dalam jalur lain juga di dicritakan

Setelah Syuraih (seorang tabiin) menikah dengan seorang wanita bani Tamim, dia berkata kepada Syabi (seorang tabiin), Wahai Syabi menikahlah dengan seorang wanita bani Tamim karena mereka adalah wanita. Syabi bertanya, Bagaimana hal itu?
Syuraih bercerita, Aku melewati kampung bani Tamim. Aku melihat seorang wanita duduk di atas tikar, di depannya duduk seorang wanita muda yang cantik. Aku meminta minum kepadanya.
Wanita itu berkata kepadaku, Minuman apa yang kamu sukai? Aku menjawab, Seadanya. Wanita itu berkata, Beri dia susu. Aku menduga dia orang asing.
Syuraih berkata, Selesai minum aku melihat wanita muda itu. Aku mengaguminya. Aku bertanya kepada ibunya tentang wanita itu. Si ibu menjawab, Anakku. Aku bertanya, Siapa? (maksudnya siapa ayahnya dan bagaimana asal usulnya).
Wanita itu menjawab, Zaenab binti Hadhir dari bani Hanzhalah.
Aku bertanya, Dia kosong atau berisi? (maksudnya bersuami atau tidak).
Wanita itu menjawab, Kosong.
Aku bertanya, Kamu bersedia menikahkanku dengannya?
Wanita itu menjawab, Ya, jika kamukufu(sepadan).
Aku meninggalkannya pulang ke rumah untuk beristirahat siang, tetapi aku tidak bisa tidur. Selesai shalat aku mengajak beberapa orang saudaraku dari kalangan orang-orang yang terhormat. Aku shalat ashar bersama mereka. Ternyata pamannya telah menunggu.
Pamannya bertanya, Wahai Abu Umayyah, apa keperluanmu?
Aku menjelaskan keinginanku, lalu dia menikahkanku. Orang-orang memberiku ucapan selamat, kemudian acara selesai. Begitu sampai di rumah aku langsung menyesal. Aku berkata dalam hati, Aku telah menikah dengan keluarga Arab yang paling keras dan kasar. Aku ingat kepada wanita-wanita bani Tamim dan mereka keras hatinya.
Aku berniat menceraikannya, kemudia aku berubah pikiran. Jangan ditalak dulu, jika baik. Jika tidak, barulah ditalak.
Berapa hari setelah itu para wanita Tamim datang mengantarkannya kepadaku. Ketika dia didudukkan di rumah, aku berkata kepadanya, Istriku, termasuk sunnah jika laki-laki bersatu dengan istrinya untuk shalat dua rakaat dan dia pun demikian.
Aku beridiri shalat, kemudian aku menengok ke belakang, ternyata dia juga shalat. Selesai shalat para pelayannya menyiapkan pakaianku dan memakaikan jubah yang telah dicelup dengan minyak zafaran.
Manakala rumah telah sepi, aku mendekatinya. Aku menjulurkan tangan ke arahnya. Dia berkata, Tetaplah di tempatmu.
Aku berkata kepada diriku, Sebuah musibah telah menimpaku. Aku memuji Allah dan membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Dia berkata, Aku adalah wanita Arab. Demi Allah, aku tidak melangkah kecuali untuk perkara yang diridhai Allah. Dan kamu adalah laki-laki asing, aku tidak mengenal akhlak kepribadianmu. Katakan apa yang kamu sukai, sehingga aku bisa melakukannya. Katakan apa yang kamu benci, sehingga aku bisa menjauhinya.
Aku berkata kepadanya, Aku suka ini dan ini (aku menyebut ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan, dan makanan-makanan yang aku sukai) dan juga membenci ini dan ini.
Dia bertanya, Jelaskan kepadaku tentang kerabatmu. Apakah kamu ingin mereka mengunjungimu?
Aku menjawab, Aku seorang hakim. Aku tidak mau mereka membuatku jenuh.
Aku melalui malam yang penuh kenikmatan. Aku tinggal bersamanya selama tiga hari. Kemudian aku pergi ke majlis pengadilan (mulai bekerja kembali). Tidak ada hari yang aku lalui tanpa kebaikan darinya.
Satu tahun kemudian (setelah pernikahan kami), tatkala aku pulang ke rumah, aku melihat seorang wanita tua yang memerintah dan melarang, ternyata itu adalah ibu mertuaku.
Aku berkata kepada ibu mertuaku, Selamat datang.
Ibu mertua berkata, Wahai Abu Umayyah, apa kabarmu?
Aku menjawab, Baik, alhamdulillah.
Ibu mertua bertanya, Bagaimana istrimu?
Aku menjawab, Wanita terbaik dan teman yang menyenangkan. Ibu telah mendidiknya dengan baik dan mengajarkan budi pekerti dengan baik pula kepadanya.
Ibu mertua berkata, Seorang wanita tidak terlihat dalam suatu keadaan dimana prilakunya paling buruk kecuali dalam dua keadaan. Jika dia telah memperoleh tempat di sisi suaminya dan jika dia telah melahirkan anak. Jika kamu melihat sesuatu yang membuatmu marah darinya, maka pukullah (dengan pukulan yang membimbing, tidak membekas). Karena laki-laki tidak memperoleh keburukan di rumahnya kecuali dari wanita bodoh dan manja.
Syuraih berkata, Setahun sekali ibu mertuaku datang, dia pulang setelah bertanya kepadaku, Bagaimana menurutmu jika kerabatmu ingin mengunjungimu? Kujawab, Terserah mereka.
Dua puluh tahun aku bersamanya. Aku tidak pernah mencelanya atau marah kepadanya.
Pelajaran dari kisah:
Seorang laki-laki harus religius dan teguh dalam beragama.
Seorang laki-laki harus cepat-cepat menikah jika hatinya telah mencintai seorang wanita, karena dikhawatirkan ia akan terfitnah.
Memilih wanita sebagai istri dan meneliti keluarganya sebelum menikah.
Bertawakkal kepada Allah, tidak takut menghadapi masa depan dan optimistis terhadap suksesnya pernikahan.
Menggunakan sarana dialog dan berlemah lembut terhadap istri, terlebih di awal-awal pernikahan untuk mewujudkan saling mencintai di antara suami istri dan menghilangkan rasa takut seorang gadis.
Hendaknya suami istri memperhatikan penampilannya, agar cinta keduanya tetap langgeng dan keduanya terjaga dari hal-hal yang diharamkan yang menggoda mata dan hati.
Perkara penting: Hendaknya seorang wanita mempunyai akal jernih, karena hal itu membantu pemahaman dan mengimbangi suami dalam segala sesuatu yang sesuai dengan tabiat akhlaknya.
Hendaknya suami istri saling memahami semenjak dimulainya kehidupan suami istri. Karena hal itu bisa mewujudkan ketentraman, ketenangan, terhindar dari problem dan perselisihan. Dan hal itu bisa dicapai bila suami menjelaskan kepada istri tentang:
Sifat-sifat buruk yang tidak ingin dimiliki oleh seorang istri.
Prilaku-prilaku yang tidak disukainya pada diri wanita secara umum, agar sang istri menghindarinya sebisa mungkin.
Siapa saja dari teman-temannya yang boleh berhubungan dengannya, baik dari keluarga, tetangga atau teman-teman. Suami memiliki hak penuh dalam menentukan siapa yang boleh masuk rumahnya dan siapa yang dikunjungi oleh istrinya atau berhubugan dengannya.
Hendaknya istri berusaha memasak makanan kesukaan suami dan menjauhi apa yang tidak disukainya. Memakai warna yang dia sukai dan menjauhi yang dibencinya. Karena istri berbusana untuk suami dan itu termasuk berhiasnya seorang wanita bagi suaminya.
Hendaknya istri memperhatikan ucapan suami dengan sebaik-baiknya. Hal itu akan membantunya untuk memahami dan mengerti maksudnya, sehingga dia bisa menunaikan perintahnya dengan baik.
Kewajiban istri untuk taat kepada suami dalam setiap perintahnya, tanpa membantah, selama suami tidak memerintahkannya kepada apa yang menyelisihi perintah AllahTabaraka wa Taaladan Rasul-Nyashallallah alaihi wa sallam.
Keluarga istri mempunyai kedudukan dan penghormatan dari pihak suami. Hanya saja hal itu bukan alasan yang membolehkan mereka untuk mengunjungi anak mereka tanpa izin dan ridha suaminya. Oleh karena itu, hendaknya istri mengetahui sejauh mana kesediaan suami menerima kunjungan salah seorang keluarganya di rumah suaminya. Perkaranya tidak memerlukan pertanyaan, orang berakal bisa mengerti, walaupun dari ucapan yang tidak berterus terang. Karena sebagian istri marah jika suami menyatakan keberatannya secara terang-terangan atas keluar masuknya salah seorang keluarganya. Suami pulang hendak mencari ketenangan di rumahnya, dia memendam hal ini karena takut istrinya marah. Suami diam, tetapi ia tertekan. Ini jelas-jelas mempengaruhi keharmonisan hubungan suami istri dan menjadi penyebab terjadinya sengketa di antara mereka berdua setelah kunjungan sanak kerabat tersebut.
Ibu yang shalehah dan wanita pendidik yang berhasil, pengaruhnya membekas pada diri putrinya. Seorang ibu berusaha agar rumah tangga putrinya langgeng dan berhasil. Karena hal itu termasuk kewajibannya yang penting setelah anaknya pindah ke rumah suaminya, ibu tidak berpartisipasi dalam rumah tangga putrinya kecuali dalam keadaan darurat dan demi meraih kebaikan hubungan suami istri. Dalam hal ini, sang ibu harus menghindari perasaan yang tidak sepatutnya dalam setiap perselisihan yang didengannya dari pernikahan anaknya.
Ancaman memukul tidak secara otomatis digunakan dalam memperbaiki hubungan suami istri.
Seorang wanita yang lulus dari rumah yang mendidiknya dengan baik dengan nilai-nilai luhur dan pemahaman-pemahaman bisa membantu membangun kehidupan rumah tangga yang sehat dan tentram.
Jika suami dan istri berprilaku seperti yang dijelaskan, niscaya keduanya akan mengenyam kehiduapan rumah tangga yang bahagia. Istri tidak menemui hal-hal yang mengotori kebahagiannya. Suami berbahagia dengan istrinya yang shalehah dan bisa membahagiakannya.
Hendaknya suami tidak memanjakan istri dan mencari ridhanya secara berlebih-lebihan. Karena jika seorang wanita melihat kedudukannya dan posisinya di sisi suaminya begitu dimanja, niscaya dia akan tinggi hati dan sombong, dan mungkin saja menjadikannya tidak menggubris ucapan suami yang marah kepadanya karena kesalahannya. Hendaknya suami bisa menata perasaannya kepada istri dengan baik.
Suami yang berbahagia di rumah akan berhasil pula dalam pekerjaannya.
Inilah pedoman yang harus dimengerti dan dipahami dengan baik oleh seorang wanita, sebagai pijakan cahaya dalam hidupnya. Mengabdilah dengan baik kepada suamimu, niscaya kamu berbahagia dan mendapatkan suami yang berbahagia dan berhasil dalam pekerjaannya.